Jodoh Pengganti Presdir

Jodoh Pengganti Presdir
Episode 12.


__ADS_3

Mobil mewah Alden memasuki gerbang besar sebuah rumah yang sangat megah, Hanna berdecak kagum, dia sampai melongo melihat bangunan yang didominasi warna putih itu.


"Ini rumah siapa?" tanya Hanna yang tak bisa menutupi rasa takjubnya.


"Rumahku. Yuk, turun!" Alden segera turun saat seorang penjaga membukakan pintu mobil untuknya.


"Selamat datang, Tuan Muda," Penjaga itu menunduk hormat.


"Tolong buka pintu yang satunya lagi!" pinta Alden, penjaga itu buru-buru berlari mengitari mobil dan melaksanakan perintah tuan mudanya.


Dengan anggun Hanna turun setelah penjaga itu juga membukakan pintu untuknya.


"Selamat datang, Nona Raline," sapa penjaga itu ramah.


Hanna merasa gugup dan canggung, "Te-terima kasih, Pak."


Penjaga itu mengernyit heran, sepertinya ada yang tak biasa, tapi dia tak berani bertanya.


Alden berjalan mendekati Hanna lalu menggandeng tangan wanita itu, "Mari masuk!"


Meski merasa risih, Hanna tak berani protes. Dia mengikuti langkah Alden memasuki rumah megah bak istana itu sambil bergandengan tangan.


Si penjaga tadi memandangi kepergian mereka dengan bingung, "Kenapa Nona Raline memanggilku Pak? Bukankah biasanya dia memanggil nama?"


Di dalam rumah, Adel langsung menyambut kedatangan Alden dan Hanna dengan riang.


"Hai ,Kak Raline! Apa kabar?" Adel berhambur memeluk Hanna.


"Ba-baik," jawab Hanna yang semakin gugup.


Adel melepaskan pelukannya dan menatap wajah Hanna, "Aku kangen banget dengan Kakak, aku pikir Kakak dan Kak Alden beneran putus."


Hanna tersenyum kaku, dia bingung harus menjawab apa.


"Hei, bocah! Kau tidak menyapa kakakmu ini?" tegur Alden, dia berusaha mengalihkan pembicaraan.


Adel menolehkan kepalanya menatap Alden, namun dia terkesiap saat melihat sudut bibir sang kakak yang lebam dan terluka.


"Bibir Kak Al kenapa? Kak Al berkelahi?" tanya Adel cemas.


"Biasalah, namanya juga anak cowok," sahut Alden santai, lalu sebelah tangannya merangkul pundak mungil Adel, "sudah, yuk kita makan!"


"Iya, Kak."


Sebelah tangan Alden lagi menggandeng tangan Hanna, "Yuk sayang!"


Hanna mengikuti mereka dengan pasrah, dia merasa kesal sekaligus risih karena dari tadi Alden terus saja menggenggam tangannya.

__ADS_1


Di meja makan sudah terhidang beraneka macam menu makanan lezat, Cindy dan David juga sudah berada di sana, keduanya terkesiap melihat kedatangan Alden dan Hanna yang mereka kira adalah Raline.


Cindy dan David saling pandang, setahu mereka Raline sudah memutuskan hubungannya dengan Alden, tapi kenapa malam ini kedua insan itu bersama lagi?


Hanna duduk saat seorang pelayan menarik kursi untuknya, lalu mengambilkan dia nasi serta lauknya. Seumur hidup Hanna, dia tak pernah dilayani dan dijamu seperti ini.


"Mama pikir kalian sudah putus, soalnya berita itu sudah tersebar ke mana-mana," sindir Cindy sinis.


Alden tersenyum dan menatap Cindy dengan malas, "Sepertinya kau kecewa karena berita itu terbukti tidak benar."


Hanna terkejut mendengar cara bicara Alden yang kasar terhadap Cindy yang tak lain adalah ibu sambungnya. Sementara Adel dan David hanya bergeming, sepertinya mereka sudah terbiasa mendengar hal ini.


Cindy tertawa, lalu melipat kedua tangannya di atas meja, "Oh, sekarang Mama mengerti, rupanya kau cuma bersandiwara dan mencari sensasi saja!"


"Maaf ya Nyonya Cindy yang terhormat, aku bukan dirimu!" balas Alden menohok.


Cindy yang mulai kesal hanya tertawa mengejek.


Alden menggenggam tangan Hanna dengan mesra, "Maaf ya, sayang. Kamu pasti kehilangan selera makan karena ocehan Mak Lampir tadi."


Hanna terhenyak, dia menatap Alden dan Cindy bergantian dengan tegang.


