
Masih dengan Tuan Regan yang terus menatap menantunya dengan mata elangnya. Askia yang terus menangis, tidak sadar Papa mertuanya dengan setia mengawasi dirinya
"Papa mengapa papa menatap Askiya begitu.!! apa papa merasakan Apa yang mama rasakan untuk kita memiliki cucu.."
Nyonya Abel yang mendapati suaminya yang memperhatikan Askia langsung memberi pertanyaan kepada Tuan Regan.
Tuan Regan tetap tak bersuara,hanya sekilas menatap sang istri setelah itu, ia berbalik menatap kembali menantunya yang mulai Meredakan tangisnya.
Nyonya Abel yang tidak mendapatkan jawaban dari tuan Regan bersuara lagi.
"Papa, apa kita jodohkan saja Marcell dengan anak teman baik Mama. Kalau dipikir-pikir, Menantu kesayangan kita ini pasti dia wanita mandul.. "
Tanpa merasa bersalah Nyonya Abel menuduh dengan wajah sinis nya.
deg...
Askiya yang mendengar mama mertuanya berkata seperti itu ia langsung angkat bicara.
" Mama, apa yang mama maksud? As yakin saat ini As sama Mas Marcell l, belum saja diberikan kepercayaan untuk saat ini. As juga ingin punya anak seperti mama yang ingin memiliki cucu ,As sangat sangat mau memiliki buahati dari suami as... Hiks.. hiks"
Sedang kan Marcell Masi mengelus pundak sang mama tak ada suara atau pun membenarkan perkataan sang istri, Askiya.
Tapi aku sangat yakin sekali kalu kamu itu wanita mandul. Dan kamu tidak bisa memberikan kami keturunan untuk keluarga Audero Zaidan!" tudingan nya..
Nyonya Abel terlihat sangat marah saat ini. Ia tidak memperdulikan sang menantu yang kembali menangis.
Saat ini di meja makan terasa hawa panas, Tuan Regan juga Maria merasa iba kepada Askiya yang kini sedang menundukkan kepalanya yang masi menangis. Ada perasan yang tidak bisa di artikan oleh Tuan Regan, Ia melihat Askiya saat ini yang begitu rapuh tak ada wanita yang tak sedih dan kecewa saat dituduh dirinya mandul.
Sedang kan Marcell yang sedang masih berusaha memberikan pengertian kepada mamanya yang begitu kecewa dengan menantunya.
"Mama Istriku As sehat dan Cell pun sama sehat tak ada masalah. Hanya saja kami belum di beri kepercayaan, buat mendapatkan anak. Mama yang sabar lagi pula pernikahan kami baru setahun, diluar sana masi ada banyak orang yang bertahun-tahun menikah belum memiliki anak. Mama harus banyak bersabar nya...
Regan membenarkan perkataan sang anak sulung. Dalam hatinya dia sangat kecewa akan perkataan sang istri yang menuduh menantunya dengan tak berperasaan
"Marcell mengapa kamu selalu membelahnya. Istrimu itu tidak berguna, dia tidak bias memberikan mu anak, mengapa kalian tidak melihatnya..? apa hebatnya dia, istri mu ini dia tidak sehat, dari dulu mama sudah katakan jangan pernah menikahi wanita ini..!! sekarang kamu lihat kan cell! istri mu ini tidak bias hamil. Apa lagi yang kamu harapkan dari dia.. jawab cell jawab mam.. belum sempat menyelesaikan ucapannya
Bug… dengan cepat Marcell meraih tubuh Nyonya Abel dan memangkuhnya.
"Mama.. mama kenapa mama bangun ma"
Tuan regan yang melihat istrinya yang tiba-tiba pingsan memerintah Putrinya untuk menelfon Dokter keluarga.
"Maria hubungi dokter Dimas segera! dan kau cell bawa mama kamu ke kamar."
Dengan wajah datarnya… ia melihat kearah Askiya lalu melangkah mengikuti marcell ke kamar.
Sedangkan Askiya hanya bias termenung sendiri dimeja makan ia bergumam. Ia merasa terintimidasi oleh Papa mertuanya
Ya Allah mengapa jadi begini." Askiya kaget melihat mama mertuanya yang tiba-tiba pingsan.
Tak lama ia berdiri dari duduknya menyusulnya ke kamar mertuanya. Iya berdiri tepat dibelakang papa mertuanya. Tidak lama terdengar langkah kaki di luar kamar muncul seseorang, berseragam putih iyalah dokter yang telah di hubungi Maria.
"Apa yang terjadi dengan nyonya abel tuan Regan?" Dokter Bima bertanya
Tuan Regan ingin menjawab, Marcell lebih dulu bersuara.
"Dok cepat kau periksa keadaan mama ku mengapa kau diam saja di sana!!"
