
Melanjutkan cerita sebelumnya sekarang jam menunjukan pukul 01.24 subuh.
Refa yang masih terkagum kagum dengan bulan yang berwarna merah itu, tidak mempedulikan ponsel nya yang sedang berbunyi.
Diyo yang menyadari itu langsung memberi tahu kan kepada Refa.
"Diyo,ponsel mu berbunyi tuh"
"Ah...iya, siapa yang menelpon subuh subuh begini?"
"Mungkin dari penculik yang menculik Dami?" Ucap Diyo yang mulai curiga.
Refa mengangkat telponan dari nomor yang tidak dikenal itu.
"Halo? ini siapa ya?"
Refa menanyakan beberapa pertanyaan, namun tidak ada balasan apapun.Diyo yang semakin curiga dengan orang tidak dikenal itu mulai menanyakan tentang hal hal yang tidak umum.
"Kau sekarang ada di pelabuhan kan? uang yang kau minta sudah ada, apa Dami tidak kenapa napa?"
Tiba tiba muncul suara yang tidak asing dari telponan itu.
Suara yang terdengar seperti suara Dami itu muncul perlahan hingga menjadi suara yang keras.
"Presdir Refa!! tolong saya! saya ada di pelapuhan dekat....."
"Dami!! diamana kau?! Dami!!" Ucap Refa dengan nada keras.
Telponan itu langsung terputus sebelum Dami menyelesaikan kalimatnya.
"Sialan!!"
Refa semakin khawatir dengan Dami.
Berbeda dengan Diyo, Diyo mulai memikirkan beberapa spekulasi dari telponan tadi itu.
"Refa! tenangkan dirimu dulu"
"Diyo! mana bisa saya tenang setelah mendengar itu!!"
"Tenang lah! gelisah seperti itu tidak akan membuat Dami kembali!"
Refa yang mendengar itu dengan perlahan mulai kembali tenang dan dengan cepat meminta Diyo untuk menjelaskan spekulasi nya.
"Refa,telponan tadi sepertinya hanya untuk membuat kau semakin khawatir, dikarenakan waktu nya sudah semakin dekat.si pelaku ingin memastikan jika kau benar benar akan memberikan uangnya"
Refa hanya terdiam menyimak spekulasi dari Diyo yang terperinci.
"Suara Dami yang datang perlahan tadi juga membuat ku khawatir...karena kemungkinan besar Dami disembunyikan di salah satu gerbong kapal, yang artinya. jika kita tidak membawa uang nya maka dia akan mengirim Dami ke negara lain.bukan membunuh nya"
"Apa maksud mu si pelaku tidak akan membunuhnya? dia jelas jelas mengatakan akan membunuh Dami jika tidak menukarnya dengan uang"
"Itu karena si pelaku ingin membuat mu terpaksa harus menukarkan Dami dengan uang"
Diyo semakin meyakinkan Refa jikalau Dami tidak akan dibunuh melainkan dikirim ke negara lain.
Refa dengan khawatirnya mempercayai Diyo.
"Tidak apa-apa Refa,rencana kita juga tidak terganggu karena itu dan juga si pelaku tidak mengetahui rencana kita"
Tidak berlangsung lama dari itu,ponsel Refa kembali berbunyi.namun kali ini yang menelpon adalah Farjan.
"Farjan? kenapa menelpon subuh subuh begini?"
"Presdir?! akhirnya presdir mengangkat nya!!"
Ucap Farjan dengan senangnya.
Refa yang binggung menanyakan kepada Farjan kenapa bisa sesenang ini hanya karena mengangkat telpon.
"Farjan, kenapa kau? ini bukan pertama kalinya saya mengangkat telponan mu kan..."
Farjan terdiam sejenak.
"Farjan?"
"Presdir,bukanya saya sering telpon jam segini? walaupun presdir tidak angkat, coba periksa riwayat panggilanya presdir"
Refa yang segera memeriksa riwayat panggilanya terheran-heran.
