
Keesokan paginya nya. Hendry langsung berangkat ke bandara tanpa membangun kan Fina terlebih dahulu. Ia melihat Fina masih tertidur dengan sangat lelap. Hingga membuat nya tak tega untuk membangun kan nya.
"Aku pamit." Ucap Hendry lalu mencium pelipis Fina.
...
"Ugh,.." lenguh Fina membuka mata nya.
"Bi, dimana kak Hendry?." Tanya Fina.
"Maaf nona, tuan sudah berangkat sejak 4 jam yang lalu. Tuan tidak berani membangun kan nona. Tapi, tuan menitipkan ini untuk nona." Ucap pelayan nya memberikan kotak berwarna merah.
Fina pun membuka kotak tersebut. Ia melihat sebuah cincin berlian yang sangat indah di dalam kotak merah tersebut.
Fina bingung harus kah ia bahagia atau sedih.
"Aku hanya menginginkan mu di sini. Aku ga mau cincin ini." Gumam Fina menutup kotak tersebut.
10 hari kemudian.
"Fin, ke bar yuk." Ajak Tasya.
"Palak Lo tumpul. Lo mau gw kena marah lagi sama kak Hendry." Ucap Fina kesal.
"Hehehe, maafin"
"Eh iya, btw gw lama banget ga lihat kak Hendry dia di mana?." Tanya Tasya.
"Dia lagi, di Thailand." Ucap Fina.
"Weh Weh Weh.. kog Lo ga di ajak?." Tanya Tasya.
"Bac0t Lo."
Entah ada kabut dari mana Fina langsung berlari begitu saja meninggalkan Tasya.
"Eh, Fin kog gw di tinggal sih?." Pekik Tasya.
"Tasya pun, berlari menyusul Fina."
"Lo kenapa ?." Tanya Tasya. Yang baru saja melihat Fina keluar dari kamar mandi.
"Hehehe, perut gw sakit." Jawab Fina.
"Kaparat."
__ADS_1
"Kenapa rasa nya aneh banget?." Gumam Fina.
"Lo, gak apa apa kan Fin?." Tanya Tasya.
"Eum, fine." Ucap Fina.
Sore nya.
"Bi Ratih, boleh kah aku minta buatkan bubur bayam?." Pinta Fina.
"Tentu saja nona."
...
"Silahkan non." Ucap Ratih membawakan bubur bayam.
Awalnya Fina sangat antusias untuk makan. Tapi, ketika ia memasukkan satu sendok bubur nya. Ia merasa sangat mual.
Ia pun lantas berlari menuju ke wastafel terdekat.
Ia muntah muntah hebat tanpa henti hingga membuat nya lemas.
"Nona, nona ga apa apa?." Tanya Ratih.
"Hiks, akhr aku mual bi." Ucap nya. Iapun kembali muntah.
Tak lama dokter kiki pun datang.
Dokter Kiki langsung memeriksa Fina yang sudah berada di kamar nya.
"Aku kenapa dok?." Tanya Fina.
"Selamat nona. Anda sedang hamil." Ucap dokter Kiki.
"Hah? I'm pregnant?." Tanya Fina.
"Congrats." Ucap dokter Kiki.
"Aku akan memberitahu tuan Hendry." Ucap dokter Kiki.
"Gak, jangan kasih tau dia. Biarkan dia pulang dulu." Ucap Fina.
Fina tak tau harus kah ia bahagia atas kehamilannya atau bersedih karena mau tidak mau dia harus berhenti sekolah karena ia mengandung.
4 hari kemudian.
__ADS_1
"Bi, aku mau mangga." Ucap Fina.
"Huh, untung aku udah siapin di kulkas." Gumam Ratih.
"Pelayan, ambilkan mangga muda yang ada di kulkas." Ucap Ratih.
"Lah,kog mangga muda. Aku mau nya mangga matang." Ucap Fina.
"Baiklah nona muda."
"Selamat datang tuan." Sapa pelayan dari arah pintu masuk.
"Dimana Fina?." Tanya Hendry.
"Nona, di bawah tuan." Ucap pelayan tersebut.
"Fina, aku pulang." Ucap Hendry menuruni anak tangga.
"Telat 1 hari 3 jam 2 menit 20 detik." Ucap Fina tak menghiraukan Hendry.
"Se rindu itukah diri mu?." Tanya Hendry.
"Gak, malah ga rindu sama sekali." Ucap Fina. Yang masih sibuk mencomot mangga nya.
"Yakin?." Tanya Hendry.
Hendry pun langsung mengangkat Fina. Hendry membawa Fina ke dalam kamar nya.
"Yakin ga rindu??." Tanya Hendry sekali lagi.
Sial nya, Fina malah merasa mual. Fina langsung turun dan berlari ke kamar mandi.
"Ratih?." Tanya Hendry melirik Ratih.
"Iya tuan, nona sedang hamil." Ucap Ratih.
"Hah? Aku akan jadi Daddy?." Tanya Hendry.
"Iya tuan."
"Tuan, saya saran kan agar tuan bisa lebih sabar. Karena mood nona muda sering berubah ubah." Ucap Ratih.
Setelah Fina keluar dari kamar mandi
Hendry langsung memeluk Fina dan mencium i wajah Fina.
__ADS_1
"Thankyou baby."