
...Assalamu'alaikum.......
Maaf baru upload, lagi cerita ini Karena kesibukan mengurus anak di rumah dan belum juga mendapatkan ide untuk cerita ini.
Tapi insyaallah kedepannya bisa lancar lagimendapatkan ide yang tepat untuk cerita ini.
...Terimakasih...
________________ _ _ _ _ _ ________________
Terlihat wanita yang sedang bermain ditepi sungai.
Wanita itu begitu senang bermain air dan melihat ikan-ikan kecil yang berenang di aliran sungai yang jernih.
"Sayang apakah kau tidak ingin kembali...?" tanya wanita yang wajahnya sedikit mirip dengan wanita yang sedang asik melihat ikan berenang.
wanita yang terlihat cantik itu menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak mau aku ingin disini dengan ayah dan bunda."
"Putri Bunda yang cantik disini bukan tempat mu... pulanglah masi banyak orang-orang yang sangat sayang dengan mu."
"Tapi bu..."
"Benar kata ibu mu sayang disini bukan tempat mu pulanglah.. ayah dan ibu mu di sini sudah bahagia, Apa? kau tidak kasian dengan Opa, Oma Juga adik mu dan juga Dia yang telah lama menunggu mu kembali"
Ayah dari wanita sedari tadi bermain air itu menunjuk arah belakang wanita itu.
Wanita itu menoleh kebelakang melihat orang yang di maksud ayahnya, Ia memperhatikan orang tersebut wanita itu langsung tersenyum kepada orang itu yang juga tersenyum kepadanya.
"Papa..?"
Seseorang itu adalah pria yang selam ini selalu setia menanti kepulangan wanita itu.
"Pulanglah syah ku.. Papa merindukan mu."
Wanita yang di panggil Syah itu menetap pria yang disebut papa itu dengan lekat, kemudian ia berbalik kearah dua orang itu yang sedari tadi bersamanya.
kedua orang itu menganggukkan kepalanya, tanda setuju jika putri mereka kembali bersama pria itu, karena di sini bukan tepatnya.
"Pergilah sayang kembalilah jemput kebahagiaan mu didepan sana! bersamanya."
wanita berparas cantik itu tersenyum berbalik menghadap pria yang di belakangnya dengan senyum yang tercetak jelas di bibir mungilnya. ia berlari menghampiri pria dewasa itu, tetapi semakin wanita cantik itu mendekat tubuh pria dewasa itu, memudar dengan hembusan angin yang tiba tiba menerpa tubuh pria dewasa itu.
Seolah ingin membawa pria itu menjauh dari wanita yang entah sejak kapan suda mengeluarkan air mata yang begitu deras.
Papa!!.. Papa!! jangan pergi... hiks.. hiks jangan tinggalan As.. Papa!... As ikut!
*
*
__ADS_1
*
PAPA!!!!.....
Terdengar tarikan wanita yang telah lama terbaring di ranjang rumah sakit. Mata wanita itu yang sudah lama terpejam kini terbuka sempurna, bola mata yang bergerak meneliti tempat dia berada sekarang. Ia mencari seseorang yang ia rindukan, setelah matanya menemukan sosok yang ia cari sedari tadi iya langsung duduk, dan langsung memeluk pria yang dengan setia menunggunya.
"Sayang! Syah ku.... Kau sudah sadar sayang! terimakasih sayang sudah mau kembali lagi."
Ya wanita itu Adalah Askiya, yang selama empat bulan lamanya telah terbaring koma
Pria itu langsung memberi kecupan di kepala Askiya yang ditutupi jilbab panjangnya.
"Papa jangan tinggalkan As! jangan tinggalkan As, Pa...! hiks... hiks ..."
Askiya, makin mengeratkan pelukannya di tubuh tegak pria yang sudah tidak muda lagi.
"Sseett... Tenang sayang! jangan menangis kau baru saja sadar jangan banyak bergerak dan juga banyak menangis, sayang......"
"Ya Allah terima kasi kau sudah mengembalikan Syah ku, cinta ku kepada hamba." Lelaki itu tak berhenti bersyukur kepada sang pencipta.
"Sayang.... berbaring lah kembali, Papa akan memberitahukan Dokter untuk memeriksa keadaan mu, tunggu papa disini.!
Askiya yang mendengar pria itu menggelengkan kepalanya, tanda tak setuju.
"Jangan Papa! As tidak mau sendiri, As mau Papa disini jangan jauh dari As!" keluhnya.
Cklek!
"Ya Tuhan!! Cucuku!, Mbak As!" Kedua wanita yang muncul dari luar ruang rawat. Dua wanita beda usia itu menjerit tidak percaya melihat wanita yang mereka sayangi sudah sadarkan diri.
"Cucuku tersayang.... Kau sudah sadar Ya Allah terima kasi kau sudah membuat cucu hamba bangun kembali."
