
Sejak kejadian malam itu, Alden jadi tak banyak bicara termasuk pada Hanna. Dia bahkan selalu pergi pagi-pagi sekali dan pulang larut malam, bahkan dia sampai makan di luar untuk menghindari pertengkaran dengan Cindy dan David, karena setiap kali berhadapan dengan dua orang itu, darahnya pasti naik.
Alden tak ingin Hanna mengatainya tidak punya etika dan tidak tahu malu lagi kalau sampai dia tak bisa menahan diri dan kembali bertengkar dengan Cindy serta David.
Dia juga tak ingin berdebat dengan wanita itu dan ujung-ujungnya mengungkit rasa sakit yang ingin dia lupakan.
Siang ini, Hanna duduk sendiri di gazebo, angin sepoi-sepoi berhembus menyapu wajahnya. Dia menyadari perubahan sikap Alden, tapi dia berusaha untuk tidak peduli dan menikmati hari-harinya di rumah mewah ini. Kapan lagi dia bisa menjadi ratu yang selalu dilayani dan tak perlu melakukan apa-apa?
"Raline."
Hanna menoleh saat seseorang memanggil nama Raline, sepertinya dia mulai terbiasa menggunakan nama itu.
"Kau? Ada apa kau ke sini?" cecar Hanna saat melihat David sudah berdiri di belakangnya.
"Boleh aku duduk?" tanya David tanpa memedulikan pertanyaan Hanna.
"Duduk saja! Aku akan pergi!" Hanna beranjak dan ingin pergi, tapi dengan cepat David menahan lengannya.
Hanna refleks menepis tangan David dengan kasar, "Lepaskan aku! Jangan coba-coba menyentuh ku!"
David terkejut dan memandangi tangannya yang ditepis oleh Hanna, lalu menatap wanita itu.
"Ral, kenapa sekarang kamu kasar sekali?" tanya David heran, Raline yang dia kenal tak pernah kasar meski sedang marah sekalipun.
Hanna termangu sambil menelan ludah, dia mendadak gelisah, takut David menyadari jika dia bukan Raline yang asli.
"Kamu berubah, aku seperti melihat orang lain dalam wujud kamu," ujar David.
Hanna semakin cemas dan gugup.
"Setiap manusia pasti bisa berubah, termasuk kau juga," jawab Hanna asal.
Wajah David berubah sendu, "Aku tidak pernah berubah, Ral. Aku masih yang dulu, aku masih mencintaimu seperti saat kita bersama. Apa kamu tidak bisa merasakan itu?"
Hanna tertegun, dia kian penasaran dengan masa lalu David dan Raline, seperti apa hubungan keduanya? Tapi bagaimana caranya dia mencari tahu? Dia tak mungkin bertanya pada David. Dia juga tak ingin terus meladeni pria ini, sebab dia takut lama-lama sandiwaranya terbongkar.
"Kenapa kamu diam? Kamu bisa merasakan cintaku, kan?" David memastikan.
Hanna menggeleng. David mendesah frustasi, dia kecewa karena cintanya yang begitu besar tak dapat dilihat oleh Raline.
"Ral, apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu percaya bahwa aku masih mencintaimu? Apa yang harus aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku? Katakan, Raline!" cecar David gemas, dia mulai emosi dengan semua penolakan ini.
"Untuk apa kau menunjukkan cintamu dan ingin menebus kesalahan? Kau lupa? Saat ini aku sudah menjadi milik orang lain, aku istri kakakmu," ucap Hanna, setidaknya kata-kata itu lah yang bisa dia ucapkan agar David berhenti mengganggunya.
__ADS_1
"Dia bukan kakakku!" bentak David kesal, "Dan aku tidak peduli kau sudah menikah dengannya, aku akan menerima mu kembali jika kau berpisah dari si berengsek itu."
Hanna tercengang, ternyata secinta itu David pada Raline sampai membutakan mata dan hatinya.
"Maaf, David. Aku tidak bisa!" Hanna buru-buru pergi meninggalkan David sebelum pria itu semakin menjadi.
Tanpa David dan Hanna sadari, sejak tadi seseorang mengawasi mereka dari kejauhan.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam, Alden yang baru pulang berjalan gontai memasuki kamarnya, namun dia terkejut saat melihat Hanna masih terjaga dan duduk tenang di atas sofa.
"Akhirnya kau pulang juga!" sindir Hanna.
"Kenapa kau belum tidur?" tanya Alden sembari membuka jas yang dia pakai dan melemparkan ke sofa.
