
Tanpa terasa pernikahan Fina dan Hendry sudah berjalan selama 7 bulan.
Fina yang sudah mulai terbiasa dengan Hendry pun mulai menjalankan tugas nya menjadi seorang istri. Namun, ia belum bisa mencintai Fina seperti Hendry mencintai Fina.
"Lu kenapa Fin?." Tanya Tasya.
"Fina, GK apa apa gw cuma kecapekan doang." Ucap Fina.
"Mana ada, muka di tekuk udah kayak plastik mlonyot gitu. Ada apa? Sini cerita." Pinta Tasya.
"Gw gak tau harus gimana sya, apakah gw dosa belum ngasih hak gw buat suami gw? Gw masih belum bisa mencintai kak Hendry. Tapi, kak Hendry selalu melempar kan cinta nya ke gw." Ucap Fina.
"Gw paham Fin, lu belum siap lahir batin buat kak Hendry. Dan gw juga tau di hati Lo masih ada Aldi. Tapi, saran gw pelan pelan Lo lupain Aldi. Inggat Fin udah 7 bulan Lo nikah sama kak Hendry." Ucap Tasya menepuk pelan pundak Fina.
"Gw udah coba sya, apa Lo pikir itu mudah? Gw sama sekali belum bisa mencintai kak Hendry. Gw merasa bersalah setiap detik ketika gw ingat status gw yang udah nikah. Kalau ini bukan karena permintaan Daddy, gw ga bakalan Nikah di umur gw yang masih muda." Ucap Fina kesal.
"Terus Lo mau apa? Mau ngebantah Daddy Lo? Lo mau nge buat kak Hendry nyesel nikahin Lo? Mikir woi Lo pinter dalam pelajaran tapi, T0l0l dalam hal kebijakan." Ucap Tasya marah.
"Lo kenapa sya?." Tanya salah satu teman nya.
"Gak apa apa. Nih, Fina lagi nge beban hidup." Ucap Tasya berbohong.
Sepulang sekolah..
Di rumah.
"Bi, kak Hendry belum pulang?." Tanya Fina.
"Tuan, langsung ke kantor nona." Ucap Ratih.
"Bi, aku mau pergi jalan jalan sebentar ya aku bakal ijin sama kak Hendry kog." Ucap Fina membujuk Ratih.
Ratih yang mempunyai firasat tidak baik ingin mencegah Fina. Namun, karena Fina sudah mengatakan akan izin kepada Hendry maka Ratih pun mengizinkan Fina.
Fina pun pergi tanpa bersama sopir.
Mobil nya terparkir kan di depan asrama nya dulu.
"Wah, siapa itu yang datang mobil nya bagus banget."
"Selamat sore.." sapa Fina.
"Sore kak, cari siapa ya?."
"Bunda ada?." Tanya Fina.
"Ada kak, silahkan."
"Sore bunda." Sapa Fina.
"Ya tuhan Fina, kamu berkunjung? Bunda kira kamu udah lupain bunda." Ucap bunda sembari memeluk Fina.
"Bunda, Fina boleh bawa Tasya buat nginap di rumah Fina ga? Fina kangen banget sama Tasya." Ucap Fina..
"Tentu saja boleh. Tapi, hanya 1 malam saja ya." Ucap bunda.
"Siap bunda." Ucap Fina.
__ADS_1
"Tasyaaaaaa!!!." Pekik Fina ketika sampai di kamar Tasya.
"Pelan pelan woi! Ga tau apa gw lagi berdoa." Ucap Tasya Kesal.
"Hehe maaf." Kemudian pun Fina menyatukan tangan nya untuk berdoa sejenak.
"Kenapa?" Tanya Tasya.
"Jalan jalan yuk, gw udah izin sama bunda." Ucap Fina.
"Heum bentar gw siap siap dulu." Ucap Tasya
...
"Wihhh.. Gilak, kita ke sini lagi? Setelah sekian lama woi akhirnya...!!" Pekik Tasya.
"Pesan apa aja terserah Lo gw yang teraktir." Ucap Fina.
