
Syafira terus melangkahkan kaki mencari pintu keluar.
Brukk!
Tubuh Syafira terjatuh, ia tak sengaja menabrak seseorang yang tak ia kenali.
"Aduh" pekik Syafira kesakitan.
Syafira mengangkat kepalanya dan menatap siapa yang kini berada di depannya.
"Aarrrrrrrggh" histeris Syafira kala di depannya adalah seorang wanita cantik dari pinggang ke atas, tapi ular dari pinggang ke bawah.
Wanita itu menatap tajam Syafira yang asing dan berbeda bangsa dengannya.
Ekor ular yang mengerikan milik wanita cantik itu melilit tubuh Syafira. Syafira semakin ketakutan dan berusaha melepaskan diri dari siluman ular, namun tenaganya kalah jauh.
"Lepaskan, lepaskan aku, jangan makan aku. Aku masih mau hidup, tolong lepaskan aku" jerit Syafira merasa tercekik akibat lilitan siluman ular tersebut.
"Siapa kau? Kenapa kau berkeliaran di mari?" tanya sinis wanita cantik namun bertubuh ular itu.
"N-nama ku Syafira, aku tidak tau kenapa aku bisa berada di sini" jawab Syafira terbata-bata, ia takut untuk menatap wajah sangar milik siluman ular itu.
"Tidak mungkin kamu tidak tau, cepat katakan kenapa kau berada di kerajaan ini" tegas wanita itu tak main-main.
Tubuh Syafira bergetar hebat, ia seakan tidak punya nyali untuk bertatapan dengan siluman ular itu secara langsung.
"A-aku di bawa oleh orang misterius kemari, aku tidak tau siapa dia. Aku mohon pada mu, tolong bawa aku pergi dari sini, aku tidak akan mengganggu kehidupan orang-orang yang berada di sini, asalkan kau membawa ku pergi" mohon Syafira mengharap belas kasihan.
"Orang misterius seperti apa yang membawa mu kemari?" penasaran siluman ular akan sosok orang yang membawa Syafira menginjakkan kaki di istana ini.
__ADS_1
"Dia laki-laki, orangnya tinggi, kulitnya putih, di kepalanya terdapat mahkota berwarna emas dan di lehernya ada sebuah titik seperti sisik berwarna hitam" jelas Syafira menceritakan laki-laki yang telah membawanya kemari.
Siluman ular itu diam, ia mencerna baik-baik penjelasan Syafira.
"Kenapa dia membawa mu kemari?" tatapan maut siluman ular itu semakin tajam dan mengerikan.
"A-aku tidak sengaja menembakkan peluru ke arahnya, dia terluka dan sekarang dia marah, dia ingin mengurung ku di sini. Aku mohon pada mu tolong aku, aku tidak mau berada di sini, di sini bukan tempat ku. Aku berjanji aku tidak akan ceroboh lagi, aku akan langsung pergi sehabis keluar dari kerajaan ini" ujar Syafira ketakutan hebat.
"Aaaaaaaaahhhhh!" pekik Syafira keras kala siluman ular itu menjatuhkan tubuhnya di bawah secara tiba-tiba.
Ekor wanita itu kini berubah menjadi kaki layaknya manusia, ia tampak lebih cantik dan tidak lagi menakutkan seperti sebelumnya.
"Ayo ikutlah dengan ku" ajak wanita itu dengan wajah dingin.
"Kemana? kau akan membawa ku kemana" Syafira bukannya merasa senang malah takut, ia sangat khawatir wanita itu akan mencelakainya karena kesalahannya.
Syafira yang memang tidak tau apapun tentang kerajaan ini bersedia mengikuti wanita itu yang tidak tau akan membawanya kemana.
"Kemana dia akan membawa ku pergi, apa mungkin dia akan membunuh ku karena tidak terima aku telah melukai pria asing itu" batin Syafira overthinking.
