Jodoh Dari Nenek

Jodoh Dari Nenek
Masih di bawah umur


__ADS_3

Elsa terus mengikuti Erik sampai ke dalam apartemenya.


"Kakak marah?" ujar Elsa sambil memeluk Erik dari belakang. Erik menyeringai mendapat pelukan dari Elsa, sorot matanya mulai berubah.


"Maaf deh aku ngaku salah," ujar Elsa kembali.


"Minta maaf saja tidak cukup," ujar Erik kemudian membalikan badanya. Ia membelai wajah Elsa, kemudian mencengkeram wajah Elsa.


"Sakit kak," keluh Elsa sambil berusaha melepas cengkraman Erik.


Namun bukanya melepas, Erik justru mendorong Elsa ke dinding dengan keras. Ia dengan paksa m****** b**** Elsa secara brutal sampai Elsa hampir kehabisan nafas.


"Keluar sekarang juga," ujar Erik lirih sambil memegangi dadanya. Ia berusaha melawan sesuatu yang ada di dalam tubuhnya sambil menahan sakit.


"Kakak kenapa kak, apa yang sakit?" tanya Elsa panik dan khawatir dengan kondisi Erik.


"Pergi dari sini jangan mendekat, aku sudah tidak sanggup lagi aaaahk," teriak Erik kemudian tersungkur.


"Kaaaaak kakak kenapa," ujar Elsa yang tak peduli dengan perintah Erik. Elsa memegangi tubuh Erik dengan gelisah.


"Aaaahk," teriak Elsa yang terkejut karna tiba tiba Erik mencengkeram kedua tanganya, sambil menyeringai. Erik kembali me***** ***** Elsa dengan penuh na***. Li***nya mulai menjangkau area se****** Elsa.


"Kak apa yang kakak lakukan sadar kak, ini bukan kak Erik yang selama ini ku kenal. Ada apa dengan kakak sebenarnya Aaaahk," Teriak Elsa karna bajunya telah di robek oleh Erik. Elsa ingin melawan tapi dia takut Erik terluka, karna setau Elsa Erik tidak memiliki kekuatan magic seperti dirinya. Tapi sorot mata Erik berbeda dari biasanya tubuhnya juga di selimuti aura gelap. Elsa hanya bisa menghindar, tanpa melawan hingga seisi apartemen Erik berantakan karnanya. Elsa terus berusaha menyadarkan Erik ketika Erik kembali menangkapnya. Hingga kesadaran Erik akhirnya kembali, kemudian dia jatuh di atas tubuh Elsa yang sudah penuh dengan bekas merah di sekujur tubuhnya.


Elsa membaringkan Erik yang sudah tidak sadarkan diri, kemudian menyelimutinya. Kemudian ia mencari baju Erik untuk ia kenakan, karna baju yang dia pakai sudah tidak berbentuk lagi. Elsa kemudian mengambil ponsel Erik, ia berniat menelfon pembantu Erik untuk membereskan kekacauan yang ia dan Erik buat. Setelah itu baru dia akan menghubungi supir untuk menjemputnya di apartemen Erik. Namun ketika membuka ponsel Erik, ada begitu banyak panggilan dari Elo. Sehingga dia terlebih dulu menghubungi Elo, takut kakanya itu khawatir.


Tapi panggilan Elsa justru di tolak oleh Elo. Elsa kemudian mengirim pesan bahwa dia sedang bersama Erik. Elo membalas pesan Elsa, ia meminta Elsa tetap bersama Erik sebelum ia menyuruhnya pulang kerumah.


Setelah hampir satu jam tidak sadarkan diri, akhirnya Erik terbangun. Ia memegangi kepalanya, sambil kebingungan. Ia melihat di sebelahnya ada Elsa yang asik dengan ponselnya.


"Kakak udah bangun?" tanya Elsa. "Masih sakit?" tanya Elsa kembali.


Erik merasa kepala sangat pusing.


"Kenapa kamu ada disini?"


"Kakak lupa sama semua yang kakak tadi lakukan?"


Erik berniat untuk bangun dari tempat tidur, namun ia kembali menutupi tubuhnya dengan selimut. Wajahnya terlihat sangat panik, ia menatap Elsa dengan segudang pertanyaan di otaknya.


"Apa yang terjadi?" tanya Erik dengan wajah panik.

__ADS_1


"Lihat dan asumsikan sendiri," ujar Elsa kemudian membuka bajunya.