Karena diriwayat panggilan Refa, Farjan tidak pernah menelpon di jam 2 subuh.
"Lah...di riwayat panggilan,Farjan tidak pernah menelpon di jam 2 subuh"
"Eh?...kok bisa ya? padahal Farjan sering menelpon presdir Refa jam segini loh, suer deh"
Diyo mulai curiga dengan Farjan dan segera mengambil ponsel Refa untuk berbicara dengan Farjan.
"Halo, saya Diyo sahabat dari presdir Refa...bisa saya menanyakan beberapa hal?"
"Ah..sahabatnya presdir..Diyo ya? bisa saja kok..silahkan tanya Farjan sesukamu, tapi dengan satu syarat"
Syarat yang diajukan oleh Farjan adalah meminta Refa untuk berbicara sedikit denganya.
Refa yang setuju setuju saja membuat Farjan senang sampai-sampai membuat Farjan terus membuat ekspresi senyum.
Diyo yang ingin ini cepat selesai mulai bertanya seperti,kenapa dia menelpon Refa jam segini atau kapan dia mulai menelpon Refa di jam 2 subuh.
Tapi Diyo tidak mendapatkan jawaban yang bisa memuaskanya.
Tidak menyerah, Diyo langsung bertanya kepada Farjan tentang Dami untuk mendapatkan informasi lebih.
"Farjan, bisa kau ceritakan dengan singkat tentang Dami?"
"Hmmmm...kalo secara singkat sih susah, tapi akan Farjan usahakan"
Farjan dengan singkat menceritakan tentang Dami yang Farjan ketahui.
Setelah Farjan selesai menceritakan tentang Dami,Diyo tetap tidak mendapatkan petunjuk yang berguna.
"Terima kasih Farjan,saya akan mengingat mu" Ucap Diyo sambil memberikan ponsel nya ke Refa kembali.
"Sudah selesai? apa dapat petunjuk lain?"
"Tidak ada,ya...mungkin saja saya yang terlalu memikirkannya"
Dengan semua pertanyaan yang di ajukan Diyo, Farjan menagih syarat nya tadi.
Diyo yang ingin mereka berduaan berjalan perlahan untuk meninggalkan gunung.
"Refa, saya akan pergi duluan...kau bersantai lah dulu"
"Ah...iya"
Dalam kesunyian di gunung suara Refa dan Farjan memenuhi gunung dengan candaan dan tawa yang mereka buat.
.......
.......
.......
.......
.......
...----------------...
Jam menunjukan pukul 4.21 subuh, suasana dipelabuhan terasa sangat sejuk dan tenang.
Diyo dan Refa mulai siap siap dengan rencana mereka di pelabuhan.
Diyo yang lebih mengenal tempat itu memeriksa agar tidak ada orang yang lewat pelabuhan dan menyiapkan beberapa hal untuk menyukseskan rencana mereka.
"Hmmm...seharusnya sudah aman, orang orang tidak ada disekitar sini"
Refa yang berjaga di pinggir pelabuhan melihat kapal yang besar sedang menuju ke sini.
"Diyo! ada kapal kargo yang menuju ke sini!"
__ADS_1
"Baiklah! mari kita bersembunyi terlebih dahulu"
Mereka bersembunyi di belakang gerbong-gerbong dan menunggu apa yang akan muncul dari kapal kargo itu.
"Refa! pergi ke belakang gerbong lainya dibelakang dan bersembunyi disana,saya akan diam disini untuk memastikan sesuatu"
"Setelah abah-abah dari ku, kita akan memulai rencana nya" Ucap Diyo yang bersembunyi di gerbong depan.
Kapal kargo itu tiba di Teluk pelapuhan.
Namun tidak ada yang keluar dari kapal itu dan hanya terdiam di teluk.
"Kenapa tidak ada yang keluar? apa kita salah kapal?"
Diyo yang mulai khawatir mendekati kapal kargo itu dengan perlahan.