"Bagaimana ini, jika sampai dia membunuh ku, aku akan mati. Aku masih belum lulus kuliah, aku gak mau mati sekarang, aku masih mau hidup" batin Syafira ketar-ketir namun kakinya masih terus melangkah membuntuti wanita itu dari belakang.
Sepanjang perjalanan Syafira ketakutan namun ia tidak berani pergi dari sana, ia semakin jika ia mencoba pergi wanita itu akan menghabisinya.
Wanita siluman itu membawa Syafira ke persada yang banyak sekali anggota kerajaan penting di istana ini.
Semua mata seketika langsung tertuju pada Syafira yang sangat berbeda dengan mereka semua. Syafira yang di liatin seperti itu menunduk takut, Syafira tau bahwa orang-orang yang berada di dekatnya bukan manusia sepertinya.
"Pangeran Andara, kenapa kau membawa manusia masuk kemari" ujar wanita siluman itu menatap pangeran Andara yang terluka akibat kelalaian Syafira. Siluman ular itu tidak terima pangeran Andara membawa masuk manusia ke area kerajaan ini.
__ADS_1
"Dia sudah menembak ku, dia membuat ku terluka separah ini, dia harus tanggung jawab. Dan untuk itu aku membawanya kemari, aku akan siksa dia sehingga dia tidak akan pernah mengganggu ketenangan ku dan juga masyarakat di kerajaan ini" jawab pangeran Andara amat jengkel pada Syafira.
Syafira tercengang, apa yang barusan keluar dari bibir pangeran Andara berhasil mengguncang dunianya.
"Tapi pangeran itu terlalu berlebihan, sebaiknya kalau kau memang dendam padanya, habisi dia sekarang, tidak perlu kau membawanya kemari, dia malah akan menjadi beban di kerajaan ini" saran Maura, siluman ular yang telah membawa Syafira ke persada.
"Tidak, aku tidak mau membunuhnya semudah itu, aku akan menyiksanya terlebih dahulu, baru aku akan menghabisinya dengan tangan ku sendiri" tolak keras pangeran Andara terkait saran yang sudah Maura ajukan.
"Tapi pangeran dia itu-
"Cukup, aku tidak mau mendengar bantahan lagi. Ini sudah menjadi keputusan ku dan tidak akan ada orang yang bisa mengubahnya" pertegas pangeran Andara dan berhasil membungkam mulut Maura.
"Pangeran keputusan mu membawanya kemari itu tidak tepat, ayah tau kalau tujuan mu membawanya ke sini hanya karena ingin balas dendam padanya. Tapi bagaimana pun juga dia itu manusia. Membawa manusia kemari itu keputusan yang salah" ujar raja Sadam.
"Aku tau ayah, tapi ini darurat, aku tidak tau akan membawanya kemana lagi selain ke istana ini" jawab pangeran Andara.
"Kalau seperti itu lepaskan saja dia, ayah tidak mau ada manusia yang menginjakkan kakinya di istana ini" suruh raja.
Mata Syafira berbinar, ia berharap penuh bahwa dirinya akan di bebaskan dengan keadaan hidup-hidup.
"Tidak mau ayah, aku tidak mau melepaskan dia semudah ini" balas pangeran Andara.
Kebahagiaan Syafira langsung patah, ujaran kebencian pangeran Andara masih tersirat jelas di matanya.
"Baiklah, dia boleh tinggal di sini, tapi dalam kurun waktu terbatas, ayah tidak mau dia selamanya tinggal di mari. Perseteruan antara kita dan manusia masih berlanjut. Jika sampai dia melanggar aturan di kerajaan ini ayah sendiri yang akan langsung menghabisinya" tutur raja Sadam.
Syafira menelan ludah pahit, kecaman keras itu harus di waspadai, ia tidak bisa menganggap enteng.
"Kerajaan ini kerajaan yang di huni oleh siluman ular, aku harus bisa cari cara agar terlepas dari mereka semua. Aku tidak mau mereka menghabisi ku, aku masih mau hidup" batin Syafira tetap tenang meskipun ancaman mereka begitu mengguncang dunianya.
__ADS_1