Jodoh Pengganti Presdir

Jodoh Pengganti Presdir
Episode 20.


__ADS_3

Karena ini weekend, Alden tidak pergi ke kantor, dia meminta pelayan mengantarkan sarapan ke kamarnya sebab malas satu meja dengan Cindy dan David.


"Kau sarapan di sini?" tanya Hanna saat melihat sepiring roti bakar dan segelas susu di meja nakas.


"Iya, aku malas satu meja dengan duo benalu itu," jawab Alden yang tengah fokus menatap layar laptopnya, walaupun akhir pekan, masih ada beberapa pekerjaan yang harus dia siapkan.


Hanna mengembuskan napas, "Ya sudah, aku turun dulu. Mau sarapan juga."


"Hem." Alden hanya berdeham tak acuh.


Hanna segera keluar dari kamar, meninggalkan Alden begitu saja. Namun saat di depan kamar David, tiba-tiba pria itu keluar.


"Raline, selamat pagi," sapa David ramah.


"Pagi," balas Hanna tak acuh lalu melanjutkan langkah namun David menghentikannya.


"Tunggu, Ral!"


Hanna mengehentikan langkah kakinya dan berbalik menatap David dengan malas, "Ada apa lagi?"


"Nanti siang kamu ada acara?" tanya David.


"Memangnya kenapa?" Hanna balik bertanya.


"Aku mau ajak kamu ke tempat yang biasa kita datangi dulu, ada yang mau aku tunjukkan," terang David.


"Maaf, aku tidak bisa!" Hanna kembali berjalan, tapi kali ini Davin mencekal lengannya.


Hanna spontan memukul tangan David, tapi kali ini pria itu tak mau melepaskan cengkeraman tangannya dari lengan Hanna.


"Aku tidak akan lepaskan sebelum kau menjawab iya."


"Kau sudah gila, ya! Lepaskan aku!" bentak Hanna kesal.


"Makanya kamu harus ...."


"Kalian? Ada apa ini?"


Hanna dan David sontak menoleh ke arah Adel yang sedang memandangi mereka dengan terheran-heran, kesempatan ini dimanfaatkan Hanna untuk melepaskan diri dari David.


"Lepaskan!" Hanna menarik lengannya dan kali ini David melepaskannya.


Adel melangkah mendekati mereka, "Kak, ada apa?"


"Nanti aku ceritakan, sekarang kita pergi dari sini!" Hanna langsung menarik Adel menjauh dari David.

__ADS_1


Keduanya pun tidak jadi turun ke lantai bawah, dan memilih kembali ke kamar Adel yang berada di sebelah kamar Alden.


David mengembuskan napas berat, dia hanya terpaku menatap kepergian dua wanita itu dengan perasaan kesal. Tadinya dia ingin mengajak Hanna yang dia anggap Raline untuk mengenang masa-masa indah mereka dulu, tapi hatinya justru kecewa sebab wanita itu menolak ajakannya mentah-mentah. Dan sial, Adel malah memergoki mereka.


"Apa dia akan menceritakan semuanya pada Adel?"


***


Adel hanya bisa terperangah saat Hanna menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan David, dia tak menyangka jika kakak tirinya itu mencintai Raline yang asli.


"Ini serius, Kak?"


"Serius lah! Aku juga awalnya kaget banget pas dia bilang mencintai Raline dan meminta agar kembali padanya," sahut Hanna bersemangat, dia tak ada pilihan lagi selain menceritakan semuanya pada Adel, dia tak ingin adik iparnya itu berpikiran macam-macam tentang dirinya.


"Itu berarti di masa lalu, Kak Raline dan Kak David punya hubungan? Apa Kak Al tahu hal itu?"


"Sepertinya dia tidak tahu, dan aku mohon jangan katakan apa pun padanya!" harap Hanna.


Adel mengerutkan keningnya heran, "Kenapa? Bukannya Kak Al harus mengetahuinya!"


"Kau kan tahu dia sangat membenci David, bisa-bisa ini akan jadi masalah besar. Aku tidak ingin ada keributan," jawab Hanna.