Askiya, yang melihat, oma kesayangan nya, datang begitu senang ia lang merentangkan tangannya tanda ingin di peluk. Nyonya Renata yang melihat cucunya merentangkan tangannya dan air mata yang sudah membasahi pipi mulus Askiya langsung memeluknya.
"Oh bidadari oma, sukur lah kau sudah sadar, oma begitu merindukan mu cucuku!"
mereka yang berada diruang rawat Askiya menangis melihat Askiya, sudah sadar dari koma nya. Maria yang melihat oma dan Askiya begitu bahagia, Mbaknya yang ia sayangi sudah bangun dari tidur panjang
Mbak As, oma... Apa Maria boleh ikut berpelukan!" Maria berkata dengan mata yang dibanjiri oleh air mata.
Askiya mengangguk, tentu saja Askiya juga merindukan Adiknya kesayangan nya itu.
"Kemari lah sayang mbak begitu merindukan mu." Dengan masi memakai alat batu pernapasan dan juga infus yang yang menempel di lengannya, tiga wanita itu berpelukan melupakan Pria yang berada sedari tadi di ruangan itu.
"eehm! Mommy... Regan mau memanggil Dokter Dimas dulu untuk meriksa Syah ku Mommy."
Plak!!
"Aaauuu!! Mommy! mengapa memukul ku!" dengkus pria itu
" Kau! mengapa! tidak dari tadi kau panggil Nak
__ADS_1
Dimas...! mengapa baru sekarang aaahh!."
"Bagai mana Regan mau memberi taukan Dimas jika Mommy! tidak melihat Regan sedari tadi di ruangan ini!."
Yah Pria yang sedari tadi berada di ruang rawat Askiya, itu adalah Tuan Regan yang setia menunggu wanita nya.
"Papa jangan pergi.. Papa disini jangan tinggalkan As sendiri!" Askiya, berkata dengan mata yang sudah berkaca kaca yang siap mengalirkan air matanya.
Tuan Regan melihat Askiya, akan menangis ia langsung mendekat ingin menarik tubuh mungil Askiya dalam dekapannya, tapi sebelum itu terjadi Nyonya Renata sudah menarik lengan Tuan Regan agak menjauh dari rajang Askiya.
"Anak nakal! jangan kamu mencari kesempatan untuk menyentuh cucuku!" kesal Nyonya Renata kepada putranya, Sedangkan Tuan Regan sudah memutar bola matanya dengan jengah.
"Oma biarkan Papa di sini saja, As tidak mau Papa tinggalkan As Oma..." pinta Askiya agar Nyonya Renata tak menyuruh sang Papa untuk meniggalkan nya.
Sedangkan wanita yang datang dengan Nyonya Renata, yaitu Maria sangat gemas melihat tiga orang yang sedari tadi membuat drama.
Maria, mendekat kearah ranjang Askiya, dan mencet tombol yang ada dekat rajang tersebut.
"Papa! sebentar lagi Dokter akan kemari, jadi Papa tetap disini tidak perlu meniggalkan mbak As!." Maria menjelaskan.
Tuan Regan melihat Maria yang sudah tersenyum, ia mengerutkan keningnya.
Maria yang mengerti kebingungan Papa nya langsung menunjuk tombol yang berada dekat ranjang rawat Askiya.
Huuff... Mengapa Diriku menjadi bodoh akhir-akhir ini." Pikir Tuan Regan
Cklek!
Pintu ruang rawat tiba-tiba terbuka, dengan kedatangan Dokter Dimas di ikuti suster dibelakangnya.
"Selamat pagi Nyonya Besar, Tuan Muda, dan Nona Maria."
"Siang Nak... Dimas..." Sahut Nyonya Renata, sedang kan Maria Dan Tuan Regan hanya diam Saja dengan wajah datarnya.
"Tuan Regan saya ijin untuk meriksa keadaan Nyonya muda Askiya." Dokter dimas tau jika ia harus meminta ijin terlebih dahulu karena Tuan muda mereka sangat Posesif kepada Nyonya Mudanya.
Tanpa menjawab Tuan Regan langsung menggeser badannya, tapi tangan Askiya menarik ujung jas Tuan Regan dan menggelengkan kepalanya. Tuan Regan yang melihat Askiya, yang sudah ingin menangis, langsung membukukan badannya sejajar dengan Askiya, yang berbaring.
" Kenapa sayang hem.. ada yang kau mau!." Regan mengelus kepala Askiya yang tertutup jilbab. dengan sayang.
Askiya yang mendengarkan perkataan, Tuan Regan menatap bola mata pria itu.
"Jangan tinggalkan As pa..."
Hai... sayang mengapa berpikir papa akan meniggalkan mu..? eeemm.. itu tidak akan Terjadi!" "Papa tidak akan meniggalkan mu sendri, biarkan Dokter Dimas memeriksa mu sayang... percaya sama papa ya..?
Askiya, yang melihat tidak ada ke bohongan di mata Papanya, ia kemudian menganggu saja.
Bersambung.....
*******
__ADS_1
semoga masi ada yang menunggu kelanjutan ceritaku ini.