
Matahari telah terbenam secara sempurna, gadis bernama Syafira telah menutup mata saat rasa kantuk tak bisa ia tahan-tahan lagi.
Dengkuran berhembus halus tanda bahwa pemilik mata itu telah masuk ke dalam mimpi.
Di malam yang senyap satu demi satu langkah kaki terdengar memecah keheningan. Orang misterius tersenyum tipis menatap wajah Syafira yang setenang lautan.
Orang misterius duduk di tepi kasur sambil membelai lembut surai hitam Syafira, orang misterius itu mengecup singkat kening Syafira, lalu ia merebahkan tubuh tepat di sebelah Syafira, tangan besarnya melingkar di pinggang Syafira.
Syafira tak sadar kalau ada sosok lain yang tidur di sampingnya.
Pagi harinya.
Syafira membuka mata dan melihat sekitar, alangkah terkejutnya ia kala mendekati pria asing yang terbaring di tempat tidur yang sama dengannya.
"Aaahhhh!" Pekik Syafira keras.
Pemuda asing itu terjaga akibat terkejut dengan teriakan Syafira di pagi buta seperti ini.
"Kenapa, kenapa kamu teriak?" Tanyanya panik.
"Kenapa pangeran ada di sini?" Tanya Syafira balik, kini berusaha menjadi takut dengan pangeran tampan di depannya.
"Emang kenapa kalau aku berada di sini, ini kan kamar ku, boleh-boleh aja kan aku berada di sini" jawab pangeran Andara.
"T-tapi pangeran, aku bukan istri mu kita tidak bisa tidur bersama kayak gini!" Ujar Syafira sungguh takut dengan pangeran Andara yang benar-benar berbisa.
"Kalau seperti itu,hari ini juga aku akan nikahin kamu" timpal pangeran Andara.
Syafira menggeleng cepat, ucapan pangeran Andara membuatnya tertegun.
"Tidak, aku tidak mau, aku tidak mau" tolak Syafira cepat.
Tidak akan ada orang yang mau menikah dengan manusia separuh ular seperti pangeran Andara.
"Kalau kamu tidak mau gak apa-apa, tapi jangan salahkan aku kalau hari ini adalah hari terakhir mu melihat dunia" sahut pangeran Andara tersemat ancaman di dalamnya.
__ADS_1
Syafira menelan ludah pahit, menerima atau menolak sama-sama membuatnya dalam bahaya, tapi kali ini ancaman pangeran Andara tak bisa di sepelekan.
"Kalau kamu memang bosan hidup tidak apa-apa, aku akan dengan mudah membuat mu berada di alam lain, itu masalah gampang bagi ku" ucap pangeran di iringi nada yang cukup menakutkan.
"Bagaimana, iya atau tidak?" Tanya pangeran Andara tak sabar menunggu jawaban Syafira.
Bungkam, mulut Syafira terus tertutup rapat, lidahnya terasa keluh, mengambil keputusan yang tepat ia merasa kesulitan.
"Pangeran, aku butuh waktu, tolong beri waktu aku untuk menjawab" titah Syafira.
Syafira ingin pikir-pikir dulu biar tidak salah mengambil keputusan dan juga ia belum siap menikah apalagi mati.
"Enggak, gak ada waktu-waktuan jawab sekarang aja, iya atau tidak" tegas pangeran Andara.
Pangeran Andara tak suka menunggu, apa yang ia inginkan harus terkabul, untuk menunggu satu jam saja ia tak bisa.
"Gimana ini, aku tidak mau menikah dan memiliki suami siluman ular, tapi kalau aku nolak kematian yang akan menghampiri ku" batin Syafira di ambang hidup dan mati.
Satu kali Syafira salah menjawab, maka tamatlah riwayatnya.
Syafira diam tak bergeming, matanya terus menatap pangeran Andara yang serius, parahnya lagi tak ada kata becanda di dalamnya.
"Kalau kamu gak mau siap-siap bertemu ajal mu, kali ini aku tidak bohong apalagi becanda dengan ucapan ku. Sudah cukup aku bercanda dengan mu, sebenarnya aku tidak suka becanda apalagi menunda-nunda" tutur pangeran Andara.
