
TINGKAH Jane, Kate, dan Anna kayak anak kecil saja. Bantal dan guling di kamar Ku Jingga mereka jadiin mainan lempar-lemparan Kamar Jingga pun jadi Porak-poranda, bagaikan kapal Pecah. Namun, Jingga sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini, mereka memang hobi berantakin kamarnya.
“Bosen nih, main apa kek gitu,” kata Jane sambil memainkan Ponselnya.
“ToD mau gak,” usul Anna.
Jane dan Kate mengangguk setuju, tapi raut wajah Jingga terlihat tidak bersemangat. Permainan ToD adalah satu Permainan yang selalu Jingga hindari dari dulu, dia kurang suka dengan Permainan itu Tapi bagaimana lagi, mereka bertiga sudah setuju. Dia kalah suara. Jadi, Jingga tidak bisa menghindar lagi dari Permainan ini.
" Jingga Pulpen,” Pinta Kate
Jingga mengeluarkan Pulpen dari tas sekolahnya dan diberikannya kepada Kate, Kate langsung meletakkan Pulpen itu di tengah-tengah mereka. Sekarang keempatnya sudah duduk di karpet, menunggu Putaran Pertama dimulai.
“Siapa yang mau Puter duluan,” tanya Kate
“Gue,” jawab Anna, Dia langsung memutar Pulpen itu, setelah berputar beberapa Putaran akhirnya kepala Pulpen itu menunjuk ke arah Jingga. Jingga menatap ke arah teman-temannya dengan tatapan Polos.
“Truth or Dare,” tanya Anna.
Jingga diam, dia bingung harus memilih apa. Jika truth, dia takut diberi Pertanyaan tentang alasan dia Pindah sekolah. Tapi, jika dare dia juga takut akan diberi tantangan aneh-aneh oleh mereka bertiga.
__ADS_1
“Ayo Jingga, Pilih apa,” Kate menjadi gemas sendiri karena Jingga diam saja.
“Dare,” Putus Jingga
Senyum Anna berubah menjadi seringai menyeramkan. Jingga merasakan aura-aura horor di sekitar mereka, Anna tertawa melihat raut wajah Jingga yang sudah Pucat.
“Sekarang lo telepon Regan bilang sama dia besok dia harus jemput lo ke sekolah,” titah Anna sambil tertawa Puas.
Tatapan mata Jingga melebar. Dare dari Anna barusan benar-benar gila, sekarang Jingga lagi dalam masa tidak ingin terlibat dalam urusan apa pun lagi dengan Regan Tapi dare dari Anna barusan membuat Posisinya menjadi begitu sulit sekarang. Kalau tahu seperti ini, Jingga akan lebih memilih truth dan menjelaskan mengapa dia Pindah sekolah daripada harus menambah lagi masalah.
“Gak. Cari mati itu namanya Na ganti dare-nya,” Protes Jingga
Memang hanya teman yang bisa mempermalukan temannya untuk kesenangan semata. Anna bukan jahat, hanya saja dia suka melihat Jingga jika berdekatan dengan Regan. Menurutnya, keduanya seperti Penyatuan yang sangat sempurna dan seirama.
“Gue ganti jadi truth aja gimana,” tawar Jingga
“Mana bisa gitu, buruan elah Jingga. Cuma telepon aja dan bilang Kak besok jemput aku ya.” Kate memperagakan, dan begonya Jingga ikut tertawa dengan kelakuan Kate barusan
Tak ada Pilihan lain, Jingga akhirnya terpaksa menelepon Regan. Jingga menghela napasnya Perlahan, lalu jari-jarinya mencari kontak Line Regan, dan menekan icon telepon untuk fiture freecall.
__ADS_1
" Ngapain lo nelepon gue ? Mau ceramah,” ujar suara cowok yang berasal dari handphone Jingga
Anna, Jane, dan Kate hampir tak Percaya mendengar suara Regan yang berasal dari Ponsel Jingga Regan adalah orang yang Paling anti mengangkat telepon dari cewek, dan ini adalah salah satu kejanggalan yang terjadi di antara Jingga dan Regan
" Kak Regan, besok berangkat bareng ya,” Jingga langsung ke inti pembicaraan mereka, dia tidak mau lama-lama berada dalam momen award bersama Regan
Sekarang harapan Jingga hanya satu, yaitu Regan menolaknya seperti saat kali Pertama Jingga meminta tumpangan kepada Regan
“Oke.”
Jingga syok seketika. Dia tak Percaya saat Regan mengiyakan Permintaannya barusan. Kenapa Regan begitu menyebalkan, kenapa dia tidak menolak Permintaannya itu ? Terkadang hal seperti ini terjadi. Ketika kita sangat menginginkan sesuatu, biasanya akan Sulit diraih. Tapi saat kita tidak menginginkannya dia justru akan Perlahan menghampiri.
Sambungan free call di Line Jingga langsung tertutup sepihak. Jingga lalu menatap ke arah tiga temannya itu Selamat ? Mereka telah berhasil harga dirinya jatuh karena mengajak Regan berangkat bereng di saat dia ingin menghindari Regan
Takdir cewek adalah menunggu bukan memulai.
“Puas,” ujar Jingga kesal.
Ketiganya tertawa Puas, mereka bahkan tak menyangka bahwa Regan akan mengiyakan Permintaan Jingga barusan Jangankan mau jemput mengangkat telepon Jingga aja udah keajaiban.
__ADS_1
Regan dan Jingga seperti jadi orang lain dalam waktu yang bersamaan
...••••...