
Hanna mengajak Niko ke sebuah lahan kosong tak jauh dari rumahnya, karena ini satu-satunya tempat yang aman sebab jauh dari keramaian.
"Sekarang ceritakan padaku ada apa sebenarnya?" pinta Niko.
"Tapi kamu harus berjanji untuk tidak mengatakannya kepada siapapun, terutama Ibuku."
"Iya, aku janji! Buruan cerita, aku penasaran ini!" desak Niko tak sabar.
"Beberapa hari yang lalu, aku dan dia terlibat kecelakaan. Mobilnya lecet parah dan dia minta ganti rugi, tapi aku tidak punya uang," beber Hanna.
"Lalu?"
"Dia mengancam akan melaporkan aku ke polisi kalau aku tidak membayar ganti rugi, aku panik dan bingung sekali. Lalu besoknya dia datang lagi memberikan tawaran, kalau aku mau menikah dengannya, aku tidak perlu ganti rugi."
"Berengsek!" umpat Niko kesal, Hanna terkejut mendengar sahabatnya itu berbicara kasar.
"Jadi kamu menerima begitu saja tawaran dia?" sungut Niko marah.
Hanna mengangguk, "Iya, Nik."
"Astaga, Hanna! Kamu mengorbankan hidupmu hanya karena ganti rugi mobilnya yang lecet? Ini konyol, Han! Apa kau tidak memikirkan masa depanmu?"
Hanna terdiam, dia tidak ingin Niko tahu alasan sebenarnya dia menerima tawaran Alden, dia tak ingin sahabatnya itu berpikiran jika dia mata duitan. Biarlah Niko menganggap dia bodoh karena rela menikah dengan Alden hanya karena ganti rugi.
Niko memegang kedua bahu Hanna dan menatap sahabatnya itu lekat lekat, "Han, aku minta batalkan rencana konyol ini! Jangan hancurkan hidupmu!"
Hanna menggeleng, "Aku tidak bisa, Nik."
Niko kecewa sekaligus kesal mendengar penolakan Hanna.
"Kenapa tidak bisa? Apa karena dia orang kaya dan punya banyak harta, sehingga kau tidak ingin melepaskannya? Iya?" tuduh Niko.
Hanna tercengang mendengar ucapan Niko yang menyudutkan dirinya.
"Bukan begitu, Nik!" bantah Hanna, walaupun sebenarnya dia mengakui apa yang Niko tuduhkan. Iya, dia menerima tawaran Alden karena iming-iming dari lelaki itu.
"Lalu apa?"
"Aku sudah berjanji akan bertanggung jawab," sahut Hanna.
"Tanggung jawab macam apa ini? Kalau ibumu tahu, dia pasti juga akan melarang kamu menikah dengan pria itu."
"Makanya jangan sampai Ibuku tahu!"
Niko mengusap wajahnya dengan frustasi, dia semakin kesal karena Hanna begitu keras kepala.
__ADS_1
Meskipun kesal, Niko mencoba untuk tetap tenang, dia kembali menatap manik hitam sahabatnya itu.
"Hanna, aku mohon batalkan semua ini! Jangan bodoh!"
"Maafkan aku, Nik. Aku tidak bisa!" pungkas Hanna bersikeras.
Niko mengembuskan napas berat dia sudah habis kesabaran, "Baiklah, kalau itu keputusan mu."
Niko berlalu pergi meninggalkan Hanna, hatinya terluka dan marah. Seharusnya dia tidak mendesak Hanna untuk cerita bila akhirnya dia hanya menelan kecewa.
Hanna hanya memandangi kepergian Niko dengan perasaan sedih, untuk pertama kalinya sahabatnya itu marah seperti ini. Tapi dia juga harus berpikir realistis, dia butuh uang untuk mengubah hidupnya dan juga sang ibu. Tawaran dari Alden tidaklah buruk, dia hanya perlu berakting dan bersabar demi bisa mendapatkan apa yang pria itu janjikan. Toh, pernikahan mereka hanya sementara dan Alden sudah berjanji tidak akan menyentuhnya, jadi masa depannya tetap aman.
Dengan gontai Hanna melangkah kembali ke rumahnya.
"Kamu dari mana, Nak?" tanya Maya saat melihat Hanna memasuki rumah.
"Tadi ke warung sebentar, mau beli deodorant, Bu. Rupanya tidak ada," dalih Hanna berbohong.
"Oh, Ibu kirain kamu ke mana."
