
Mobil milik Elsa memasuki rumah dengan model klasik moderen, rumah tersebut terlihat megah dan asri banyak bebagai tumbuhan di sana. Sang sopir menghetikan mobil di depan pintu, Elsa pun turun dengan wajah yang muram. Melihat nona mudanya yang biasa ceria dan manis itu muram. Marni langsung menghampiri dan mengambil tas yang Elsa tinggal di mobil begitu saja. Marni mengisyaratkan rekan kerjanya untuk membuat minum untuk nona mudanya itu. Sedangkan Marni menanyai suaminya kenapa nona mudanya itu cemberut.
"Non Elsa kenapa kok cemberut, bapak telat ya jemput nya?" tanya Marni.
"Bapak nggak telat malah bapak sempet nunggu di parkiran," ujar sang suami.
"Terus kenapa pulang pulang manyun gitu?" ujar Marni kembali.
"Mana bapak tau tadi di mobil non Elsa nerima telfon, terus tiba tiba wajahnya langsung cemberut begitu," ujar sang suami.
"Telfon dari siapa," tanya Marni.
"Mana bapak tau,"
Sedangkan Elsa langsung duduk di sofa, dan kepalanya ia senderkan di sandaran sofa matanya terpejam menahan amarah.
Sedangkan Mirna rekan Marni, setelah menaruh air untyk Elsa di meja. Langsung membukakan sepatu milik sang majikan dan menggantinya dengan alas kaki rumahan.
"Anak mamah kenapa? Kok lesu gitu nggak seneng ya mamah papah pulang," ujar Sania.
"Mamah," ujar Elsa sambil merentangkan tanganya sambil duduk di sofa.
Sania pun menghampiri putri kesayanganya dan memeluknya.
"Mamah kangen banget sama kamu," ujar Sania.
"Elsa juga," jawab Elsa singkat.
"Kok papah nggak di ajak," ujar Arman dan menghampiri putri dan istrinya. Arman pun mengelus rambut Elsa dan duduk di sampingnya.
"Kirain sepi belum pulang, ternyata udah pada ngumpul disini. Loe kenapa cil nangisin Erik loe, masa gitu aja nangis. Gimana kalo lihat Erik di kelilingi cewek cewek, bisa kejang kejang nanti," ujar Elo.
"Nggak usah rese deh, siapa juga yang nangis," ujar Elo.
Elo pun ikut nimbrung duduk di ruang keluarga.
"Mamah doang nih yang di peluk kakak nggak," ujar Elo.
"Ngabtri papah aja belum dapat giliran," ujar Arman. yang langsung dapat pelukan dari Elsa.
"Kakak juga mau dong di peluk, jangan cuma mamah papah doang," ujar Elo sambil merentangkan tangan.
"Ogah, males banget aku meluk kakak rese," ujar Elsa yang di sambut tawa oleh Sanua dan Arman.
__ADS_1
"Ada apa ini kok rame bener, omah nggak di ajak nih," ujar Lili yang baru datang dari dapur sambil membawa cemilan kesukaan cucu cucunya.
"Itu omah si Elsa nggak mau meluk aku omah," adu Elo.
"Salah sendiri ngecengin aku, sok ngadu ke omah. Omah Lili kan omahnya Elsa jadi pasti belain Elsa, ya kan omah," ujar Elsa.
"Cie omah, udah bisa manggil omah nih sekarang, biasanya nenek," ujar Elo kemudian terkekeh.
"Tuh kan omah, kak Elo tuh sukanya gitu gangguin Elsa mulu. Nggak ada baik baiknya jadi kakak," ujar Elsa.
"Yaaa nih bocil nggak ada terima kasihnya ke kakak sendiri. Padahal gue udah baik telfonin sih Erik supaya dia bisa balik nemuin loe. Udah nggak dapat pelukan rugi beliin tiket pesawat pula," ujar Elo.
"Beneran kak Erik pulang, kapan kak Erik pulang?" tanya Elsa antusias.
"Giliran denger nama Erik aja muka loe langsung girang gitu. Nyesel gue nyuruh Erik pulang, tau gitu biarin aja dia disana terus. Padahal gue sampai ngirim orang buat gantiin dia disana. Tapi malah ada yang nggak tau terima kasih," sindir Elo.
"Terima kasih kakak ku yang paling baik paling ganteng paling keren sedunia," ujar Elsa sambil menciumi wajah Elo sambil duduk di pangkuanya dan memeluk tubuh Elo erat.
"Gantengan mana sama Erik?" tanya Elo.
"Tetep kak Erik dia nggak ada bandinganya," ujar Elsa.
