
Malam hari nya.
"Setelah selesai dengan berkas bekas nya tolong bawa ke meja kantor saya. Besok lusa akan saya cek." Ucap nya lalu menutup panggilan ponsel nya.
"Bagaimana keadaan nya?." Tanya Hendry kepada suster yang baru saja mengecek keadaan Fina.
"Nona, sudah membaik tuan." Ucap suster tersebut.
"Baguslah kalau begitu." Ucap nya dingin.
"Kalau begitu saya permisi tuan."
"Pantas saja di kutuk sama Elsa orang dingin nya ngelebihin suhu kutub Utara." Gumam Fina kesal.
Hendry langsung kembali menyelesaikan tugas nya di meja nya. Banyak buku serta kertas kertas berserakan di meja nya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.50
Tugas Hendry sudah selesai dan kini saat nya untuk tidur.
Ia sedikit terkejut ketika melihat Fina belum tidur.
"Kenapa belum tidur?." Tanya Hendry.
"Kan kakak belum selesai sama tugas kakak, lampu kamar ga di matiin gimana cara nya aku bisa tidur" ucap nya kesal.
Hendry berjalan mendekati Fina.
"Aku mau tanya." Ucapnya
"Tanya tinggal tanya." Jawab Fina.
"Apa kamu serius dengan Aldi?." Tanya Hendry.
"Memang nya kenapa?." Tanya Fina.
"Jawab saja pertanyaan saya." Ucap Hendry.
__ADS_1
Fina mensejajarkan duduk nya dengan Hendry.
Lalu ia menarik nafas panjang panjang.
"Kalau boleh jujur,-
"Ya emang harus jujur!" Sambung Hendry.
"Akhr illah belum juga ngomong udah di sahut aja.!" Ucap Fina kesal.
"Kalau boleh jujur, aku mau pertahanin pernikahan kita. Ya walaupun aku ga tau sampai kapan kakak harus nungguin kesiapan ku. Tapi, cepat atau lambat cinta itu akan tumbuh. Aku lebih mempertahankan hubungan yang sudah di depan mata di tambah pernikahan juga hal yang sakral. Sedangkan aku dengan Aldi, masih dalam status pacaran dan aku pun ga tau apakah kelak jika aku kembali bersama Aldi apakah Aldi juga akan menikahi ku." Ucap Fina panjang lebar.
"Kenapa kakak tanya itu sama aku?." Tanya Fina.
"Ah nggak, cuma aku kepikiran aja sama perjanjian yang kita buat waktu itu. Aku takut ketika hatiku tumbuh benih cinta kau meninggalkanku dan bersama dengan Aldi." Ucap nya yang tak berani menatap mata Fina.
"Dih, ni es batu bisa romantis juga ya." Gumam Fina.
Kedua tangan Fina yang masih hangat menangkup tangan kanan Hendry dan berkata.
"Jika kakak bisa percaya sama aku, aku pun bisa percaya sama kakak. Hubungan kita sudah lebih sakral di bandingkan dengan status pacaran kak. Jadi, perlahan lahan aku akan menyesuaikan diri dan berusaha menjadi istri yang baik untuk kakak." Ucap nya.
...
Pagi nya.
"Kak, bangun.. kak udah jam 6." Ucap Fina beberapa kali untuk membangun kan Hendry.
Hendry pun membuka mata nya perlahan.
"Kak, boleh kah aku hari ini sekolah?." Tanya Fina.
"Apa udah kuat?." Tanya Hendry.
"Udah.."
"Ya udah kalau gitu. Tapi, harus satu mobil sama aku. Aku takut nanti kamu kenapa Napa. Siapa tau pingsan di jalan trus di bawa kucing pergi kan repot." Ucap Hendry.
__ADS_1
"Mana ada kucing kuat ngangkat manusia sih." Ucap Fina dengan gelak tawa kecil.
...
Di sekolah.
"Eh, lihat tuh Fina berangkat bareng Hendry." Ucap salah satu teman raya.
Lebih tepat nya Hendry yang menumpang di mobil yang biasa Fina pakai semenjak ia menjadi istri Hendry.
"Ini, bawa bibi tadi yang menyiapkan nya. Ini bisa menjaga imun tubuh mu biar ga lemes kek cacing kecacingan." Ucap Hendry memberikan botol biru kepada Fina.
"Hah, gimana gimana?." Tanya Fina tak paham.
"Never mind"
"Aku antar ke kelas ya." Ucap Hendry.
"Eumm." Jawab Fina dengan anggukan kecil.
"Hen- panggil raya yang belum terselesaikan
"Ntar aja di kelas" sambung Hendry.
"Thanks udah anter." Ucap Fina.
"Ah illah kan aku juga ngelewatin kelas mu. Dasar." Ucap Hendry dengan gelak tawa kecil.
"Dasar.." decik Fina
Fina pun masuk ke dalam kelas.
"Hen...!!" Panggil raya.
"Kenapa tuh, cewek bisa bareng sama Lo? Dan kenapa Lo ga pakek mobil yang biasa nya Lo pakek?." Tanya raya.
"Mobil gw mogok di jalan kebetulan dia lewat trus nawarin gw tumpang an. Ya daripada gw telat juga kan gw yang repot." Ucap Hendry.
__ADS_1
Namun, raya tak bisa percaya begitu saja.
To be continued