Marcell meninggikan suaranya' wajahnya sudah tak bersahabat saat ini, ia sangat takut terjadi apa-apa dengan mamanya, dan ia juga tak menghiraukan keberadaan istrinya dan juga tak memikirkan keadaan istrinya saat ini yang juga butuh sandarand Diibenaknya saat ini adalah kesadaran mamanya saja.
"Baik tuan muda marcell saya akan meriksa Nyoya Abel." terang dokter bima yang mendapatkan bentakan dari tuan mudanya.
berapa saat kemudiaan
Dokter bima sudah selesai memeriksa nyoya abel .
__ADS_1
"Dok bagai mana keadaan mama saya Dok apa terjadi sesuatu!" Marcell langsung mencerca Dokter Dimas.
"Tenang tuan muda saat ini nyonya baik-baik saja, Nyonya cuma kelelahan mungkin akhir-akhir ini nyonya kurang istirahat. Dan juga saya harap Nyonya Abel jangan terlalu banyak pikiran." terang Dokter Bima
"Dan saya akan memberikan resep oba dan vitamin untuk nyonya." terang Dokter Dimas
Setelah Dokter Dimas menulis resepnya ia ijin undur diri.
kalau begitu Tuan Regan, tuan mudah Marcell, nyonya muda Askiya dan nona muda Maria, saya ijin permisi. ucapnya dokter Dimas. Kemudiaan ia melangkahkan kakinya keluar.
Tigal mereka bertiga yang didalam dengan pikirannya masing-masing yang tak menentu. Tidak lama Maria melihat Papanya, yang sedari tadi ia Perhatikan raut wajah papanya, tidak ada ekspresinya sama sekali.
Apa Papa tidak berangkat kekantor ini sudah siang. Apa papa tidak ada rapat di kantor, tanya Maria
"Tidak!" Jawaban tua Regan singkat
"Pa biar Maria sama Mbak As, saja yang menjaga mama, papa berangkat saja kekantor Papa Maria tau papa khawatir sama mama. Tapi pasti di kantor saat ini sangat membutuhkan papa dan kak Marcell." Dengan perhatian Maria memberi tahu ia pikir sang papa sangat khawatir dengan mamanya.
"Hari ini papa tidak pergi kekantor biar saja asisten Ricko yang membawakan berkas-berkas penting yang perlu ditandatangani ke mansion ini."
"Setelan berkata dengan Maria tuan Regan pergi begitu saja keruangan kerja nya, Tanpa berbasa-basi terlihat dahulu atau sekedar memberi kecupan di kening Sang istri yang belum sadarkan diri.
sedangkan Askiya dan Marcell duduk di pinggir ranjang samping nyonya Abel.
Askiya berbicara, "Mas..jangan sedih pasti mama baik saja mama kuat mas."
"Sudahlah As, mas pengen sendiri Kamu sama Maria keluar Mas mau jaga mama disini."
Marcell berbicara tanpa melihat raut wajah sang istri. Mata Askiya sudah berkaca-kaca Saat Mendengar perkata Marcell dengan tidak langsung menyalakan nya.
"Maria bawa Mbak mu keluar antar kemar kakak."
" Iya kak Cell, ayo mbak As.. Maria antara ke kamar."
Setelah berada didepan kamar Marcell dan Askiya, Askiya Berkata..
emm tapi mbak baik-baik sajakan. Maria tau saat ini kakak iparnya itu sangat tertekan.
Askiya Hanya menggunakan kepalanya.
"Baiklah mbak bokek ke taman belakang tapi jangan lama-lama diluar... nanti ka Marcell Tiba-tiba cari Mbak dikamar."
"heem iya... mbak gak lama." jawab Askiya
Askiya menuju taman belakang.
prof. Askiya
Sesampainya di taman belakang mansion,
terlihat Askiya duduk di ayunan Askiya menangis. Masi terngiang-ngiang ditelinga nya. Perkata mama mertua nya, ditambah lagi dengan sikap Suaminya saat di kamar mertuanya.
"Apa benar aku tidak berguna. Aku belum bisa memberikan penerus keluarga Audero, yang diharapkan kedua mertua ku.
Oma, Opa saat ini Askiya rindu kalian berdua
As butuh sandaran"
Ada rasa benci sedih yang dirasakan Askiya.
"Hamba harus bagaimana ya Allah kapan cobaan ini akan berakhir, aku takut Mas Marcell, menceraikan aku dan mengusir ku. sedang kan aku tak memiliki keluarga lagi, selai keluarga ini. Aku harus bagai mana aku sangat menyayangi suamiku juga kedua mertua ku dan adik ipar ku.."
Tak jauh dari tempat Askiya berada, seorang pria tampan , rahang waja sangat tegas, badan tegap. Sedang menghadap jendela ruang kerjanya. sedari tadi ia menatap keluar jendela dimana berhadapan langsung dengan taman yang ada di halaman belakang mansion nya.
