
Boby ayah Syafira juga ikut senang saat anak kesayangannya pulang tanpa kurang apapun.
"Syafira kamu gak boleh lagi main ke hutan, jangan coba-coba ke sana lagi, papa gak mau kamu kesesat lagi" peringatan Boby keras.
Sebagai seorang ayah Boby harus bersikap tegas, kejadian yang hampir merenggut nyawa putrinya tak mau terulang kembali, Boby harus membatasi setiap kegiatan Syafira yang tidak bermanfaat demi keamanan Syafira.
Syafira mengangguk patuh, sesekali air mata bercucuran di wajah."Iya pa, Syafira gak akan ngulangin kesalahan itu lagi"
Boby cukup tenang, walau ia sempat marah setelah teman-teman Syafira melapor kalau Syafira hilang di hutan. Tapi ketika melihat putrinya kembali kemarahan Boby berangsur-angsur menghilang.
"Nak kamu belum makan pastinya kan, ayo makan, kamu pasti laper, mama udah masakin makanan kesukaan kamu" ajak Mery begitu antusias.
Syafira mengangguk, walau perutnya sudah terisi penuh, demi menghargai mamanya ia pun mau.
Di meja makan yang terdapat empat kursi Syafira mengambil duduk di salah satu kursi kosong.
Lauk pauk kesukaan Syafira tersaji rapih, saat Syafira hilang Mery berharap kalau Syafira sewaktu-waktu akan kembali, hampir setiap hari Mery menyiapkan makanan kesukaan Syafira agar setelah Syafira kembali Syafira dapat menyantap masakannya.
Keinginan Mery pun terkabul, walau banyak yang menyebut jika Syafira tidak akan bisa kembali tapi Mery tetap yakin.
Dengan lahap Syafira menyantap makanan buatan ibu yang ia rindukan, walau perut Syafira telah terisi di rumah Erlangga, tapi lezatnya makanannya di meja makan menggugah selera hingga Syafira tak bisa lagi mengunyah karena perutnya sudah full, tak ada ruang lagi yang kosong.
Syukur di ucapkan ribuan lagi oleh Syafira, keinginannya pulang dan berkumpul bersama orang tuanya terkabul meski harus melewati kesedihan dan moment-moment yang menguji mental dan hati.
Seusai makan Syafira kembali ke kamar yang berada di lantai dua, harus melewati tangga yang jumlahnya begitu banyak untuk sampai di kamarnya.
Terbit senyum di wajah Syafira, kamar yang begitu Syafira rindukan akhirnya ia lihat kembali.
Dengan senang tingkat tinggi Syafira melompat ke kasur empuk miliknya.
"Setelah sekian lama akhirnya aku kembali ke rumah ku, walau banyak yang ku lewati tapi syukurlah takdir membawa ku kembali ke dunia asli ku"
Syafira menatap sedih langit-langit kamar, ingatan memunculkan wajah pangeran Andara, laki-laki yang ia kira baik namun hanya menjadikannya sebagai boneka yang dapat ia mainkan kapan saja.
Setetes air mata tanpa sadar terjatuh ketika pikiran menampilkan gambaran-gambaran momentum yang pernah Syafira lewati bersama pangeran Andara.
__ADS_1
Kisah yang singkat mengapa terasa berat, di kisah yang manis mengapa akhirnya harus di bumbui pengkhianatan yang menyebabkan luka membekas di hati Syafira.
Nasib begitu buruk Syafira di mulai saat bertemu dengan pangeran Andara.
Syafira berharap setelah ini tak ada lagi pangeran Andara di hidupnya, tak ada siluman ular di sekelilingnya, ia akan mulai kehidupan dengan seorang diri, melanjutkan studi hingga menjadi orang sukses di masa depan.
Mata Syafira tertutup dengan sendirinya, setelah tetesan demi tetesan air mata mengalir rasa kantuk menyerang.
Ngantuk dapat meredakan kesedihan yang mendalam di hati Syafira.
...•••...
Syafira membuka matanya ketika di pagi hari, ia melangkah di lantai yang dingin, menyikap gorden menghirup udara segar di pagi hari dengan seksama, sebelum polusi datang.
