
Seperti janjinya, Alden menjemput Hanna pukul delapan malam, dia menunggu di teras sambil merapikan kemeja yang dia kenakan. Tak berapa lama, Hanna keluar dengan memakai dress selutut berwarna navy, dipadukan dengan heels hitam dan sedikit polesan make up yang natural. Rambutnya dia biarkan tergerai menutupi bagian bahunya yang sedikit terbuka.
Alden terperangah melihat Hanna yang begitu cantik malam ini, dia seperti melihat Raline yang berdiri di hadapannya.
"Kenapa menatapku seperti itu? Terpesona?"
Alden tersentak dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, "Ciih! Pede sekali kau."
"Kalau begitu, mari berangkat! Nanti kemalaman." Hanna melangkah menuju mobil Alden yang terparkir di depan rumahnya.
Alden pun beranjak dan bergegas menyusul wanita itu. Dia masuk ke dalam mobil dan segera menyalakan mesin mobilnya lalu melesat pergi.
"Kau masih ingatkan pesanku tadi? Bersikaplah lemah lembut, sopan dan ramah. Jangan teriak-teriak seperti Tarzan!"
"Iya-iya!" jawab Hanna ketus.
"Bagus," balas Alden tanpa memandang Hanna, dia sedang fokus mengemudi.
Namun tiba-tiba sebuah sepeda motor melaju kencang, lalu menyalip mobil Alden dan berhenti tepat di depannya. Alden yang kaget mengerem mendadak.
"Ya Tuhan!" pekik Hanna yang juga ikut terkejut.
Seorang pria yang tak lain adalah Niko turun dari sepeda motor itu dan mendekati mobil Alden. Dia menggedor kaca jendela mobil tersebut dengan kuat.
"Niko?" Hanna bergegas membuka pintu mobil dan keluar.
Alden yang bingung pun ikut turun dari mobil.
"Niko, apa yang kamu lakukan?" tanya Hanna heran.
"Han, aku mohon batalkan semua ini! Biar aku yang akan membayar ganti ruginya," ujar Niko memohon sambil menggenggam erat tangan Hanna.
Setelah bicara pada Hanna tadi siang, dia memutuskan untuk bertanggung jawab menggantikan Hanna agar wanita itu bisa terbebas dari Alden.
Hanna termangu mendengar ucapan Niko.
"Apa-apaan kau ini?" sergah Alden sembari menarik lengan Hanna agar menjauh dari Niko.
"Kau yang apa-apaan? Jangan mentang-mentang kau punya banyak uang, kau bisa seenaknya mengancam orang lain! Hanna tidak mencintai mu, jadi jangan paksa dia menikah denganmu!" balas Niko murka.
"Memangnya siapa kau berani bicara seperti itu?"
"Tidak penting siapa aku! Yang pasti aku peduli pada Hanna dan aku tidak ingin hidupnya hancur karena menikah denganmu!"
"Ibunya saja tidak masalah, kenapa kau yang sewot?" cibir Alden.
"Karena ibunya tidak tahu manusia macam apa kau ini! Kau memanfaatkan situasi untuk mendapatkan Hanna, kau pasti punya niat jelek padanya." Niko berbicara dengan penuh emosi, Alden hanya tersenyum menanggapinya.
"Niko sudahlah." Hanna berusaha menenangkan sahabatnya itu.
"Han, tolong dengarkan aku! Batalkan semua ini, biar aku yang bertanggung jawab." Niko masih bersikukuh untuk memohon.
__ADS_1
"Maaf, Nik. Aku kan sudah bilang, tidak bisa! Sebaiknya sekarang kamu pulang, ya!" tolak Hanna, dia tak mau masalah ini semakin membesar.
"Kau dengar? Dia sudah menolak mu, jadi sebaiknya kau tahu diri," ledek Alden sinis.
"Diam kau!" bentak Niko marah, lalu melayangkan pukulan ke wajah Alden, hingga pria rupawan itu terhuyung dan mundur beberapa langkah.
"Ya, Tuhan!" pekik Hanna seraya menutup mulutnya yang ternganga.
"Berengsek!" Alden pun tak tinggal diam, dia membalas pukulan Niko dengan emosi.
Kedua pria itu berkelahi dan saling pukul, Hanna menjadi panik dan ketakutan.
"Niko, Alden, hentikan!" jerit Hanna, tapi keduanya tak menggubris.