"Wih siap Bu bos."
"Btw Lo izin kak Hendry buat ke sini?." Tanya Tasya.
Namun hanya di balas gelengan kepala.
"Kalau di cariin?." Tanya Tasya.
"Gak."
"Btw udah lama banget ya kita ga kesini. Bar favorit kita." Ucap Tasya.
"Wah wah wah.. anak anak kesayangan ku kog baru kelihatan." Ucap Ratna sang pemilik bar.
"Kalian mau minum apa? Biar kakak yang pesenin." Ucap Ratna.
"Seperti biasa." Ucap Tasya.
..
"Fina, udah woi jangan minum lagi. Lo nyetir mobil cuy! Woi!." Ucap Tasya yang sudah hampir mabuk. Sedangkan Fina sudah kehilangan kendali. Ia sudah benar benar mabuk.
"Bawakan lagi." Ucap Fina.
"Fin, Lo ga usah ngaco deh." Ucap Tasya.
"Ga usah brisik bawakan lagi!." Ucap Fina dengan nada yang lebih keras.
Di sisi lain..
"Ratih!! Fina di mana? Ini udah malem banget kog dia ga ada di kamar?." Tanya Hendry.
"Maaf tuan, tadi nona bilang sudah izin kepada tuan untuk pergi jalan jalan." Ucap Ratih.
"Ga, dia ga izin apa apa ke saya." Ucap nya.
Tiba tiba ponsel nya berdering..
"Halo? Ini siapa?."
__ADS_1
'kak, ini aku Tasya..'
"Hah? Siapa ga denger! Brisik banget!" Gerutu Hendry kesal.
'AKU TASYA!! KAK TOLONG KE SINI.' pinta Tasya.
"Kemana?." Tanya Hendry.
'DI BAR **** FINA UDAH MABUK BANGET.'
Hendry langsung mematikan ponsel nya dan segera mengambil kunci mobil.
Ia pun berlari ke garasi.
Ia masuk kedalam mobil tapi, ia merasakan ada yang aneh ia pun keluar dari mobil nya.
"Akhr! Sialan pakek kempes lagi!." Ucap Hendry kesal dan menendang ban mobil nya.
Ia pun segera mengambil kunci mobil yang lain untuk menjemput Fina.
"Kamu, ikut saya." Ucap Hendry.
Tidak lama kemudian.
Di bar.
"Fina benar benar sudah tidak sadarkan diri. Ia mabuk dan Kepala nya ia letakan di atas meja. Sedangkan Tasya masih menunggu kedatangan Hendry.
Hendry masuk dengan langkah yang cepat mencari keberadaan Fina. Tasya yang melihat Hendry langsung mengangkat tangan nya untuk memberikan tanda kepada Hendry kalau ia di sudut ruangan.
"Pak, antar Tasya ke asrama dengan mobil Fina. Aku akan bawa Fina ke rumah." Ucap Hendry.
"Baik tuan."
"Fina, Fina.." ucap Hendry membangun kan Fina pelan. Namun, tak di respon sama sekali oleh Fina.
Hendry pun mengangkat tubuh Fina dan membawa nya ke mobil.
Tak lama
...
Di rumah
"Ratih, bawakan air lemon ke atas." Ucap Hendry yang tengah berjalan menaiki tangga sambil menggendong Fina.
Hendry pun meletakkan tubuh Fina di atas kasur
Ia melihat Fina dengan tatapan amarah. Ia bingung kenapa Fina bisa nekat untuk mabuk.
Setahu Hendry Fina sudah sangat lama tidak berkunjung ke bar.
"Ini tuan."
Hendry mencoba memberikan air tersebut kepada Fina. namun kepala Fina selalu menggeleng menolak.
Hendry meminta Ratih untuk pergi. Ia pun meminum air lemon tersebut lalu memberikan nya kepada Fina. Jujur ini pertama kali nya bagi Hendry. Jantung nya berdegup dengan kencang ketika Fina perlahan meneguk air lemon tersebut.
__ADS_1
To be continued