Jodoh Pengganti Presdir

Jodoh Pengganti Presdir
Episode 14.


__ADS_3

Setelah mengatur segalanya, Alden dan Hanna akhirnya menikah di salah satu tempat di daerah Bali. Acara pernikahan itu diadakan tertutup dan sederhana, hanya dihadiri keluarga Hanna serta Adel dan Jojo. Alden memang sengaja tak mengajak Cindy dan David sebab dia tak ingin dua orang itu tahu jika yang dia nikahi bukan Raline.


"Saya terima nikah dan kawinnya Hanna Syafarani binti Abdul Aziz dengan mahar seperangkat alat sholat dan perhiasan emas seberat seratus gram dibayar tunai." Dengan satu tarikan napas, Alden mengucapkan ijab kabul dihadapan penghulu dan para saksi.


"Sah?"


"Sah!"


Kini Hanna dan Alden resmi menjadi suami istri. Maya memeluk putrinya itu dengan haru.


"Selamat, ya, sayang. Sekarang kamu sudah menjadi seorang istri," ucap Maya sembari mengusap air matanya.


"Iya, Bu." Hanna balas memeluk tubuh kurus sang ibu.


Maya mengurai pelukannya dan beralih menatap Alden, "Ibu titip Hanna, jaga dia baik-baik!"


Alden mengangguk, "Iya, Bu. Aku pasti akan menjaganya."


Sejenak suasana terasa penuh haru, Adel dan Hanna bahkan tak bisa menahan tangis mereka.


"Sekarang foto dulu!" pinta Jojo yang sudah standby dengan kamera Canon di tangannya.


Hanna mengusap air matanya lalu berdiri di samping Alden.


"Nona Hanna bisa gandeng tangan Pak Alden?" titah Jojo.


Hanna mengangguk canggung, dia lantas menggandeng lengan Alden dan tersenyum. Jojo pun memotret pasangan pengantin baru itu.


Beberapa jam kemudian, Hanna dan Alden sudah berada di kamar penginapan super mewah di tepi pantai yang sudah dihias sedemikian rupa, ada bunga-bunga mawar dan lilin aromaterapi yang indah serta menenangkan.


"Apa kita akan tidur di kamar ini berdua?" tanya Hanna yang sudah mengganti kebayanya dengan piyama.


Alden yang sedang fokus menatap layar ponselnya pun mengangguk, "Iya, memangnya kenapa?"


Hanna menelan ludah, seumur hidup dia belum pernah tidur sekamar dengan seorang pria.


"Apa aku boleh tidur dengan ibuku saja di kamar sebelah?"


Alden mengalihkan pandangannya ke Hanna, "Kau mau ibumu dan semua orang heboh? Belum sehari jadi suami istri, kita sudah pisah ranjang."


"Tapi aku tidak bisa tidur sekamar denganmu!" bantah Hanna.


"Mukai sekarang harus bisa!"

__ADS_1


Hanna mendengus kesal, dia pikir bisa tidur di kamar yang berbeda dengan Alden setelah mereka menikah, tapi nyatanya tidak.


"Ya sudah, deh. Tapi kau tidur di sofa, jangan di kasur!"


"Enak saja, aku tidak mau! Bisa-bisa badanku sakit semua kalau tidur di sofa," tolak Alden.


Hanna tercengang, dia mulai takut dan gelisah.


"Baiklah, kalau begitu aku saja yang di sofa." Hanna mengalah, dia mengambil sebuah bantal tapi Alden menahan lengannya.


"Tidur di sini saja!"


Hanna memberontak, "Aku tidak mau!"


"Kenapa? Kau takut padaku?" cecar Alden.


"Iya lah, aku tidak bisa percaya padamu!" sahut Hanna.


"Tenang saja, aku tidak akan menyentuhmu."


"Itu kan katamu, tapi nanti kau pasti memaksaku!" tuduh Hanna.


"Hei, aku bukan pria yang suka memaksa wanita," sanggah Alden.


"Kalau itu beda," sangkal Alden.


"Apanya yang beda, tetap saja intinya kau itu suka memaksa!"


"Cckk, kau ini susah sekali dikasih pengertian. Sudahlah, sebaiknya kau tidur saja! Aku masih ada pekerjaan." Alden beranjak dari kasur dan meraih laptopnya yang tergeletak di meja. Meskipun sedang ada acara, tapi Alden tetap harus bekerja, ada beberapa berkas yang harus dia periksa.


Walau kesal bercampur takut, Hanna akhirnya menurut. Dia naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya yang lelah karena energinya terkuras karena acara tadi. Meskipun pernikahannya sederhana, tapi Hanna tetap harus meladeni kerabatnya juga.


