Jodoh Pengganti Presdir

Jodoh Pengganti Presdir
Episode 18.


__ADS_3

Seluruh anggota keluarga Mahendra sedang makan malam bersama, termasuk Hanna yang akhirnya memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa kepada Alden, dia takut membuat masalah nantinya jika ternyata Alden belum mengetahui hal itu.


Hanna terus menunduk, dia menikmati makan malamnya dengan sedikit gugup karena sejak tadi David menatapnya. Bukan cuma Hanna, Alden pun menyadari hal itu.


Alden meletakkan sendok dan garpu nya lalu memandang David dengan dingin, "Aku perhatikan dari tadi kau terus menatap istriku, memangnya ada apa?"


Hanna terkejut dan sontak mengangkat kepalanya menatap Alden dan David bergantian. Adel dan Cindy pun langsung memandang David.


David langsung mengalihkan pandangannya dari Hanna. Dia tak berniat menjawab pertanyaan Alden.


"Kenapa diam? Jangan bilang kau tertarik pada istriku!" tuduh Alden.


Hanna termangu, tuduhan Alden itu membuktikan jika dia tidak tahu David mencintai Raline, untung saja Hanna tidak jadi memberitahunya tadi.


"Atau jangan-jangan kau berniat merebutnya dariku, seperti mamamu yang ingin merebut harta papaku," lanjut Alden menohok.


David langsung menatap Alden dengan tajam, emosinya mulai terpancing oleh tuduhan kakak tirinya itu. Seharusnya dia yang berkata demikian, Alden lah yang telah merebut Raline darinya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Tidak terima dengan tuduhan ku?"


David mengepalkan tangannya, dia naik darah, "Asal kau tahu, aku ...."


"Cukup!" potong Cindy cepat sebelum David melanjutkan kata-katanya, dia tak ingin sang putra mengatakan yang sebenarnya pada Alden.


Hanna dan Adel hanya bergeming melihat ketiga orang itu saling menatap dengan sengit.


"Jangan sembarangan bicara! Istrimu itu bukan tipe putraku, dia tidak mungkin tertarik dengan wanita tak beradab seperti ini!" sungut Cindy kesal, dia juga sengaja ingin menghina Raline.


David sontak memandang Cindy, "Mama!"


Alden melotot marah, "Jaga bicaramu! Jangan coba-coba menghina istriku, atau aku akan mengusir mu dari rumah ini!"


"Terus saja kau mengancam ku seperti itu, aku tidak takut. Jangan lupa Alden Richard Mahendra, aku ini istri sah papamu, aku juga punya hak di rumah ini," ujar Cindy tak mau kalah.


"Kau dan putramu hanya benalu di rumah ini, jadi jangan berlagak seperti tuan rumah! Aku harap kalian sadar diri dan tidak sok berkuasa!" kecam Alden berapi-api.

__ADS_1


"Diam kau!" bentak David yang tak bisa menahan emosinya lagi.


"Oh, kau sudah berani rupanya!" ejek Alden, sejak dulu David memang tak pernah melawan apalagi membalas setiap hinaan dan cacian yang Alden lontarkan untuk dirinya dan sang ibu. Tapi kali ini dia tak ingin diam.


"Kau pikir aku takut padamu?" balas David.


"Sudah merasa hebat sekarang?"


"Aku tidak perlu hebat hanya untuk melawan manusia sombong seperti mu!"


"Kau!" geram Alden dengan rahang mengeras.


"Kalian semua diam!" bentak Hanna kesal.


Semua orang terkejut mendengar Hanna membentak mereka, termasuk juga Alden yang memang sudah tahu tabiat asli istrinya itu. Hanna tak ingin pertikaian ini terus berlanjut sebab dia muak mendengarnya.


"Lihatlah! Dia sudah berani membentak orang-orang di rumah ini, kurang ajar sekali!" Cindy mencibir dengan sinis.


Hanna menatap Cindy dengan sinis, "Lebih kurang ajar mana dengan orang yang selalu ribut dan bertengkar di meja makan? Seperti tidak punya etika!"


"Sudahlah, kalian bikin selera makan ku hilang!" Hanna beranjak dan meninggalkan meja makan begitu saja.


