JOMBLO AKUT

JOMBLO AKUT
JOMBLO AKUT 14


__ADS_3

Di Pinisi Resto ini menyajikan berbagai macam hidangan khas Bandung, yang dimana terkenal dengan cita rasanya yang aduhai dan menggoyang lidah. Wira memilih nasi tutug oncom sedangkan Ray memilih nasi timbel untuk makan malam keduanya malam ini ditemani segelas teh hangat.


Tidak akan ada yang namanya jenuh ketika sesiapapun berkunjung ke Glamping Lakisade Ciwidey. Siapa yang tidak tau destinasi wisata yang satu ini? Yang disebut-sebut sebagai Ubud Bali nya versi Bandung?


Masih banyak destinasi wisata di sekitaran Glamping yang belum dijelajahi oleh Wira dan Ray. Maka dari itu Wira memutuskan untuk bermalam disini kurang lebih 3 hari 2 malam.


”Silahkan dinikmati,“ ujar salah satu orang pelayan perempuan yang mengenakan kemeja batik dengan paduan warna merah dan coklat.


”Cih,“ cibir Ray dalam hati ketika melihat gelagat pelayan perempuan itu yang sepertinya memiliki ketertarikan khusus kepada Wira. ”Masih gantengan gue dimana-mana kali,” batinnya sebal.


”Makasih mba,” ujar Wira berterima kasih kepada si pelayan yang membuat pelayan itu tersipu malu kemudian undur diri dengan kedua pipi yang merona karena malu.


Apa-apaan ini? Lihatlah Ray yang jauh lebih muda dan tampan dibandingkan Wira yang sudah tua dan memiliki sedikit keriput? Tapi, kenapa disini malah Wira yang terlihat begitu memesona dan menarik perhatian banyak gadis?


”Buta kali tuh cewek ckckck,” gerutunya dalam hati.


Keduanya pun menikmati hidangan yang telah dipesan tadi dengan nikmat. Ray melihat Wira yang tidak menyentuh sambal cocolnya sama sekali. Ia pun berinisiatif meminta Wira memberikan jatah sambal miliknya untuk Ray.


”Ehm, om sambelnya buat gue yah?” pinta Ray sekaligus bertanya. Ketara sekali mimik yang penuh dengan kegengsian. Masih ingat kejadian beberapa waktu lalu? Yang dimana Ray menampar pipi Wira dengan keras untuk pertama kalinya dan di kamar Wira tadi sore untuk yang kedua kalinya.


”Hm,” sahutnya singkat sambil menikmati nasi tutug oncomnya yang tinggal sedikit lagi.


”Om nggak bisa makan pedes?” tanya Ray penasaran. Setau Ray, kalau dulu itu Wira suka sekali makanan yang pedas-pedas. Yang katanya pedasnya biasa-biasa saja tapi malah membuat bibir orang lain yang mencicipinya jontor seketika.


”Bisa,”


”Tapi, kok sambelnya gak dicoel sih? Masih utuh malah?”


”Om punya maag akut, jadi nggak bisa makan pedes.”


Ray beroh ria saja. Sebegitu sibuknya kah Wira sampai-sampai melupakan makannya dan mengidap maag akut? Ahli dalam mengembangkan sebuah bisnis besar tapi tidak ahli dalam mengelola kesehatan diri sendiri. Ck!


”Makanya cari istri biar ada yang ngurus,” ejek Ray membuat mata Wira seketika menoleh padanya.


”Nggak mau.”


”Nggak mau? Lah, trus gimana dong? Udah tuwir juga. Pasti deh temen-temen om tuh dah pada punya anak gede. Lah, om sendiri? Nikah aja belom.”

__ADS_1


Ucapan sarkas Ray berhasil membuat Wira terdiam seketika. Andai kamu tau Ray kalau om itu penyuka sesama jenis, dan orang yang om suka dan om sayang itu kamu, batin Wira.


Coming out di hadapan orang-orang tersayangnya bukanlah sesuatu yang mudah, meskipun ayah, Fendy, dan Dian mampu menerimanya dengan lapang dada. Contohnya saja Elang. Mungkin sampai sekarang dia masih belum bisa menerima Rama dan Wira yang ternyata penyuka sesama jenis. Meskipun hal itu bukanlah alasan utama Elang untuk mengabdikan diri di panti asuhan, tetap saja ini adalah satu alasannya di antara banyak alasan.


