
"Aku ga tau apa alasan mu bisa mengunjungi bar itu lagi. Jika itu tentang diri ku maka maafkan aku." Gumam Hendry membelai lembut rambut Fina.
Keesokan paginya.
Fina terbangun dengan perasaan yang aneh. Badan nya sangat sakit. Di tambah ia di balut dengan selimut namun ia tak mengenakan pakaian.
"Hah?!" Fina terkejut.
"Sudah bangun?." Tanya Hendry yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Aku sebenarnya ingin mandi dengan mu tapi, tampak nya kau sangat kelelahan jadi, ku biarkan kau tidur lebih lama." Ucap nya dengan santai.
"Apa maksud kakak? Apa kakak?-
"Hei, jangan berfikir yang tidak tidak. Diri mu lah yang mendekati ku." Ucap Hendry dengan senyum iblis.
Flashback
Perlahan Fina membuka mata. Tapi, ia masih dalam keadaan mabuk.
"Kenapa kau mabuk?." Tanya Hendry.
"Aku mabuk karena dirimu." Ucap Fina melantur.
"Apa aku salah? Hah, pernikahan macam apa ini?! Bahkan aku tak mencintai suami ku sendiri. Daddy memang sudah gila menjodohkan ku dengan kak Hendry.
Aku sangat membencinya tapi, kenapa kau yang harus menikah dengan ku?!
Aku sudah berusaha mencintai mu tapi, apa? Nihil.. aku tak bisa mencintaimu walaupun sudah 7 bulan pernikahan kita. Hahahaha aku begitu b0doh." Ucap Fina sembari memukul mukul dada bidang Hendry.
Hendry hanya bisa mematung mendengar apa yang Fina katakan.
__ADS_1
"Katakan padaku bagaimana caranya agar aku bisa mencintai mu?! Hah, aku b0doh." Ucap nya sekali lagi.
Hendry pun memeluk Fina agar Fina lebih tenang.
"Apa aku harus mencium mu dulu agar aku bisa mencintai mu?! Hah??!! Apakah seperti ini??!!." Dengan tiba tiba Fina mencium Hendry.
Hendry yang terkejut hanya membelalakkan matanya.
Malam itu mereka habiskan layaknya sepasang suami istri. Walaupun dalam keadaan Fina yang tengah mabuk.
Flashback off.
Fina meringkuk memeluk lutut nya dan menangis.
"Hiks hiks, maafkan aku yang sudah mengatakan hal yang tidak tidak kepada mu. Aku tak tau harus bagaimana hiks hiks.. " ucap nya dengan terisak Isak.
Hendry pun mendekati Fina. Ia memeluk Fina hangat memberikan Fina kenyamanan.
Walaupun di hati nya sangat sakit. Tapi, Fina sudah jujur waktu malam itu.
"Maaf kan aku kak. Maaf." Lirih Fina.
"Sudah, jangan menangis lagi. Pergilah mandi lalu kita turun untuk makan. Kau masih bau alkohol. Berapa gelas yang kau minum?." Tanya Hendry.
"Entahlah, aku kehilangan hitungan gelas ku yang ke 5." Ucap Fina. Hendry pun langsung kaget.
"Nih cewek kuat banget bisa minum sebanyak itu." Gumam Hendry.
"Kak." Panggil Fina.
"Heum.."
__ADS_1
"Temenin mandi." Pinta Fina.
"Gak, aku udah mandi." Ucap Hendry menolak tapi, aslinya hati nya juga menginginkan nya.
"Yakin ga mau?." Tanya Fina sekali lagi.
Hendry pun mengangkat Fina ala ala badboy.
Skip..
Di meja makan.
"Bi, bisa bawakan aku jus lemon?." Pinta Fina.
"Baik nona."
"Thankyou my wife." ucap Hendry mengelus-elus kepala Fina.
"Aku juga makasih kakak selalu sabar nungguin aku." Ucap Fina membalas senyuman Hendry.
"Besok jangan kunjungi bar itu lagi oke. Aku ga mau kamu mabuk lagi. Usahakan ini yang terakhir kali nya." Ucap Hendry tegas.
Fina hanya menunduk sedih. Bukan, karena perkataan Hendry. Tapi, ia merasa bersalah karena sudah mengatakan hal yang membuat hati Hendry sakit.
"Aku tidak memaksa mu. Tapi, setidak nya bisa kau cegah. Itu juga demi kesehatan mu. Mabuk tidak akan menyelesaikan masalah. Tapi, hanya akan memperburuk keadaan." Ucap Hendry.
"Tapi, dia mabuk memperbaiki masalah juga sih." Gumam Hendry dengan mengukir sedikit senyuman.
"Kenapa senyum?." Tanya Fina.
"Gak, cepetan makan nanti dingin." Ucap Hendry.
__ADS_1