Disaat yang sama Refa yang bersembunyi kargo belakang tiba tiba ditangkap dari belakang sehingga membuat nya pingsan.
Diyo yang belum mengetahui hal itu tetap dengan perlahan menuju kapal kargo.
"Kapal itu memiliki lambang asing di badan kapalnya? kenapa di kapal kargo Indonesia ada lambang lain selain bendera Indonesia... "
Semakin dekat dengan kapal kargo itu, Diyo yang semakin khawatir dengan rencana nya mulai memikirkan keadaan yang terburuk.
"Hmmm...perasaan apa ini? untuk sekarang saya akan kembali ke belakang"
Saat Diyo kembali mundur,tiba tiba terdengar suara tembakan pistol yang sangat keras.
"Dorr!!"
Mendengar itu Diyo langsung melihat ke arah tembakan untuk memastikan apa yang terjadi.
Terkejut dengan apa yang dilihat nya Diyo tidak bisa mengeluarkan suaranya.
"Apa yang...Refa?! kenapa dia bisa sampai tertangkap?!"
Rencana mereka berdua langsung hancur begitu saja, dikarenakan pelaku sudah menebak rencana mereka dengan sempurna.
"Sial! sial! sial!!" Ucap Diyo dalam hati
Perasaan ini tidak pernah terjadi dalam hidupnya Diyo, dimana keadaan ini bertaruh dengan nyawa mereka berdua dan sekarang nyawa Refa ada di keputusan yang akan Diyo lakukan.
.......
.......
.......
.......
.......
...----------------...
Jam menunjukan pukul 03.09 subuh,sebelum kejadian tadi terjadi.
Diyo yang turun dari gunung tiba tiba bertemu dengan Sayemi kakak dari Sayu.
"Sayemi?...sedang apa kau disini?"
"Sedang apa? sedang mengikuti mu lah apa lagi...oh...dan maaf saya mendengar semua percakapan kalian tadi... "
Sejenak Diyo terdiam membeku.
"Kenapa kau diam seperti dibekukan Diyo? setakut itu kah kau dengan ku? saya bukan pembunuh juga kali" Ucap Sayemi dengan santai nya.
"Iya iya tau...cuman penasaran aja,kenapa kau mengikuti ku tadi?" Ucap Diyo dengan nada yang sombong.
"Kenapa kata-kata mu terlihat sudah mengetahui ini akan terjadi? sok jenius gitu?"
Diyo menjelaskan jika dia sudah tau kalau Sayemi mengikutinya sejak jam 1 subuh tadi dan membiarkan Sayemi mendengarkan pembicaraan tadi dengan Refa.
"Jadi...jika kau sudah mengetahui semuanya, kau mau apa?"
Tanpa basa-basi Diyo dengan sangat langsung meminta tolong kepada Sayemi.
"Sayemi, bisa kah kau membantu ku? saya sangat memerlukan bantuan mu Sayemi"
kata kata dari Sayemi sangat tegas.
"Keuntungan?... baiklah keuntungan mu membantu ku adalah saya akan pergi dari Indonesia, jadi itu akan membuat mu tidak akan melihat ku dengan Sayu bersama lagi. gimana?"
Mendengar itu Sayemi mulai berpikir dengan keras dan terpaksa mengambil keuntungan itu agar Sayu lebih bahagia menurutnya.
"Baiklah, saya terima.jadi? apa yang harus saya lakukan?"
Diyo menjelaskan apa yang akan Sayemi lakukan nanti jam 5 subuh di pelabuhan.
.......
.......
.......
.......
.......
...----------------...
kembali ke waktu sekarang Jam menunjukan pukul 5.39 subuh.
Tidak lama dari suara tembakan itu dan Diyo yang melihat itu.
Terdengar suara yang sangat tidak asing.
Suara itu adalah suara polisi yang sendang menuju ke pelabuhan karena mendengar laporan penembakan.
"Kerja bagus Sayemi!" Ucap Diyo dalam hati.