”Om nggak butuh istri.” jawab Wira singkat kemudian membuka laptopnya setelah selesai menyantap hidangannya sampai habis tanpa sisa sebutir nasi pun. Kata orang jangan pernah meninggalkan sebutir nasi pun di piring, karena siapa tau itu lah berkahnya.


”Trus apa dong?”


”Pendamping hidup.”


”Lah? Kalo bukan istri apa dong? Mau kumpul kebo lu?”


”Ngomongnya itu loh Ray hati-hati.”


Tegur Wira sedikit serius dan hal itu pun sukses membuat Ray sebal sambil mengerucutkan bibirnya. Bukan apa-apa Wira hanya tidak ingin bibir Ray yang manis nan menggoda itu mengucapkan hal-hal yang tidak baik. Ray terlalu berharga untuk itu.


Seusai makan malam tidak lantas membuat keduanya segera enyah dari sana dan menuju kamar masing-masing. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Bahkan, suara jangkrik yang saling bersahutan menandakan sudah waktunya untuk istirahat.


Wira? Ia asyik berkutat dengan laptopnya sedari tadi dan bahkan tidak menoleh pada Ray sama sekali. Ray yang dilanda bosan pun memilih bermain game saja sambil menikmati semilir angin malam yang terasa mulai menusuk sampai ke tulang.


Heh, untuk apa jauh-jauh berlibur sampai ke Ciwidey kalau ujung-ujungnya Wira tetap harus berkutat dengan laptopnya? Sudah pasti ini berkaitan dengan masalah pekerjaan. ”Ada gitu ya orang yang ngajakin liburan tapi masih aja ngurusin kerjaan?” sindir Ray yang entah kenapa sindirannya itu terdengar seperti kekasih yang cemburu karena sudah diabaikan oleh kekasihnya.


Hal itu membuatnya semakin yakin dan berusaha untuk mendapatkan Ray dan menjadikannya istri sekaligus pendamping hidupnya. Tidak mudah memang mengingat kepribadian Ray yang begitu keras kepala. Tapi, siapa tau batu yang keras pun bisa berlobang jua setelah disirami air terus menerus.


”Ada beberapa file yang musti om beresin. Om gak bisa nyerahin semuanya ke Robi, soalnya dia ceroboh banget. Om nggak mau kecolongan lagi.”


”Oh.”


”Kenapa? Ngantuk?”


”Nggak.”


”Kalo ngantuk duluan aja, om masih ada kerjaan.” ujar Wira tanpa menoleh sedikit pun kepada Ray. Tentu saja Ray sedikit sebal karena merasa sudah diabaikan. Bagaimana pun Ray ada disini, ada di hadapan Wira, yang dimana Wira sebagai pria yang baik—orang yang baik harus menghargai kehadiran Ray. Eh?


Ray pun segera bangkit menuju kamarnya. Benar ia sudah mengantuk sekali. Hal ini terlihat jelas dari kornea matanya yang mulai memerah dan mulutnya yang menguap beberapa kali. Fi kamar ia membaringkan badannya di kasur yang lumayan empuk. Tidak kalah empuk dengan hotel bintang lima pada umumnya.


Ray terus saja membalikkan badan ke kiri dan ke kanan. Terus saja berulang-ulang sampai membuatnya kesal. Tidurnya terjaga entah karena apa. Dilihatnya jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Tiba-tiba ia teringat dengan Wira, ingatannya kembali pada usianya yang dulu itu masih 7 tahun.

__ADS_1


Waktu itu ia suka sekali merengek meminta Wira untuk sering-sering menginap dan tidur bersamanya. Bahkan, Ray sendiri tidak tau mengapa tidur bersama Wira seperti sebuah keharusan dan candu baginya. Kini perasaan ingin tidur ditemani oleh Wira pun kembali muncul. Ia berusaha mengindahkan perasaan itu dan kembali pada akal sehatnya.


”Gue benci ama tuh orang,” rapalnya berkali-kali di dalam hati. Ia berusaha meneguhkan hatinya jikalau dirinya masih benar-benar membenci Wira, yang dimana tanpa ia sadari kebenciannya itu perlaham mulai memudar.


”Bandel banget sih nih mata gak bisa merem bentaran apa ish!” gerutunya kesal karena sedari tadi ia tidak berhasil menidurkan matanya yang masih saja terjaga.


