
Setelah hampir satu jam merengek dan membujuk Alden, akhirnya Adel berhasil mengajak kakaknya itu untuk ikut jalan-jalan bersamanya dan Hanna.
Begitu memasuki mall, Alden langsung menggenggam tangan Hanna dan menggandengnya tanpa permisi. Hanna tersentak dan sontak menatap Alden yang berdiri di sampingnya.
"Sesuai kesepakatan, kita harus terlihat mesra dan harmonis di depan umum," bisik Alden, dia tak ingin Hanna salah paham.
"Apa di sini juga ada yang mengenal kita?" balas Hanna bingung.
"Tentu saja, beberapa pemilik toko kosmetik di sini adalah kolega bisnisku. Siapa tahu mereka melihat kita," sahut Alden pelan.
Hanna terdiam, dia pun membiarkan Alden menggandeng tangannya dan berjalan beriringan dengan pria itu.
Adel yang berjalan di depan mereka sengaja meninggalkan pasangan itu agar mereka bisa jalan berdua, dia memang sengaja mengajak Hanna dan Alden jalan-jalan untuk mendekatkan keduanya.
Dengan riang Adel berbalik lalu bertanya, "Kita nonton dulu, ya?"
"Kita makan siang saja dulu!" sahut Alden yang mulai merasa lapar, sebab tadi lagi dia hanya sarapan dengan sepotong roti bakar.
Adel mengangkat tangan kirinya dan melirik arloji digital yang dia kenakan, "Masih pukul sebelas, Kak. Cepat banget makan siang? Lagian aku belum lapar."
"Tapi perut Kakak sudah lapar, Del," keluh Alden.
Adel beralih menatap Hanna, "Kak Hanna sudah lapar?"
Hanna menggeleng, "Belum, aku masih kenyang."
"Nah, tuh kan! Cuma Kak Al yang kelaparan, kalau gitu kakak tahan saja dulu. Nanti kita beli camilan, jadi selesai nonton baru makan," cetus Adel sedikit memaksa.
Alden mendengus dengan wajah masam, "Iya-iya, deh!"
Adel tersenyum, dia kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya dengan riang.
Hanna hanya bergeming, sekarang dia sadar jika Adel juga memiliki sifat yang sama dengan Alden, yaitu suka memaksa.
Ketiga orang itu pun tiba di depan sebuah bioskop, suasana cukup ramai karena ini weekend.
"Kita mau nonton film apa?" tanya Hanna bingung.
"Film action saja!" usul Alden.
"Ish, Kak Al! Kok film action, sih? Film romantis, dong!" bantah Adel.
"Tidak seru, Del. Kakak bosan kalau nonton film romantis," tolak Alden.
"Tapi aku tidak suka film action, Kak!"
"Bagaimana kalau film horor?" Hanna menengahi perdebatan kakak beradik itu.
__ADS_1
"Nah, boleh juga itu! Dari pada film romantis bikin ngantuk!" sahut Alden setuju.
"Ya sudah, deh! Sana Kak Al mengantri beli tiketnya!" pinta Adel sembari menunjuk deretan panjang orang-orang yang ingin membeli tiket.
Wajah Alden langsung masam, "Harusnya tadi kau beli online saja!"
"Sudahlah, Kak! Jangan banyak protes!" pungkas Adel.
"Tapi aku malas mengantri, Del!" gumam Alden.
"Ya sudah, biar aku saja yang antri." Hanna menawarkan diri untuk menggantikan Alden.
"Nah, ide yang bagus! Pergi sana!" sambung Alden cepat.
"Ish, Kak Al ini gimana, sih? Masa Kak Hanna yang disuruh ngantri?" sungut Adel sambil memukul gemas lengan sang kakak.
Alden mengernyit, "Memangnya kenapa? Kakak atau dia yang beli tiketnya kan sama saja!"
"Kak Al tidak lihat? Yang ngantri itu semuanya cowok, sedangkan ceweknya pada nunggu. Kak Al tidak malu?"
Alden menatap antrian para lelaki itu lalu menggeleng tak acuh, "Tidak."
"Terus kalau rekan bisnis Kak Al ada yang lihat Kak Hanna mengantri sementara Kakak duduk manis di sini, gimana?" lanjut Adel.
Alden mengembuskan napas pasrah lalu beranjak, "Baiklah baiklah! Biar aku yang antri."
