
Alden mengantarkan Hanna pulang. Di dalam mobil, Hanna pun menanyakan hal yang menggangu pikirannya. Tadi di rumah Alden, dia tak enak pada Adel, makanya dia menahannya sampai pulang.
"Kau tidak akur ya dengan ibu tiri mu?" tanya Hanna yang penasaran dengan hubungan Alden dan Cindy.
"Hem."
"Kenapa?"
"Karena aku benci dia!" jawab Alden ketus.
"Iya, tapi kenapa kau membencinya?"
"Kau ini kepo sekali!" ejek Alden.
"Aku penasaran saja, kenapa sikapmu kasar kepadanya?" sungut Hanna gemas.
"Karena dia memang pantas mendapatkannya!"
"Apa dia jahat?"
"Menurutku, iya."
Hanna mengerutkan keningnya, "Memangnya kejahatan apa yang pernah dia lakukan?"
"Dia ingin merebut harta Papa."
"Kalau begitu kenapa kalian masih membiarkan dia tinggal di rumah itu?" tanya Hanna lagi, dia semakin penasaran dengan kehidupan Alden.
"Aku sudah berusaha mengusirnya, tapi dia tidak mau keluar dari rumah itu. Dia bersikeras untuk tetap tinggal dengan dalih dia adalah istri mendiang Papa. Aku sudah mencoba memberikan bagiannya, tapi dia ngotot ingin menguasai semuanya dan menjadikan putranya yang manja itu sebagai pemimpin perusahaan milik Papa," terang Alden.
"Serakah sekali dia!"
"Memang!"
"Lalu apa Raline tahu semua ini? Hem, maksudku apa kau dan Ibu tiri mu itu juga sering bertengkar di depannya seperti tadi?"
Alden mengangguk sambil tetap fokus mengemudi.
"Pantas saja tadi adiknya bicara seperti itu," batin Hanna.
Alden mengernyit, "Kenapa kau menanyakan hal itu?"
Hanna menggeleng, "Tidak apa-apa, aku cuma mau tahu saja."
Keduanya pun diam membisu, tak ada pembicaraan lagi di antara mereka.
***
Mobil Alden berhenti sempurna di depan rumah Hanna, wanita itu buru-buru melepaskan seat belt nya dan hendak turun, tapi Alden menarik ujung dress yang dia kenakan.
"Tunggu dulu!"
Hanna berbalik menoleh Alden, "Apa lagi?"
__ADS_1
"Pinjam ponselmu!" Alden menadahkan tangannya ke depan wajah Hanna.
"Untuk apa?" tanya Hanna bingung.
"Sudah pinjam saja!"
Hanna berdecak sebal, namun tetap menuruti permintaan Alden, dia merogoh telepon genggam miliknya dari dalam tas lalu memberikannya ke lelaki itu.
Alden memandangi benda pipih itu dengan geli, "Ponselmu jadul banget! Sudah jadul, jelek lagi. Apa masih bisa dipakai?"
Hanna mendengus kesal mendengar hinaan dari Alden, dia lantas merampas ponselnya dari tangan lelaki itu, "Kau meminjam ponselku hanya untuk menghinanya? Sombong sekali!"
"Hei, kembalikan! Aku belum selesai!" Alden hendak merebut kembali benda pipih yang sudah usang itu, tapi Hanna langsung menyimpannya di dalam tas.
"Sudah! Aku mau turun!" Hanna buru-buru membuka pintu mobil, tapi dengan cepat Alden menutupnya kembali.
"Kau mau apa lagi?" kecam Hanna kesal.
"Ke sini kan ponselmu!"
"Buat apa? Biar bisa kau hina lagi?"
"Aku ada perlu," sahut Alden.
Hanna mengembuskan napas jengkel, dia meraba isi tasnya dan mengeluarkan kembali ponsel kesayangannya itu.
"Nah!"
Alden meraih ponsel Hanna lalu menyalakannya.
"Sini aku buka!"
"Sudah katakan saja!" desak Alden memaksa.
Hanna kian kesal dengan sikap keras kepala Alden itu, dia pun akhirnya menjawab dengan ketus, "202020."
Alden langsung memasukkan sandi itu dan layar ponsel Hanna pun terbuka, menampilkan wallpaper foto Hanna dan Niko disebuah taman hiburan. Kali ini Alden yang kesal karena melihat wajah Niko.
