
"Ayo kita ke kelas, bentar lagi jadwal kelas kita" ajak Jessi.
Mereka menurut, mereka bersama-sama masuk ke dalam kelas yang di mana telah terisi separuh orang. Mereka semua sama-sama menunggu kedatangan dosen.
Mereka sempat terkejut melihat Syafira yang pernah di kabarkan menghilang, tapi Syafira jawab dengan cerdik sehingga tak menimbulkan kecurigaan.
Syafira duduk tenang di bangkunya dengan Jessi di sampingnya. Akhirnya setelah sekian lama ia bisa duduk kembali di tempatnya dan melanjutkan studinya hingga menjadi sarjana.
"Jes ini kita nunggu siapa, mana dosennya, kok gak datang-datang, ini udah jam berapa, masa jam segini dosennya gak juga datang" sesekali manik mata coklat Syafira melirik jam tangan yang melingkar.
Jarum jam terus berputar, tapi tanda-tanda dosen akan datang tak juga ada.
"Katanya sih kedatangan dosen baru, dosen yang sebelumnya pindah. Kita tunggu aja sebentar pasti bentar lagi dosen yang baru akan datang" jelas Jessi.
Syafira tak banyak bicara, ia diam menunggu dosen pengganti datang.
Tap
Tap
Tap
Suara derap kaki satu demi satu terdengar. Suasana mendebarkan terjadi di kelas, semua mata mahasiswa menatap pintu, mereka sungguh penasaran siapa dosen baru yang akan membimbing mereka ke depannya.
Krieet
Pintu kelas di buka oleh seseorang, pelan-pelan pria berkemeja putih di lapisi jas hitam, rambut tertata rapih masuk ke dalam.
Semua mulut mahasiswa terpaku melihat seorang dosen tampan berusia di bawah 30 tahun tersebut.
Mata Jessi tak henti-hentinya menatap dosen baru."Ya ampun ganteng banget, Fira dosen kita ganteng bener"
Jessi memeluk pelan sahabatnya, ketampanan sang dosen telah banyak menghipnotis para mahasiswa bergender wanita.
Sebagain besar para mahasiswa gender wanita terkesima pada pak dosen. Tapi beda dengan Syafira, tatapannya bukan kagum, tapi ada maksud tersembunyi.
"Pangeran Andara" batin Syafira.
Sosok dosen yang menjadi pembimbing mereka adalah pangeran Andara. Pria yang dapat membuat darah Syafira mendidih hanya karena melihatnya.
Dalam hati Syafira berdecak kesal, mengapa lagi-lagi ia harus bertemu dengan pria itu lagi.
__ADS_1
Wajah Syafira langsung tak semangat, ingin segera kelas berakhir. Sesak dadanya jika satu ruangan dengan laki-laki yang pernah menoreh luka cukup dalam di hati.
"Kenapa harus dia yang jadi dosennya, ini beneran dia atau cuman mirip aja" batin Syafira menerka-nerka.
Wajah dosen yang berdiri di depan amat mirip dengan suaminya pangeran Andara, si siluman ular.
Syafira menatap seksama dosen yang diam di tempat itu."Benar-benar memang dia"
"Apanya yang memang dia?" Tanya Jessi tak sengaja mendengar apa yang Syafira ucapkan.
Gelagat panik Syafira terlihat, tapi ia mencoba untuk tenang."Gak ada, gak ada apapun kok"
Senyum Syafira ukir, demi mengusir timbulnya kecurigaan Jessi lebih dalam lagi.
"Selamat pagi semua, perkenalkan nama saya Andara Wijaya, saya dosen baru kalian" dosen baru itu memperkenalkan diri pada semua orang.
Semua mahasiswa menyambut hangat kedatangan dosen baru.
Syafira makin diam mematung, selain wajah, nama dosen baru itu sama dengan nama orang yang pernah tinggal bersama dengannya.
"Gak salah lagi, dia memang pangeran Andara, kenapa dia datang ke sini, apa dia sudah tau kalau aku kabur dari istana" batin Syafira.
