
Dasar bos kampret! umpat Ayyara kesal. Bagaimana tidak? Setiap hari ia selalu disuguhkan oleh tumpukan-tumpukan berkas yang banyak dan semakin menyita waktu istirahatnya barang sedetik hingga membuat dirinya sering lembur seorang diri. Ia tau kalau ini adalah tindakan sengaja dari sang bos dengan dalih supaya dirinya tidak bisa berkencan dengan lelaki manapun. Gila bukan? Ingin ia protes namun apalah daya posisinya yang hanya seorang karyawan biasa mungkin akan berpindah menjadi pengangguran.
***
Ia melirik ke arah jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam yang dimana di saat-saat inilah setiap orang terlelap jauh ke alam mimpi, menyesapi angan yang oh ternyata sangat sakit pabila jatuh jauh ke dasar. Ia menghela nafas lelah sambil tangan kirinya memijat pelilipisnya yang terasa nyut-nyut.
***
Ketika dirasanya sudah cukup, ia pun segera membereskan barang-barang yang berserakkan di meja dan bergegas pulang dari kantornya. Ia bersyukur karena apartemen yang ia tinggali tak jauh dari kantornya. Sekitar 10-15 menit cukup untuknya berolahraga setiap hari berjalan kaki pulang pergi tanpa harus menaiki kendaraan, yang tentunya membuat kantongnya lebih irit dan hemat.
***
Malam yang indah. Dimana dipertengahan malam inilah kota ini serasa hidup. Banyak bar-bar terkenal berdiri kokoh, tak kalah kokohnya dengan bangunan lainnya. Banyak orang berlalu-lalang menghilangkan penat dengan singgah dan duduk di sebuah bar, club, atau diskotik. Entahlah, tak terpikir baginya untuk menikmati malam dengan cara yang demikian. Baginya itu bullshit dan membuang-buang waktu saja. Mungkin lebih tepatnya membuang-buang uang hahaha.
***
Di dekat perempatan sana terlihat banyak orang yang berkerumun. Apakah ada kecelakaan? Pikirnya lalu berlenggang mencoba menghampiri kerumunan tersebut. Ia terkejut mendapati seorang lelaki tampan tengah bernyanyi mengalunkan sebuah lagu yang tampak asing dan ya terdengar seperti bukan bahasa indonesia. Entahlah, pikirnya bingung.
***
Lelaki itu memiliki postur tubuh yang lumayan tinggi, hidung mancung, mata sipit, rambut yang menutupi dahi, dan kemeja lengan panjang bermotif kotak-kotak hitam dengan garis putih, serta celana jeans hitam yang pas membuat lelaki itu tampak mempesona. Sesaat, Ayyara terpana akan ketampanan lelaki itu dan terus memandanginya. Ia begitu menghayati lagu yang dinyanyikannya meskipun tak paham apa arti dari lagu yang terdengar asing baginya.
***
Tanpa ia sadari mata lelaki itu menatap ke arahnya cukup intens. Ia tersentak kaget karena grogi. Jantungnya berdegup kencang. Bukan karena adanya sebuah perasaan suka atau cinta, melainkan grogi karena ia ditatap seperti itu. Daripada ia semakin salah tingkah, ia pun memutuskan meninggalkan kerumunan tersebut. ”Nuna! (Kakak!)” panggil seseorang dari belakang. Namun, Ayyara tak menyadarinya dan terus berlenggang. Jelas, karena namanya Ayyara bukan Nuna. Jadi, mana tau jika itu ditujukan untuk dirinya?
***
Berkali-kali orang itu memanggil namun sama sekali tidak mendapatkan respon. Akhirnya ia dengan sigap meraih pergelangan tangan Ayyara dan akhirnya mata keduanya pun bertemu. ”Nuna.” panggil orang itu lagi yang ternyata lelaki yang mengamen ditengah kerumunan tadi. Ayyara mengernyitkan alisnya, bingung, seolah dari sorot matanya muncul sebuah pertanyaan, ”Siapa kamu?”.
