
"Apa kau mau minum?." Tawar Hendry.
/Menggeleng kan kepala
"Kak, bolehkah aku kembali bersekolah?." Tanya Fina.
"Apa kau yakin?." Tanya Hendry.
"Tentu saja. Aku sudah tertinggal banyak pelajaran selama aku sakit." Ucap Fina.
"Baiklah tapi, aku tak mengizinkan mu pergi kemana pun. Jika kau mau pergi maka kau wajib membawa ku. Tidak ada tawar menawar." Ucap Hendry.
"Baiklah, suami ku."
Keesokan harinya
Bunyi alarm membuyarkan kenyamanan tidur Fina.
Fina pun lantas membuka mata dan mematikan alarm.
Fina mencoba untuk menurunkan kaki nya sendiri namun, nihil tak bisa.
Lantas Fina pun menangis karena tak bisa menggerakkan kaki nya.
Hendry yang masih tertidur lantas bangun mendengar Isak tangis Fina.
"Ada apa?." Tanya Hendry.
"Akhr, tidak ada apa apa. Hanya saja kaki ku sedikit sakit
"Apa mau ku panggil kan dokter?." Tanya Hendry.
"Tidak usah. Pasti sebentar lagi akan membaik." Ucap Fina.
"Ayo, aku akan membantu mu mandi."
Setelah mereka berdua selesai mandi mereka berdua pun turun ke bawah untuk sarapan.
"Ratih, di mana Daddy?." Tanya Hendry.
"Maaf tuan. Tuan besar bilang bahwa ia kembali ke Bulgaria tadi malam. Tuan besar tidak berani mengatakan kepada tuan karena takut menganggu waktu istirahat tuan dan nona." Ucap Ratih.
"Baiklah kalau begitu. Sajikan makanan nya."
Di sekolah..
"Lihat itu, Gilak romantis banget kak Hendry. Baik banget ya."
"Iya, aku jadi iri sama Fina. Udah cantik, di bantuin sama kak Hendry lagi. Aku curiga mereka berdua pacaran."
"Fina, akhirnya Lo berangkat juga." Ucap Tasya. Lantas Tasya pun langsung memeluk sang sahabat nya tersebut.
"Gimana keadaan Lo?." Tanya Tasya.
"Gw udah lebih baik." Ucap Fina.
__ADS_1
"Tasya, saya titip Fina ya." Ucap Hendry.
"Siap kak."
Tasya pun lantas mendorong kursi roda Fina menuju ke dalam kelas.
"Gw kaget banget pas tau Lo lumpuh karena manusia lambe turah itu." Ucap Tasya.
"Bagus deh tu manusia kena skors dari sekolah."
"Tapi, sayang nya kak Hendry harus turun dari jabatannya." Lanjut nya.
"Hah, ka Hendry turun jabatan?." Tanya Fina terkejut.
"Iya, Lo ga tau karena kejadian Lo waktu itu kepsek pun memutuskan untuk menurunkan jabatan kak hendry." Ucap Tasya.
"Lalu, sekarang di gantikan oleh kak findha." Sambung nya.
"Gara gara gw, semua ini terjadi." Gumam Fina.
"Eum sakit ga sih?." Tanya Tasya.
"Gak, tapi suakit banget! Gitu aja masih tanya sih dasar maemonah." Ucap Fina kesal.
"Hehe maafin atuh."
Siang hari nya.
"Mau makan di kantin?." Tanya Tasya.
"Ya udah, Lo makan bekal Lo gw nanti pesen aja." Ucap Tasya.
Tasya pun mendorong kursi roda Fina menuju ke kantin.
Mereka makan bersama. Tak lupa untuk tertawa. Jujur saja Tasya sangat terluka melihat Fina sang sahabat menjadi seperti ini.
Ia berharap bisa membalas kan dendam agar Fina mendapatkan keadilan.
Walaupun Nia sudah di hukum namun, belum cukup untuk Tasya.
"Ini minum obat nya." Ucap Hendry yang entah datang dari mana membawakan obat milik Fina.
"Thankyou."
"Kenapa kakak ga ngomong kalau kakak turun jabatan?." Tanya Fina kepada Hendry yang baru saja duduk.
"Gimana mau ngomong kalau kamu selama 1 Minggu di rumah sakit ga bisa terkendali kan." Ucap Hendry.
"Hehehe i'm sorry." Ucap Fina.
"Udah yang penting sekarang fokus sama kesembuhan mu dulu." Ucap Hendry.
"Andaikan waktu itu gw ga ninggalin Fina sendirian pasti hal ini ga bakal terjadi" gumam Tasya
"Andaikan waktu itu gw ga pergi pasti Fina akan baik baik saja." Gumam Hendry.
__ADS_1
"Kalian berdua kenapa melamun?." Tanya Fina membuyarkan lamunan Hendry dan Tasya.
"Ah nggak cuma mikirin kerjaan kantor." Ucap Hendry.
"Maaf ya, karena aku kakak jadi seperti ini." Ucap Fina menyesal.
"Udah ga usah di pikirin lagi." Ucap Hendry.
Sore hari nya.
"Kak, kapan dokter datang?." Tanya Fina.
"Mungkin sebentar lagi."
"Awas aja tu dokter bikin istri gw nunggu. Lo pulang bakal tinggal nama doang." Gumam Hendry.
Tidak lama kemudian.
"Maaf tuan saya telat. Tadi, sedikit macet." Ucap dokter Kiki.
"Masih sayang nama?.." tanya Hendry dengan tatapan tajam.
"Masih tuan."
"Sayang nama atau nyawa?." tanya Hendry sekali lagi.
"Dua dua nya tuan."
"Lalu kenapa masih di situ? Istri ku sudah menunggu mu sangat lama." Ucap Hendry kesal.
"Kak, aku cuma nunggu 7 menit doang loh." Ucap Fina.
"Baik tuan."
Dokter Kiki pun segera memeriksa keadaan kaki Fina.
"Apakah masih sakit?." Tanya dokter Kiki.
Fina pun menggeleng kan kepala nya.
"Baiklah, saya akan bantu nona berdiri." Ucap dokter Kiki hendak membantu Fina berdiri.
"Heh, apa yang kamu lakukan?!." Pekik Hendry.
"Kak, dokter Kiki cuma mau bantu aku berdiri ga usah posesif deh. Mau aku lumpuh terus terusan?." Gerutu Fina kesal.
Hendry pun tertunduk dan menggeleng kan kepala nya.
"Ya udah makanya kakak diem." Ucap Fina kembali.
"Nah, kan mampus kena marah istri." Gumam dokter Kiki senang.
"Ga usah mbatin!." Ucap Hendry melihat ke arah Kiki tajam.
Kiki pun melatih Fina sedikit demi sedikit untuk berjalan.
__ADS_1
Setidak nya Fina bisa merasakan kembali rasa nya mengepak kan telapak kaki nya di lantai.