
Waktu sudah menunjukan pukul 4 sore. Kini waktu nya untuk pulang ke rumah.
"Fin, pulang bareng yuk." Ucap Tasya.
Seketika Fina melirik ke arah Hendry berharap Hendry tak memperhatikan nya.
"Oke, kita pulang bareng. Gw juga mau ke asrama bentar." Ucap nya dengan wajah lemas.
"Lo gak apa apa kan?." Tanya Tasya.
"I'm oke, don't worry." Ucap Fina.
Merek berjalan berdua menuju asrama. Namun, ketika mereka berdua sampai di depan gerbang sekolah. Fina sudah di hadang oleh sopir yang bertugas menjemput Fina.
"Nona, silahkan masuk." Ucap sopir tersebut membuka kan pintu mobil.
"Pak, saya mau ke asrama dulu. Pak Hadi, bisa pulang duluan nanti saya bisa naik taksi." Ucap Fina.
"Maaf nona, ini perintah dari tuan." Ucap sopir tersebut.
"Oke, saya pulang. Tapi, antarkan teman saya dulu ke asrama sebelum pulang." Ucap Fina.
Tasya hanya diam tercengang karena tidak baisa Fina pulang di jemput oleh sopir. Ya, karena memang dia tinggal nya di asrama. Berangkat ataupun pulang sekolah always jalan kaki.
"Fin, dia siapa?." Tanya Tasya.
"Sopir." Ucap nya.
"Iya, gw tau dia sopir maksud gw tu orang suruhan bokap Lo?." Tanya Tasya.
"Huummm."
"Thanks ya Fin udah anterin gw sampai asrama. Hati hati di jalan." Ucap Tasya berpamitan.
Mobil nya pun kembali melaju untuk menuju ke kediaman Hendry.
"Auch." Lirih Fina memegang i perut nya.
"Nona, apa nona baik baik saja?." Tanya sopir yang mendengar suara lirih Fina.
"Eumm. Buruan ya pak." Ucap Fina berbohong.
•••
Fina turun dari mobil dengan langkah kecil. Karena perutnya sangatlah sakit. "Akhrr, please jangan sekarang." Gumam Fina.
"Nona, nona tidak apa apa?." Tanya salah satu pelayan yang menyambut kedatangan Fina di depan pintu.
Namun, Fina tak menjawab.
Brukk..
Fina terjatuh ketika hendak menuruni tangga kecil yang ada di depan nya.
"Nona..!!." Pekik para pelayan.
Hendry yang baru saja turun dari mobil langsung berlari ketika mendengar suara pekikan dari para pelayan nya.
Dengan cepat langkah nya memasuki rumah nya. Dan betapa terkejutnya ia melihat Fina sudah jatuh pingsan. Bahkan dahi, serta tangan kanan nya berdarah Karena sempat menyenggol vas kaca di sebelah nya.
"Tuan, maaf kan kami tuan." Ucap salah satu pelayan nya ketakutan.
"Bagaimana ini bisa terjadi?." Tanya Hendry.
"Nona pingsan tuan. Tadi, ketika nona memasuki rumah nona sudah terlihat pucat. Namun, nona tidak menjawab ketika saya bertanya." Ucap pelayan yang tadi bertanya kepada Fina.
"Panggil dokter."
Dengan cepat Hendry mengangkat tubuh Fina menuju kamar nya.
__ADS_1
Dengan perlahan Hendry merebahkan tubuh Fina di atas kasur.
"Tuan dokter sudah datang." Ucap pelayan yang berjaga di depan pintu.
"Suruh dia segera masuk." Ucap Hendry.
"Selamat sore tuan." Ucap dokter Kiki.
"Cepat obati istri saya." Ucap Hendry cemas.
Dengan cepat dokter membersihkan darah, dan mengobati luka pada dahi dan tangan kanan Fina.
•••
"Bagaimana keadaan nya?." Tanya Hendry.
"Maag nona muda kambuh tuan. Tidak hanya itu, saat saya tensi darah nona muda, darah nona muda kurang dari rata rata normal." Ucap dokter Kiki.
"Maaf tuan, kalau saya boleh bertanya. Kapan terakhir kali nona muda makan?." Tanya dokter Kiki.
"Ratihhh!!!." Pekik Hendry.
Dengan cepat Ratih pun menemui Hendry.
"Saya tuan." Ucap Ratih gemetaran.
"Apa tadi pagi Fina tidak sarapan?." Tanya Hendry.
"Tidak tuan. Tadi pagi, nona langsung berangkat ke sekolah begitu saja." Ucap Ratih.
Ratih adalah kepala penjaga di rumah Hendry. Lebih tepat nya dia lah yang mengatur segala hal di rumah nya.
"Gaji mu bulan ini akan saya potong 30%. Dan gaji para pelayan lain akan saya potong 20%.
" Ucap Hendry kesal.
Sedangkan Ratih tak dapat berbuat apa apa. Ketika tuan nya sudah berkata A maka Ratih ya bisa membantah nya.
Namun, ia juga bersyukur karena gaji nya tidak di potong 70%.
