Jerat Siluman Ular

Jerat Siluman Ular
Memutuskan kabur dari istana


__ADS_3

"J-jadi selama ini yang terjadi cuman drama semata?" Syafira mengatakannya dengan nada pelan.


Kekecewaan Syafira bagai langit dan bumi, sandiwara yang di lakukan pangeran Andara dan sanak keluarga kerajaan begitu mulus hingga ia tertipu halus dan kini di tampar keras akan kenyataan.


Syafira geleng-geleng kepala, fakta baru mengguncang dunia, orang yang ia kira baik, ia kira perubahan, ia kira tulus ternyata memiliki niat jahat padanya.


Parahnya lagi orang tersebut selingkuh dengan orang yang membenci Syafira selama ini.


Sikap pangeran Andara yang selama ini memperlakukan Syafira bak ratu tak menyangka kalau itu semua cuman kebodohan semata.


Wanita berusia 20 tahun itu kecewa saat mengetahui kalau dia hanya di jadikan mainan saja.


Tetesan demi tetesan air mata membasahi pipi mulus Syafira, nyeri di hati Syafira seakan membunuhnya.


Dua insan yang saling mencintai itu tak sadar jika ada orang lain yang tengah menangkap basah mereka.


Syafira tak tahan, luka terlanjur menganga, ia tak dapat menahan luka lebih dalam lagi.


Syafira berlari keluar dari istana, pintu keluar telah ia temukan semenjak ia menikah dengan pangeran Andara namun tak ada niatan kabur di hatinya meski ia telah menemukan pintu yang ia cari.


Syafira menghargai betul pangeran Andara yang kini berstatus sebagai suaminya walau Syafira tak mencintainya. Tapi ia belajar untuk menjadi istri yang baik bagi pangeran Andara, namun balasan pangeran Andara justru menutup seluruh pintu hati yang sempat akan Syafira buka.


Di malam yang sepi, kaki Syafira berlari menjauhi kerajaan, kali ini rasa kecewanya terhadap semua orang khususnya pangeran Andara sangat besar.


Rasa kecewa itu yang membuat Syafira memutuskan pergi dari kerajaan, tak tahan lagi di jadikan boneka oleh orang-orang jahat.


Air mata bercucuran sepanjang jalanan, tanpa alas kaki Syafira berlari tak memikirkan luka yang membuat kakinya berdarah-darah.


Luka di hatinya jauh lebih besar dari luka manapun, luka itu juga yang membuatnya yakin untuk beranjak pergi dari tempat mewah namun terkutuk itu.


"Pangeran mengapa kau tega sekali, apa kesalahan ku begitu besar sampai kau melakukan ini?"


Tak pernah terlintas di benak Syafira kalau ia hanya akan di jadikan mainan oleh pangeran Andara. Kala otak mengingatkan kebersamaan mereka beberapa waktu ini sakit di hati Syafira malah makin menjadi-jadi.


"Syafira kamu jangan nangis, ini bukan saatnya kamu rapuh, kamu harus bangkit, tinggalkan semuanya. Pastikan kau pulang ke rumah mu, kau harus belajar melupakan orang-orang yang telah menyakiti mu"


Syafira mencoba menyembuhkan lukanya sendiri dengan meyakinkan diri.


Air mata Syafira tumpah ruah, dengan hati yang hancur lebur Syafira berlari sejauh mungkin dari kerajaan.

__ADS_1


Syafira terhenti di tempat di mana tenda-tenda di dirikan, di ketahui tenda itu di dirikan oleh ia dan teman-temannya.


Syafira melihat sekeliling, mencari keberadaan teman-temannya yang mungkin saja masih berdiam diri di dalam hutan ini.


"Vinoo, Jessi, Rakha, Kevin" teriak Syafira memanggil nama teman-temannya.


"Kalian di mana, aku di sini, tolong aku" jerit Syafira lagi.


Dengan air mata yang bercucuran Syafira memanggil teman-temannya, saat ini Syafira butuh bantuan mereka.


Tak ada tanggapan, sahutan sedikitpun tak terdengar, hanya suara hewan kecil yang saling bersahutan.


Syafira mencari teman-temannya di dalam tenda, namun yang ia dapatkan malah nihil, tenda itu kosong, tanda-tanda akan ada manusia sangat kecil.


Syafira yakin kalau mereka pasti telah meninggalkan hutan. Syafira langsung berlari keluar dari dalam hutan dengan langkah tertatih-tatih.


Syafira tak akan menyerah, ia harus bisa keluar dari dalam hutan, walau apapun yang terjadi Syafira harus bisa kembali kehidupannya yang dulu dan melupakan semua yang terjadi padanya selama berada di istana.


