Jodoh Pengganti Presdir

Jodoh Pengganti Presdir
Episode 9.


__ADS_3

Di dalam rumah Hanna, Alden dengan pedenya menyampaikan niat ingin mempersunting wanita itu dan meminta restu pada Maya.


"Sejak kapan kalian berpacaran? Kenapa Ibu tidak pernah tahu?" tanya Maya bingung, setahunya selama ini sang putri tidak pernah punya kekasih.


"Lumayan lama, Bu. Mungkin Hanna malu mengatakannya," jawab Alden sembari melirik Hanna yang duduk di sampingnya dengan wajah masam.


"Tapi kenapa sebelumnya tidak pernah ke rumah?"


"Oh, itu karena sebelumnya saya sibuk sekali dan jarang ada di Indonesia. Tapi mulai sekarang saya akan sering main ke sini karena saya sudah fokus mengurus perusahaan di Indonesia," dalih Alden.


"Kamu serius ingin menikahi anak Ibu? Kamu sepertinya anak orang kaya, sedangkan Hanna cuma gadis sederhana." Maya merasa sedikit ragu dengan niat Alden itu,


Alden terdiam sejenak kemudian tersenyum, "Serius lah, Bu. Kami saling mencintai dan tidak ingin terpisah. Iya, kan, sayang?"


Alden merangkul pundak Hanna dengan mesra, membuat wanita cantik itu terkejut dengan tingkahnya.


"Tapi bagaimana dengan orang tuamu, apa mereka sudah tahu niatmu ini?"


"Orang tua saya sudah meninggal, saya yatim piatu."


Maya merasa tidak enak, "Maaf, Ibu tidak tahu."


Alden tersenyum, "Tidak apa-apa, Bu."


"Ya sudah kalau kalian memang sudah saling mencintai dan serius ingin menikah, Ibu merestui," imbuh Maya.


Alden tersenyum senang, "Terima kasih, Bu."


Sementara Hanna hanya membisu dengan wajah muram.


Maya beralih memandang Hanna, "Nak, kamu kenapa diam saja?"


Hanna mendadak gugup, "Oh, aku sedang sariawan, Bu. Jadi malas bicara."


Alden sontak memandang Hanna dengan wajah cemas, dia pura-pura panik, "Ya ampun! Kamu sariawan, sayang? Kenapa tidak bilang? Mau aku belikan obat?"


Hanna menatap Alden dengan kesal, dia tahu lelaki itu cuma bersandiwara di depan sang ibu, "Tidak usah!"


"Nanti kumur-kumur dengan air garam saja, terus banyak minum air putih," sela Maya.


Hanna mengangguk, "Iya, Bu."


"Kalau begitu Ibu tinggal ke dapur dulu." Maya beranjak dari duduknya dan melangkah ke dapur.


Begitu sang ibu menghilang, Hanna langsung menepis tangan Alden yang masih melingkar di pundaknya dan segera menjauh dari lelaki itu.


"Hei, ada apa?" protes Alden.


Hanna melotot marah, "Jangan mengambil kesempatan!"


Alden menyangkal, "Siapa yang mengambil kesempatan? Jangan sembarangan menuduh!"


"Terus ngapain kau peluk peluk aku? Pakai acara manggil sayang segala lagi!" sungut Hanna dengan suara yang pelan, dia takut Maya mendengarnya.

__ADS_1


"Kau tidak ingat kesepakatan kita tadi? Kita harus bersikap layaknya pasangan suami istri yang harmonis di depan orang lain," bisik Alden.


"Iya, tapi kita kan belum menikah, jadi kau tidak bisa menyentuh aku seenaknya!"


Alden menatap Hanna dengan tatapan mesum, "Jadi kalau sudah menikah, aku bisa menyentuhmu?"


Hanna tercengang, matanya menatap tajam Alden.


"Aku sudah memperingatkan mu, kalau kau berani macam-macam! Aku pastikan kau berakhir di rumah sakit," ancam Hanna dengan berapi-api.


"Wah, aku takut!" ejek Alden pura-pura takut, lalu tertawa terbahak-bahak.


Hanna benar-benar kesal, dia mengangkat tangan hendak memukul Alden tepat di saat Maya muncul dari dapur sambil membawa sepiring kue dan segelas teh hangat. Melihat kedatangan sang ibu, Hanna sontak mencubit pipi Alden dengan kuat dan pura-pura tertawa.


"Kau lucu sekali!"


Alden meringis kesakitan namun tak berani menepis tangan Hanna.


"Hanna, apa yang kamu lakukan, Nak?" tegur Maya.


Hanna pun melepaskan Alden dan tersenyum puas saat melihat pipi lelaki itu merah.


