
"Tutup mulut mu, kamu jangan ngarang cerita. Gak ada yang akan di rugikan selama aku menginjakkan kaki ku di sini, kamu jaga ucapan mu, jangan mengarang sesuatu yang jelas-jelas tidak benar!" naik pitam Syafira tak terima saat secara tidak langsung Maura menghinanya.
Syafira memang manusia bukan manusia jadi-jadian seperti mereka, tapi dalam lubuk hati yang terdalam tak pernah terlintas sedikitpun di benaknya bahwa suatu saat nanti kakinya akan menginjak di istana yang rata-rata penghuninya adalah siluman ular.
"Loh kenapa marah, itu fakta bukan. Kerajaan kami jadi terancam saat kedatangan manusia seperti mu, seharusnya kamu itu pergi jauh-jauh dari sini, tidak perlu tinggal di sini lagi!" Usir Maura dengan kejamnya.
Maura begitu tak suka dengan keberadaan Syafira, apalagi Syafira masuk ke dalam istana di bawa langsung oleh pangeran Andara.
"Kalau aku tidak mau bagaimana" respon Syafira berusaha melawan Maura.
Menurut Syafira tak ada gunanya ia diam dan terus menerus takut, jika ia begitu terus maka harkat martabatnya akan di injak-injak.
Maura mengeluarkan tatapan sinis."Kalau kamu tidak mau pergi secara baik-baik dari sini, jadi siap-siap aja mati di tangan ku"
Syafira tercekat, senyuman mematikan yang terukir di bibir Maura begitu menyeramkan. Kini ia menyesal berlagak pemberani di depan Maura.
Maura berubah menjadi siluman ular. Syafira terkesiap, tubuhnya bergetar takut, ular adalah hewan yang paling ia takuti dan kini hewan itu berada di depan matanya.
"Ku rasa tak perlu tangan pangeran Andara yang bersih menyingkirkan mu yang kotor, lebih baik aku saja yang akan membuat mu terhempas selamanya!" Tutur Maura penuh ancaman di dalamnya.
Ekor Maura melayang ke arah Syafira. Dengan cepat Syafira menutup mata tak dapat membayangkan hancurnya dirinya jika sampai ekor Maura mengenai tubuhnya.
Syafira membuka matanya terkejut saat tiba-tiba pangeran Andara berada di depannya dan niat Maura yang akan mencelakainya harus di hentikan.
"Apa mau mu, apa yang mau kamu lakuin?" Tanya pangeran Andara murka akan tindakan Maura.
Jika pangeran Andara tak datang tepat waktu mungkin Syafira tidak akan melihat sinar matahari esok pagi.
"Kamu mau celakain dia, celakain aja, tapi sebelumnya lawan aku dulu" sambung pangeran Andara.
Maura terdiam, ia mengepal kuat tangannya, usahanya untuk melenyapkan Syafira kembali gagal total dan itu semua gara-gara pangeran Andara.
"Sialan, kenapa pangeran Andara datang di waktu yang tidak tepat, tapi mengapa dia begini pada ku, kenapa seakan-akan dia sangat tidak ingin manusia itu terluka padahal dia sendiri yang bilang kalau dia akan bunuh manusia itu dengan tangannya sendiri" batin Maura merasa jengkel.
__ADS_1
"Kenapa jika aku ingin mencelakai dia, apa kau tidak mau aku menghempaskan manusia yang kau benci itu?" Tanya Maura.
"Aku kan sudah bilang, kalau aku sendiri yang akan melenyapkan dia, kau jangan ikut campur. Aku akan selesaikan masalah ku sendiri aku tidak butuh bantuan mu" respon pangeran Andara tegas.
Maura makin kesal, rasa bencinya pada Syafira makin menjadi-jadi kala pangeran Andara tak henti-hentinya membelanya.
"Pergi kau dari sini, jangan ganggu dia lagi, kalau sampai aku lihat kau berani mengusik ketenangan dia, kau akan berurusan langsung dengan ku" peringatan pangeran Andara keras.
Maura yang kalah telak kesal kemudian berlalu meninggalkan mereka.
