
Setelah dari kafe, Alden mengajak Hanna ke salon.
"Kenapa kau mengajakku ke sini?" tanya Hanna.
"Aku ingin memperbaiki penampilan mu," jawab Alden seenaknya.
"Memangnya penampilan ku jelek sekali, sampai harus diperbaiki segala?"
"Bukan begitu, aku hanya ingin membuatmu terlihat seperti Raline. Dia terawat, wajahnya bersinar dan rambutnya indah," sanggah Alden sembari membayangkan mantan kekasihnya itu.
Hanna mendengus kesal.
"Raline lagi, Raline lagi!" batin Hanna, dia lantas memperhatikan wajahnya di cermin, meskipun tidak berjerawat tapi kulitnya memang terlihat kusam. Rambut panjangnya juga tidak indah karena jarang creambath.
Hanna mendesah, wajahnya seketika merengut menyadari jika dirinya memang tidak terawat.
"Maaf, ada yang bisa Sisil bantu?" Seorang pria bertulang lunak tiba-tiba menghampiri Alden dan Hanna.
Hanna dan Alden terperanjat kaget, mereka sontak berbalik ke arah banci yang bernama Sisil itu.
"Hem, tolong make over dia! Lakukan apa pun yang menurutmu perlu dilakukan dan buat rambutnya model oval layer," pinta Alden, dia ingin Hanna benar-benar terlihat seperti Raline.
Pria gemulai itu memindai tubuh Hanna dan juga wajahnya, "Baiklah, serahkan semuanya pada Sisil. Mari silakan duduk!"
Sisil menarik Hanna untuk duduk di depan sebuah cermin besar, sementara Alden memilih untuk menjatuhkan dirinya di atas sofa dan mengeluarkan telepon genggamnya dari dalam saku celana.
Sisil mulai merapikan rambut Hanna, dia memangkasnya sesuai perintah Alden lalu melakukan treatment untuk membuat rambut itu semakin indah.
Setelah urusan rambut selesai, Sisil kemudian mem-facial wajah Hanna, merapikan alisnya yang berantakan, dan lain-lain.
Dua jam kemudian, Hanna sudah selesai di-make over dan kini dia terlihat lebih cantik dan lebih segar dari sebelumnya.
"Nah, kalau begini, pacar kamu pasti makin cinta," ledek Sisil centil.
Hanna hanya tersenyum kecut.
"Pacar dari Hongkong! Kenal saja baru kemarin," gerutu Hanna dalam hati.
"Kamu sudah cantik alami, jadi tinggal dipoles sedikit saja, langsung jadi princess." Sisil berkata dengan berlebihan.
Hanna tertawa mendengar pujian Sisil, dia lalu beranjak dan berjalan mendekati Alden yang tertidur karena jenuh menunggu.
"Hei, bangun!" Hanna mengguncang tubuh Alden, tapi laki-laki itu tak merespon.
"Cckk, dia tidur atau mati, sih?" Hanna kembali mengguncang tubuh Alden lebih kuat dari sebelumnya.
Alden menggeliat lalu membuka matanya dengan perlahan, dia terkesiap saat melihat wajah Hanna berada tepat di hadapannya.
"Raline!" seru Alden dan langsung memeluk Hanna hingga wanita itu terjatuh menimpanya.
"Lepaskan aku! Aku bukan Raline!" Hanna mendorong tubuh Alden dan memberontak melepaskan diri.
Alden sontak melepaskan pelukannya dan menatap Hanna dengan saksama.
__ADS_1
"Kau mau cari-cari kesempatan, ya?" sungut Hanna kesal.
"Tadi aku mimpi Raline, jadi saat bangun aku pikir kau adalah dia. Habis kalian mirip sekali," dalih Alden.
"Alasan!"
"Aku serius! Kalau begini, aku tidak bisa membedakan yang mana kau, dan yang mana Raline."
"Dari tadi Raline saja yang disebut! Kalau kau secinta itu padanya, kenapa tidak minta balikan saja sana?"
Wajah Alden berubah sendu, andai dia bisa melakukan itu, tapi kenyataannya tidak. Dia masih punya harga diri, dia tak ingin mengemis cinta jika sudah dicampakkan, apalagi dengan jelas Raline mengatakan bila mencintai pria lain, itu sangat melukai perasaan dan harga diri Alden.
Alden beranjak dari duduknya dan berlalu dari hadapan Hanna, dia tak ingin membalas ucapan wanita itu.
"Dasar budak cinta!" Hanna bergegas menyusul Alden.