Mengabaikan foto yang membuat moodnya rusak itu, Alden lalu memasukkan nomor teleponnya sendiri dan menyimpannya dengan nama yang bakal bikin Hanna geli. Kemudian dia menghubungi nomornya tersebut dari ponsel Hanna.
Hanna terkejut saat ponsel Alden berdering nyaring, lalu mati.
"Nah, aku sudah menyimpan nomorku di ponselmu yang jelek itu." Alden mengembalikan ponsel Hanna.
Hanna merengut dan meraih ponselnya dengan kasar, "Dasar orang kaya sombong!"
Alden tak menggubris umpatan Hanna, dia lebih memilih untuk mengecek ponselnya dan menyimpan nomor telepon wanita itu.
Hanna kemudian membuka pintu dan bergegas keluar dari mobil Alden, lelaki itu pun segera melesat pergi. Dengan tak bersemangat dia melangkah mendekati rumahnya, namun Hanna terhenyak saat mendengar suara seseorang yang tak asing sedang berbicara pada Maya dan menyebut-nyebut namanya.
Emosi Hanna seketika naik sampai ke ubun-ubun, dia berlari masuk ke dalam rumah dengan marah.
"Aku serius, Bu. Kalau tidak per ...."
__ADS_1
"Tara! Sedang apa kau di sini?" potong Hanna cepat sebelum Tara selesai bicara.
Tara melotot, dia kaget karena Hanna tiba-tiba pulang.
"Hanna!" tegur Maya, tapi Hanna tak peduli.
Hanna menatap tajam Tara yang duduk di samping Maya, "Aku peringatkan padamu, jangan mencampuri urusanku! Dan sekarang juga pergi dari rumahku!"
Wajah Tara langsung masam, dia beranjak dan buru-buru pergi dari rumah Hanna tanpa pamit.
"Kenapa dia bisa ada di sini, Bu?" tanya Hanna.
"Tadi Tara menyampaikan ke Ibu bahwa Niko dan calon suamimu berkelahi, apa itu benar?"
Hanna tertunduk geram, Tara selalu saja mengusiknya dan mencampuri urusan.
"Han, jawab Ibu!"
Hanna mengangguk, "Iya, Bu."
"Kenapa?"
Hanna tergagu, dia bingung harus memberikan alasan apa.
"Apa ada masalah yang Ibu tidak tahu?"
"Tidak, Bu. Ini hanya salah paham dan sudah selesai, kok," sahut Hanna berbohong, dia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada sang ibunda.
Maya mendesah lelah, "Tapi warga kampung heboh dengan kejadian itu, mereka jadi membicarakan kamu dan calon suamimu,"
Hanna memberanikan diri menatap wajah sendu sang ibu, "Jangan dipikirkan, Bu! Biar saja mereka mau bilang apa, kita tidak usah peduli."
"Sekarang Ibu istirahat, ya! Aku tidak ingin kondisi Ibu drop lagi," lanjut Hanna.
Maya mengangguk sambil tersenyum.
"Tapi malam ini kamu tidur di kamar Ibu, ya? Kamu harus menceritakan bagaimana tadi di rumah calon suamimu," pinta Maya.
"Iya, aku ganti baju dulu. Setelah itu aku ke kamar Ibu."
"Ya sudah, Ibu ke kamar dulu." Maya membawa langkahnya masuk ke dalam bilik sederhana yang biasanya menjadi tempatnya beristirahat.
Hanna mengembuskan napas lega karena Maya percaya padanya dan tidak memperpanjang masalah ini, tapi rasa kesalnya pada Tara tidak serta merta hilang begitu saja, dia akan memberikan pelajaran kepada si tukang gosip yang suka usil itu.
Ponsel Hanna tiba-tiba berbunyi, dia segera mengeluarkan telepon genggamnya itu dari dalam tas dan mengernyit heran saat melihat ID si penelepon.
-ALDEN GANTENG-
"Dasar orang kaya gila!" umpat Hanna.
Sementara itu di sebuah kamar sederhana berukuran tiga kali tiga, Niko sedang duduk sambil memandangi fotonya dan Hanna, foto serupa yang juga ada di wallpaper ponsel wanita itu.
"Kamu tega, Han! Kamu egois dan keras kepala! Aku tidak menyangka kamu akan seperti ini," ucap Niko lirih.
__ADS_1
Hati Niko kecewa dan terluka sebab Hanna lebih memilih menikah dengan Alden ketimbang menerima bantuannya, padahal dia tulus ingin menyelamatkan wanita itu.
***