Pangeran Andara berbalik menatap Syafira yang ketakutan. Kaki pangeran Andara melangkah mendekati Syafira yang memucat karena takut berlebihan.
"Jangan mendekat" suruh Syafira memundurkan tubuhnya.
Pangeran Andara mengerutkan alis, pangeran Andara bingung mengapa Syafira seperti takut padannya.
"Kamu kenapa, kamu tidak perlu takut lagi, dia sudah pergi, dia tidak akan ganggu kamu lagi" ujar pangeran Andara lembut.
Kepala Syafira terus menggeleng, ia dapat mendengar dengan baik percakapan antara pangeran Andara dengan Maura barusan. Syafira dapat menyadari bahwa kebaikan pangeran Andara hanya pura-pura dan suatu saat nanti pasti akan membuatnya hancur, sehancur-hancurnya.
"Syafira kamu tidak perlu takut, aku tidak akan menyakiti mu, percayalah pada ku" timpal pangeran Andara perlahan-lahan melangkah mendekati Syafira yang terus mundur.
Pangeran Andara berusaha meyakinkan Syafira yang kini tidak mau berdekatan sama sekali dengannya.
"Enggak, aku gak mau, pergi kau dari sini, jangan ganggu aku lagi, aku tidak mau melihat mu lagi!" Jerit Syafira ketakutan.
"Syafira, Syafira dengarin aku dulu, kamu jangan takut sama aku, aku gak akan bahayain kamu, aku mohon kamu jangan kayak gini" mohon pangeran Andara.
"Enggak, aku gak mau, pergi kau dari sini" usir Syafira.
"Syafira kamu jangan-
"Udahlah kak pergi aja, Syafira lagi gak mau liat kakak" suruh pangeran William yang baru datang.
__ADS_1
"Pangeran tolong aku dari dia" Syafira bersembunyi di belakang pangeran William.
Tatapan maut pangeran Andara jatuh pada pangeran William yang datang layaknya pahlawan kesiangan.
"Kamu jangan takut, aku ada di sini" ujar pangeran William menenangkan Syafira yang lagi ketakutan.
Pangeran Andara kesal, wajahnya seperti udang rebus, ia menatap sinis adiknya lalu pergi dari sana.
Syafira bernafas lega ketika pangeran Andara telah pergi.
"Kamu gak papa?" Tanya pangeran William khawatir.
Syafira menggeleng cepat."Enggak, aku gak papa, aku baik-baik aja, makasih udah bantu aku"
Pangeran William membalas dengan senyuman manisnya.
"Eh kamu mau kemana" teriak pangeran William mencegah Syafira yang hendak pergi.
"A-aku, a-aku mau ke sana" ucap Syafira terbata-bata.
"Jangan ke sana, di sana adalah ruangan tempat para siluman ular bersemedi, kamu jangan ke sana, mereka pasti akan menghabisi mu" larang pangeran William.
Syafira pun tercengang, kini ia bingung harus pergi kemana, tak mungkin ia melanjutkan langkahnya karena itu sama saja mengantarkan nyawanya pada mereka (siluman ular).
"Apa benar di sana banyak ular?" Tanya Syafira ingin memastikan kembali.
Pangeran William mengangguk."Iya, di sana ada banyak ular, kamu jangan ke sana, mereka bisa aja bunuh kamu, kamu mau mati di tangan mereka hah?"
Kepala Syafira menggeleng cepat."Enggak, aku gak mau, aku masih mau hidup, aku tidak mau mati di tempat ini"
"Kalau seperti itu lebih baik sekarang kamu balik ke kamar, jangan keluyuran, apalagi nekat datang ke sana, karena aku takut gak bisa jaga kamu dari mereka" suruh pangeran William.
Syafira mengangguk patuh, ia tak bisa mengambil resiko. Sebisa mungkin ia ingin tetap hidup dan tak terluka sedikitpun meski ia hidup di kawasan musuh yang begitu berbahaya.
__ADS_1
"Sana kamu balik ke kamar, kalau ada yang ganggu kamu lagi, panggil aku aja, aku pasti akan langsung datang" perintah pangeran William.
Syafira lagi-lagi mengangguk, lalu tanpa banyak bicara melangkah memasuki kamarnya kembali.