
Di lahirkan berbeda justru membuatku istimewa. Berbeda bukan berarti aku cacat atau semacamnya. Aku berbeda karna warna mata dan rambutku. Dokter kira ada kelainan, tapi saat neneku yang ta pernah keluar dari kampung kelahiraanya itu datang ke kota karna mendengar kelahiran ku, semua pemeriksaan yang akan aku jalani langsung di batalkan. Saat usia ku 2 tahun nenek menyuruh papah memecat semua pengurus rumah termasuk suster yang mengasuhku kecuali keluarga pak jono beliau adalah supir keluarga kami sedang istrinya adalah pengurus rumah kami namanya bi Marni. Sejak saat itu aku di asuh nenek , nenek yang ta pernah meninggalkan desa kelahiranya itu memutuskan untuk menetap di kota untuk merawat ku.
Dan inilah aku sekarang dengan seragam putih abu abu, aku mulai melajukan mobilku menuju sekolah terfaforit di kota ini. Setelah memarkir mobil aku ta langsung keluar aku terlebih dulu berkaca setelah menurutku semuanya sempurna , akupun keluar dari mobil. Kedua sahabatku langsung menyambutku saat aku keluar dari mobil.
"Hay para dayang dayang ku," sapa ku dengan senyum manisku." Apakah kalian ok, bagaimana ospek kemarin apakah seru 😂😂😂," ujarku sambil terkekeh.
"Apanya yang seru loe enak ga ikut ospek, la kita di jemur seharian ampe gosong kaya gini," ujar devi yang sudah memonyongkan bibirnya .
"Bukan kita tepatnya itu loe," saut nina.
"Duh kasian sekali temenku yang **** ini udah kaya ikan asin di jemur segala,"ucap ku sambil terkekeh. "Memangnya kemana pesonamu itu , bukanya kamu selalu sesumbar kalo tidak ada yang ta terpesona dengan kecantikan dan kemontokanmu itu," seruku kembali dengan di akhiri tawa keras ku dan Nina.
"Emang teman laknat ya loe pada, nggak ada yang kasihan sama gue," ujar Devi.
"Justru itu sa dia di hukum kakak kelas karna baju dan roknya kekecilan," ijar nina yang membuatku semakin tertawa girang.
"Puas loe pada ketawain gue," ujar devi kemudian berjalan meninggalkan kami di parkiran.
"Ngambek ngambek gitu aja ngambek, ntar gue balas biar tau rasa yang mana orangnya," ujar sambil mengejar devi dan merangkul pundaknya.
"Yaelah Dev gitu aja marah," ujar Nina yang ikut menyusul.
"Kita satu kelas lagi kan?" tanya Devi.
"Tentu saja Devi kusayang," jawabku yang sudah merangkul kedua lengan sabatku ini.
__ADS_1
"Loe itu kalo bego jangan kebangetan ngapa Dev, kalo mau nanya yang agak bermutu sedikit kenapa," ujar Nina.
"Yaela gue goblok juga karna temen gue kalian, kalo temen gue bukan kalian gue bakal jadi yang paling pinter," cerocos Devi.
"Ah masa," ujar ku.
"Yang bener," sambung Nina.
"Kurang asem emang loe pada, bisa bisanya gue berteman sama kalian," ujar Devi.
Kami sudah lama bersahabat sejak kami sd sampai sekarang kami selalu sekolah di tempat yang sama di kelas yang sama pula. Kenapa bisa begitu, tentu saja itu karna papah ku. Sekolah tempatku menimba ilmu adalah milik keluargaku karna itu untuk tetap sekelas dengan mereka bukanlah hal yang sulit. karna itu pula aku ta ikut ospek, sebenarnya aku bisa saja membuat kedua sahabat ku itu ta mengikuti ospek, tapi kalau itu ku lakukan aku tidak bisa melihat mulut manyun si devi hahaha bukanya aku jahat tapi aku suka aja kalau lihat si devi manyun😂
Jam pelajaran pun di mulai aku duduk di bangku paling belakang , begitu pula Nina sedangkan Devi duduk di depan ku. Aku memilih duduk di pojok belakang dekat jendela, yang langsung menghadap ke lapangan. Lumayan bisa cuci mata lihat cogan kalo bosen. pelajaran pertama di hari pertama sekolah, cukup ok lah gurunya tidak lumayan bening jadi bisa sekalian cuci mata😅. Layaknya remaja pada umumnya aku dan kedua sahabatku lagi dalam masa puber. Dimana kita selalu ingin menjadi pusat perhatian dimana pun kita berada😂.
"Aduh tuh mulut kenapa manyun trus gitu sih, gue kan udah minta maaf tadi di kelas. Loe masih belum maafin gue nih critanya," ujarku.
"Oooh jadi loe bukan marah sama gue, kalo gitu sebagai sahabat yang baik, gue akan bantu loe balas dendam , biar muka sahabat gue yang cantik dan semok ini ga manyun lagi," ujarku.
"Gue juga sa, kemarin waktu ospek gara gara kakak yang itu gue jadi di hukum," ujar nina menunjuk salah satu siswa yang sedang makan dikantin bersama teman temanya.
"Loe di hukum sama cogan itu? tanya devi.
"Bukan dia tapi pacar atau gebetanya gitu gue kurang paham, yang jelas gue di hukum gara gara dia keganjenan mulu sama gue. jadi sebel gue kalo inget kejadian waktu itu😡. Udah gue yang di godain gue juga yang kena hukuman," ujar Nina kesal.
"Udah biar gue beresin mereka semua, pesenin gue makan gih gue udah laper," pinta ku.
__ADS_1
"Siap bos," ujar nina.
"loe mau apa?" tanya Nina.
"Gue bakso sama es jeruk," jawab ku yang langsung di angguki nina.
"Gue jus alpukad ya nin sekalian gue mager nih," ujar devi.
"Loe mah tiap hari mager, kapan loe nggak mager," ujar nina yang lansung memesankan makanan kami di salah satu kedai di kantin.
Sembari menunggu makanan kami datang , aku memulai aksiku. aku mulai dari cewek cewek yang dari tadi berisik.
Aku pun memulai aksi ki, sambil memikirkan yang aku inginkan aku menjentikan jari ku. Dan seketika kantin pun menjadi heboh karna ulah Elsa. Tiba tiba saja bakso yang hendak masuk mulut Salsa malah kelempar ke muka teman laki lakinya dan ketika hendak mengambil tisu Salsa malah menyiramkan es jeruk ke tubuh temanya itu. Salsa berulang kali meminta maaf sambil kebingungan. Ia tidak mengerti kenapa tanganya bergerak sendiri seperti ada yang mengendalikan.
Ryan dan Doni yang kesal akhirnya meninggalkan kantin, sedangkan Salsa dan gengnya mengikuti di belakang. Sedangkan di meja sebelah Elsa Nina dan Devi tertawa puas dengan kinerja Elsa.
"Gimana bu bos kalian puas dengan hasil kerja saya?" ujar Elsa dengan bangganya. "
"Seperti biasa kerja anda sangat memuaskan," ujar Nina kemudian tertawa.
"Bagaimana dengan bu Devi apakah anda puas?" tanya ku.
"Sangat puas, karna kerja anda sangat memuaskan. Makan siang hari ini saya yang bayar semua," ujar Devi.
"Terima kasih atas pujian dan makananya,' ujar ku. Kemudian kami bertika tertawa terbahak bahak bersama.
__ADS_1
semoga suka dengan perbaikan yang saya lakukan, selamat membaca kembali.