Diyo yang melihat orang yang menangkap Refa lari ke dalam kapal kargo itu, dengan cepat mengikuti nya juga dari belakang.
"Nah nah nah...sekarang adalah giliran ku, serangan balik!"
Saat sendang mengejar si pelaku seperti kilat yang menyambar,Diyo tiba tiba jatuh tak berdaya.
"Ha?! apa ini?... kenapa saya jatuh?... woi! jangan lari kau pengecut!!"
Suara Diyo tidak keluar sedikit pun.
"Kenapa?!...kenapa ini bisa terjadi?!!"
Mata Diyo mulai dengan perlahan tertutup.
Diyo yang pingsan,malah terbangun di sebuah tempat yang sangat gelap sehingga cahaya tidak ada di tempat itu.
"Apa yang...diamana saya?... "
Dalam kegelapan itu muncul kaca-kaca yang pecah satu-persatu.
Tidak dengan jelas namun Diyo melihat seseorang dalam kaca yang pecah.
"Siapa itu?"
Mendekati kaca pecah itu Diyo kembali terkejut, karena dalam kaca pecah itu ada dirinya yang sedang berbicara dengan Sayemi di gunung.
"Ha? apa ini?! kenapa saya ada di situ?"
Tanpa sadar Diyo mengambil kaca pecah itu.
Saat mengambil kaca pecah itu dalam otak Diyo muncul semacam cahaya yang sangat terang yang membuatnya kembali pingsan.
Sekarang jam kembali ke pukul 03.09.
Tidak berselang lama dari itu,Diyo tiba tiba kembali sadar di waktu saat dia bertemu dengan Sayemi di gunung.
"Diyo? oi Diyo!"
"Woah!"
__ADS_1
"Jangan cuman Woah! Diyo...kau kenapa? sudah 6 menit kau berdiam membeku disitu"
"Ah...tunggu dulu Sayemi"
Diyo yang mengingat apa yang terjadi sebelumnya di pelabuhan membuatnya syok.
Karena tidak percaya akan hal itu,Diyo menanyakan waktu saat ini pada Sayemi.
"Sayemi, sekarang jam berapa? jam 3 lewat kan?"
"Jam berapa? sudah jelas jam 3 lewat...udah tau kok masih pake tanya segala"
Terdiam kembali, Diyo tidak percaya apa yang dia lihat dan rasakan saat ini.
"Time travel?!!" Ucap Diyo dengan kagetnya.
"Woah! kenapa tiba tiba berteriak begitu? kau sudah gila? dan juga ada apa dengan time travel?"
Diyo yang sadar jika dia sudah melakukan time travel tidak membuang kesempatan ini dengan sia sia.
Dengan cepat Diyo mengulangi percakapan mereka saat Diyo belum melakukan time travel.
"Baiklah, saya terima.jadi? apa yang harus saya lakukan?"
Kata-kata dari Sayemi benar-benar membuat Diyo kaget, karena semua perkataan Sayemi sekarang sama persis dengan apa yang dia bilang sebelumnya.
"Saat kau berada di pelabuhan jam setengah 5 ,tolong untuk menelpon polisi dan bilang ada penembakan terjadi di pelapuhan"
"Baiklah baiklah, hanya itu saja kan yang harus saya lakukan?"
Menyadari bahwa dia kan pingsan saat mengejar orang yang menangkap Refa, Diyo meminta bantuan lagi kepada Sayemi lagi.
"Sayemi, ada satu hal yang harus kau lakukan lagi"
"Apa? masih ada lagi?...baiklah..demi Sayu juga,jadi...apa itu?"
"Bawa pacar mu ke pelabuhan sebelum jam 5"
Mendengar itu Sayemi berteriak dengan kecil.
"Ha?! saya harus melibatkan Budi?!"
"Tolong lah Sayemi, kali ini saja...saya akan benar benar pergi dari Indonesia setelah ini"
Tidak memiliki pilihan lain, Sayemi terpaksa melibatkan pacarnya,Budi dalam rencana ini.