Sekita Erik lsngsung membuang muka.


"Kenapa buang muka, ini semua hasil karya kakak barusan loh. Kakak mirip hewan buas waktu nyerang aku barusan, sampai aku hampir kehabisan nafas karna kakak."


"Pakai dulu baju kamu, kakak bisa jelasin nanti," pinta Erik.


Elsa kemudian kembali mengenakan bajunya.


"Sudah sekarang jelasin ke aku kaksk tadi kenapa?" tanya Elsa.


"Kamu bisa keluar dulu nggak?"


"Tadi katanya mau jelasin!"


"Iya tapi kakak pakai baju dulu, masa iya kakak harus cerita sambil bu***," ujar Erik.


"Emang kenapa kalo bu***, lagian aku tadi udah lihat semuanya kok. Punya kakak p****** banget aku sampe uuups," ujar Elsa keceplosan.


"Dasar mesum keluar keluar," ujar Erik sambil mendorong tubuh Elsa.


"Kamu belajar mesum dari siapa sih," ujar Erik.


"Dari kakak lah dari siapa lagi."


Setelah mengenakan pakaian Erik pun keluar dari kamarnya, baru saja melangkah Erik langsung di kejutkan dengan keadaan apartemenya. Ia menatap Elsa yang dengan santainya menonton tv. Ia kemudian menghampiri Elsa dengan tatapan penuh tanya.


"Bukan aku itu semua karna kakak kalo nggak percaya lihat aja cctv. Tadinya aku mau telfon pembantu kakak tapi aku lupa hehehe," ujar Elsa dengan wajah tampa dosa.


"Udah sore ayo kakak anter pulang, kakak jelasin di jalan," ujar Erik sambil mencari kunci mobil.


"Tadi kak Elo bilang kalo Elsa di suruh sama kak Erik dulu. Nanti katanya dia bakal telfon kalo Elsa udah boleh pulang," papar Elsa.


"Hhhhuf," Erik menghembuskan nafasnya berat sambil duduk di sebelah Elsa.


"Kenapa begitu bukanya kamu harusnya seneng, kita kan jadi bisa lanjutin yang tadi," ujar Elsa sambil duduk di pangkuan Erik.


"Nggak usah kamu kamu, panggil kakak," ujar Erik.


"Huuu nggak asik."

__ADS_1


"Jangan ngambek gitu dong, maafin kakak ya pasti sakit. Kakak nggak bisa kontrol emosi kakak," ujar Erik sambil memeluk Elsa.


Elsa memeluk Erik tanpa menjawab ucapan Erik.


"Mana saja yang sakit?" tanya Erik kembali tanpa melepas pulukanya.


"Semua," jawab Elsa.


Erik memejamkan matanya menyesali kebodohanya karna tidak dapat mengusai dirinya.


"Apa yang di bawah juga sakit?" bisik Erik.


"Iya semuanya sakit," ujar Elsa.


Mendengar jawaban Elsa Erik langsung melepaskan pelukanya, kemudian menurunkan Elsa dari pangkuanya.


"Sangat sakit?" tanya Erik panik.


"Nggak sih cuma agak nyeri," ujar Elsa.


"Boleh kakak lihat?"


"Tadi di suruh lihat malah Elsa di omelin," ujar Elsa.


"Coba kakak lihat yang bagian bawah," ujar Erik pelan.


"Bagian bawah yang mana? Kaki Elsa atau paha Elsa," ujar Elsa.


"Nggak usah pura pura bodoh deh, kakak lagi nggak bercanda."


"Kita nggak sampai lakuin sampai sejauh itu kok," ujar Elsa membuat Erik sedikit lega. "Tapi kalo kakak mau kita bisa lanjutin yang tadi kok," goda Elsa.


"Jangan aneh aneh masih belum waktunya, kalo tadi itu beda cerita," ujar Erik dengan tegas.


"Yakin nih nggak mau," ujar Elsa.


"Bukanya nggak mau tapi belum saatnya kita melakukan itu," ujar Erik kemudian kembali mengangkat tubuh Elsa ke pangkuanya.


"Kenapa memangnya aku kan udah SMA," ujar Elsa.


"Iya udah SMA tapi kamu belum cukup umur, kamu kan loncat kelas jadi belum waktunya. Kenapa jadi kamu yang kebelet sih, harunya kakak yang ngajakin begituan dasar mesum."

__ADS_1


__ADS_2