***
Alden mengantarkan Hanna pulang, dia memarkirkan mobilnya di depan rumah wanita itu, tapi mereka tidak turun.
"Nanti malam aku jemput pukul delapan," ujar Alden.
"Mau ke mana lagi?"
"Aku akan mengajakmu bertemu keluargaku, jadi berdandan lah yang cantik dan kenakan pakaian yang tadi aku belikan."
Hanna menghela napas pasrah lalu mengangguk.
"Aku minta bersikaplah yang sopan, ramah dan tenang. Agar ...."
"Iya, Raline itu wanita terpelajar dan elegan. Kalau bicara lemah lembut, sopan dan tidak pernah teriak-teriak." Alden berbicara sambil melirik Hanna, dia sengaja menyindir wanita itu.
Hanna memalingkan wajahnya yang masam, dia sungguh muak mendengar Alden memuji-muji mantan pacarnya yang sempurna itu.
"Aku harap kau juga bisa bersikap seperti itu nanti, apalagi setelah kita menikah," lanjut Alden.
"Baiklah, tapi hanya saat di depan orang lain saja. Jika berdua denganmu, aku akan tetap jadi diriku sendiri. Aku tidak mau menjadi bayang-bayang Raline mu itu."
Alden mengembuskan napas berat, "Iya, terserahlah!"
Alden merogoh sakunya lalu mengambil telepon genggamnya, dia membuka galeri foto dan menunjukkannya ke Hanna.
"Ini Adel, dia adikku satu-satunya."
Hanna memperhatikan foto gadis muda berwajah cantik yang mirip dengan Alden, bisa dibilang dia versi wanitanya Alden.
"Dia masih kuliah dan sangat dekat denganku," lanjut Alden.
"Pasti dia sudah kebal menghadapi manusia menyebalkan seperti mu," ledek Hanna lalu tertawa.
Alden melirik Hanna, tapi kali ini tak mau membalas wanita itu. Dia lebih memilih memperlihatkan foto seorang wanita paruh baya dan pemuda berwajah oriental.
"Yang ini Tante Cindy, ibu tiri aku. Dan itu David, anaknya," terang Alden.
__ADS_1
Hanna memandang wajah Cindy dan David bergantian, lalu menatap Alden.
"Kau punya ibu tiri? Galak tidak?"
"Tidak galak, tapi cukup memuakkan," keluh Alden kesal.
"Kalau Ayah dan Ibu kandung kamu?"
Wajah Alden berubah murung, "Mama meninggal saat melahirkan Adel, dan Papa meninggal dua tahu yang lalu karena kecelakaan."
Hanna merasa prihatin, "Maaf, aku tidak tahu kalau kedua orang tuamu sudah tiada."
"Tidak apa-apa," balas Alden.
"Ayahku juga sudah meninggal lima tahun yang lalu, dia sakit kanker otak. Sekarang aku tinggal bersama Ibu yang juga sudah mulai sakit-sakitan," beber Hanna.
Alden seketika merasa iba mendengar curahan hati wanita itu.
"Kau tidak punya saudara?" tanya Alden, dia ingin memastikan apakah Hanna dan Raline saudara kembar.
"Kata Ibu, aku punya seorang kakak, tapi dia meninggal sesaat setelah dilahirkan ke dunia."
Alden termangu, kalau saudara Hanna sudah meninggal, berarti Raline bukan kembarannya.
"Ya sudah, kalau begitu aku turun dulu. Sampai nanti." Hanna bergegas keluar dari mobil Alden, membuat pria itu tersentak.
Alden juga ikut turun dan mencekal lengan Hanna, "Tunggu!"
"Ada apa lagi?"
"Aku ikut."
Hanna mengerutkan keningnya, "Ikut ke mana?"
"Iya ikut masuklah! Aku ingin menemui ibumu untuk meminta restu, sebentar lagi kita kan mau menikah."
"Tidak usah, biar nanti aku saja yang bilang ke Ibu," bantah Hanna.
"Sudah, biar aku saja!"
"Tapi Ibu pasti belum pulang!"
"Aku akan tunggu sampai dia pulang, yuk!" Alden menarik lengan Hanna.
Tepat bersamaan Maya pulang dari pasar, dan bingung melihat semua ini.
"Hanna, ada apa ini?"
Alden dan Hanna sontak menoleh ke arah Maya.
"Ibu!"
Alden melepaskan lengan Hanna dan menghampiri Maya sambil mengulurkan tangannya," Perkenalkan, saya Alden Richard Mahendra, calon menantu Ibu."
__ADS_1
Hanna dan Maya tercengang mendengar kata-kata Alden yang terlalu blak-blakan.
***