Dari tempatnya berbaring, Hanna mengamati Alden yang kini tengah duduk di sofa sambil fokus menatap layar laptop dipangkuan nya. Rahang tegas, hidung mancung, bibir sensual dan alisnya yang tebal membuat wajah Alden terlihat sangat rupawan. Apalagi ditambah tubuh tinggi nan atletis dan kulit yang putih bersih, Alden benar-benar sosok pria yang sempurna. Ah, Hanna jadi kagum.


"Dia ganteng juga kalau lagi serius begitu," ucap Hanna dalam hati.


"Jangan memandangi aku terus! Nanti kau jatuh cinta," ledek Alden tiba-tiba.


Hanna terhenyak, dan sontak salah tingkah sendiri.


"Siapa yang memandangi mu? Kepedean!" bantah Hanna malu lalu berbalik membelakangi suaminya itu.


Alden tak membalas, dia hanya melirik Hanna sambil geleng-geleng kepala. Tanpa Hanna sadari tadi Alden sempat sekilas melihat ke arahnya.

__ADS_1


***


Matahari pagi mulai naik dan menyinari alam semesta, cahaya hangatnya membuat embun nan sejuk menguap ke udara dan hilang bersama angin. Suara deburan ombak dan kicau burung camar di luar kamar bersahutan seolah memanggil insan-insan yang tengah terlelap untuk kembali ke alam nyata.


Hanna mengerjap, kesadarannya mulai terkumpul dan memaksanya untuk meninggalkan alam mimpi. Dengan malas dia membuka matanya sambil meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku, namun sesuatu yang berat di atas perutnya membuat dia terkesiap. Hanna sontak menoleh ke kiri dan terkejut mendapati Alden tertidur pulas sambil memeluk dirinya.


"Sialan! Apa yang kau lakukan?" Tanpa pikir panjang, Hanna mendorong tangan kekar dan berbulu Alden menjauh dari tubuhnya.


Alden menggeliat dan mengubah posisinya, lalu kembali tertidur.


"Hei, bangun! Jangan pura-pura tidur!" bentak Hanna seraya mengguncang badan Alden.


"Sebentar lagi, aku ngantuk sekali," rengek Alden dengan suara serak khas orang bangun tidur. Semalam dia tidur larut malam karena banyak pekerjaan.


Hanna yang kesal lantas berdiri, dia mengambil segelas air putih yang tersedia di dalam kamar lalu menyiramkannya ke wajah Alden. Pria tampan itu sontak bangkit dari tidurnya, dia mengusap wajahnya yang basah lalu menatap Hanna dengan tajam.


"Apa-apaan kau ini? Kenapa menyiram ku?" cecar Alden emosi.


"Karena kau sudah berani menyentuh aku!" sahut Hanna tak kalah emosi.


Alden mengernyit bingung, "Menyentuhmu? Kapan?"


"Alah! Jangan pura-pura bodoh! Pantas saja kau memaksaku tidur seranjang dengan mu, ternyata kau ingin mengambil kesempatan. Dasar laki-laki berengsek!"


Alden terkejut mendengar Hanna memakinya, tapi dia lebih terkejut sebab wanita itu menuduhnya dengan demikian.


"Tunggu-tunggu! Aku sama sekali tidak mengerti, aku merasa tidak melakukan apa-apa!" Lagi-lagi Alden menyangkal.


"Jadi maksudnya tanganmu itu bergerak sendiri dan memelukku? Horor sekali!" ejek Hanna.


Alden termangu, sepertinya dia mulai memahami apa yang terjadi. Tadi dia bermimpi memeluk Raline, mungkin tanpa sadar dia jadi memeluk Hanna yang ada di sampingnya.


"Kenapa diam? Kau tidak bisa mengelak lagi, kan?" kecam Hanna.


"Demi Tuhan, aku tidak berniat memelukmu sama sekali. Kalau memang tadi aku melakukannya, itu terjadi di luar kesadaran ku. Aku tidak sengaja," terang Alden. Masalah ini tidak akan selesai jika dia terus ngotot membantah dan tidak mau mengalah.


Hanna terdiam, benarkah Alden tidak sengaja? Dia tidak bisa percaya begitu saja, tapi melihat mata Alden, tampaknya lelaki itu tidak berbohong.


"Percayalah padaku!" imbuh Alden penuh harap, dia tak mau Hanna salah sangka.


Hanna mengembuskan napas, "Ya sudahlah, aku mau mandi."


Hanna hendak ke kamar mandi, tapi Alden menarik lengannya, "Enak saja! Kau harus dihukum dulu karena berani menyiram ku."

__ADS_1


***


__ADS_2