Hanna hanya tersenyum menyembunyikan rasa gugupnya karena sudah berbohong. Dia tahu Maya tidak suka jika dia bergaul dengan Niko, makanya dia tak ingin sang ibu tahu jika tadi dia bertemu dengan lelaki itu.
"Jadi kalau sudah menikah nanti, apa kamu akan tetap bekerja?" Maya bertanya sambil melangkah ke dapur.
Hanna mengikuti sang ibunda, "Belum tahu, Bu."
"Bicarakan semuanya dengan suami kamu, turuti keputusannya." Maya menasihati putrinya itu.
"Iya, Bu."
Hanna tiba-tiba teringat dengan Raline yang begitu mirip dengannya, hatinya jadi penasaran, mungkinkah mereka kembar?
"Hem, Bu. Ada yang ingin aku tanyakan."
"Apa?"
"Aku punya kembaran, ya?" Hati-hati Hanna bertanya.
Maya terdiam dan menghentikan aktivitasnya, wajahnya seketika berubah sendu.
"Ibu!" tegur Hanna saat melihat Maya melamun.
Maya tersentak, lalu menatap Hanna dengan penuh selidik, "Kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu?"
"Tadi aku melihat seorang wanita yang sangat mirip denganku, Bu. Aku berpikir mungkinkah kami kembaran yang terpisah seperti di sinetron-sinetron itu," jawab Hanna lalu tertawa.
__ADS_1
Maya kembali tertegun, jantungnya berdebar kencang mendengar kata-kata Hanna itu.
Hanna berhenti tertawa sebab melihat Maya bergeming dengan wajah sedih, "Ibu kenapa?"
Maya lantas memegang kedua pipi Hanna lalu menatap putrinya itu sambil menyunggingkan senyum, "Anak Ibu cuma kamu, dan kamu tidak punya kembaran."
"Tapi kenapa kami mirip sekali, ya?"
"Itu pasti hanya kebetulan saja. Ya sudah, sekarang kamu ganti pakaian, setelah itu bantu Ibu membuat kue." Maya sengaja mengalihkan pembicaraan agar Hanna berhenti bertanya.
"Iya, deh!" Hanna menurut dan berjalan ke kamarnya.
Maya mengembuskan napas lega, tapi hatinya tetap tidak tenang.
"Apa jangan-jangan itu dia?"
***
Di sebuah kamar yang didominasi warna putih, Raline sedang duduk bersandar di atas ranjang sambil memandangi sebuah majalah bisnis. Di cover majalah itu terpampang jelas wajah ganteng Alden, namun judul beritanya sungguh membuat miris.
ALDEN RICHARD MAHENDRA BATAL MENIKAH KARENA DICAMPAKKAN KEKASIHNYA.
Entah siapa yang menyebarkan gosip murahan itu?
Raline mengusap wajah Alden dengan jarinya, dia merasa sedih dan bersalah.
"Maafkan aku! Ini semu gara-gara aku," sesal Raline, air matanya seketika jatuh menetes.
Sejak memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Alden, Raline tak pernah berhenti memikirkan dan memantau kehidupan mantan kekasihnya itu. Ia ingin memastikan jika hidup Alden baik-baik saja setelah berpisah darinya, tapi rumor yang beredar saat ini membuatnya diliputi penyesalan yang mendalam.
"Pasti saat ini kamu sangat membenci aku, karena aku penyebab gosip ini beredar," ucap Raline lirih, dia masih menatap wajah Alden sambil mengusap air matanya.
Seorang wanita paruh baya masuk ke dalam kamar itu sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman. Dia berjalan mendekati ranjang Raline.
"Makan siang dulu, Non."
"Aku tidak berselera untuk makan, Bik. Bawa saja kembali!" tolak Raline.
"Non Raline harus makan, kalau tidak nanti Mas Raka bisa marah pada saya. Sedikit saja pun jadi, Non."
"Aku bilang tidak, ya tidak!" bentak Raline.
Si wanita paruh baya terperanjat kaget, baru kali ini nonanya itu bersikap kasar padanya.
Karena takut, ia pun bergegas pergi sambil membawa nampan tersebut.
__ADS_1
Raline akhirnya menangis sesenggukan, melampiaskan kesedihan dan rasa kesalnya atas apa yang terjadi. Dia marah pada takdir dan semesta yang memaksanya untuk meninggalkan Alden, padahal dia begitu mencintai lelaki itu.
***