***
Lelaki itu tersenyum sekilas. Tampak sorot mata bahagia di balik mata sipit lelaki itu saat matanya bertatapan langsung dengan Ayyara. ”Nuna. Kamu kemana saja?” tanyanya yang semakin membuat Ayyara kebingungan. Ayyara memandangi pergelangan tangannya yang masih digenggam oleh lelaki itu. Tersadar, lelaki itu pun melepaskannya.
__ADS_1
***
”Maaf, namaku bukan Nuna tapi Ayyara. Mungkin anda salah lihat.” tegas Ayyara dengan raut wajah tak suka akan lelaki yang nampak sok kenal dengannya.
”Benar, kamu itu Nuna!” tegas pria itu lagi menekankan kata Nuna.
***
Ayyara menghela nafas, ”Baik, jadi apa maksudmu memanggilku Nuna? Apa kamu mengenalku? Atau bagaimana?” cercanya dengan banyak pertanyaan.
Ah, lelaki itu baru ingat kalau yang dihadapannya bukanlah orang korea, tapi orang Indonesia. Jelas dia tak mengerti apa itu Nuna. ”Aku Lee Darka Hastanta, apa kamu masih ingat?” ujarnya menjelaskan dengan logat yang sedikit aneh karena dia memang bukan orang Indonesia asli. Ayyara memiringkan kepalanya seraya mengangkat bahu tanda tidak tau.
”Huft..” lelaki itu menghela nafas, ”Kita pernah bertemu 3 tahun lalu di korea. Saat itu kamu sedang dinas disana. Tepatnya, kita bertemu di depan penjual souvenir, dan aku yang membantumu berkomunikasi dengan orang sana waktu itu.” jelasnya dan Ayyara mencoba mengingat-ingat. Akhirnya, ia pun manggut-manggut membenarkan.
***
”Ah.. Jadi itu kamu?” ujar Ayyara yang akhirnya mengingat sosok lelaki yang ada di hadapannya. Ia pandangi dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ya, dia terlihat sangat berbeda dari 3 tahun lalu. Tampak lebih tinggi dan atletis. Lelaki itu manggut-manggut kesenangan karena akhirnya Ayyara mengingatnya. ”Tapi, kenapa kamu manggil aku Nuna?” tanya Ayyara penasaran.
”Ah.. Gitu..”
”Jadi nama kamu Ayyara?” tanyanya dijawab anggukan oleh Ayyara. ”Yap.” jawab Ayyara seadanya.
***
Setelah berbincang-bincang merekapun bertukar nomor hp masing-masing. Keduanya pun berpamitan. Dari kejauhan, lelaki itu melambaikan tangannya pada Ayyara. Namun, Ayyara tak menoleh sedikitpun jadi ia tak dapat membalas lambaian tangan lelaki itu karena tak tau.
***
Sesampainya di depan Apartemen miliknya. Ia tekan password apartemennya lalu masuk ke dalam. Oh gosh! Gumamnya kaget dengan mata terbelalak tak percaya. Ia dapati ruang apartemennya yang begitu berantakan bak kapal karam. Kaos kaki yang entah milik siapa. Sepatu yang entah milik siapa. Berserakan di lantai serta tampak jas dasi dan lain-lainnya pun ikut berserakan dimana-mana. Siapa? Pikirnya. Adiknya? Ah, itu tak mungkin karena adiknya sekarang sedang berada di luar negri menimba ilmu di negri paman sam. Ayahnya? Bahkan itu lebih tak mungkin lagi.
***
Ayyara pun melangkahkan kaki ke ruang tamu, dan betapa terkejutnya, ia dapati sesosok pria dewasa dengan kaos oblong warna putih tanpa lengan, bokser hitam pendek, tengah asyik menonton tv sambil menikmati beberapa cemilan hingga remah-remahnya berhamburan di lantai. ”Astagaaaaaa!!!” pekik Ayyara menghampiri pria tersebut dan memberikan satu bogeman di kepala. PLAAKK! satu bogeman pun mendarat dengan mulus.