Di pagi yang cerah Syafira mandi, bersiap-siap, mengambil buku di rak lalu keluar dari kamar membawa buku dan juga tas, tak lupa dengan hp, benda satu itu begitu penting hingga tak boleh ketinggalan.
"Fira kamu mau kemana nak?" Mery mendekati putrinya yang sudah siap dengan style modern.
"Aku mau berangkat ke kampus ma, aku udah lama hiatus" jawab Syafira.
"Aku udah istirahat dengan cukup kok ma, mama gak usah khawatir sama aku, aku akan baik-baik aja, aku cuman mau berangkat ke kampus kok" jawab Syafira.
"Tapi...."
"Udah ma biarin aja Syafira berangkat, dia gak akan kenapa-napa kok" Boby menyahut, matanya fokus membaca koran yang ia pegang.
Mery pun pasrah, ia membiarkan Syafira mengikuti studi pagi ini.
"Aku berangkat dulu ma, pa" Syafira dengan sopan mencium punggung tangan mama dan papanya.
"Hati-hati nak" teriak Mery.
"Iya" jawab Syafira.
Syafira berangkat dengan menggunakan taksi yang ia pesan secara online.
__ADS_1
Taksi membawa Syafira menuju kampus ternama di kota tersebut, jalan-jalan penuh dengan kendaraan, padahal Syafira sudah sepagi mungkin agar tidak macet di jalan tapi yang namanya kemacetan tak dapat di hindarkan. Secara Syafira hidup di bandar kota yang terkenal dengan padatnya penduduk.
Senyum tak henti-hentinya terbit kala melihat kendaraan-kendaraan yang memenuhi kanan kiri Syafira.
"Gak nyangka aku bakal keluar dari kerajaan pangeran Andara, secara di sana banyak orang-orang jahat yang di tugasi buat jaga aku" gumam Syafira.
Setengah tak percaya Syafira ketika kini ia benar-benar keluar dari belenggu pangeran Andara, si siluman ular yang berbisa dan paling ia takuti.
Ular adalah hewan yang paling Syafira takuti, tapi mengapa takdir malah mempersatukannya dengan seorang pangeran ular yang ganas dan berbisa.
Jika teringat pada hal itu Syafira begidik ngeri, tak dapat Syafira bayangin momentum pahit dan mengerikan ketika hidup di kerajaan yang rata-rata di huni oleh siluman ular.
Akibat kejadian itu Syafira menjadi trauma, kerajaan ular itu adalah hal pertama yang membuat Syafira makin takut dengan ular dan kini membekas membentuk sebuah trauma.
Setibanya di lokasi Syafira langsung turun setelah memberikan ongkos pada supir karena telah mengantarnya ke kampus.
Dengan memegang buku Syafira berjalan mendekati kampus megah yang menaunginya selama 3 tahun ke belakang ini.
Ketika berjalan Syafira merasa ada yang janggal, tatapan semua orang padanya begitu aneh, Syafira merasa risih dan mempercepat langkah.
"Stoooop!" Teriak keras seorang gadis, rambutnya sedada, mulutnya terbuka lebar, tak percaya melihat Syafira.
Saking tak percaya, dia sampai mengelilingi tubuh Syafira dengan terkaget-kaget.
"K-kamu beneran Syafira, kamu bukan siluman kan?" Tanya gadis bernama Jessi terkejut.
Syafira menanggapi dengan senyuman di sertai anggukan kecil.
"Iya ini aku, masa teman sendiri gak ngenalin" sahut Syafira.
Refleks Jessi memeluk erat tubuh Syafira sampai gadis itu kesulitan bernafas.
"Syafira aku senang banget kamu kembali, aku udah gak tau lagi apa yang terjadi sama kamu, aku kira kamu udah di makan sama hewan buas" girang Jessi mengeratkan pelukan.
"I-iya, tapi lepasin dulu, aku gak bisa nafas!" Suruh Syafira.
__ADS_1
Jessi melepaskan pelukannya, ia gembira sekali karena pagi ini adalah pagi yang penuh dengan kejutan. Syafira sahabatnya kembali dan ia bisa lagi menatapnya.