"Tadi katanya kakak yang terbaik paling keren paling ganteng," ujar Elo.
"Lah emang kakak bukan pria sa?"
"Bukan kakak itu kakaknya Elsa," ujar Elsa.
"Jadi tetep Erik nih ysng no satu?"
Elsa mengangguk sambil mengunyah cemilan yang Lili bawa.
"Kalo gitu minta pangku Erik sana, jangan duduk di pangkuan kakak."
"Iya entar kalo kak Erik udah pulang," ujar Elsa santai.
"Yeee ganjen banget loe bocil, mau duduk di pangkuan Erik. Awas aja kalo loe berani duduk di pangkuan Erik, nanti kakak hajar," ujar Elo.
"Siapa yang mau kakak hajar, kakak mau mukul aku. aku ini adik kakak satu satunya loe," ujar Elsa.
"Tentu saja Erik yang abang hajar, berani beraninya dia biarin kamu duduk di pangkuanya," ujar Elo.
"Bukanya tadi kakak sendiri yang nyuruh," ujar Elsa.
__ADS_1
"Nggak boleh kamu cuma boleh duduk di pangkuan abang," ujar Elo.
"Kalo peluk sama cium boleh nggak?" tanya Elsa.
"Boleh tapi jangan cium bibir," ujar Elo.
"Kenapa nggak boleh, Elsa kan udah gede. Elsa juga nanti mau punya dua atau tiga pacar sebelum lulus SMA," ujar Elsa.
"Nggak boleh, kamu masih kecil nggak boleh pacaran. Awas aja kalo berani pacaran kakak laporin ke Erik nanti kamu," ujar Elo.
"Laporin aja siapa suruh jarang pulang," ujar Elsa.
"Kamu belajar dari mana sih emang di sekolah gurunya ngajarinya begitu ya," ujar Elo.
"Belajar dari siapa dari Devi atau Nina, buat mereka pindah sekolah aja pah. Atau Elsa ikut Elo biarin sekolah di luar aja, biar bisa Elo pantau setiap hari," ujar Elo.
"Orang Niba sama Devi aja nggak punya pacar," ujar Elsa.
"Terus kamu tau pacaran dari mana?" tanya Elo.
"Dari kakak kelas Elsa yang kemarin berantem sama Elsa," ujar Elsa keceplosan.
"Kamu berantem sama siapa!" tanya ke empatnya serentak. Sania Lili dan Arman yang sedari tadi hanya diam ikut bersuara.
"Tenang Elsa nggak bikin masalah kok, mereka juga baik baik aja," ujar Elsa.
"Syukur deh kalo begitu," ujar keempatnya kembali kompak, sambil mengela nafas.
"Terus kamu nggak kenapa napa kan?" tanya Elo.
"Nggak cuma tadi Elsa sama temen temen dapat hukuman di suruh nyapu halaman. Makanya tadi Elsa telat pulangnya, terus waktu di jalan Elsa dapat telfon katanya buku tugas Elsa, Nina sama Devi di temuin di tempat sampah. Makanya tadi Elsa kesel banget tapi Elsa tahan. Pasti ada yang iseng, awas aja bakal Elsa bales besoj di sekolah," ujar Elsa.
"Apa kakak besok kesekolah biar yang gangguin kamu di keluarin dari sekolah,' ujar Elo.
"Nggak perlu enak banget di keluarin dari sekolah, Elsa mau mereka juga di hukum kaya Elsa," ujar Elsa.
Kalo sudah kumpul mereka tidak mau melewatkan waktu sedikit pun untuk duduk bersama bersendau gurau. Karna mereka sadar waktu mereka bisa berkumpul bersama itu sedikit. Selesai makan malam pun mereka kembali duduk di ruang keluarga. Bercerita dan mendengarkan cerita bersama, sampai sampai Elsa ketiduran di pangkuan Arman. Elsa memang begitu manja dengan keluarganya, apalagi dia bungsu dan perempuan. Sudah jelas semua perhatian dan kasih sayang keluarga tercurah untuknya.
"Biar Elo yang bawa Elsa ke kamar, mamah papah sama omah ke kamar aja," ujar Elo.
Elo pun membawa Elsa ke kamarnya, ia kemudian menyelimuti Elsa dan mencium keningnya ia mematikan lampu setelah menyalakan lampu tidur. Tak lupa ia juga menutup pintu setelah keluar dari kamar Elsa.
"Semoga mimpi indah cup," sebuah kecupan mendarat di bibir Elsa. Namun kali ini bukan dari sang kakak.
__ADS_1