"Kami sedang bercanda, Bu. Dia menggemaskan, makanya aku cubit," dalih Hanna.


Maya geleng-geleng kepala mendengar ucapan putrinya itu, sedangkan Alden hanya bergeming seraya mengusap pipinya yang sakit.


"Ini Ibu bawakan camilan, silakan dimakan," ujar Maya sembari meletakkan piring dan gelas yang dia bawa di atas meja.


"Iya, Bu. Terima kasih," balas Alden.


Selepas kepergian Maya, Alden langsung melotot marah.


"Kau ini kasar sekali! Pipiku sakit tahu!" keluh Alden.


Hanna menjulurkan lidahnya lalu buru-buru berlari masuk ke dalam kamar, meninggalkan Alden yang kesal.


"Awas saja kalau nanti kau sudah tinggal di rumahku, aku akan menyiksamu," gerutu Alden pelan lalu mencomot sebuah kue dan memakannya.


***


Alden akhirnya pulang setelah berpamitan pada Maya, dia masih harus ke kantor untuk mengurus beberapa pekerjaan yang tertunda. Hanna memandangi mobil Alden yang bergerak menjauh dari rumah.


"Syukurlah dia akhirnya pergi," ujar Hanna lega, dia berbalik dan hendak masuk ke dalam rumah, tapi suara seseorang menghentikan langkahnya.


"Hanna!"


Karena terkejut, Hanna spontan menoleh ke arah suara yang memanggil namanya.


"Niko?" Hanna terkesiap melihat Niko sudah berdiri di dekat rumahnya masih memakai seragam kerja.


Niko melangkah mendekati Hanna, wajahnya tampak murung.


"Baru pulang kerja?" tanya Hanna.

__ADS_1


Niko mengangguk, lalu menatap Hanna dengan curiga, "Itu calon suami kamu, kan?"


Hanna tercenung sambil menelan ludah, dia ingin membantah tapi kenyataannya Alden memanglah calon suaminya.


"Iya."


Niko mengembuskan napas, menahan rasa sesak di dalam dirinya.


"Sejak kapan kalian berpacaran? Kenapa kamu tidak pernah cerita?" cecar Niko.


Hanna mendadak gugup, "Baru saja, kok."


"Kamu mencintainya?"


Hanna semakin gugup, dia heran mengapa Niko menanyakan hal itu.


"Hem, i-iya cinta lah. Masa tidak, sih!"


"Tadi kenapa kamu marah-marah di kafe?"


Hanna tercengang, dia tak menyangka Niko mengetahui hal itu.


"Kamu tahu aku ke kafe?" Hanna bertanya balik.


"Iya, aku melihat kamu dan calon suamimu berdebat di kafe, sepertinya kalian sedang ada masalah."


Hanna terdiam, dia harus memikirkan alasan yang tepat dan masuk akal untuk menjawab kecurigaan Niko itu.


"Han, kalau kamu ada masalah, cerita sama aku! Siapa tahu aku bisa bantu."


"Oh, tidak ada masalah, kok. Kami hanya berdebat tentang konsep pernikahan saja, tapi sudah selesai." sanggah Hanna gugup.


Niko menatap wajah Hanna lekat lekat, dia tahu sahabatnya itu sedang berbohong.


"Han, kita sudah bersahabat selama dua puluh tahun lebih dan aku tahu kamu sedang menutupi sesuatu. Kamu tidak bisa membohongi aku, Han."


Hanna tertunduk, dia menyembunyikan wajahnya yang tegang. Sejak dulu dia memang tidak bisa membohongi Niko.


"Maaf, Nik. Aku tidak bermaksud untuk membohongi kamu, aku hanya tidak ingin membuat kamu cemas," ujar Hanna kemudian.


"Aku justru cemas kalau kamu tidak mau cerita, Han. Aku merasa seperti tidak dianggap dan tidak dipedulikan lagi oleh kamu!" sungut Niko gemas.


Hanna semakin menyembunyikan wajahnya, dia tak enak kepada Niko yang sudah sangat baik terhadapnya selama ini.


"Baiklah, kalau kamu tidak mau cerita. Tidak apa-apa." Niko berbalik dan hendak pergi, tapi dengan cepat Hanna menarik lengannya.


"Niko, tunggu!"


Niko menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Hanna.


"Baiklah, aku akan cerita, tapi tidak di sini!"


Niko mengernyitkan keningnya, "Lalu di mana?"

__ADS_1


"Ikut aku!" Hanna menarik Niko menjauh dari rumahnya, dia tak ingin Maya mendengar apa yang akan dia katakan kepada sahabatnya itu.


***


__ADS_2