Jodoh Pengganti Presdir

Jodoh Pengganti Presdir
Episode 7.


__ADS_3

Di dalam mobil, Hanna melayangkan pertanyaan yang sejak tadi berputar di kepalanya.


"Siapa Raline itu?"


Alden termangu dan terdiam.


"Jangan-jangan dia istrimu, ya?" tebak Hanna curiga.


Wajah Alden berubah sendu, "Hampir."


Hanna mengernyitkan keningnya, "Maksudnya?"


"Dia mantan pacarku dan hampir saja menjadi istriku," terang Alden, hatinya kembali sakit saat teringat peristiwa di restoran waktu itu.


Hanna memperhatikan perubahan ekspresi wajah Alden yang mendadak muram.


"Maksudnya kalian gagal menikah?" tanya Hanna.


Alden mengangguk lesu.


Hanna menatap Alden dengan penuh selidik, "Tapi kenapa gadis tadi memanggil aku dengan nama itu?"


Alden terkesiap, dia mendadak gugup, "Nanti aku jelaskan."


"Kenapa tidak sekarang saja?"


Alden tak menjawab, dia membelokkan mobilnya ke sebuah kafe tak jauh dari butik tadi.


Hanna mendadak panik saat mobil Alden berhenti sempurna di depan kafe bernuansa Eropa itu, "Mau apa kita ke sini?"


"Aku akan menjelaskan semuanya sebelum kita menikah," jawab Alden.


Hanna menelan ludah, kafe ini adalah tempat Niko bekerja, dia tak ingin sahabatnya itu melihat mereka.


"Apa tidak bisa ke tempat lain saja?"


"Di sini saja! Sudah cepat turun!" Alden bergegas keluar dari mobilnya, di susul oleh Hanna.


Keduanya berjalan masuk ke dalam kafe, Hanna mengedarkan pandangannya memperhatikan ke sekeliling kafe untuk mencari keberadaan Niko, tapi pria itu tidak terlihat.


"Apa mungkin hari ini Niko tidak masuk?" batin Hanna sedikit lega.


Alden menjatuhkan pantatnya di salah kursi di sudut kafe, dan Hanna duduk di hadapannya.


"Kau mau pesan apa?" Alden bertanya.


"Terserah," sahut Hanna.


Alden memanggil seorang waiters dan memesan dua caffe latte.


"Sekarang katakan, mengapa gadis tadi memanggilku begitu?" desak Hanna tak sabar.

__ADS_1


Alden merogoh sakunya dan mengambil telepon genggam baru miliknya, dia mencari-cari foto Raline di galeri, kemudian menyodorkan benda pipih itu ke hadapan Hanna.


"Lihat ini!"


Hanna memperhatikan layar ponsel Alden, dan terkejut saat melihat foto seorang wanita yang sangat mirip dengan dirinya, walaupun wanita itu tampak lebih terawat dan modis.


Hanna menatap Alden dengan penuh tanya, "Siapa dia? Kenapa mirip sekali denganku?"


"Itu Raline."


Hanna tercengang.


"Sekarang kau tahu kan kenapa gadis tadi memanggilmu dengan nama itu?"


Hanna tak menyangka jika wajahnya sangat mirip dengan mantan kekasih Alden itu, tapi tiba-tiba dia teringat sesuatu. Hanna pun menatap Alden dengan curiga.


"Jangan-jangan kau memaksa aku menikah denganmu karena aku mirip dengan mantan pacarmu itu, iya kan?" kecam Hanna berapi-api, dia sampai berdiri dari duduknya.


Nada suara Hanna yang tinggi sontak membuat dirinya dan Alden menjadi perhatian pengunjung kafe yang lain. Di saat bersamaan Niko keluar dari pantry dan melihat keberadaan Hanna.


"Itu kan Hanna?" gumam Niko.


"Ssstt, pelan kan suaramu! Kau tidak malu jadi perhatian semua orang?" Alden berbisik memperingatkan Hanna.


Hanna memandang ke sekitarnya, beberapa orang pengunjung masih memperhatikan mereka. Dengan sedikit malu, Hanna pun kembali duduk dengan wajah merengut.


"Pokoknya aku tidak jadi menikah denganmu!" ujar Hanna dengan nada suara yang lebih pelan.


Hanna menyandarkan tubuhnya dan melipat kedua tangannya di depan dada, dia menatap Alden dengan sinis.


"Aku memang ingin menikah denganmu karena kau mirip dengan Raline."


Hanna langsung melotot marah.