Adel tersenyum puas saat kakaknya itu berjalan dan berdiri di barisan paling belakang dengan wajah cemberut.
Empat puluh lima menit kemudian, Alden kembali menghampiri Hanna dan Adel dengan membawa berbagai macam camilan dan minuman, setelah membeli tiket, dia menyempatkan diri untuk membeli semua itu.
Adel dan Hanna sampai tercengang melihatnya.
"Kak Al mau nonton atau piknik?" ledek Adel.
"Kan sudah Kakak bilang, Kakak lapar!"
"Iya, tapi tidak sebanyak ini juga camilannya. Kita cuma menonton dua jam, tapi kau membeli makanan untuk dua hari," ejek Hanna yang berusaha menahan tawa.
Alden merengut, "Awas saja kalau nanti kalian minta!"
Hanna dan Adel mencibir, lalu tertawa bersama, membuat Alden kesal.
Satu lagi sifat Alden yang baru Hanna ketahui, lelaki itu bisa bertingkah kalap dan seperti anak-anak jika sedang kelaparan seperti ini.
***
Di dalam bioskop, Alden duduk di antara Hanna dan Adel, dia memangku semua camilan yang dia beli tadi. Tak lama film pun diputar, adegan demi adegan berjalan, Hanna dan Alden mulai merasa takut. Sementara Alden biasanya saja, dia lebih fokus mengunyah makanan di pangkuannya ketimbang menonton.
__ADS_1
Sebuah adegan mengerikan tiba-tiba mengagetkan semua penonton.
"Aaaaaaahhhhh ...." Hanna menjerit dan refleks memeluk Alden.
Alden tertegun ketika merasakan sebuah gundukan kenyal menabrak lengan atasnya, empuk dan hangat. Darahnya seketika mendesir.
"Ehem!" Alden berdeham untuk menetralkan rasa gugupnya.
Hanna yang sadar telah memeluk suaminya, sontak bergerak menjauh, "Maaf, tadi aku kaget."
"Kau pasti ingin mengambil kesempatan, kan?" bisik Alden dengan nada menggoda.
"Tidak! Kau jangan asal menuduh!" sanggah Hanna pelan, wajah gadis itu merona.
"Sudahlah, mengaku saja! Aku tidak marah, kok!" sambung Alden, entah mengapa menggoda Hanna jauh lebih menyenangkan daripada menonton film di hadapannya.
"Aku bilang tidak, ya tidak!" bentak Hanna kesal.
"Ssstt!" Beberapa penonton yang merasa terganggu dengan suara Hanna mendesis meminta wanita itu untuk tidak berisik.
"Maaf-maaf!" ucap Hanna tak enak, lalu beralih menatap Alden dengan jengkel, "ini gara-gara kau!"
Alden tak menggubris ocehan Hanna, dia hanya tersenyum puas sembari memasukkan camilan ke dalam mulutnya.
Hanna pun kembali fokus memperhatikan layar besar di hadapannya, moodnya rusak gara-gara ulah suaminya itu.
Dua jam kemudian, film pun selesai. Hanna, Alden dan Adel sudah keluar dari bioskop, ketiganya berjalan mencari restoran untuk makan siang dan akhirnya memilih restoran Jepang.
"Kak Al mau makan apa?" tanya Adel.
"Sushi saja," jawab Alden.
Adel menatap Hanna, "Kalau Kak Hanna?"
Hanna memperhatikan buku menu dengan alis mengerut,"Aku bingung mau makan apa."
Hanna tak pernah makan di restoran Jepang sebelumnya, dia juga tak tahu seperti apa rasa makanan dari negeri sakura itu. Paling yang sering dia dengar hanya sushi, tapi dia tak suka seafood mentah.
"Kakak pilih saja yang kira-kira menggugah selera," cetus Adel memberi saran.
Hanna terus mengamati buku menu tersebut secara seksama, dan pilihannya jatuh pada salah satu makanan yang dia tak kenal sama sekali, tapi tampilan gambarnya cukup menggiurkan.
"Miso ramen saja, deh!"
"Baiklah," sahut Adel sambil tersenyum.
Tanpa ketiga orang itu sadari, dari kejauhan, seseorang sedang memandangi mereka dengan berlinang air mata. Bibir pucat nya bergetar kala dia menyebut satu nama dengan lirih.
__ADS_1
"Alden."
***