Jodoh Pengganti Presdir

Jodoh Pengganti Presdir
Episode 17.


__ADS_3

Hanna ingin bersantai di gazebo kayu, dia melangkah pelan menuju taman belakang. David terus mengikutinya tanpa sepengetahuan Hanna.


"Raline," tegur David.


Hanna sontak menoleh menatap David dengan sedikit canggung, untung dia tidak lupa jika sedang menyamar menjadi Raline.


"Ada apa?" tanya Hanna.


"Bisa kita bicara sebentar?" David balik bertanya.


"Ya sudah, bicara saja!" pinta Hanna.


"Jangan di sini!"


"Kenapa?"


David celingukan kesana-kemari, lalu kembali menatap Hanna, "Aku tidak ingin ada yang mendengar pembicaraan kita."


Hanna termangu, dia merasa curiga. Sepertinya David sedang menutupi sesuatu, Hanna jadi penasaran.


"Jadi di mana?" Hanna ingin mencari tahu, dia memutuskan untuk mengikuti kemauan David.


"Di sana saja!" David menunjuk sebuah ruangan di dekat tangga.


"Baiklah."


Hanna dan David pun melangkah mendekati ruangan itu, tepat bersamaan dengan seorang asisten rumah tangga bernama Minah yang keluar dari dapur dan memergoki mereka.


"Itukan Nona Raline dan Tuan David, mau ngapain mereka masuk ke dalam sana?" gumam Minah saat melihat Hanna dan David masuk ke ruangan tersebut.


"Aku harus lapor," ujar Minah, dia lantas buru-buru naik ke lantai atas.


Di dalam bilik yang tak lain adalah ruang kerja ayahnya Alden, David menutup pintu setelah mereka masuk.

__ADS_1


Hanna terperanjat dan sedikit cemas, "Kenapa kau menutup pintunya?"


"Kan sudah aku bilang, aku takut ada yang mendengar pembicaraan kita."


"Kalau begitu cepat katakan apa yang ingin kau bicarakan!" desak Hanna tak sabar, dia tak ingin berlama-lama di ruangan itu bersama David.


David menatap Hanna yang berdiri tepat di depannya, "Kenapa kau diam-diam tetap menikah dengan Alden?"


Hanna terhenyak, "Memangnya kenapa?"


"Raline, bukankah kau tahu jika selama ini aku masih mencintaimu? Kenapa kau tega mematahkan hatiku?" cecar David emosi, dia kesal karena Alden dan Hanna melangsungkan pernikahan tanpa sepengetahuannya, dia bahkan tahu hal itu dari para pembantu di rumah ini.


Hanna tercengang, belum dua puluh empat jam dia berada di rumah besar ini, tapi dia sudah mendengar hal mengejutkan. David masih mencintai Raline.


Tunggu! Masih? Apa jangan-jangan mereka pernah punya hubungan di masa lalu sehingga David masih menyimpan rasa pada wanita yang bernama Raline itu? Lalu apakah Alden tahu semua ini?


Hanna mendadak gugup dan syok, dia bingung harus bagaimana membalas serta merespon ucapan David. Dia tidak tahu apa-apa, namun juga tak mungkin bertanya.


"A-aku ...."


Hanna semakin kebingungan, dia tak bisa berpikir dengan baik saat ini.


"Apa yang harus aku katakan?" batin Hanna bingung.


"Raline, kenapa kau diam saja? Bicaralah!" David hendak menyentuh lengan Hanna, tapi dengan cepat wanita itu menghindar.


"Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, sekarang aku istri orang dan jangan ganggu aku!" balas Hanna, dia rasa mungkin ini jawaban yang tepat dan semoga David mau berhenti mengintimidasinya.


Tanpa permisi, Hanna membuka pintu dan buru-buru keluar dari ruangan itu, meninggalkan David yang terpaku menatapnya dengan sendu.


"Raline, tunggu! Raline!" David berusaha menghentikan kepergian Hanna, tapi wanita itu tak menggubrisnya sama sekali.


