
Seperti biasa Elsa berangkat sekolah di antar oleh Elo dan Erik.
"Loe ngapain sih mgikutin kita mulu," ujar Elo.
"Bukanya kebalik, seharunya tuh kita yang bilang itu ke kak Elo," ujar Elsa.
"Ingat Elsa sayang sejauh apapun kamu pergi tempat mu kembali adalah keluarga."
"Apaan sih kak nggak jelas, nggak nyambung tau," ujar Elsa kesal.
"Perempuan sama laki laki itu bggak boleh berduaaan, nanti yang ketiganya setan," ujar Elo yang duduk di kursi belakang bersama Elsa. Sedangkan Erik duduk di belakang kemudi seperti supir yang mengantar majikanya.
__ADS_1
"Iya loe setanya puas loe," Erik menyerang balik.
"kampret loe jangan kurang ajar sama kakak ipar, yang sopan," ujar Elo.
"maaf kakak ipar," jawab Erik.
"Nah gitu dong, jadi adik ipar tuh yang sopan," ujar Elo.
Betapa tidak konyolnya mereka karna saling cemburu satu sama lain. Yang satu menganggap dirinya lebih berhak atas adiknya. Sedangkan yang satu menilai bahwa ia yang lebih berhak karna dia adalah calon istrinya.
"Loe kenapa sa pagi pagi udah manyun gitu?" tanya Devi.
__ADS_1
" pusing gue dari bangun tidur sampai tidur lagi, mereka berdua nggak berhenti ribut," papar Elsa.
"Jadi gimana akhirnya, siapa yang menang?" tanya Nina.
"Au ah gue pusing keduanya sama sama kuat, gue nggak bisa milih," ujar Elsa.
"Emang bikeh ya Sa kita nikah sama saudara sendiri. Walau bukan saudara kandung tapi kalian kan satu ayah Sa?" tanya Devi.
"Loe ngomongin apaan sih Dev," ujar Nina ikut kesal, sedangkan Elsa sudah gemas hingga tak tahan untuk tidak mencubit kedua pipi Devi.
"Yang kalian obrolin kak Elo sama kak Erik kan?" ujar Devi.
__ADS_1
"Ya betul tapi arah obrolan kita tuh bukan kesana, kita lagi bahas tentang lomba sekolah yang bentar lagi dateng. Kita kan di suruh bawa satu orang yang lebih kuat buat bantu kita. Nah yang jadi pertanyaan gue, Elsa jadinya pilih siapa kak Erik atau kak Elo," terang Nina.