
HARI ini jadwal rutin Bella berobat ke rumah sakit. Meskipun Bella sudah melarang, Regan bersikeras ingin mengantar Bella. Padahal Bella sudah meminta Regan untuk tetap sekolah. Namun, Regan selalu ingin mengantar dan menemani Bella berobat, memastikan Bella baik-baik saja.
“Padahal gak usah segitunya, gue juga bisa sendiri atau dianter sama Mama ke sini,” kata Bella.
“Selagi gue bisa kenapa enggak.”
“Lo harusnya gak bolos sekolah.”
“Sebulan sekali ini,” kata Regan
Regan memang keras kepala. Bella akhirnya Pasrah, terserahlah apa kemauan Regan. Tapi, Bella cukup bersyukur karena Regan yang selalu ada di sampingnya seperti ini. Dia bahagia memiliki sahabat seperti Regan. Bella tidak mau menaikkan status Pertemanan mereka karena hati Bella
Sudah stuck Pada lelaki lain. Dia menganggap Regan tidak lebih dari sekadar seorang sahabat.
“Seandainya lo Fathur,” ujar Bella.
“Gantengan gue daripada Fathur.”
Senyum Bella tercetak di bibirnya, lalu dia menatap ke arah Regan
" Tapi tetep yang gue cinta cuma Fathur.”
Pernyataan Bella barusan begitu menusuk Perasaan Regan. Dia memang sudah. lama mencintai Bella dan menginginkan Bella menjadi Pacarnya. Namun, Bella tetap tidak bisa menerima Perasaan Regan. Bella selalu mengalihkan Meskipun begitu asalkan Regan tetap berada di samping Bella, semuanya sudah lebih dari cukup. Dia menyayangi Bella melebihi apa pun, dan Regan ingin menjaga Bella agar nggak ada satu orang pun yang menyakitinya.
__ADS_1
“Dia gak suka sama lo.”
Bella mengangguk. “Gue tau, tapi gue sayang Fathur.”
“Perasaan itu Nggak bisa dipaksakan, Bel.”
“lya Regan, gue ngerti. Tapi, gue sayang Fathur dan itu . hak gue jadi lo gak Perlu ceramahin dan nyuruh gue buat move on dari Fathur.”
“Lo akan semakin sakit kalo lo tetep bertahan sama Perasaan yang nggak berbalas ini.”
“Seenggaknya dia tahu gue sayang dia.”
“Terserah lah.” Regan kesal, jika sudah menyangkut Fathur, Bella akan keras kepala dan susah untuk diberi nasihat.
Bagi Bella, Fathur adalah segalanya. Itulah kenapa Regan Ah seandainya saja Regan adalah Fathur, dicintai oleh Bella dengan begitu tulusnya. ‘
Setelah mengante, giliran Bella untuk cek up akhirnya tiba. Regan menunggu dengan sabar sampai Bella keluar kembali dari ruangan dokter itu.
Setelah selesai Pemeriksaan Regan langsung mengantarkan Bella Pulang.
“Hai Regan, makasih ya udah repot-repot anterin Bella," sapa Novia, mama Bella, saat mereka baru saja sampai rumah.
“Sama-sama, Tante.”
__ADS_1
“Gimana hasilnya, Bel," tanya Novia tampak khawatir.
“Bella baik-baik aja, Mama gak usah khawatir,” jawab Bella sambil tersenyum.
“Obatnya nambah banyak, Kak," sahur Alana.
Bella tersenyum. “ ini kebanyakan hanya vitamin supaya gue kuat.” ”
“Pembohong,” cibir Alana, lalu dia masuk ke kamarnya
" Alana kok ada di rumah Ma, gak sekolah dia,” tanya Bella
“Tadi gak enak badan, dianterin temennya,” jawab Novia.
Bella memang semakin membaik dia tidak berbohong sama sekali. Bella memang bertekad untuk sembuh, tak Peduli obatnya dan mengikuti apa yang dikatakan oleh dokter. Sakit bukan berarti dia harus terlihat lemah di hadapan orang lain.
“Lo gak mau Pulang,” tanya Bella
“Gue diusir,"
“Sensitif amat Mas kayak Pantat bayi, makan es krim yuk,"
" Tapi Bella .... "
__ADS_1
“Gue baik-baik aja,”
...••••...