
"Ada apa Nak Dimas...?"
"Maafkan saya nyonya besar! nyonya muda harus dilakukan tindakan operasi!, Pendarahan tidak mau berhenti!."
" Ya Allah... Apa Tuan muda kalian sud_
"Sudah nyonya! tuan muda sudah saya beritahu! kalau begitu saya permisi."
Tanpa menunggu belasan nyonya besarnya, dokter Dimas langsung melangkah dengan tergesa-gesa menuju ruangan operasi.
Nyonya Renata langsung terjatuh lemas dilantai rumah
sakit.
"Cucuku... Kenapa harus terjadi lagi dengan mu! hiks.. hiks.. hiks..."
Nyonya Renata menangis memikirkan Askiya yang berjuang didalam ruang operasi.
"Mommy!"
Nyonya Renata mendongakkan kepalanya, menghadap kerah suara yang memanggilnya. Ia melihat Anaknya yang sudah berjongkok dihadapannya dan langsung memeluknya, Ia langsung membalas pelukan putra juga menumpahkan tangisannya..
"Regan! huhuu....huhuu... hiks.. hiks..", " Askiya cucuku! kem_bali Ter_baring di rua_ngan it_u langi...hiks.. "
Nyonya Renata menangis meraung terdengar putus begitu putus asah.
"Mom! Syah ku, wanita kuat! percaya sama Regan mommy.
"Sayang... Cucu kita akana baik-baik saja! kita berdoa saja Sayang, sekarang kita berdoa saja semoga operasinya berjalan lancar." ujar Tuan Raiden.
Mereka bertiga saling berpelukan. Tidak sengaja dua pria berbeda usia itu melihat wanita dan seorang pria jang berdiri tidak jauh dari merak wanita itu juga ikut menangis.
"Kemari lah Maria putri papa.." ucap tuan Regan, Maria terdiam tidak bergerak, tapi meliah tiga orang yang sudah menganggukkan kepalanya, Maria langsung berlari kecil dan bergabung dalam pelukan tiga orang itu, Sedangkan pria yang tadi bersama Mari, Adalah Asisten Ricko, pria itu juga tak kalau sedih dengan keadaan Nyonya muda nya.
"Hiks...hiks ... papa, opa, oma, Maria takut.."
"Sett... Tenang sekarang kita berdoa saja Sayang!"
Maria hanya mengangguk, setuju dengan ucapan tuan Raiden.
Sudah hampir dua jam Operasi Askiya dilakukan tapi tidak juga, ada tanda-tanda Operasinya akan selesai.
Nyonya Renata semakin cemas dengan keadaan Askiya didalam sana.
__ADS_1
"Ya Allah lindungilah Cucu hamba yang saat ini sedang berjuang." Batin nyonya Renata.
Tidak lama pintu ruang operasi terbuka, terlihat Dokter Dimas keluar dengan raut waja yang musa diartikan. Sedang nyonya Renata langsung menanyakan keadaan cucunya.
"Bagai mana Cucuku Nak Dimas...?" nyonya Renata tidak saba dengan jawa dokter Dimas.
Dokter Dimas memejamkan mata diiring tarikan napas dan menghembuskan nya dengan kasar, lantas ia menatap sendu lima orang yang berada dihadapannya.
"Operasi nya berhasil." Lima orang yang sedari menunggu jawaban dokter Dimas, seketika berubah bahagia tapi kebahagian itu tidak berlangsung lama. Saat dokter Dimas melanjutkan perkataanya.
" Tapi Nyonya muda mengalami koma dan tidak tau nyonya muda kapan akan sadar dari komanya.!"
Deg!
Deg!
Deg!
Deg!
Deg!
Nyonya Renata, Taun Raiden, Tuan Regan, Maria dan juga Asisten Ricko, lima orang itu seperti tenggelam dilautan lepas tidak dapat berenang dan tenggelam begitu saja. Merak semua tidak percaya dengan apa yang dikatakan dokter Dimas, Bidadari Mereka koma.
