
"Ah, Hanna. Enak sekali!" Alden memejamkan matanya, menikmati pijatan tangan Hanna di pundaknya.
Rutinitasnya yang padat ditambah lagi seharian melayani kerabat Hanna membuat tubuh Alden lelah dan pegal-pegal, dia memanfaatkan Hanna untuk sedikit merileksasi kan tubuhnya.
"Lebih keras lagi!" pinta Alden.
Dengan kesal Hanna menambah kekuatannya, memijat pundak Alden sambil terus menggerutu, wajah cantiknya semakin masam dan ditekuk. Lagi-lagi dia tak bisa menolak paksaan Alden, pria itu berdalih ini adalah hukuman karena tadi Hanna sudah berani menyiramnya.
"Sudah, ya? Tangan ku lelah ini!" keluh Hanna.
"Sedikit lagi, masa berhenti pas lagi enak-enak nya," sahut Alden tak tahu diri.
Hanna berdecak sebal, rasanya ingin sekali dia memukul kepala Alden sampai pria itu pingsan agar dia bisa berhenti mengikuti semua perintahnya.
"Makanya jangan membuat aku kesal kalau tidak mau dihukum," sambung Alden.
"Hukuman macam apa ini?" protes Hanna.
"Sudah nikmati saja, jangan banyak protes," balas Alden enteng.
"Apanya yang mau dinikmati? Yang ada sekarang tanganku yang pegal-pegal," sungut Hanna kesal.
"Nanti kau bisa menyewa tukang pijit untuk memijat tanganmu."
Hanna mendengus, memang susah bicara dengan Alden. Jangankan untuk menang, seri saja sulit. Akhirnya Hanna diam, dia terus memijat pundak Alden dengan perasaan dongkol.
Tapi sepertinya semesta sedang berbaik hati pada Hanna dan ingin menyelamatkannya dari penindasan Alden, ponselnya yang tergeletak di nakas tiba-tiba berdering nyaring.
"Ponselku bunyi, aku mau lihat dulu. Siapa tahu penting." Hanna menghentikan pijatannya dan berlari mendekati benda pipih itu.
Alden tak lagi menahannya, dan membiarkan Hanna menghentikan pijatannya.
Hanna termangu saat melihat tulisan yang tertera di layar ponselnya.
Niko calling ....
Sudah lama sekali sejak kejadian malam itu, Niko tak pernah menghubungi atau menemuinya lagi, bahkan sahabat kecilnya itu tak pernah terlihat.
"Kenapa tidak dijawab?" tanya Alden heran saat Hanna hanya terpaku menatap ponsel di tangannya yang terus berbunyi.
Hanna sontak menatap Alden, "Iya, ini mau dijawab."
Hanna menggeser tombol hijau di layar telepon genggamnya dan panggilan pun tersambung.
"Halo, Nik," sapa Hanna sedikit canggung.
"Aku dengar kamu sudah menikah, ya?"
Hanna mendadak gugup, apalagi Alden terus menatapnya, "I-iya, tapi hanya pesta sederhana. Jadi hanya dihadiri keluarga, makanya aku tidak mengundangmu."
"Tidak apa-apa. Aku juga pasti tidak akan datang kalau kamu undang."
__ADS_1
Hanna terdiam, dia tahu Niko marah dan tidak setuju dia menikah dengan Alden.
"Han, aku cuma bisa mengucapkan selamat, semoga kamu bahagia dengan pilihan mu."
"Terima kasih, ya, Nik," balas Hanna dengan suara bergetar, entah mengapa dia merasa sedih mendengar ucapan Niko itu.
"Kalau begitu aku tutup dulu."
Niko langsung memutuskan sambungan telepon sepihak tanpa menunggu Hanna membalas kata-katanya.
Hanna tertegun seraya menarik ponselnya menjauhi telinga, Alden yang melihat ekspresi sendu Hanna merasa penasaran.
"Siapa yang telepon?"
"Niko," jawab Hanna singkat.
Alden berpikir sejenak kemudian teringat sesuatu, "Oh, pacarmu itu?"
Hanna seketika meliriknya dengan sinis, "Berapa kali harus aku bilang? Dia bukan pacarku, kami hanya bersahabat!"
"Tapi sepertinya dia menyukaimu."
"Kau ini sok tahu!" cibir Hanna yang kembali kesal mendengar ocehan Alden, dia meletakkan telepon genggamnya di nakas lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Alden langsung melotot tak terima, "Hei, hukuman mu belum selesai!"
"Bodoh amat! Aku mau mandi!" teriak Hanna dari dalam kamar mandi.
Alden menyeringai, "Dasar cewek nakal! Awas kau!"
"Buka pintunya!"
"Kau mau apa?" tanya Hanna panik.
"Sudah buka saja! Atau aku dobrak," ancam Alden.
"Jangan macam-macam! Atau aku akan teriak, biar satu penginapan datang ke sini." Hanna balas mengancam Alden.
