Jodoh Pengganti Presdir

Jodoh Pengganti Presdir
Episode 16.


__ADS_3

Setelah beberapa hari pura-pura berbulan madu di Bali, Alden dan Hanna akhirnya kembali ke rumah. Keduanya berjalan menuju kamar tanpa memedulikan Cindy yang sedang membaca majalah di ruang tengah, melihat kedatangan mereka, wanita paruh baya berpenampilan elegan itu sontak menegur sok akrab.


"Loh, pengantin baru sudah kembali? Cepat sekali?" tegur Cindy.


Alden menghentikan langkahnya dan otomatis Hanna juga, lalu melirik Cindy dengan malas.


"Kenapa? Kau berharap aku lebih lama lagi kembali agar kau bisa berkuasa di rumah ini?" sindir Alden sinis.


Cindy menutup majalahnya lalu meletakkan benda itu ke meja, dia kemudian beranjak dan berjalan mendekati Alden sambil melipat kedua tangannya di depan dada dengan angkuh.


"Kenapa kau selalu saja berburuk sangka pada Mama? Padahal Mama tidak berniat seperti itu," ujar Cindy tenang dan sok baik.


Alden berdecih sambil memalingkan wajahnya dari Cindy, "Cih! Jangan berpura-pura! Aku tahu apa yang kau inginkan."


Hanna yang berdiri di sisi Alden hanya bergeming, menyimak perdebatan kedua orang itu.


Cindy tersenyum sinis, "Oh, iya? Jangan sok tahu, Alden!"


Alden memutar kepalanya menatap Cindy dengan sorot penuh kebencian, "Kau mungkin bisa mengelabui orang-orang di luar sana dengan sikap sok baik mu itu, tapi kau tidak bisa berpura-pura baik di depanku."


Cindy pun tertawa. Hanna bingung melihat tingkah wanita itu, sedangkan Alden justru semakin merasa kesal.


Setelah bisa menguasai dirinya dan berhenti tertawa, Cindy lantas menatap Hanna yang tengah memandangnya heran.


"Kau dengar, suamimu ini terlalu paranoid dan berburuk sangka pada orang lain. Hati-hati, bisa-bisa sebentar lagi kau yang dia curigai," ujar Cindy sembari melirik Alden.


"Jangan memprovokasi dia!" sungut Alden, dia tak ingin Hanna berpikiran macam-macam tentang dirinya.


Namun di luar dugaan, Hanna malah tersenyum lalu menggandeng lengan Alden dengan mesra, "Tidak apa-apa, biarkan saja dia mau bilang apa! Aku tidak peduli!"


Cindy tercengang, dia kaget sebab Hanna yang dia kira Raline itu berani menyahutnya dengan kurang ajar. Karena setahu Cindy, Raline yang dia kenal adalah gadis yang lembut dan sopan.


"Wah, baru beberapa hari menjadi menantu keluarga Mahendra, kau sudah berani kurang ajar dengan mertuamu?" ujar Cindy dengan raut wajah tak percaya.


Hanna mengernyit, "Mertua?"


Kali ini Hanna gantian tertawa terbahak-bahak sambil geleng-geleng kepala, membuat Cindy dan Alden bingung melihat tingkahnya.


Mendengar tawa Hanna, David pun keluar dari kamarnya dan mengamati mereka dari jauh.


"Mereka sudah kembali rupanya," batin David.

__ADS_1


"Memang siapa yang menganggap anda mertua?" tanya Hanna saat dia sudah bisa menguasai diri.


Cindy mulai kesal, wajahnya pun berubah masam dengan tangan terkepal kuat.


"Sayang, jangan begitu! Hargailah dia, walaupun dia tidak pantas untuk dihargai!" sela Alden menohok, dan semakin membuat Cindy geram.


"Kalian berdua kurang ajar! Aku akan membuat perhitungan pada kalian!" ancam Cindy.


"Waow, aku takut," ejek Alden kemudian merangkul pundak Hanna, "yuk, sayang. Mending kita tidur daripada meladeni Mak Lampir ini."


Alden menarik Hanna berlalu dari hadapan Cindy, dan wanita paruh baya itu menatap kepergian mereka dengan tajam.


"Lihat saja, jika aku berhasil merebut semuanya, aku akan menendang kalian ke jalan!"


David yang sejak tadi mengawasi ketiga orang itu buru-buru masuk ke dalam kamar sebelum Alden dan Hanna melihatnya. Ada rasa marah, iri bercampur sedih di dalam hatinya melihat dua insan itu berjalan dengan begitu mesra.


