
“Biar gue tebak, lo Pasti lagi senyum-senyum kan,”
“Enggak,”
“lya juga gak apa-apa.”
“Enggak Percaya diri amat.”
“Cewek cuh gitu, gengsinya tinggi, apa susahnya bilang . iya,” cibir Regan
“Aku tidur ya Kak, ngantuk.”
“Padahal masih kangen.”
" Besok kan ketemu.”
“Beneran lo ke sini ? Oke deal, kalo lo bohong, gue cium, titik,” jeda Regan sebentar
" istirahat yang cukup, kalo kangen bilang. Tapi maaf kalo gue gak langsung ada, cuma bisa ada di mimpi sama di hati lo. itu pun kalo lo mau.”
“Iya Kak, jangan kecapean ya.”
“lya.”
Sambungan telepon itu terputus Senang rasanya hanya memikirkan satu hal, seharusnya dia bertemu dengan Jingga dari dulu agar merasa senang terus. Ini adalah kali Pertama Regan bersemangat dalam melakukan sesuatu, sedikit geli tapi dia menikmatinya. Terima kasih Jingga. Karena membuat hidup Regan lebih berwarna.
__ADS_1
Bella tersenyum, di tangannya sudah ada jaket Regan. Dia kemudian memberikan jaket itu kepada Regan.
“Makasih,” kata Regan seraya memakai jaketnya.
“Tadi Tante Melina yang kasih jaket ini. Terus kata Om Reno, lo Pulang aja, biar Om Reno yang jaga di rumah sakit malam ini,” kata Bella.
Reno itu Papa Regan. Regan sangat jarang bertemu dengan Reno karena Reno sangat sibuk dengan manajemen , artisnya. Tapi, Regan sangat sayang dan menghormati Reno.
“Sekarang Papa di mana,” tanya Regan
“Lagi sama dokternya Tante Elena.”
“Oh.”
Regan menoleh ke arah Bella. Dia sedikit tidak suka jika Bella terus-menerus menyangkut Pautkan semua masalah dengan Jingga.
“Izin apa,”
“Izin buat berduaan sama Pacarnya,” kata Bella.
“Kita Gak Pacaran.”
Tatapan mata Bella melebar saat mendengar Pernyataan Regan barusan. Setelah Regan dekat dengan Jingga seperti sekarang Regan masih belum memberi kejelasan tentang hubungannya Cowok seperti apa Regan yang begitu lambat, dan Jingga mau-maunya menunggu cowok bebal seperti Regan
“Jadi kalian belum Pacaran,”
__ADS_1
“Begitulah.”
“Bego,” cibir Bella sambil menoyor kepala Regan kesal. “ Jingga itu cewek dan dia butuh kejelasan emangnya lo mau dia ditikung orang,”
“Gue belum yakin Jingga bakalan menerima cinta gue.”
“Lo itu gimana sih, Lan. Logikanya begini, mana mungkin seorang cewek mau nunggu cowok, atau susah-susah jelasin kalo dia gak suka sama cowok lain sama b. Dia lebih Pilih lo yang menyebalkan daripada cowok keren lainnya. Lo emang ganteng Regan, tapi untuk urusan cewek, lo Paling bego.” Bella menceramahi Regan, kesal.
“Jangan biarin Jingga nunggu lo kelamaan, dan lo juga jangan kelamaan kasih dia kepastian. Bukan salah satu yang akan Juka, tapi kalian berdua akan terluka.” Bella menempelkan kedua tangannya di bahu Regan dan tatapannya lurus ke arah mata Regan
Regan tersenyum simpul ke arah Bella. Regan Perlahan melepaskan lengan Bella dari bahunya.
“Jangan Pegang-pegang, khusus Jingga” ujar Regan sambil tertawa.
“Ish,” rajuk Bella, dia Pun ikut tertawa.
“Cari makan ayo, Bel,” ajak Regan
“Lo duluan, gue mau ke toilet sebentar.”
Regan mengacungkan tangannya dan berjalan meninggalkan Bella. Bella menatap Punggung Regan dengan mata yang berkaca-kaca. Air matanya terjatuh, dengan cepat Bella menyekanya. Dia ke toilet iru hanya alibi. Perasaan Bella campur aduk, antara sedih dan bahagia Sedih karena kini dia tak bisa terus-terusan bareng Regan. Bahagia karena akhirnya Regan bisa menemukan kebahagiaannya.
Jika Jingga adalah bahagia yang Regan Pilih, dia akan lebih memilih mundur dan mendoakan yang terbaik untuk Regan. Bukan menyerah, tapi memperjuangkan yang Paling besar adalah dengan cara mendoakan.
...••••...
__ADS_1