"Suara hp siapa itu?." Tanya Hendry kepada dokter Kiki.
"Mungkin hp nona muda." Jawab Kiki.
Hendry pun lantas mencari hp Fina di dalam tas nya.
Mata nya membulat ketika melihat nama yang menelfon Fina 'Aldi blee' itulah nama kontak Aldi di hp Fina.
Aldi langsung mematikan hp Fina agar Aldi tidak dapat menghubungi Fina.
"Apa aku perlu membawa nya ke rumah sakit?." Tanya Aldi.
"Saya rasa tidak perlu tuan. Tapi, jika nona muda merasa pusing yang hebat maka tuan harus membawa nya ke rumah sakit." Ucap Kiki.
"Baiklah, kau boleh pergi." Ucap Hendry.
Tidak lama setelah dokter Kiki pergi, Fina perlahan membuka mata nya. Ini mengerutkan keningnya tatkala merasakan perih di tangan nya.
"Kenapa tadi pagi tidak sarapan?." Tanya Hendry dengan cepat.
Namun, tak di jawab Fina.
"Saya tanya, kenapa tadi pagi tidak sarapan?." Tanya Hendry kembali dengan nada yang cukup tinggi.
"Salah siapa tidak membangunkan ku, aku terlambat bangun hingga aku tak sarapan." Ucap Fina kesal.
"Tunggu, bukan nya kebalik? Seharusnya kamu yang membangunkan ku. Bukan, saya yang membangunkan mu." Ucap Arya kesal.
"Apa tadi di kantin kamu tidak makan?." Sambung Hendry yang kesal.
__ADS_1
"Gak!. Saya banyak tugas. Jadi, saya memilih mengerjakan tugas daripada harus ke kantin." Ucap Fina acuh.
Hendry hanya bisa menarik nafas panjang sembari menatap Fina dengan tajam.
"Eummh." Lirih Fina yang kembali merasakan perutnya sakit.
"Ada apa?." Tanya Hendry khawatir.
"Maag ku kembali kambuh." Ucap Fina lirih.
"Ini minumlah, aku akan ambilkan makanan. Minumlah obat ini dulu." Ucap Hendry yang terlihat khawatir dengan kondisi Fina.
Dengan cepat Hendry turun ke bawah untuk membuatkan Fina bubur. Hendry lebih memilih untuk membuatkan Fina bubur dengan tangan nya sendiri. Padahal ada belasan pelayan di rumah Hendry.
Tak lama kemudian, Hendry kembali dengan membawa semangkuk bubur.
"Sudah di minum obat nya?." Tanya Hendry.
Fina pun mengangguk.
"Duduklah dengan benar." Ucap Hendry membantu Fina duduk.
"Aku, bisa makan sendiri." Ucap Fina mencegah suapan dari tangan Hendry.
"Bagaimana kamu bisa makan kalau tangan kanan mu saja terluka." Ucap Hendry.
"Sudahlah, cepat buka mulut mu." Sambung nya.
Fina pun hanya menurut, ia makan dengan di suapi oleh Hendry. Beberapa pelayan terlihat baper karena melihat kemesraan di antara mereka.
••
"Eummh.." lirih Fina menghindari suapan Hendry.
"Ayolah, hanya tinggal beberapa suap lagi." Ucap Hendry.
"Jangan paksa aku untuk makan lagi, bisa bisa aku memuntahkan semua makanan yang sudah masuk." Ucap Fina.
"Kenapa?. Apa bubur nya tidak enak?." Tanya Hendry.
"Bukan itu. Tapi, aku sudah tidak sanggup untuk makan lagi. Aku sudah kenyang." Ucap Fina.
"Baiklah kalau begitu aku akan membantu mu mengganti baju, setelah itu beristirahat lah." Ucap Hendry tiba tiba.
Fina lantas membulat kan mata nya karena terkejut Hendry ingin membantu nya mengganti baju.
"T-tidak usah, aku bisa melakukan nya sendiri." Ucap Fina gugup.
"Tidak, nanti jika kamu pingsan di kamar mandi bagaimana?." Tanya Hendry cemas.
"Aku tidak akan pingsan, tenanglah aku bisa melakukan nya sendiri." Ucap Fina meyakinkan Hendry.
"Baiklah, jika kau perlu sesuatu panggil saja." Ucap Hendry.
"Idih, ogah ya. Lagian pelayanan juga banyak." Gumam Fina.
Hendry pun lantas turun ke bawah untuk menemui Vito.
"Urusan kantor sementara kamu dulu yang hendel. Istri saya sedang sakit." Ucap Hendry.
"Baik tuan." Ucap Vito menundukkan kepalanya.
"Lah, apa kaitan nya sama istri nya yang sakit?." Gumam Vito.
"Kamu mengatakan sesuatu?." Tanya Hendry.
"Tidak tuan." Ucap Vito mengelak.
"Kamu, bisa kembali ke kantor sekarang." Ucap Hendry. Ia pun segera menuju kembali ke dalam kamar nya.
__ADS_1
To be continued