Jodoh Pengganti Presdir

Jodoh Pengganti Presdir
Episode 23.


__ADS_3

Besoknya Hanna bangun pagi-pagi sekali, keadaannya sudah membaik walau masih sedikit pusing. Hari ini Hanna harus kembali kerja sebab masa cuti yang diberikan oleh manajer restoran tempatnya bekerja sudah habis, dia buru-buru mandi dan memakai seragam kerjanya lalu memoleskan sedikit make up.


Alden yang melihat Hanna langsung memberondong istrinya itu dengan pertanyaan, "Kau mau ke mana? Kenapa memakai pakaian itu?"


"Aku mau kerja, masa cuti ku sudah habis," jawab Hanna tanpa memandang Alden, dia fokus menatap cermin sambil menyapukan bedak di wajah mulusnya.


"Tidak, kau tidak boleh bekerja lagi!"


Hanna sontak berbalik menghadap Alden, "Kenapa tidak boleh?


"Bukankah sudah aku katakan, setelah menikah kau akan berhenti bekerja."


"Tapi aku kan belum menyetujuinya!"


"Aku tidak meminta persetujuan mu, aku melarang mu! Mengerti?"


Hanna tercengang, bagaimana bisa Alden mengambil keputusan sepihak seperti ini.


"Kau ini apa-apaan, sih? Kenapa seenaknya saja mengambil keputusan?" sungut Hanna kesal.


"Hei, kau lupa ya, kalau aku ini suamimu? Aku yang bertanggung jawab atas dirimu, aku berhak memutuskan apa yang boleh dan tidak boleh kau lakukan, maka patuhi aku!"


"Tapi pernikahan ini kan hanya sandiwara, kita juga bukan suami istri sungguhan, jadi jangan seenaknya mengatur hidupku," bantah Hanna.


"Siapa bilang? Walaupun pernikahan kita cuma settingan, tapi kita sah secara agama dan kau halal untukku. Jadi kalau kau berani melawan atau membantah aku, kau akan durhaka," kecam Alden.


Hanna lagi-lagi terhenyak mendengar perkataan Alden, pria itu memang benar-benar diktator dan egois, dia selalu saja memaksakan kehendaknya pada orang lain.


"Lagipula saat ini orang-orang berpikir kau itu Raline, kalau sampai ada rekan bisnis ku yang melihatmu bekerja di restoran, bisa-bisa gosip jelek tentangku beredar lagi dan nama baikku akan kembali rusak. Belum lagi jika Mak Lampir dan putranya itu tahu, mereka bisa curiga."


"Hidupmu ribet banget, sih! Apa-apa harus memikirkan netizen dan nama baik, kayak selebriti saja!"


"Aku memang selebriti dunia bisnis, jadi wajar kalau hidupku jadi sorotan rekan dan rival bisnis ku. Makanya kau harus jaga sikap dan tingkah laku mu, jangan sampai merusak nama baikku!"


"Iya, tapi masalahnya aku butuh uang untuk membeli keperluan ku dan membantu Ibuku, jadi aku harus bekerja!"


"Aku akan kasih sepuluh kali lipat dari gaji mu di restoran tiap bulan. Kau bisa beli apa pun yang kau mau dan membantu ibumu, tanpa perlu bekerja," ucap Alden sombong.


Hanna tersenyum dengan mata berbinar, jiwa matre nya langsung bergejolak, "Benarkah?"

__ADS_1


Alden mengangguk, "Iya, tapi dengan satu syarat."


"Apa?"


"Menurut padaku dan jangan membantah apa pun yang aku katakan."


Hanna terdiam dan berpikir sejenak, tawaran Alden tidak terlalu buruk. Yang penting dia bisa mendapatkan uang tanpa harus capek-capek bekerja.


"Baiklah, tapi awas kalau kau memintaku melakukan hal yang tidak-tidak!"


"Oke!"


"Kalau begitu aku mau menghubungi manajer ku dulu untuk meminta resign." Hanna bergegas mengambil ponselnya.


Alden memandangi Hanna sambil tersenyum penuh arti.


***


Hanna tengah bersantai di gazebo kayu, dia menikmati segelas jus mangga di siang yang cukup terik ini.


Hanna sebenarnya kesepian di rumah besar itu, dia tak ada kawan jika Alden dan Adel sedang tidak di rumah seperti sekarang ini.


Daripada jenuh sendirian, Hanna memutuskan untuk menghubungi Maya yang saat ini pasti sudah pulang berjualan. Hanna melakukan panggilan video agar bisa bertatap muka dengan sang ibu.


"Halo, Bu," sapa Hanna saat panggilannya tersambung.


"Halo, Nak. Ibu kangen banget sama kamu."


David memutuskan untuk bersembunyi tak jauh dari Hanna saat tahu wanita itu sedang menelepon seseorang.


"Aku juga kangen banget sama Ibu," balas Hanna, "ibu apa kabar?"


"Baik, Nak. Kamu sendiri apa kabar?"


"Tidak terlalu baik, Bu."


"Kamu kenapa? Lagi sakit?"


"Kemarin alergi ku kambuh, Bu," adu Hanna, dia tak menyadari jika David mengintai dan menguping pembicaraannya.

__ADS_1


"Memangnya kamu makan kacang?"


"Iya, aku tidak tahu kalau makanan yang aku makan mengandung kacang. Aku sampai pingsan dan dilarikan ke klinik."


David yang mendengar kata-kata Hanna terkejut.


"Sejak kapan Raline alergi kacang? Kok aku tidak tahu?" batin David bertanya-tanya.


"Ya ampun, Nak. Jadi sekarang keadaan kamu gimana?"


"Sudah baikan, Bu. Hanya masih sedikit pusing saja," sahut Hanna.


"Kalau begitu kamu banyak istirahat, dong! Lain kali lebih berhati-hati kalau mau makan."


Hanna mengangguk dan tersenyum, "Iya, Bu."


"Oh iya, Han, kapan-kapan ajak suami kamu menginap di sini, ya? Biar ibu masakin makanan kesukaan kamu."


Hanna terdiam, dia tak yakin Alden yang sombong itu mau menginap di rumah kumuhnya.


"Hanna! Kenapa melamun?"


David tercengang mendengar Maya memanggil nama putrinya itu.


"Hanna?" gumam David pelan.


"I-iya, Bu. Nanti kapan-kapan aku ajak dia menginap di rumah," jawab Hanna gugup.


"Baiklah, kalau begitu sudah dulu, ya, Nak. Ibu mau membereskan tempat-tempat kue dulu. Kamu istirahat, jaga diri baik-baik."


"Oke, Bu. Ibu juga, jaga kesehatan, ya."


"Iya, Nak."


Hanna pun mengakhiri pembicaraan dengan sang ibu, dan mengembuskan napas lega. Dia lalu beranjak dan meninggalkan gazebo kayu tersebut, sepertinya lebih baik dia beristirahat di kamar.


"Hanna!"


Mendengar namanya dipanggil, Hanna spontan menoleh dan terkejut saat tahu siapa orang yang memanggilnya.

__ADS_1


***


__ADS_2