.......
.......
.......
.......
.......
...----------------...
Untuk tidak mengulang kejadian yang sebelumnya terjadi kembali Diyo telah menyusun rencana baru di pelabuhan dan jam menunjukan pukul 4.30.
Diyo menunggu kedatang Budi di pelabuhan.
Tidak berlangsung lama,Budi pacarnya Sayemi datang menemui Diyo di pelabuhan tanpa ketahuan Refa.
"Kau Budi kan?" Ucap Diyo yang bertanya untuk memastikan.
"Ya, saya Budi.jadi? apa yang harus kulakukan?"
"Untuk sekarang bersembunyi lah di gerbong depan sana"
Diyo menunjuk gerbong paling depan dekat dengan lokasi kapal kargo yang nanti akan datang.
Sementara itu Refa berdiri di teluk pelabuhan untuk memeriksa kapan kapal kargo nya datang.
"Diyo! ada kapal kargo yang menuju ke sini!"
"Baiklah! mari kita bersembunyi terlebih dahulu"
Seperti sebelumnya Refa pergi ke gerbong belakang dan bersembunyi di sana.
Sedangkan Diyo berada di gerbong depan,tempat yang sebelumnya.
Kapal kargo yang telah sampai di teluk pelabuhan,seperti sebelumnya hanya terdiam di sana.
"Dorr!!!"
Suara tembakan yang sangat keras kembali terjadi disertai dengan suara mobil polisi yang datang tidak lama setelah itu.
Orang yang menangkap Refa langsung melarikan diri ke dalam kapal kargo.
Melihat itu Diyo dengan cepat mengejar pelaku itu dari belakang.
"Kali ini tidak akan kubiarkan kau kabur!"
Diyo dengan cepat mengejar pelakunya.
Tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, Diyo berteriak memberi abah abah kepada Budi.
"Budi!! Sekarang!!! tangkap dia!!"
Pelaku yang sedang beralari dengan cepat tadi tiba tiba berhenti dan mengahadap ke suara Diyo yang berteriak.
Dari arah pandang yang tidak diliat pelaku, Budi menggunakan stun gun untuk membuat pelaku jatuh.
"Dapat kau!"
"Kerja bagus Budi!"
Diyo yang sudah bersiap siap akan pingsan berhenti dan menunggu nya.
Namun tidak terjadi apa-apa.
"Ha? kenapa tidak terjadi apa pun"
Ucap Diyo yang bingung.
Kapal kargo tadi yang diam, kembali bergerak menjauh dari pelabuhan.
Melihat tangga yang masih ada di badan kapal itu dengan cepat Diyo berlari ke tangga itu.
"Ah! sudahlah! sekarang saya tidak boleh mengagalkan rencana ini"
Dengan berlari sangat cepat,akhrinya Diyo bisa masuk ke dalam kapal melalui tangga tadi.
Pelaku yang masih di pelabuhan tadi tersadarkan kembali karena efek stun gun nya tidak terlalu kuat.
"Berhenti!! jangan kau menaiki kapal itu! kau akan mati!"
Diyo mendengar itu langsung menghadap ke pelaku tadi.
"Tidak akan! saya akan menghancurkan kalian dan membawa pulang Dami!"
"Tidak mungkin kau bisa melakukannya!"
"Bisa!! karena saya adalah SI JENIUS MINERVA!!"
Budi yang menyadari pelaku itu bangun kembali dengan cepat menggunakan stun gun kembali untuk membuat nya pingsan.
Kapal yang tadinya masih dekat dengan pelabuhan sudah jauh dari pelabuhan dan pergi entah kemana.
.
.
.
.
Apakah Diyo berhasil menghancurkan pelaku dan membawa kembali Dami?
__ADS_1
Saksikan kisah Diyo dan Refa di hari selanjutnya.
^^^To be Continued...^^^