Begitu naik ke lantai atas, Hanna langsung menepis tangan Alden dari pundaknya dengan kasar.


"Lepaskan! Sudah tidak ada yang melihat kita," sungut Hanna yang sejak tadi merasa risih.


"Iya-iya, kau ini kasar sekali!" Alden menarik lengannya dari pundak Hanna sambil menggerutu lalu menjauh dari wanita itu.


Alden mempercepat langkahnya meninggalkan Hanna lalu membuka sebuah pintu dan bergegas meringsek ke dalam ruangan yang tak lain adalah kamar tidurnya.


Hanna masuk ke dalam kamar Alden dan terperangah takjub melihat ruangan bercat putih itu. Kamar Alden lebih mewah dari kamar penginapan mereka saat di Bali.


"Aku tak menyangka kau berani melawan Mak Lampir itu," kata Alden membuka percakapan, membuat Hanna tersentak dan langsung menoleh ke arah suaminya itu.


"Melawan kau saja aku berani, apalagi cuma dia," sahut Hanna seenaknya.


Alden sontak melotot tak terima, "Coba saja kalau sekarang kau berani melawanku, aku akan menghukum mu dengan sangat kejam! Jangan lupa, aku ini suamimu."


"Aku bisa melaporkanmu ke polisi dengan tuduhan kekerasan dalam rumah tangga, seperti yang lagi viral itu! Dan jangan harap aku akan mencabut tuntutan ku, biar kau membusuk di penjara." Hanna tak mau kalah, dia mengancam balik.


Alden sontak tertawa terpingkal-pingkal.


"Kenapa kau tertawa?"


"Kau pikir aku hanya akan mencekik dan membanting mu?"


Hanna terdiam. Memangnya apa yang akan Alden lakukan selain itu?

__ADS_1


"Aku akan melakukan lebih dari itu, aku akan memperkosa mu terlebih dahulu lalu memutilasi tubuhmu dan membuangnya ke laut, biar di makan ikan hiu. Jadi bagaimana kau bisa melapor ke polisi?" lanjut Alden, dia sengaja menakut-nakuti Hanna.


"Kau tidak mungkin sesadis itu!" bantah Hanna.


"Siapa bilang? Aku bahkan bisa lebih sadis dari yang kau bayangkan, kau mau coba?" tantang Alden sambil berjalan mendekati Hanna dengan tatapan tak tak terbaca.


Wajah Hanna sontak berubah tegang, dia menelan ludah sebab mendadak takut.


"Hentikan! Jangan macam-macam!" Hanna mundur.


Alden menyeringai dan terus melangkah maju, dia senang sekali bisa menggoda Hanna seperti ini.


"Aku bilang hentikan!" bentak Hanna kalut.


"Bukankah kau mau bukti?"


"Tidak! Aku tidak perlu bukti!" teriak Hanna, tubuhnya pun tertahan tembok dan dia tak bisa bergerak lagi.


Alden semakin mendekat lalu mengangkat tangannya.


"Alden jangan!" Hanna sontak memejamkan matanya dengan kuat.


Plak ....


Sebuah tepukan mendarat di kening Hanna.


"Dasar bodoh! Kau pikir aku mau mengorbankan hidup dan karirku cuma karena dirimu? Sungguh tidak setimpal!" ujar Alden sombong.


Hanna membuka matanya perlahan dan menatap Alden dengan jengkel.


"Kau sengaja mengerjai aku?" sungut Hanna kesal karena sadar Alden sudah membuatnya ketakutan tadi.


Alden tertawa kemudian berbalik pergi, "Sudahlah, aku mau istirahat dulu. Kau jangan berisik!"


Perjalanan dari Bali membuat Alden sedikit lelah, dia ingin memanfaatkan sisa waktu liburnya untuk beristirahat, sebelum besok dia sudah harus kembali ke kantor dan menjalani rutinitasnya seperti biasa.


"Kalau begitu aku mau keluar saja, ngapain ngelihatin kau tidur?" gerutu Hanna lalu berjalan keluar dari kamar.


Alden tak menyahut, dia merebahkan tubuhnya lalu memejamkan mata.


Hanna melangkah menuju tangga bersamaan dengan David yang baru keluar dari kamarnya, tatapan mereka sempat bertemu, tapi Hanna mengabaikannya.

__ADS_1


David pun mengikuti Hanna dan berjalan di belakang wanita itu.


***


__ADS_2