Setelah perjuangan yang begitu panjang dan membutuhkan waktu yang lama akhirnya Syafira menemukan jalanan raya, ia berjalan ke rumahnya dengan tanpa alas kaki.


Jarak antara rumahnya dengan tempat itu jauh, tapi Syafira tidak akan berhenti, ia akan terus berusaha sampai keinginannya tercapai.


Suara mendesis terdengar dari mulutnya, prajurit berusia 40 tahun itu berubah menjadi ular kobra lalu masuk ke dalam semak-semak dan lanjut kembali ke tempat asalnya.


Syafira tak sadar jika salah satu prajurit di kerajaan telah melihatnya, Syafira hanya fokus pulang ke rumah tak peduli apapun lagi.


Matahari telah terbit, gelapnya malam menyingkir, namun Syafira belum juga sampai di rumah.


Tak ada orang yang bisa Syafira mintai tolong, untuk pulang naik kendaraan tak ada uang yang bisa ia berikan, alhasil Syafira pun berjalan kaki menuju rumah walau rasa letih seakan membunuhnya.


Tiin..tiin..tiiiiiiin


Klakson mobil berwarna hitam menghentikan Syafira. Syafira sempat terkejut, pasalnya sepanjang ia jalan hanya ada beberapa mobil yang berlalu lalang.


Jalan yang Syafira pijak saat ini tak sama seperti jalan raya yang biasanya padat kendaraan.


Dengan penasaran Syafira mencoba melihat siapa pemilik mobil, kaca hitam yang begitu pekat membuatnya tak bisa melihat siapa yang ada di dalam mobil.


Pintu mobil terbuka, seorang pria berusia 27 tahun, berperawakan tinggi, kurus, putih bersih, hidung mancung keluar. Menatap Syafira dengan mata elang menawannya.

__ADS_1


Syafira terpaku sesaat, ketampanan pria itu menyingkirkan rasa penat di kaki Syafira. Syafira menepis rasa kagum itu, karena kali ini bukan waktunya bagi Syafira untuk memikirkan hal yang jelas tak penting.


"Kamu mau kemana?" Tanya pria tampan rupawan dengan nada lemah lembut, suaranya begitu halus terdengar di telinga Syafira.


Lamunan Syafira buyar."Saya mau pulang pak, rumah saya jauh dari sini"


Kening pria itu berkerut, kata pak yang Syafira ucapkan membuatnya raut wajahnya berubah total.


"Aku masih muda, jangan panggil pak" larang pria itu.


Syafira pun mengangguk dengan polos dan tak akan melakukan kesalahan lagi.


"Katanya kamu mau pulang, gimana kalau kamu bareng aku aja, aku akan anterin kamu pulang" tawar pria asing yang memiliki niat baik tersebut.


Syafira berpikir sejenak, pria itu begitu asing, Syafira rasanya takut di bawa orang asing, pikiran buruk datang silih berganti membuat Syafira pun bimbang.


Di satu sisi kakinya penat melangkah, tapi di sisi lain ia takut pria itu akan macem-macem padanya.


"Aku bukan orang jahat, aku hanya ingin bantu kamu aja" ujar pria itu lagi.


"Tapi rumah aku jauh, gak usah gak papa, aku bisa pulang sendiri" tolak Syafira.


Walau kaki Syafira rasanya mau patah tapi Syafira tak mau mengambil resiko dengan ikut bersama pria asing yang tak di kenal.


"Beneran kamu gak mau aku anter pulang?" Memastikan kembali pria itu.


Syafira mengangguk."Aku bisa pulang sendiri, makasih tawarannya"


Keputusan Syafira telah bulat, Syafira sudah cukup tersiksa hidup dengan orang asing di dalam sebuah istana, kali ini Syafira tidak mau menderita lagi.


Rasa sakit yang di ciptakan pangeran Andara masih membekas, belum luntur sedikitpun, karena hal itu untuk sementara Syafira memilih menghindar dari yang namanya laki-laki.


Syafira kembali melanjutkan perjalanan meninggalkan pria asing yang punya tujuan baik tapi terpaksa Syafira tolak.


Baru beberapa langkah Syafira berjalan, tiba-tiba rasa pusing menghampiri, Syafira memegang kepala yang berkunang-kunang. Rasanya semua benda berputar-putar dengan sendirinya.


Lama-kelamaan Syafira tak sanggup menopang tubuhnya sendiri, alhasil tubuh Syafira ambruk, ia tak sadarkan diri.


Semuanya gelap, Syafira tak bisa melihat apapun, Syafira juga tidak bisa mengetahui apa yang terjadi padanya setelah itu.

__ADS_1


__ADS_2