Hanna yang keluar dari ruangan tersebut terkejut saat melihat Cindy sudah berdiri sambil bersidekap, sorot mata wanita paruh baya itu sangat sinis. Rupanya Minah yang tak lain adalah pembantu pribadi Cindy melaporkan apa yang dia lihat tadi pada sang majikan.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan di dalam bersama putraku?" tanya Cindy tanpa basa-basi.


"Anda tanya saja putra anda! Jangan tanya aku!" balas Hanna ketus, kemudian melewati Cindy begitu saja.


Emosi Cindy mulai terpancing, tapi dia berusaha menguasai diri.


"Wanita sialan! Semakin berani saja dia!" geram Cindy, dia lantas bergegas masuk ke dalam ruangan itu.


"Apa yang kau lakukan bersama wanita itu?" sergah Cindy.


David yang sudah duduk di atas sofa tak menjawab, dia tahu mamanya itu pasti akan marah jika tahu dia masih saja mengejar Raline dan tidak bisa move on dari wanita itu.


"David, berapa kali harus Mama katakan? Lupakan dia dan buang jauh-jauh perasaan kamu itu! Sekarang dia istri Alden, itu berarti dia juga musuh kita!" sungut Cindy jengkel.


David memandang sang mama dengan kesal, "Tidak semudah itu, Ma! Aku tidak bisa melupakan dia, aku tidak terima dia menikah dengan Alden, karena sampai detik ini aku masih mencintainya."


"Cukup David! Mama tidak suka kamu terus-terusan seperti ini, kamu harus move on dan fokus pada tujuan kita masuk ke keluarga ini! Kalau kita sudah berhasil merebut semuanya, kau bebas memilih wanita manapun yang kau mau," hardik Cindy marah. Dia merasa gemas dengan sang putra yang bodoh dan terlalu keras kepala.


"Percuma aku bicara pada Mama!" David berlalu pergi begitu saja, dia kesal karena Cindy selalu memaksa dirinya untuk melupakan cinta pertamanya itu dan melarangnya merebut kembali Raline dari Alden. Yang sang mama pikirkan hanya harta alih-alih perasaan dan kebahagiaannya.


Cindy mengembuskan napas berat, setiap kali membahas tentang Raline, dia dan David pasti bertengkar seperti ini. Cindy heran, mengapa putra semata wayangnya itu susah sekali move on dari Raline? Padahal hubungan mereka sudah berakhir hampir tiga tahun yang lalu.


Sejak awal memang Cindy tidak menyukai Raline, makanya dia menentang dan merusak hubungan sang putra dengan wanita itu. Namun sepertinya Tuhan masih ingin menguji kesabarannya, karena beberapa bulan setelah dia menikah dengan ayah Alden, wanita itu justru muncul lagi sebagai kekasih anak sambungnya tersebut.


Namun Cindy tak pernah menduga jika David masih mencintai Raline sampai detik ini, berulang kali putranya itu ingin merebut Raline dari Alden, namun dia selalu melarang dan mengancam sang putra. Dan itulah yang membuat David sembunyi-sembunyi ketika ingin bertemu dan bicara pada Raline.


Sementara itu di dalam kamar, Hanna terpaku di sisi ranjang, dia mengamati wajah Alden yang tertidur pulas. Hati Hanna mendadak galau dan resah, diam bimbang antara ingin menceritakan hal tadi atau tidak.


"Kira-kira dia sudah tahu belum ya kalau adik tirinya itu mencintai mantannya?"


"Tapi dia tidak cerita apa-apa ke aku, apa jangan-jangan dia belum tahu?"


"Aku cerita tidak, ya? Tapi kalau dia belum tahu, bisa-bisa dia marah dan pasti terjadi pertengkaran." Hanna mulai bertanya-tanya dan menimbang-nimbang. Dia ingin mengatakan semuanya pada Alden, tapi dia takut.

__ADS_1


***


__ADS_2