Nyonya Renata dan Maria sudah histeris, mengetahui wanita kesayangannya Mereka koma.
Tuan Raiden melangkah lebih dekat ke arah Dokter Dimas. Ia ingin tau mengapa calon menantunya bisa mengalami koma.
"Nak Dimas.. Bagai mana bisa cucuku mengalami koma! apa nya terjadi..?" Tuan Raiden, dengan sabar menunggu jawaban Dokter Dimas.
Dokter Dimas yang medegar pertanyaan sang tuan besar, menghembuskan napas dengan kasar.
Nyonya muda mengalami koma, Karena benturan yang sangat keras dan juga Pendarahan yang sangat hebat. yang lebih parahnya lagi luka yang didapatkan nyonya Muda mengenai bekas luka lama dulu, yang pernah saya tangani saat usianya 15 tahun saat di Australia.
Sedangkan Tuan Regan, yang mendengar pembicaraan Dokter Dimas, sekaligus sahabatnya itu. Raut wajahnya suda berubah mengerikan. Rahang mengeras, Sorot matanya tajam dan tangannya mengepal, ia langsung melangkah pergi.
"Son! kau mau pergi kemana!" Tegur tuan Raiden.
"Aku ingin menghabisi wanita sialan itu! juga anak laki-lakinya, beserta calon menantunya dan janin itu!."
Tuan Raiden, menggelengkan kepalanya, tanda tidak setuju.
"Jangan Son, jangan mengotori tangannya mu" Cucuku! pasti akan membenci mu. Kita bermain cantik saja!. Kita beri kado pernikahan mantan Anak mu itu son!." Tuan Raiden berkata dengan aura kebencian terhadap wanita yang bernama Abel, yang telah menjerat putranya dan mencelakai Cucu kesayangannya.
__ADS_1
Sedangkan Nyonya Renata tidak setuju, dengan perkataan suaminya. "Daddy! kali ini Mommy, tidak setuju dengan perkata Daddy! wanita sialan itu harus diberi pelajaran!"
"Maria setuju dengan oma, Mama harus dapat belasan nya!, Mama Sudah kelewatan opa! pasi Mama akan mengulanginya lagi! hiks.. hiks...
Bug!
"Ya Allah Maria!" Terik Semu orang yang berada di tempat itu.
Tuan, Nyonya! biar Saya saja yang membawa nona Maria keruangan saya utuk diperiksa!" ujar dokter Dimas, belum sepat dokter Dimas menyentuh Maria. Asisten Ricko, Sudah lebih dulu menggendong Maria. Asisten Ricko, menatap dokter Dimas, dengan wajahnya datarnya.
"Tunjukkan saja di mana ruang mu Dimas!"
Tanpa Embel-embel gelar dokter, Asisten Ricko, menyebut langsung nama dokter Dimas dan mengikuti dokter Dimas, yang sudah lebih dulu ijin kepda sang tuanya, untuk menangani Maria.
Sepeninggalan Dokter Dimas, dan juga Asisten Ricko untuk menangani Maria yang jatuh pingsan.
Nyonya Renata masih saja menangis didekap suaminya, Tuan Raiden.
"Ini semua karena salahmu Regan! Wanita peliharaan mu itu! sudah berani mencelakai Cucuku!.
jika cucuku tidak sadar Aku tidak mau memaafkan mu! ikat itu!" emosi nyonya Renata.
Flashback Off
Bersambung........
Maaf ya kalau episode ini dan Flashback gak nyambung mohon di maklumi aja. saya hanya menceritakan khayalan saya saja.
saya juga ada novel baru.
**semoga suka ya....
Oh iya maaf juga, karena selalu telat upload nya.. karena di dekat rumah mertuaku, ada musibah jadi masih dalam keadaan duka**.
sekali lagi maaf yah...
__ADS_1