"Tapi kan Kak Al dan Kak Raline sudah putus, jadi mungkin dia tidak akan mempermasalahkannya lagi."


Tapi rupanya Adel memperhatikan perubahan ekspresi wajah kakak iparnya itu, "Kak Hanna cemburu?"


Hanna tertegun kemudian menatap Adel yang memperhatikannya dengan penuh selidik, "Kenapa harus cemburu?"


"Karena Kak Al masih mencintai Kak Raline," sahut Adel mempertegas maksudnya.


Hanna tiba-tiba terkekeh, Adel kebingungan melihat sikapnya itu.


"Del, cemburu itu tanda cinta. Lah, gimana aku mau cemburu kalau tidak cinta? Ngaco, ah!" bantah Hanna setelah dia bisa menguasai diri dan berhenti tertawa.


Adel memandang Hanna dengan saksama, "Kak Hanna sama sekali tidak mencintai Kak Al?"


Hanna menggeleng tanpa keraguan.


"Lalu kenapa Kakak bersedia menikah dengan Kak Al?"


Hanna termangu, dia tak mungkin mengatakan alasan sebenarnya dia bersedia menikah dengan Alden, dia tak mau Adel berpikiran jika dia mata duitan.


"Aku cuma ingin membantu dia membersihkan nama baiknya, itu saja!" dalih Hanna, dia menjadi sedikit gugup.


"Tapi kan aneh saja, Kak. Masa kakak rela menikah dengan pria yang tidak Kakak cintai dan mengorbankan hidup Kakak cuma karena ingin membantu dia membersihkan nama baiknya. Apa itu masuk akal?"

__ADS_1


Hanna semakin gugup, tapi dia berusaha tetap tenang.


"Masuk akal, kok! Buktinya aku rela. Lagipula kan kami akan segera berpisah setelah rumor itu hilang."


"Kenapa kalian tidak berpikir untuk meneruskan pernikahan ini saja walaupun rumor itu sudah hilang?"


"Karena kami tidak saling mencintai, Del. Rumah tangga tanpa cinta itu tidak akan harmonis," sanggah Hanna.


"Tapi ...."


"Sudah, sekarang kita turun dan sarapan, yuk! Aku lapar ini!" potong Hanna cepat demi mengalihkan pembicaraan mereka, dia lalu beranjak dan menarik tangan Adel, "Yuk, Del!"


Walaupun masih tidak terima, Adel tetap menuruti Hanna, keduanya pun keluar dari kamar.


"Tapi aku minta kau merahasiakan semua ini dan bersikap biasa saja," bisik Hanna saat keduanya berjalan beriringan menuju ruang makan.


"Iya, kakak tenang saja!" balas Adel.


Di meja makan tidak ada siapa-siapa, sepertinya David dan Cindy sudah selesai sarapan. Hanna dan Adel duduk lalu secara bersamaan menarik selembar roti, kemudian mengolesnya dengan selai favorit mereka.


"Hari ini kakak ada acara?" tanya Adel sambil mengunyah roti di mulutnya.


Hanna menggeleng, "Tidak ada, memangnya kenapa?"


"Jalan-jalan, yuk!" ajak Adel.


"Ke mana?"


"Ke mall, kita shopping dan nonton bioskop."


"Berdua saja?"


"Kalau mau ajak Kak Al juga boleh!"


"Eh, tidak usah! Ngapain ngajak dia?"


"Biar ramai, Kak. Nanti sekalian kita minta Kak Al yang traktir, kebetulan ada sesuatu yang mau aku beli!" ujar Adel penuh semangat


"Tapi apa dia mau pergi dengan kita? Sepertinya dia sedang banyak pekerjaan." Hanna merasa ragu sebab tadi dia melihat Alden sibuk dengan laptopnya.


"Nanti kita coba ajak Kak Al, kalau dia tidak mau, kita paksa!"


"Memangnya dia bisa dipaksa, bukankah selama ini dia yang selalu memaksa orang lain?" ucap Hanna dalam hati, dia kembali teringat setiap paksaan dari Alden.


***

__ADS_1


__ADS_2