"Dia pasti sudah tau, tapi mengapa dia harus datang ke dalam hidup ku lagi, apa yang dia rencanakan sebenarnya, mengapa dia sampai berpura-pura menjadi dosen. Aku harus waspada, aku gak boleh masuk ke dalam jurang yang sama" batin Syafira.
Dosen bernama pak Andara membimbing para mahasiswa dengan baik.
Syafira tak mendengarkan sama sekali, ia hanya diam tanpa berkata-kata, matanya terus melirik jam yang tak kunjung berputar, waktu begitu lambat. Syafira ingin kelas segera berakhir, malas mendengar suara pangeran Andara terus menerus.
Ketika kelas berakhir Syafira dan Jessi langsung keluar. Jessi terus membahas pangeran Andara, dosen yang di sebut-sebut tampan dan masih muda. Alih-alih ingin mendapatkannya pun terus terdengar, tak hanya dari mulut Jessi, mahasiswa lainnya pun juga membicarakan dosen tampan itu di sepanjang jalan.
Kedatangan dosen tampan telah menggemparkan seisi kampus, mumet Syafira mendengar para mahasiswa membicarakan pangeran Andara.
Syafira kira setelah keluar dari istana ia akan kembali melanjutkan hidup dengan baik namun nyatanya tak ada yang berubah, bayang-bayang pangeran Andara terus saja mendominasi hidup.
"Syafira tadi dosen itu ganteng banget tau, masih muda udah jadi dosen, dia single gak ya" tebak Jessi.
Ingatan terus membawa Jessi pada dosen tampan bernama Andara Wijaya. Wajah pangeran Andara tak lepas sedikitpun dari benak Jessi.
"Hehe" Syafira tertawa paksa.
Begitu garing tawanya, tapi demi menghargai sahabatnya terpaksa ia lakukan.
__ADS_1
"Aku akan cari tau apakah dia udah punya pacar atau enggak, kalau enggak aku akan maju paling depan, akan aku taklukan hati pak dosen" begitu bersemangat Jessi.
Syafira tersenyum kecut, ia sudah tau betul siapa pak dosen yang lagi di kejar-kejar oleh semua mahasiswa.
Seandainya mereka tau mereka tak mungkin mau berdekatan dengan pak dosen alias siluman ular.
"Jes aku mau ke toilet dulu, kamu duluan aja" ucap Syafira.
"Oke, Fira aku gak bisa pulang bareng kamu, aku mau beli buku di toko soalnya, kamu bisa kan pulang sendiri?"
"Bisa dong, aku akan pulang sendiri, kamu gak perlu khawatir" balas Syafira.
"Oke, kita jumpa besok, bye"
"Bye"
Jessi pulang duluan meninggalkan Syafira sementara Syafira mendatangi toilet umum.
Menatap wajahnya di wastafel, ia lalu mencuci muka, matanya menjadi tak segar sejak melihat kembali pangeran ular itu.
Syafira mengelap wajahnya yang basah menggunakan tisu.
"Kenapa dia harus datang lagi, apa lagi yang mau dia lakukan, apakah kurang semua yang dia lakukan selama ini"
"Apa perlu dia menghancurkan hidup ku lebih lama lagi"
Di toilet Syafira mengomel, hatinya kembali memanas, padahal pertemuannya dengan pangeran Andara berlangsung tak lama, tetap saja jiwa Syafira terbakar.
Tiba-tiba sebuah tangan kekar melingkar ke pinggang Syafira.
"Lepas, lepasin!" Titah Syafira memberontak.
Pria itu malah mengeratkan pelukan, tak ingin melepas pelukannya sama sekali.
"Lepasin, apakah kau tuli" titah Syafira sekali lagi.
"Tidak, aku tidak akan melepaskan mu, sampai kapan pun aku tidak akan melepaskan mu" ngotot pangeran Andara makin mengeratkan pelukan.
Syafira menyingkirkan paksa tangan pangeran Andara.
Plak
__ADS_1
Tamparan keras mendarat di pipi mulus pangeran Andara.
Suara tamparan itu menggelegar, pangeran Andara menatap Syafira tak percaya.