"Kau!" Cindy melotot marah sambil mengepalkan tangannya menahan geram, sejak dulu anak tirinya itu memang selalu bersikap kurang ajar padanya.


"Ma, sudahlah!" David menyentuh tangan Cindy dan berusaha menenangkannya.


Cindy yang sudah tak bisa lagi menahan emosinya pun beranjak dan meninggalkan meja makan. David segera menyusul ibunya itu.


Hanna yang menyaksikan keributan tadi mendadak merasa bingung, sebenarnya ada apa? Mengapa Alden bersikap seperti itu kepada ibu tirinya?


"Maaf, ya, Kak Raline. Harap maklum saja!" ucap Adel merasa tak enak.


Hanna tersenyum dan mengangguk.


"Harap maklum? Apa mereka selalu seperti itu bahkan di depan Raline?" batin Hanna bertanya-tanya.


***


Selesai makan malam, Adel mengajak Hanna dan Alden bersantai di gazebo kayu di taman belakang, dia ingin mengintrogasi dua insan itu perihal kabar pernikahan mereka yang katanya batal.


"Jadi berita itu tidak benar, kan? Kak Al dan Kak Raline tidak batal menikah?" Adel bertanya dengan menyelidik.


Alden tersenyum lirih sebelum bicara, "Sayangnya berita itu benar, kami memang batal menikah."


Adel tercengang, menatap Hanna dan Alden bergantian, "Serius? Kenapa? Tapi kalian tidak putus, kan?"


"Kakak sudah putus dengan Raline," jawab Alden mantap, membuat adiknya itu semakin kebingungan.

__ADS_1


Hanna hanya bergeming, dia tak berani mengeluarkan suara.


Adel menggeleng, "Kak Al pasti bercanda, aku tidak percaya!"


"Kakak serius, Del."


Adel beralih memandang Hanna yang membisu, "Kak Raline, kenapa diam saja? Kak Al bohong, kan?"


Hanna menatap Alden, dia takut salah bicara.


"Dia bukan Raline!" bisik Alden tiba-tiba.


Adel terkejut, begitu juga dengan Hanna, dia tak menyangka pria itu akan mengatakan semuanya dengan terang-terangan.


Adel pun tertawa, dia merasa geli dengan pernyataan saudaranya itu.


"Kak Al jangan bercanda, deh! Sudah jelas-jelas ini Kak Raline, masa dibilang bukan. Kak Al mau nge-prank aku, ya?" ucap Adel sambil tertawa-tawa.


"Hei, bocah! Siapa yang lagi nge-prank? Kakak serius!" sungut Alden gemas.


Tawa Adel langsung hilang berganti raut serius.


"Dia Hanna, bukan Raline! Wajah mereka memang mirip."


Adel terhenyak dan langsung menatap Hanna dengan alis mengerut, dia menelisik setiap inci wajah Hanna, wanita dihadapannya itu


benar-benar seperti Raline.


Sedangkan Hanna mencoba tersenyum dengan tegang.


"Makanya Kakak minta dia bersandiwara untuk menggantikan Raline," lanjut Alden.


Pandangan mata Adel beralih ke Alden, "Menggantikan? Maksudnya?"


Alden lalu menceritakan rencananya menikahi Hanna untuk meredam rumor yang beredar saat ini.


"Kak Al yakin? Apa nanti tidak jadi masalah? Bagaimana kalau Kak Raline dan keluarganya buka suara? Nama baik Kak Al bisa semakin rusak."


"Kamu tenang saja! Semuanya sudah Kakak pikirkan, dan Kakak yakin tidak akan ada masalah. Makanya kamu harus menyimpan rahasia ini, jangan sampai ada orang lain yang tahu, terutama Mak Lampir itu dan juga anaknya," pinta Alden.


"Baiklah, aku akan menjaga rahasia ini seperti aku menjaga buku harian ku tapi dengan satu syarat, Kak Al harus tambah uang jajan aku, kalau tidak aku beberkan rahasia ini." Adel pura-pura mengancam sang kakak.


Alden langsung melotot, dia kemudian memiting Adel lalu mengusap kepala adiknya itu dengan gemas, "Kamu ingin memeras Kakak, ya? Dasar bocah nakal!"


"Ampun, Kak! Hahaha ...." Adel memberontak sembari tertawa terpingkal-pingkal.


Hanna tertegun memandangi keakraban hubungan kakak beradik itu, ternyata di balik sikap menyebalkannya, Alden adalah sosok yang hangat.

__ADS_1


Dari balik jendela kamarnya yang menghadap ke taman belakang, David sedang mengawasi ketiga orang itu dengan tatapan tajam, dia mengeraskan rahang dan mengepal tangannya dengan kuat demi menahan kesal.


***


__ADS_2