"Coba saja! Aku tidak takut!" tantang Alden, dia lalu mendobrak pelan pintu tersebut, sontak membuat Hanna berteriak heboh di dalam kamar mandi.
"Alden, gila! Mesum!"
Alden sontak tertawa terpingkal-pingkal, dia puas sudah berhasil menggoda istrinya itu. Padahal tadi dia hanya bercanda, tapi Hanna justru menanggapinya dengan serius.
Setelah berhenti tertawa, Alden pun duduk di tepi ranjang dan menyalakan ponselnya yang sengaja dia matikan semalam. Ada puluhan pesan dan notifikasi panggilan tak terjawab yang masuk, Alden membuka lalu membacanya satu persatu.
Senyum langsung terbit di bibirnya, dia pun segera menghubungi Jojo.
***
Pagi ini seluruh jagat bisnis heboh dengan berita pernikahan Alden yang diadakan tertutup di Bali. Pasalnya foto-foto pernikahan yang diambil Jojo kemarin sengaja pria itu sebar sesuai rencananya, beberapa kolega langsung mengirimkan ucapan selamat kepada Alden. Hal ini jelas mematahkan rumor yang mengatakan Alden batal menikah karena dicampakkan oleh kekasihnya.
__ADS_1
Jojo tersentak saat handphone di tangannya tiba-tiba bergetar lalu berbunyi nyaring.
Pak Alden calling ....
Dengan cepat pria berkaca mata itu menjawabnya.
"Halo, Pak."
"Rencana kita sukses, Jo!"
"Iya, Pak. Orang-orang percaya jika itu adalah Nona Raline," sahut Jojo.
"Sebentar lagi gosip sialan itu pasti hilang dan nama baikku bisa terselamatkan."
"Benar, Pak. Sekarang kita tinggal menunggu Nona Raline dan keluarganya buka suara," ujar Jojo.
"Iya, kita lihat apa yang akan dia dan keluarganya lakukan."
Di tempat berbeda, Raline tengah menangis tersedu-sedu, dia menatap foto pernikahan Alden dengan nanar. Baru saja Raka menunjukkan kabar menyakitkan itu padanya.
"Apa kau akan klarifikasi dan membantah semua itu?" tanya Raka.
Raline menggeleng seraya mengusap air mata di pipinya, "Tidak, biarkan saja."
Raka mengernyit heran, "Kenapa?"
Dengan mata yang basah, Raline menatap Raka, "Aku yang sudah menyebabkan nama baiknya rusak sehingga dia dianggap pecundang oleh orang lain, jadi anggap saja ini bentuk permintaan maaf ku. Kalau aku tidak bisa membahagiakannya dengan cinta, paling tidak aku sudah menyelamatkannya dengan namaku."
"Tapi itu akan merugikan mu, Raline! Apa kamu tidak takut semua ini akan menggangu hidupmu?" sungut Raka gemas melihat Raline begitu bodoh membiarkan namanya terbawa-bawa dalam pernikahan Alden.
"Apa lagi yang harus takutkan? Hidupku bahkan sudah berakhir sejak putus dari dia," lirih Raline pilu.
"Jangan bicara seperti itu! Kamu harus tetap semangat untuk hidup."
"Semangatku sudah tidak ada lagi, Ka. Jadi biarkan semua ini!"
Raka mengusap wajahnya dan mendesah pasrah, "Baiklah, kalau kamu tidak ingin klarifikasi. Tapi bagaimana dengan papa dan mamamu?"
"Aku akan minta mereka untuk diam. Tapi aku rasa mereka tidak akan peduli, bagi mereka bisnis dan harta lebih penting dari aku." Raline tertunduk sedih.
Raka merasa prihatin, "Jangan bicara seperti itu! Mereka pasti peduli padamu."
Raline tak menjawab, dia hanya terdiam menahan rasa sakit yang menyerang hatinya saat teringat selama ini dirinya diabaikan.
"Tapi kalau dipikir-pikir aneh juga, ya? Kok bisa istrinya Alden mirip denganmu? Sampai-sampai semua orang berpikir itu kamu," cecar Raka tiba-tiba, dia ingin mengalihkan kesedihan Raline dari sikap orang tuanya.
Raline langsung mendongak menatap Raka, dia sampai melupakan hal itu karena saking terpukul dan sedihnya atas pernikahan Alden.
"Kalian seperti kembar identik," sambung Raka.
Raline beralih memandang foto wanita di samping Alden, mereka memang mirip. Sejenak Raline curiga, apakah Alden sengaja mencari wanita yang serupa dengannya karena punya niat tertentu? Tapi siapa wanita itu? Kenapa wajah mereka bisa sangat mirip? Tidak mungkin kan kalau mereka kembar?
__ADS_1
Karena setahu Raline hanya dia satu-satunya putri keluarga Adiwiyata.
***