David hanya memandangi kepergian Hanna yang dia anggap Raline dengan bingung, dia tak percaya wanita yang dia kenal lembut itu bisa membentak orang lain seperti ini.


Alden pun bangkit kemudian bergegas menyusul Hanna.


Sementara Adel hanya bisa menghela napas lega karena pertikaian tadi berakhir. Dia sudah terbiasa dengan semua ini, dan lebih memilih untuk diam walaupun sejujurnya dia merasa kesal pada Cindy. Sebenarnya Adel juga tidak menyukai Cindy, tapi dia tak pernah bertengkar dengan ibu sambungnya itu seperti Alden. Begitu juga dengan David, Adel tak pernah mengusiknya begitu pun sebaliknya.


Hanna yang kesal memutuskan untuk masuk ke dalam kamar.


"Apa semua orang kaya seperti mereka? Tidak punya etika dan sopan santun!" gerutu Hanna sembari menghempaskan pantatnya di atas kasur yang empuk.


Tak lama Alden pun masuk ke dalam kamar dan berdiri di hadapan Hanna dengan tatapan tajam.


"Kenapa tadi kau membentak semua orang, haa?"

__ADS_1


"Habis kalian tidak tahu malu! Seharusnya kalian makan dulu, atau paling tidak biarkan orang lain makan dengan tenang. Setelah itu terserah kalau kalian mau bertengkar, sampai bunuh-bunuhan pun tidak masalah," sahut Hanna jengkel.


"Tapi sikapmu bisa membuat mereka curiga jika kau ini bukan Raline, karena Raline itu lembut dan tidak pernah kasar kayak tadi! Berapa kali harus aku peringatkan?" sungut Alden gemas dengan Hanna.


"Raline lagi! Raline lagi! Terus saja memuji mantanmu yang kau anggap sempurna dan paling baik sejagat raya itu!"


"Dia memang baik dan sempurna, makanya aku jatuh cinta padanya," sahut Alden tak mau kalah.


"Kalau baik, dia tidak akan meninggalkan mu dan membuat kau terluka, sampai merusak nama baikmu," balas Hanna emosi.


Alden sontak terdiam, wajah garangnya berubah sedih mendengar kata-kata umpatan Hanna itu, seketika hatinya seperti ditusuk-tusuk kala teringat apa yang sudah Raline lakukan padanya.


Menyadari perubahan raut wajah Alden yang kini sendu, Hanna merasa khawatir dan sedikit bersalah. Apa dia sudah keterlaluan berbicara?


"Aku mau tidur." Alden berengsut dan naik ke atas tempat tidur. Moodnya semakin rusak, hatinya kembali merasakan sakit akibat luka yang pernah ditorehkan oleh wanita yang begitu dia cintai.


Hanna tertegun, dia berbalik memandang Alden yang sudah berbaring membelakanginya.


"Kau marah padaku?" tanya Hanna.


Alden menggeleng tanpa mengubah posisinya.


Hanna ikut bergeming, menatap punggung Alden dengan perasaan bersalah. Harusnya dia tidak emosi dan mengungkit apa yang Raline lakukan terhadap sang suami. Dia pun akhirnya naik ke ranjang dan tidur di samping Alden.


"Selamat malam, Alden," ucap Hanna pelan.


"Hem."


Hanna mengembuskan napas, dia kembali teringat pada ucapan David tadi siang, apakah Raline memutuskan Alden ada hubungannya dengan David? Tapi sepertinya tidak, sebab David sendiri menganggap Hanna adalah Raline, berarti dia tidak tahu apa-apa. Lalu sebenarnya apa hubungan David dan Raline? Kenapa David sepertinya tidak rela Alden menikahi wanita itu?


Semua pertanyaan itu berputar di dalam kepala Hanna.


Sedangkan Alden masih terjaga, ucapan Hanna tadi seolah menyadarkan dia bahwa Raline tak sebaik yang dia katakan. Hanna benar, kalau Raline memang baik, wanita itu tidak akan meninggalkan Alden dan melukai hatinya, bahkan sampai merusak nama baiknya. Tapi tak bisa dipungkiri, hati Alden masih mencintai Raline hingga terkadang dia lupa dengan apa yang telah wanita itu lakukan padanya.


***

__ADS_1


__ADS_2