Jodoh Pengganti Presdir

Jodoh Pengganti Presdir
Episode 22.


__ADS_3

Usai mengisi perut di restoran Jepang, Adel menarik Hanna dan Alden masuk ke salah satu toko pakaian bermerek di dalam mall tersebut.


"Del, ngapain ke sini?" protes Alden.


"Ya mau belanja lah, Kak. Memangnya mau ngapain lagi?"


"Tapi tadi katanya cuma nonton dan makan saja?" protes Alden, tadi saat Adel membujuknya di rumah, sang adik tidak bilang kalau akan belanja.


"Mumpung sudah sampai sini, Kak. Sekalian saja. Lagian ada yang mau aku beli."


"Cckk, tahu gini Kakak tidak mau ikut tadi," sesal Alden, dia paling malas menemani Adel belanja, karena adiknya itu suka lupa waktu.


"Ya sudah, Kak Al nunggu di sana saja!" Adel menunjuk sofa di sudut toko, lalu menggamit tangan Hanna, "biar kami belanja."


Hanna yang sejak tadi diam menyimak pembicaraan kakak beradik itu sontak menatap Adel dan Alden bergantian, dia tak punya banyak uang untuk belanja di tempat mahal ini, sementara Alden belum memberinya uang tunai sepeserpun.


"Kamu saja yang belanja, aku tidak," tolak Hanna.


Adel mengernyitkan keningnya, "Kenapa, Kak?"


"Aku tidak punya uang," jawab Hanna jujur.


"Kak Hanna tenang saja! Kak Al yang bayar kok," sahut Adel seenaknya.


Alden langsung melotot memandang adiknya itu, "Oh, jadi ini alasannya kamu ajak Kakak ke sini? Kamu mau morotin Kakak, iya?"


Alden tersenyum lebar, "Sekali-sekali, Kak. Jangan pelit, ah!"


"Ya sudah sana!" Alden berbalik dan berlalu dengan wajah masam.


Adel terkekeh geli melihat sang kakak merajuk, sedangkan Hanna hanya bergeming memandangi kepergian Alden. Lagi-lagi suaminya itu terpaksa mengalah pada sang adik.


"Yuk, Kak!" Adel menarik lengan Hanna, "kita habiskan uang Kak Al."


Hanna tersenyum dan menuruti adik iparnya yang pemaksa itu, kapan lagi dia bisa belanja baju mahal sepuasnya begini.


Sementara kedua wanita itu sibuk memilih pakaian yang hendak mereka beli, Alden justru duduk di sofa sambil mengotak-atik telepon genggamnya demi mengusir rasa bosan, dia mengecek beberapa email yang masuk.


Setengah jam kemudian, Hanna merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Kepalanya mendadak pusing seolah berputar, dadanya juga sesak bagai terhimpit batu besar hingga keringat sebesar biji jagung mulai membanjiri kening serta lehernya. Hanna hapal ini gejala apa, namun dia tak mengerti kenapa tiba-tiba bisa kambuh?


Semakin lama tubuh Hanna semakin terasa lemas tak bertenaga, dia bahkan sampai berpegangan pada Adel.

__ADS_1


"Kak Hanna kenapa?" Adel kaget melihat kakak iparnya itu sempoyongan dan berkeringat, padahal di toko itu tidak panas sama sekali.


Belum sempat menjawab pertanyaan Adel, tubuh Hanna tiba-tiba limbung dan terkulai lemas. Untung Adel sigap menahan badan Hanna sebelum jatuh menghantam lantai.


"Kak Hanna! Tolong!" teriak Adel panik.


***


Hanna sudah terbaring lemah di atas brankar sebuah klinik tak jauh dari mall, dokter telah memeriksanya dan memberikan obat. Kini Hanna sudah lebih baik dengan selang oksigen di hidungnya dan jarum infus yang tertancap di punggung tangan kirinya.


Alden dan Adel duduk di samping Hanna, memandangi wanita itu dengan cemas.


Tadi dokter mengatakan jika ada kemungkinan Hanna mengalami alergi, tapi belum bisa dipastikan apa penyebab alergi tersebut. Mereka akan menunggu sampai Hanna bangun dan menanyakan apakah dia ada riwayat alergi?


"Kak, Kak Hanna baik-baik saja, kan? Kenapa dia tidak bangun-bangun?" tanya Adel cemas.