"Aku menunggumu," jawab Hanna.
Alden mengernyit dan menatap Hanna dengan curiga, "Buat apa kau menungguku? Mau ngajak ribut dan berdebat lagi? Lain kali saja, aku sedang malas meladeni mu."
Hanna mendengus kesal, "Ish, ternyata benar kata ibu tiri mu itu, kau selalu saja berprasangka buruk pada orang lain."
Alden sontak melotot, "Hei, kau!"
Hanna mengembuskan napas tak acuh lalu bangkit dari sofa, "Mandilah, aku akan membuatkan teh hangat untukmu, biar badanmu segar."
Alden tertegun memandangi Hanna yang berjalan santai ke arah pintu lalu keluar.
"Dia kenapa? Aneh!" gumam Alden sambil garuk-garuk kepala, emosinya yang sempat terpancing seketika menguap mendapatkan perhatian dari istrinya itu.
"Jangan-jangan dia kesambet!" tebak Alden sembari berjalan ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, Alden keluar dari kamar mandi dan heran melihat kamar yang kosong, tidak ada siapa-siapa. Perhatiannya lalu tertuju pada pintu balkon yang terbuka, dia segera melangkah ke sana.
"Sedang apa kau di situ?" tanya Alden saat melihat Hanna duduk sendiri di balkon.
"Melihat bintang-bintang sambil menikmati angin malam," jawab Hanna, tatapannya lurus ke langit.
"Tumben! Biasanya jam segini kau sudah tidur dan mendengkur," ledek Alden.
"Berisik! Sudah, itu tehnya. Minumlah!"
Alden meraih secangkir teh hangat yang sudah Hanna siapkan untuknya, dengan perlahan dia menyesap teh itu, seketika rasa hangat menyergap kerongkongannya.
__ADS_1
"Aku boleh tanya sesuatu tidak?" Hanna tiba-tiba bertanya.
"Tanya apa?"
"Mantan pacarmu ada berapa?"
"Oh, jadi ini alasannya kenapa kau menungguku dan membuatkan aku teh hangat? Kau mau kepo tentang hidup aku rupanya," tuduh Alden.
"Cckk, tinggal jawab saja apa susahnya, sih? Tidak usah menuduh macam-macam!" gerutu Hanna.
"Baiklah, aku akan cerita sedikit. Sejak dulu aku selalu menjadi cowok paling populer di sekolah maupun di kampus, bahkan di manapun aku berada," beber Alden sombong.
"Sombong sekali!" cibir Hanna.
"Aku serius! Banyak cewek-cewek yang ngejar-ngejar aku dan minta jadi kekasihku, kalau cantik aku terima dan setelah bosan aku tinggalkan," lanjut Alden dengan bangga.
"Pantas saja sekarang kau dicampakkan, itu karma!" ejek Hanna.
Alden langsung mendelik tajam, "Hee! Tidak perlu kau ingatkan!"
Hanna terkekeh geli.
"Kalau Raline? Kau tahu tidak mantan-mantan nya?" tanya Hanna kemudian.
Alden terdiam sejenak, lalu menggeleng.
"Masa tidak tahu? Memangnya Raline tidak pernah cerita tentang masa lalunya?" cecar Hanna.
"Aku tidak pernah mau tahu tentang masa lalunya, karena aku tidak peduli," jawab Alden kemudian kembali menyeruput teh hangat itu lagi.
"Ya, paling tidak kau pernah dengar dari siapa gitu?"
Alden kembali menggeleng sambil meletakkan cangkir teh yang sudah kosong itu di atas meja, kemudian menatap Hanna dengan curiga.
"Kenapa tiba-tiba kau ingin tahu tentang masa lalunya?"
Hanna terdiam dan menelan ludah, dia harus mencari alasan yang masuk akal. Tapi otaknya sedang tidak bisa berpikir dengan baik saat ini. Namun dia mendapatkan sebuah ide untuk kabur.
"Aduh, perutku sakit sekali!" Hanna tiba-tiba meringis seraya memegangi perutnya, "sepertinya aku masuk angin karena duduk di luar."
Hanna buru-buru berlari masuk untuk menghindari kecurigaan sang suami.
Alden mengembuskan napas lelah lalu menatap langit yang bertabur bintang, mendadak dia merindukan Raline.
__ADS_1
"Sedang apa kau sekarang? Apa kau juga merindukan aku?" ucap Alden sedih.
***