Jodoh Pengganti Presdir

Jodoh Pengganti Presdir
Episode 6.


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Hanna sudah bersiap untuk pergi bekerja, dia tak peduli dengan perkataan Alden semalam dan buru-buru hendak berangkat sebelum pria itu datang. Dengan hati-hati Hanna mengeluarkan sepeda motornya dari dalam rumah dan memarkirkannya di teras.


"Selamat pagi," sapa Alden tiba-tiba.


Hanna terperanjat kaget dan langsung menoleh ke arah sumber suara, ternyata Alden sudah duduk di teras rumahnya sambil bersidekap.


"Sejak kapan kau ada di situ?" tanya Hanna bingung, dia tak menyadari mobil sedan merah yang terparkir di depan rumahnya adalah milik Alden.


Alden mengangkat tangan kanannya dan melirik arloji yang dia kenakan, "Sejak dua puluh menit yang lalu."


"Kau tidak punya kerjaan selain mengganggu ku?"


Alden beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Hanna, "Bukankah kau sudah berjanji untuk ikut denganku?"


"Aku tidak pernah berjanji!" bantah Hanna.


"Cckk, masih pagi kau sudah membuat aku kesal." Alden menggerutu.


"He! Kau itu yang buat aku kesal, pagi-pagi sudah bikin mood aku rusak saja!" balas Hanna tak mau kalah.


"Sudahlah, jangan banyak bicara! Ayo, pergi!" Alden menarik lengan Hanna.


Hanna menepis tangan Alden, "Lepaskan! Jangan pegang-pegang aku!"


Alden tak mau melepaskan cengkeramannya di lengan Hanna, "Makanya ayo pergi! Jangan membuat kesabaran aku habis."


"Tidak, aku harus bekerja!"


"Hari ini kau bolos kerja saja," pinta Alden seenaknya.


"Enak saja! Kalau nanti aku dipecat bagaimana?" sungut Hanna.


"Kalau nanti kau sudah menikah denganku, kau juga akan berhenti bekerja. Jadi apa bedanya dengan kau dipecat sekarang?"


"Kenapa aku harus berhenti? Pokoknya aku ingin tetap bekerja!"


"Iya-iya, sudah nanti saja kita bahas itu. Sekarang ayo pergi!" desak Alden tak sabar sembari menarik lengan Hanna.


"Tunggu dulu! Aku harus menyimpan motorku dan ganti pakaian, aku tidak mungkin pergi denganmu dengan mengenakan seragam kerja begini."


Alden melirik baju Hanna kemudian melepaskan cengkeramannya, "Sudah, cepat sana!"


"Menyusahkan saja!" rutuk Hanna sembari memasukkan kembali motornya ke dalam rumah.


Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Tara sedang memperhatikan mereka. Dia tersenyum saat mendapatkan bahan untuk bergosip ria hari ini.


Hanna masuk ke kamarnya dan duduk di tepi ranjang, dia mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi manajer tempat dia bekerja untuk meminta izin cuti. Hanna beralasan jika dia tiba-tiba sakit perut.


Setelah menghubungi sang manajer, Hanna pun bergegas mengganti pakaiannya. Dia memakai kaos lengan pendek dipadukan dengan celana jeans.


Hanna keluar dari rumahnya dan segera menutup pintu lalu menguncinya. Maya sudah pergi berjualan kue di pasar, jadi tidak ada orang di rumah.


"Sudah?" tanya Alden.

__ADS_1


"Kau lihat?" sahut Hanna ketus.


"Kalau begitu, yuk!" Alden kembali menarik lengan Hanna, dan wanita itu berusaha melepaskannya.


"Lepaskan! Kenapa kau suka sekali pegang-pegang aku!"


Alden tak menggubris ocehan Hanna, dia menyeret wanita itu ke mobil, lalu memerintahkannya untuk masuk.


"Cepat masuk! Kau sudah terlalu banyak membuang-buang waktu ku."


Hanna mencibir sambil masuk ke dalam mobil mewah milik Alden, "Kau juga sudah membuang-buang waktu ku!"


Tapi Hanna sedikit takjub melihat mobil Alden yang berbeda dari mobil yang kemarin menabraknya.


Lagi-lagi Alden tak memedulikan ucapan Hanna, dia juga masuk ke dalam mobil.


"Pakai seat belt nya!" pinta Alden.


"Aku tidak mau!" bantah Hanna.


Alden mulai kesal dengan tingkah Hanna yang selalu membantahnya.


"Kau ini keras kepala sekali," gerutu Alden, dia lantas mendekati Hanna lalu memasangkan sabuk pengaman pada tubuh wanita itu.