"Mungkin karena pengaruh obat, sebentar lagi dia pasti siuman."


"Aku takut terjadi sesuatu pada Kak Hanna."


"Kamu tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa padanya." Alden berusaha menenangkan sang adik.


Kesadaran Hanna mulai kembali, matanya mengerjap lalu terbuka perlahan.


Alden merasa lega dan langsung mendekati istrinya itu, "Akhirnya kau bangun juga."


Hanna celingukan sambil memegangi kepalanya yang masih pusing, "Aku di mana?"


"Di klinik," jawab Alden.


Hanna tampak kebingungan, "Haa! Klinik?"


"Iya, tadi itu Kak Hanna tiba-tiba pingsan waktu kita di mall, jadi Kak Al bawa Kakak ke sini," terang Adel.


Hanna mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya. Dia ingat waktu itu memilih baju dan tiba kepalanya pusing dan napasnya sesak, badannya juga lemas sekali. Kemudian semuanya gelap dan Hanna tak tahu apa-apa lagi.


Melihat Hanna melamun, Adel kembali buka suara, "Aku panik dan takut banget tadi saat Kak Hanna tiba-tiba pingsan, aku sampai teriak-teriak saking paniknya."


"Kau sampai jadi perhatian semua orang," ledek Alden, wajah Adel langsung masam.


Hanna berpikir, kalau tadi dia pingsan di mall, bagaimana caranya dia bisa sampai di sini? Apa mereka memanggil ambulans dan mengangkatnya dengan tandu?

__ADS_1


Ah, pasti satu mall heboh.


"Kau ada alergi, ya?" Pertanyaan Alden membuyarkan lamunan Hanna.


Hanna sontak menatap Alden, "Iya, aku alergi kacang. Dia pasti kambuh kalau aku makan olahan dari kacang."


"Jadi kacang?" Alden memastikan lalu berpikir sejenak.


"Miso ramen, Kak!" pekik Adel saat teringat apa yang Hanna makan tadi.


"Iya-iya, miso ramen ada campuran kacang kedelainya." Alden manggut-manggut membenarkan, lalu menatap Hanna, "kalau tahu alergi kacang, kenapa tadi kau memesan miso ramen?"


Hanna tercengang mendengar Alden memarahinya.


"Mana aku tahu kalau itu ada campuran kacangnya!" bantah Hanna.


"Iya, seharusnya kau ceritakan kalau kau itu alergi kacang, jadi aku bisa melarang mu makan itu," sungut Alden tak mau kalah.


"Kak Al kenapa jadi memarahi kak Hanna, sih? Dia kan tidak tahu kalau miso ramen itu mengandung kacang. Lagian seharusnya Kak Al itu tanya dia ada riwayat penyakit apa, bukannya malah nyalahin dia!" sela Adel kesal.


"Cckk, sudahlah!" Alden yang kalah sontak keluar dari ruangan itu.


"Dasar Kak Al, selalu saja menyalahkan orang lain dan mau menang sendiri!" umpat Adel.


Hanna hanya terdiam membisu mendengar perdebatan kakak beradik yang sama-sama keras kepala dan mau menang sendiri itu, sekarang dia punya tameng untuk membela diri dari sikap semena-mena Alden.


Sementara itu di dalam mobil sedan mewah berwarna merah, Raline sedang menangis tersedu-sedu saat mengingat kedekatan Alden dan istrinya.


Tadi Raline ingin sekali makan di restoran Jepang itu bersama Raka, tapi urung saat melihat mantan kekasihnya tersebut sedang bersama Adel dan sang istri.


"Sudahlah, jangan menangis terus, Ral!"


"Aku sedih, Ka. Aku iri melihat dia bersama wanita lain, hatiku sakit," racau Raline terisak.


"Kamu sudah mengambil keputusan, dan kamu harus menerima resikonya."


"Tapi aku tak menyangka dia akan secepat itu melupakan aku dan menikah dengan wanita lain?"


"Belum tentu dia sudah melupakan mu, buktinya dia menikah dengan wanita yang sangat mirip denganmu. Bisa saja wanita itu hanya pelarian karena dia masih mencintai mu dan tidak bisa melupakanmu," ujar Raka.


Raline terdiam, memang dia akui jika wanita yang bersama Alden tadi sangat mirip dengannya, tapi benarkah Alden masih mencintainya dan menganggap wanita itu cuma pelarian?

__ADS_1


***


__ADS_2