"Tapi aku punya alasan melakukan itu," sambung Alden cepat sebelum Hanna mengamuk lagi.


"Apa pun alasannya, tetap saja itu namanya kau memanfaatkan aku. Aku tidak mau!" Hanna membuang muka.


"Hanna, tolong dengarkan aku dulu! Semua ini aku lakukan untuk menyelamatkan nama baikku."


Hanna melirik Alden dengan tajam.


"Raline membatalkan rencana pernikahan kami begitu saja dan memutuskan hubungan denganku beberapa waktu yang lalu, berita itu tersebar ke mana-mana sehingga membuat aku menjadi buah bibir para pesaing bisnis dan karyawan ku sendiri. Nama baikku tercemar dan aku dianggap pecundang."


Hanna bergeming menyimak penjelasan Alden.


"Kalau aku menikah denganmu, orang-orang akan berpikir jika berita aku dicampakkan itu tidak benar. Mereka akan berpikir aku menikah dengan Raline dan berhenti menggosipkan aku," lanjut Alden, wajahnya berubah sedih.


"Tapi aku bukan Raline! Bagaimana kalau sampai semua orang tahu, ini akan jadi masalah."


"Kau tenang saja, semua biar aku yang urus. Kau cukup menikah denganku dan menemaniku saja."

__ADS_1


"Aku tidak mau! Lebih baik ditahan polisi daripada menikah denganmu dan dijadikan pelarian." Hanna menggeleng, ini kesempatannya untuk menolak permintaan Alden.


"Hanna, aku mohon bantu aku!"


Hanna menggeleng, "Tidak!"


Alden terdiam sejenak saat seorang waiters datang dan menghidangkan caffe latte pesanannya.


"Silakan."


"Terima kasih," balas Alden, dan waiters itu tersenyum ramah, kemudian berlalu pergi.


Alden kembali memandang Hanna dan berusaha membujuk wanita itu, "Kita menikah hanya sampai gosip itu hilang saja, setelah itu kita akan berpisah."


"Enak saja kau! Setelah tujuanmu tercapai dan aku tidak berguna lagi, kau mau membuang ku begitu saja?" sungut Hanna.


"Aku tidak membuang mu!" sanggah Alden, "aku hanya membebaskan mu dan aku akan memberikan apa pun yang kau minta."


Hanna terdiam dan memikirkan ucapan Alden itu. Kalau dia boleh meminta apa pun, itu berarti dia bisa minta uang yang banyak untuk biaya berobat ibunya, membeli rumah dan membuatkan toko kue untuk sang ibu. Sepertinya ini tidaklah buruk, dia bisa mengubah nasibnya.


"Baiklah, aku bersedia, tapi dengan satu syarat."


Alden mengerutkan keningnya, "Apa itu?"


"Jangan sentuh aku! Kita hanya sebatas menikah untuk menyelamatkan nama baikmu, jadi jangan berharap lebih."


Alden terdiam menatap Hanna.


"Kenapa diam? Kau tidak mau? Ya sudah, aku tidak jadi membantumu!" Hanna hendak beranjak pergi, kali ini dia yang memegang kendali.


"Iya-iya, baiklah!" sahut Alden cepat.


Hanna duduk kembali dan tersenyum penuh kemenangan.


"Tapi jika di depan orang lain, kita harus bersikap layaknya pasangan suami istri yang harmonis, jangan buat mereka curiga!"


"Oke, tapi awas kalau kau keterlaluan! Aku akan bongkar semuanya, biar nama baikmu semakin hancur!" ancam Hanna.


"Hee, kenapa sekarang kau yang balik mengancam aku?" protes Alden tak terima.


"Karena sekarang kartu as mu ada di tanganku, kalau kau macam-macam, habislah kau!"


Alden tercengang mendengar ancaman Hanna, bukankah seharusnya yang boleh mengancam itu adalah dirinya?


"Kalau bukan karena membutuhkan bantuannya, aku tidak sudi diperlakukan seperti ini," gerutu Alden dalam hati, dia menatap tajam Hanna.


"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Hanna sinis.


Alden mengembuskan napas kesal lalu memalingkan wajahnya, emosinya bisa meledak jika terus-terusan meladeni wanita bar-bar di hadapannya ini.


Dari kejauhan, Niko yang melayani pelanggan kafe terus saja memperhatikan Hanna dan Alden. Dia merasa ada yang aneh dan mendadak curiga. Sedangkan Hanna tidak menyadari keberadaan Niko yang memang sengaja menghindarinya.

__ADS_1


***


__ADS_2