Ia terus menatap sang menantu yang dari awal wanita itu datang sampai saat ini, tanpa berkedip.
__ADS_1
"Bersabarlah, my dear."
Dengan tatapan tajamnya... Iya mengingat kata-kata Nyonya Abel yang ditujukan kepada sang menantu. tangannya mengempal rahangnya mengeras ingin rasanya menghancurkan apa saja yang ada dihadapannya saat ini.
"Tak akan aku biar dia menyakiti mu my dear." Ia bergumam.
***
Dikamar Tuan Regan dan nyonya Abel. sudah tiga jam berlalu, namun tak kunjung nyonya Abel Terbangun, Sedangkan Marcell ia dengan setia menunggu mamanya terbangun.
"Mah... kenapa tiba-tiba mama pingsan tanyanya, apa mama tau Cell juga menginginkan seorang anak dara daging Cell sendiri. ku harap mama cepat bangun lihat lah putra mu ini yang sangat menyayangi mama bangun lah jangan buat putramu ini khawatir..." Sambil mencium punggung tangan sang mama
Diwaktu yang sama terasa penggerakan tangan nyonya Abel tak lama mata Nya mulai terbuka.
nyonya Abel Mengelus kepala putranya. "Marcell..." lirihnya..
" Mama, mama sudah sadar Cell sangat Takut, mama baik baik saja kan. Ada yang sakit, bilang ke Cell atau mama butuh sesuatu saat ini.
Marcell terus bertanya saat ini. Ia sangat senang mamanya sudah siuman.
Sayang Mama tidak apa-apa, mama baik-baik saja saat ini. Jangan khawatir, lihat mama sudah tidak apa" kan, oh iya dimana papa mu apa papa mu, sudah berangkat kerja."
Nyonya Able melihat sekelilingnya tidak menemukan keberadaan lelaki yang dicintainya.
"Tidak.. papa tidak jadi berangkat bekerja. Papa saat ini sedang berada diruang kerjanya, papa sendiri yang menyuruh Maria untuk menelfon Dokter Bima, dan menyuruh Cell mengangkat mama ke kamr dia sangat khawatir keadaan mama.
"huff Papa mu itu selalu khawatir dengan istri nya ini. dia selalu mementingkan mama dari pada pekerjaan yang menumpuk di kantornya Nyonya Abel senyum.
"Mama makan yah setelah itu minum obat dan juga vitamin yang sudah diberikan Dokter Dimas."
Marcell segera menyiampan kan makanan yang diantarkan Art barusan, setelah siap dan Marcell Akan menyuapkan makanan kemulut nyonya Abel, Tapi belum sepat masuk kemulut nyonya Abel. Sendok nya berhenti didepan mulut nyonya Abel Saat Marcell mendengar perkataan mamanya.
"Cell apa kamu menyaingi mamamu ini"
Marcell terdiam mendengarnya dan langsung tersenyum.
"Tentu saja Cell sangat sangat sayang sama mama, tak perlu mama tanya kan lagi.
"Terus mengapa Mama merasa Cell tak sayang lagi sama mama, semenjak Cell menikah dengan Askiya Cell tak memperdulikan perkataan mama."
Nyonya Abel berkata dengan Berlinang airmata.
" Mama mengapa berkata begitu Cell Masi seperti dulu Masi Marcell nya mama."
Dengan raut wajah penyesalan Karena dirinya Mama yang ia sayangi kembali lagi menangis.
"Mah.. katakan sama Cell, Cell harus bagaimana biar Cell tak membuat mama menangis lagi. Mama tau kan melihat mama menangis, dada Cell terasa tertancap ribuan panah mamah.. direngkuh nya tubuh mamanya dan mereka menangis berdua.
"Cell mau kah menikah lagi dengan anak teman nya mama. dia juga menyukai mu Cell dan tinggal Askiya."
Deg.
Dibalik pintu sang menantunya telah berlinang air mata setelah mendengar perkataan mama mertua nya.
Tidak jauh dari situ seorang pria Dewasa mendengar juga apa yang telah dikatakan Sang nyonya rumah. wajah nya sudah merah, buk jari nya sudah mengepal kuat, rahangnya sudah mengeras.
"Sungguh keterlaluan kamu Abel!!" ucapnya tak bersuara.. ya dia adalah tuan Regan yang sejak tadi mendengar percakapan anak ibu dan anak itu..
"Tak akan aku biarkan kalian berdua menyakiti my dear ku."
Bersambung..........
maaf kalau ada yang salah dalam menulis saya juga.. baru belajar...
mungkin tulisan saya banyak yang salah atau kata- kata juga gak Berner
__ADS_1
tolong dimaklumi... karena sekolah saya hanya sampai disekolah dasar saja itupun gak lulus jadi teman taman harap dimaklumi. ni juga novel pertama aku sekali lagi maaf yaa🙏