
"siang om, tante! kiki mau ketemu ravi dong om tante!" ucap kiki mantan pacar ravi entah yang keberapa namun baru satu ini yang berani mendatangi rumah ravi dengan percaya dirinya
"bik inah" panggil mami nabila
"iya nyonya, maaf nyonya nona ini maksa masuk" ucap bik inah, sudah dicegahnya wanita itu masuk namun tak dihiraukannya
"ya sudah!" nabila menatap tajam wanita yang memang cukup cantik dengan pakaian seksi dihadapannya dan suaminya
"mata tuh dijaga!!!" bisik mami nabila pada suaminya yang nampak juga menatap kiki dan tak lupa cubitan kecil mendarat di pinggangnya
padahal sedang mengingat-ingat bukan karena mata keranjang
"auuu mami sakit" papi gala mengaduh kesakitan terasa perih cubitan cemburu istrinya meski usianya sudah tak lagi muda
"kamu siapa dan kenapa tiba-tiba datang kerumah saya?" tanya mami nabila ketus karena kiki datang dengan tidak sopan
"saya pacar ravi tante, dia janji minggu besok ajak kiki staycation ke bali. tapi dari kemarin ngga bisa dihubungi" ucap kiki dengan santainya
"staycation? berdua?" mata mami nabila seakan keluar dari tempatnya
"ahhaaaaa,, tante itu hal yang biasa dikalangan anak muda zaman sekarang! apalagi kita pacaran" ucap kiki lagi
papi gala hanya menikmati bagaimana istrinya membuat pelajaran untuk anak kecil yang dengan beraninya masuk ke kandang macan,
"hal biasa, ohhh astaga!! sebaiknya kamu sekarang pergi dari sini dan jangan lagi kesini lagi. oke!! ravi sedang kami hukum dan semua akses keuangannya kami blokir jadi dia sekarang hidup di kosan sempit dan juga bekerja sebagai buruh dengan upah seadanya. kalau kamu pacar yang baik
sekarang tante antarkan kamu ke kosan ravi. atau mau kami nikahkah sekarang juga. biar ravi sengsara ada temannya gitu??" ucap nabila dengan cepat dan selesai dengan helaan nafas
"apa???? ravi dimiskinkan? ohhh sepertinya kalian sedang mengancamku seperti di drama korea bukan?
jauhi anakku lalu ku berikan satu miliar begitu tante, om?"
kiki nampak senyum-senyum membayangkannya
"ehemmm!!" papi gala berdeham membangunkan kiki dari halunya
"kamu mau satu miliar?" tanya mami nabila yang nampak menahan emosi sejak tadi
"siapa yang ngga mau tante! tapi cintaku kepada anak om dan tante lebih bernilai dari pada itu. aku ngga mau lepasin ravi om, tante!" kiki tetap kekeh pada pendiriannya
"cinta!!! kamu sungguh mau dengan ravi kita hubungi dia sekarang" ucap mami nabila yang masih belum bisa mengusir wanita yang mengaku pacar anaknya
[halo, rav, mami lupa semua credit card dan atm sudah diblokir sama papi, jadi setiap gajian sisakan buat bayar sewa kos dan juga makanmu ya] ucap mami nabila
[pantas saja ravi hanya beli mie instan tapi ngga bisa, mami kenapa baru bilang. ravi kan belum gajihan mi] jawab ravi
lalu mami nabila memutuskan sambungan telfonnya
"jadi ravi sekarang benar-benar miskin, ahh maksud aku lagi dihukum? sampai kapan om, tante? aku akan menunggu!!" tanya kiki
"selamanya, jadi kalau kamu mulai dari nol sama ravi kami akan restui kalian dan besok kami antarkan ke kosan ravi gimana?" mami nabila mencoba menakuti kiki
__ADS_1
papi gala hanya menahan tawanya, istrinya kini menjadi calon mertua yang selektif terhadap anak-anaknya
"sepertinya ini salah paham tante, saya hanya mantan pacar ravi jadi ngga perlu ketemu ravi lagi. aku pergi dulu" kiki lari meninggalkan rumah orang tua ravi
"sialan, dia mengaku pewaris perusahaan milik keluarganya. gue tertipu!!" kiki menedang kerikil dijalannan
karena kesulitan mencari taksi sejak tadi
sedangkan mami nabila tertawa terbahak-bahak berhasil mengusir kucing garong yang berani mengganggu wilayah kekuasaanya
"mami inget sudah tua, lagian jangan terlalu galak dengan calon mantu. nanti ravi susah jodoh gimana?" ucap papi gala
menegur istrinya
"iya mami udah tua makanya tuh mata jelalatan kan!!!" bukannya membuat istrinya sadar malah makin membuatnya kesal
"hemmm dasar wanita, kenapa sulit sekali dimengerti maunya. sayang maksud papi ngga gitu" papi gala mengejar istrinya yang ngambek dan meninggalkannya
*********
"selamat ulang tahun bu alesha" ucap satu persatu pegawai bagian keuangan dalam ruangan alesha
"terima kasih, harusnya ngga perlu repot lagian usia saya udah ngga muda lagi" ucap alesha terharu
"ini kebiasaan kami bu, kasih sayang kami pada satu tim" ucap meri sebagai ketua geng yang tahu semua ulang tahun rekan kerja satu ruangannya
"kenapa kuenya ada dua, atau ada yang ulang tahun juga selain saya?" tanya alesha
"ohh, ya sudah kalian makan saja kuenya. setelah itu lanjut kerja ya" ucap alesha setelah meniup lilin dan mencoba kue yang diberikan padanya
lalu masuk keruangannya
"huhhh susah-susah nyiapin tapi ngga dihargai" ucap meera yang sedih
"sudah tidak apa-apa, kita makan aja kuenya sepertinya enak" ucap toni
"benar juga!!"