Hanna tertegun dan mendadak gugup saat jarak mereka sangat dekat, aroma parfum Alden yang maskulin seolah membiusnya hingga membuatnya terpaku dengan jantung berdebar.


Setelah selesai memasang sabuk pengaman milik Hanna, Alden pun menjauh dan memasang seat belt miliknya, kemudian melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah wanita itu.


***


"Kenapa kau mengajakku ke sini?" tanya Hanna bingung.


"Mau membelikan mu pakaian," jawab Alden.


"Tidak perlu, bajuku sudah banyak!" tolak Hanna.


Alden memandangi Hanna dari bawah sampai atas.


Hanna sontak menyilang kan tangannya di depan dada, "Kenapa kau melihatku begitu?"


"Pakaian pembantuku lebih bagus daripada yang kau pakai," ujar Alden dengan nada mengejek.


Hanna sontak melotot marah, "Sombong sekali kau, mentang-mentang orang kaya dan banyak uang! Biarpun pakaianku jelek dan murahan, tapi aku membelinya dari hasil jerih payahku, tidak dari hasil mengemis."


Alden menghela napas, "Bisa tidak kalau bicara jangan teriak-teriak? Suaramu menyakiti telingaku."


"Ya sudah, kalau begitu lepaskan aku! Jangan memaksa ku menikah denganmu!" ucap Hanna bersungut-sungut.


"Enak saja kau mau lepas tanggung jawab. Tidak bisa, kau harus tetap menikah denganku!"


"Dasar orang kaya gila!" umpat Hanna, tapi Alden tak peduli.


"Sudah, jangan banyak drama! Ayo, masuk!"

__ADS_1


"Aku tidak mau!"


"Jangan sampai aku menyeret mu!" ancam Alden yang mulai habis kesabaran.


"Cckk, iya-iya!"


Hanna pun berjalan mendahului Alden sambil menghentakkan kakinya, wajah cantiknya cemberut.


Alden geleng-geleng kepala melihat tingkah bar-bar Hanna, wanita itu sangat berbeda dari Raline yang lembut dan penurut. Raline? Ah, Alden jadi merindukan mantan kekasihnya itu.


Dia mengembuskan napas berat kemudian segera menyusul Hanna ke dalam butik.


Di dalam butik, Alden dan Hanna lagi-lagi berdebat. Alden memilihkan beberapa pakaian sesuai selera Raline, tapi Hanna menolaknya.


"Baju-baju ini terlalu terbuka, aku tidak suka!" tolak Hanna.


"Tapi mulai sekarang kau harus memakainya!"


"Aku tidak mau! Kenapa kau selalu saja memaksaku?" sungut Hanna kesal.


"Karena sebentar lagi kau akan menjadi istriku, jadi kau harus menuruti aku," sahut Alden.


"Iya, tapi aku tidak terbiasa memakai pakaian seperti ini. Mana harganya mahal banget lagi," protes Hanna sembari menunjuk harga baju yang setara dengan gajinya sebulan.


"Kau tidak perlu memikirkan harganya, aku yang bayar. Kau cukup menuruti aku dan menerima pilihanku, itu saja!"


Hanna mendesah pasrah dan akhirnya mengalah, "Iya, deh, iya!"


Alden tersenyum dan menepuk-nepuk pelan pucuk kepala Hanna, "Nah, begini kan bagus! Jadilah gadis yang penurut!"


Hanna hanya bergeming dengan wajah masam, sejak bertemu dengan Alden, dia selalu saja harus mengalah. Pria di hadapannya ini sangat egois, keras kepala dan arogan.


"Ini coba dulu sana!" Alden menyerahkan beberapa potong dress kepada Hanna dan wanita menurutinya tanpa protes lagi.


Tak berapa lama Hanna keluar dari ruang ganti dengan mengenakan dress selutut berwarna merah yang cantik. Alden tertegun melihatnya, dia benar-benar seperti Raline kalau begini.


Saat sedang melamun melihat Hanna, seorang wanita muda menghampiri Alden.


"Hai, Kak Alden, Kak Raline." Gadis itu menyapa Alden dan juga Hanna.


Alden terkejut dan sontak menatap Hanna yang kebingungan karena dirinya dipanggil Raline.


"Hai, Windy," balas Alden canggung.


"Tumben sekali Kak Alden menemani Kak Raline belanja?" ledek gadis bernama Windy itu.


Alden mendadak gugup, "I-iya, mumpung ada waktu."


Hanna mengernyit heran, dia merasa curiga.


"Kalau begitu kami permisi dulu." Alden bergegas menarik Hanna ke kasir dan membayar semua belanjaannya lalu mengajak wanita itu pergi.


Windy bingung melihat tingkah kakak sahabatnya itu.

__ADS_1


***


__ADS_2