__ADS_1
***
”Awwww” sontak pria itu berdiri sambil memegang kepala bagian belakangnya yang terasa sakit. ”Kamu tuh dari dulu nggak berubah. Dasar barbar.” mata Ayyara membola ketika dirinya sendiri dikatai barbar oleh pria dihadapannya. Ia pun memukul-mukul pria itu dengan tas yang sedari tadi mengalung dipundaknya. ”Rasakan! Rasakan! Rasakan!” tak henti-hentinya Ayyara menghantam pria itu dengan tasnya sambil mengumpat tak jelas.
***
Sampai akhirnya Ayyara pun menghentikan aksinya dengan nafas yang memburu. Ia pun mendudukkan bokongnya ke kursi. Lelah, ya, itulah yang ia rasakan. Ditambah lagi melihat ruang apartemennya yang berantakkan semakin membuat kepalanya nyut-nyut. ”Ngapain paman kesini?” tanya Ayyara ketus kepada pria itu yang ternyata ialah pamannya sendiri yang sudah lama tidak ia temui. Mungkin sekitar 10 tahun?
***
Ia masih ingat kejadian 10 tahun lalu. Tepatnya di usianya yang ke 16. Saat itu ia menangis sekejar-kejarnya karena sang paman yang tiba-tiba meninggalkannya begitu saja. Betapa tidak? Sosok pamannya, Bryan Mahardika, yang lebih dekat dan melebihi dekatnya seorang ayah ke anaknya. Yang selalu mengurusnya sejak kecil. Menemaninya bermain kesana-kemari disaat ayahnya selalu sibuk dengan pekerjaannya. Dialah, pamannya yang selalu berada disisinya. Ia begitu terpukul dan merasa kehilangan. Saat itu sampai-sampai ia jatuh sakit karena tidak mau makan. Tapi nihil, bahkan ketika sakit pun sosok sang paman sama sekali tidak menjenguk dirinya yang terbaring lemah.
***
Dan semenjak saat itu pula ia pun mulai membenci pamannya yang baginya sama sekali tidak lagi seperhatian dulu. Tidak lagi sesayang dulu sebelum kepergiannya. Bahkan dalam kurun waktu 10 tahun itu pun tak pernah sekalipun sang paman menunjukkan batang hidungnya barang sebentar saja.
***
Masih di ruang tamu apartemennya. ”Ngapain paman kesini?” tanya Ayyara ketus kepada Bryan. Sesaat suasana terasa hening. Bryan memandangi Ayyara yang sama sekali tak bergeming untuk menatapnya barang sedetik saja. Ia tau dan paham dari sorot mata Ayyara yang tampak memerah seakan memendam amarah yang berapi-api disana. Dadanya naik turun. Seakan api amarah itu siap meledak kapan saja. ”Aku akan tinggal disini bersamamu.” yang sontak membuat Ayyara kaget dan memalingkan wajahnya ke kanan, menatap Bryan yang duduk di sebelahnya, ”Apa?!” pekik Ayyara tak percaya sambil melototkan matanya.
***
Dadanya naik turun. Nafasnya terasa sesak. Air mata yang ia tahan sedari tadi seakan begitu menyiksanya. ”Pergi!” titah Ayyara beranjak menuju kamarnya dan membanting pintu dengan keras. Ia sesegukkan sendiri di dalam kamar dengan posisi duduk disamping ranjang sambil memeluk kedua lututnya dan menenggelamkan wajahnya disana.
***
Diluar kamar Bryan memandangi pintu kamar Ayyara. Ia mencoba mendekatinya dan berkata dari balik pintu, ”Ayyara.. Apa kamu baik-baik saja? Keluar.. Ayo kita bicara.” bujuk sang paman berusaha selembut mungkin sekiranya amarah Ayyara tak lagi membuncah seperti tadi. Tak ada jawaban. Namun, terdengar samar suara isak tangis dari dalam sana.
***
Sakit. Itulah yang Bryan rasakan tatkala mendengar suara isak tangis keponakannya. Karena ia begitu sangat menyayanginya hingga ia tak rela setetespun air mata mengalir dari pelupuk matanya. Ya, itu adalah sebuah kesalahan besar karena ia sendiri telah meninggalkan Ayyara tanpa berpamitan terlebih dahulu.
***
__ADS_1