Beberapa warga yang mendengar teriakkan Hanna bergegas datang dan melerai perkelahian dua pria itu.
"Ada apa ini?" tanya salah satu warga bernama Roni.
"Tanyakan kepadanya! Dia yang menyerang aku duluan!" kata Alden sembari menunjuk Niko yang menatapnya dengan tajam.
Roni menatap Niko, "Nik, ada apa?"
Niko tak menjawab, dia melepaskan diri dari cekalan tangan warga dan bergegas pergi dengan motornya. Dia sungguh kecewa dengan Hanna yang lebih memilih Alden.
***
Alden duduk di dalam mobil, dia meringis menahan sakit saat Hanna membersihkan sudut bibirnya yang terluka dan berdarah akibat dipukul Niko tadi.
"Siapa suruh pakai acara berkelahi segala, sekarang rasakan akibatnya!" Hanna mengomel dengan kesal.
"Pacarmu itu duluan yang memukul ku, jadi aku balas lah," sahut Alden.
"Dia bukan pacarku, kami cuma bersahabat!" bantah Hanna.
"Cuma sahabat tapi lagaknya minta ampun! Sok-sokan mau jadi pahlawan pula!" gerutu Alden.
"Itu karena dia peduli padaku," sahut Hanna.
"Bukan peduli, tapi cari perhatian!" bantah Alden.
"Terserah kau mau bilang apa!" Hanna malas meladeni Alden, dia mengambil salep obat di kotak P3K lalu mengolesnya ke luka pria itu dengan hati-hati.
Alden lagi-lagi meringis kesakitan, tapi kali ini dia tidak lagi protes seperti sebelumnya.
Dengan telaten Hanna mengobati luka Alden, membuat lelaki itu terkesima melihat wajah cantiknya yang terlihat begitu serius.
"Dia cantik sekali," batin Alden.
Ia pun mulai terbawa suasana, dan berhalusinasi jika saat ini Raline lah yang ada di hadapannya. Dengan perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Hanna dan ingin mencium bibir wanita itu.
Hanna yang sadar dengan kelakuan Alden sontak memukul wajahnya.
__ADS_1
"Aduh!" Alden memekik kesakitan karena yang Hanna pukul adalah bibirnya yang terluka.
"Apa yang kau lakukan? Dasar mesum!" hardik Hanna dengan mata melotot.
"Aku tidak melakukan apa pun!" sangkal Alden.
"Barusan kau ingin menciumku, kan? Ayo ngaku!" tuduh Hanna.
Alden menggeleng dan pura-pura tak bersalah, "Tidak! Kau ini kepedean sekali, sih!"
"Jangan bohong! Kau pasti ingin macam-macam!"
"Tidak!"
"Kalau begitu aku tidak jadi pergi denganmu, aku mau turun!" Hanna hendak keluar dari mobil Alden, tapi dengan cepat lelaki itu mengunci pintunya secara otomatis.
Hanna berusaha membuka pintu mobil Alden, tapi tidak bisa. Dia lantas menatap pria itu dengan tajam.
"Buka pintunya!" pinta Hanna.
Alden menggeleng sambil menyeringai lebar, "Tidak akan."
"Aku bilang buka! Atau aku akan berteriak, biar kau di pukuli orang kampung," ancam Hanna.
"Coba saja! Walaupun kau berteriak sampai pita suaramu rusak, tidak akan ada yang mendengarnya," tantang Alden.
"Tolong! Ada pria mesum!" teriak Hanna, tapi suaranya seperti hilang ditelan angin.
Alden terkekeh geli.
"Mana orang kampungnya? Tidak ada yang datang," ledek Alden.
Hanna sontak merengut, dia kesal minta ampun.
Alden tiba-tiba mendekati Hanna, membuat wanita itu panik dan gugup, "Ka-kau mau apa? Jangan macam-macam!"
Bukannya menjawab, Alden malah semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Hanna hingga wanita itu bisa merasakan hembusan napasnya.
Hanna yang tersudut akhirnya memejamkan matanya dengan kuat.
Ceklik.
Alden memasang seat belt milik Hanna, kemudian menjauh dari wanita itu.
"Sekarang ketahuan otak siapa yang mesum," ejek Alden.
Hanna membuka matanya dan mendadak merasa malu karena sudah salah sangka, wajah cantiknya kini merona merah.
Alden tersenyum puas, menggoda Hanna ternyata menyenangkan.
***
__ADS_1