Syafira menegak ludah pahit, wajahnya memucat penuh ketertekanan di dalamnya, untuk mengangguk atau menggeleng ia bingung harus pilih yang mana.
"Cepat pilih yang mana, iya atau tidak!" Suruh pangeran Andara sekali lagi.
Tampaknya pangeran Andara telah muak berbicara terus menerus tanpa di tanggapi sedikitpun oleh orang di depannya.
"Aku tanya sekali lagi, iya atau tidak!"
Kepala Syafira mengangguk, wajah pangeran Andara langsung gembira.
Setetes air mata mengalir di wajah Syafira, terpaksa ia harus melakukan ini, nyawa lebih penting dari apapun walaupun hidupnya akan kacau balau setelah menikah dengan pangeran Andara.
__ADS_1
Pangeran Andara yang kelewat senang memeluk erat tubuh wanita itu yang diam bagaikan patung, tatapan matanya kosong, sesekali air mata berjatuhan.
"Kita akan nikah hari ini, akan aku jadikan kamu istri ku, aku berjanji aku tidak akan pernah menyakiti mu dan tidak akan aku biarkan ada orang yang membuat terluka, sungguh aku berjanji pada mu, akan aku berikan kau kebahagiaan yang tiada tanding" janji pangeran Andara di sela-sela pelukan hangat.
Bibir Syafira tertutup rapat, telinganya mendengar setiap janji yang terlontarkan, tapi untuk menyahut rasanya ia tak mampu.
"Tunggulah di sini, aku ingin memberitahukan keluarga ku tentang keinginan ku, aku yakin mereka akan setuju dan juga aku akan persiapkan pernikahan yang termewah hanya untuk mu, kamu hanya tinggal teriak jadinya aja" titah pangeran Andara.
Syafira tak bereaksi, ia tetap diam, sementara pangeran Andara dengan sangat happy keluar dari dalam kamar dan memberitahu semua orang tentang keinginannya untuk menikahi Syafira.
Setelah pangeran Andara pergi tangis Syafira tumpah ruah, air mata tak terbendung lagi. Segelintir tak pernah ia bayangkan kalau ia akan bertemu dengan siluman ular dan menjadi istrinya. Harapan dunianya yang ia karang selama bertahun-tahun telah patah, tapi sedikitpun Syafira tak dapat memberontak.
"Haruskah aku menikah dengannya dan menjadi istrinya, lantas apakah mungkin setelah itu aku bisa kembali lagi ke dunia ku, aku merindukan semua orang-orang yang ku sayangi, dapatkah aku bertemu mereka lagi?"
Pertanyaan itu meluncur keluar dari bibir Syafira, harapan bertemu lagi dengan orang-orang yang ia sayangi setipis tisu. Apalagi jika ia sudah resmi menjadi istri siluman ular kemungkinan besar ia akan hidup selamanya di istana dan menutup diri dari dunia luar.
Membayangkan hancurnya hidup, Syafira tak mampu, tapi tak ada satupun orang yang dapat membela, hanya ini satu-satunya pilihan yang paling tepat meskipun menyakitkan.
Krieet
Di tengah tumpahnya bendungan, pintu kamar tiba-tiba terbuka.
Dengan cepat Syafira menyeka air mata, tak ingin kalau ada orang yang melihatnya bersedih.
Syafira terkejut mendekati tiga orang wanita cantik yang membungkukkan tubuhnya di depan Syafira sambil tersenyum ramah.
"S-siapa kalian?" Tanya Syafira merasa asing dan tak pernah bertemu dengan mereka.
"Kami perias yang di tugaskan pangeran Andara untuk merias putri dengan secantik mungkin" jawab salah satu perias berdiri di tengah-tengah.
Syafira diam sejenak, apa yang barusan terjadi benar-benar nyata, ia masih menganggap bahwa itu hanyalah mimpi semata.
"Mari putri kami akan merias mu karena sebentar lagi acara pernikahan akan segera di mulai" izin sopan perias paling pinggir sebelah timur.
Tak ada pilihan lain selain diam dan membiarkan mereka mengotak-atik tubuh Syafira, yang ada di pikiran Syafira hanya satu, yakni kalau dia tak akan bisa melihat dunia bebas lagi setelah ini.
__ADS_1