Kali ini Ray terpaksa menjatuhkan harga dirinya sedikit. Ia keluar dari kamarnya kemudian mengetuk kamar Wira perlahan. ”Om ini gue Ray,” ucap Ray mengetuk pintu kamar Wira beberapa kali namun tidak kunjung dibukakan.


Ray menggerutu kesal di depan pintu kamar Wira. Ia menganggap kalau Wira sudah tuli sampai-sampai tidak mendengar ketukan pintunya yang hampir terdengar seperti gedoran yang sangat keras.


”Hm?” gumam Wira membukakan pintu kamarnya dan mendapati Ray yang berdiri disana dengan wajah masam. Wira mengerjapkan matanya beberapa kali karena masih sepat akibat kantuk yang masih menderanya.


Tanpa babibu Ray pun masuk ke dalam dan langsung rebahan di kasur Wira. Wira mengernyitkan alisnya bingung. ”Gue gak bisa tidur. Jadi, malem ini gue mau tidur disini.” ucapnya final lalu mulai memejamkan matanya dengan paksa.


Terasa seperti sebuah dejavu saja. Bedanya kalau di masa ini Ray nyelonong masuk begitu saja, sedangkan dulu ia harus merengek dulu baru Wira mengiyakan ajakannya untuk tidur bersama. Wira pun rebahan di samping Ray. Ia tau kalau Ray masih terjaga dan hal itu terlihat jelas dari matanya yang terpejam namun bergerak kesana kemari.


Wira pun memberanikan diri merengkuh tubuh Ray hingga menempel di dadanya. Ia tidak peduli dengan Ray yang sedikit berontak tidak terima. Rasa kantuknya yang teramat sangat membuatnya tanpa pikir panjang lagi langsung merengkuh tubuh Ray begitu saja.


Ray yang awalnya berontak pun menjadi jinak. Ia bisa mendengar dengkuran halus keluar dari bibir Wira yang sedikit tebal namun tidak dower. Ia teliti satu per satu area wajah Wira, mulai dari alis, mata, hidung, dan bibir. Tanpa ia sadari seulas senyum tipis terukir di bibirnya tatkala matanya jatuh pada bibir Wira yang terlihat seksi?


Ia berusaha mengindahkan pikiran anehnya itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Perlahan tapi pasti kantuk mulai menyerangnya. Pelukan Wira terasa begitu hangat dan nyaman sampai-sampai membuatnya terlelap.


Di Bandung suasananya masih asri sekali yang dimana masih dipenuhi oleh tanaman-tanaman hijau. Pagi ini hujan baru saja turun sehingga membuat hawa dinginnya semakin terasa. Dua orang yang berjenis kelamin sama semakin mengeratkan pelukannya tatkala dirasanya hawa dingin semakin menusuk.


”Uhm,” erang Ray ketika tidurnya sedikit terusik. Ia merasa sesak karena seseorang memeluknya begitu erat. Ia pun membuka matanya perlahan dan seketika matanya membola. ”WTF!” gerutunya dalam hati ketika wajahnya berhadapan dengan dada bidang milik Ray. Apalagi ujung hidungnya sedikit bersentuhan dengan dadanya.


Ray pun otomatis mendorong tubuh Wira kuat-kuat hingga membuat rengkuhannya terlepas begitu saja. Untungnya Wira tidak terjatuh ke lantai alias hanya bergeser ke samping. Ray merutuki dirinya yang dengan seenak jidat tidur di kamar Wira.


”Apa sih Ray? Hm? Untung om nggak jatuh.”


”Biarin.”


”Gimana? Bobonya nyenyak?”


”Cih! Nyenyak apaan! Gue gak bisa tidur! Soalnya lo dengkur!”


Ray pun beranjak dari sana dan segera keluar dari kamar Wira menuju kamarnya sendiri. Di balik pintu kamarnya ia berdiri sambil menoyor kepalanya sendiri beberapa kali. “Bisa-bisanya gue ketiduran di kamar tuh om mesum hiyyyyy,” gumamnya berlagak jijik.

__ADS_1


Sedangkan Wira terkekeh di tempat melihat tingkah menggemaskan Ray yang malu-malu kucing karena sudah tidur di kamarnya. Tentu Wira tau kalau tadi malam tidur Ray terjaga dan Wira lah solusi yang tepat untuk membuat Ray cepat tertidur.


__ADS_2