alesha melihat dari dalam ruanggannya yang hanya terhalang kaca sebagai penyekatnya. nampak sebuah kekompakan antara tim yang lain
alesha ingin sekali gabung namun pikirannya mengatakan lain, ia harus bisa menjaga wibawanya sebagai seorang atasan
*********
"kenapa sedih?" tanya shaka pada ravi yang nampak tak bersemangat
"hari ini kerjaan kita selesai cepat, biasanya kalian kemana dulu sebelum pulang?" tanya ravi yang tak mau menjawab pertanyaan shaka
"saya sih langsung pulang, kebetulan orang tua saya punya toko kecil-kecilan bisa bantu-bantu disana! mau ikut?" ajak shaka
"saya ? boleh ikut?" ravi merasa aneh
__ADS_1
mudah sekali shaka mengajak orang yang baru ia kenal main ke rumahnya
"tentu saja, siapa lagi. kalau mau saya tunggu diparkiran " ucap shaka yang langsung beranjak
"tunggu!! saya ikut" ravi mengejar shaka
"ayooo!!!" ajak shaka
"naik motor?" tanya ravi terasa aneh
"tentu saja, saya hanya punya motor! mau ikut ngga?" tanya ravi
"gass"
keduanya menaiki motor menuju rumah shaka.
"assalamualaikum bunda, ayah" shaka memberi salam kepada orang tuanya yang sedang duduk santai di teras rumah sembari minum kopi dan beberapa cemilan
"walaikumsalam, sudah pulang nak? itu temannya ngga diajak masuk!!" ucap bunda hana
"rav, sini!" shaka memanggil ravi yang msih termenung dengan sambutan keluarga shaka oleh orang tuanya
dalam bayangannya selama ini, orang tuanya sibuk dengan bisnis dan sering perjalanan keluar negeri meninggalkannya bersama kakak dan para asisten rumah tangga saja dirumah
"ohhh iya ka, assalamulaikum bu, pak" ravi sedikit canggung karena tak terbiasa dan ia takut jika orang tua shaka tak menerimanya
"sini masuk, kenapa di situ aja! teman kantor shaka?" tanya ayah ruby
"iya pak, saya baru beberapa hari disini kerja satu ruangan dengan shaka" jawab ravi dengan lengkap kepada orang tua shaka
bagaikan sedang introgasi tersangka
"santai saja, ayu duduk! sebentar ibu buatkan teh dulu ya" ucap bunda hana
ravi menggangguk canggung
"rav mau mandi dulu ngga? bisa pakai bajuku dulu buat ganti" tawar sakha
"ngga usah ka, nanti diapar dikosan aja sekalian" tolak ravi tentu saja ini hari pertamanya main ke rumah shaka dan ia juga baru saja beberapa hari mengenal shaka
bagaimana jika shaka bukan orang baik. dalam benak ravi berfikir namun sudah terlambat ia sudah ikut kerumah shaka
"oke! ini yah. tadi ravi bingung mau kemana karena hari ini pulang kerjanya lebih awal dari biasanya jadi shaka ajak aja kerumah" ucap shaka menjelaskan pada ayahnya
"iya ngga apa-apa. jadi ramai kan rumahnya. ini sudah mau magrib sebaiknya nak ravi mandi dulu dan kita ke mushola bersama" ucap ayah ruby
"maaf jadi merepotkan pak, bu" ucap ravi saat bunda hana meletakan secangkir teh untuknya
"tidak sama sekali!" bunda hana yang pembawaanya lembut
__ADS_1