JOMBLO AKUT

JOMBLO AKUT
JOMBLO AKUT 15


__ADS_3

Elang memberikan aba-aba kepada seluruh anak-anak panti supaya berbaris dengan rapi dan teratur. Seperti biasa pupuk untuk bercocok tanam dibagikan sedikit-sedikit kepada masing-masing anak. Disini anak-anak tidak hanya diajarkan bagaimana makan dan minum atau agama saja, melainkan diajarkan bagaimana cara berbaur dengan alam, salah satunya dengan bercocok tanam.


Hari ini anak-anak panti akan menanam sayur-mayur mulai dari kubis, sayur manis, tomat, dan lain-lain. Semuanya berebut semangat bahkan sampai ada yang menangis karena tidak kebagian skop.


”Rafi kenapa sayang?” tanya Elang seraya berjongkok untuk menyamakan posisinya dengan anak kecil bernama Rafi yang menangis tersedu-sedu sambil mengucek-ngucek kedua matanya.


”Ih, nanti nggak ganteng lagi lho?” goda Elang membuat Rafi merengut. Pipinya yang tembem membuat Elang tidak kuasa menahan hasratnya untuk segera mencubit kedua pipinya.


”Ugh, Lafi ganteng!” gumam Rafi sedikit kesal dengan penyebutan r yang belum fasih. Elang mengulum tawanya. Ia tidak ingin membuat Rafi semakin cemberut. ”Kalo gitu jangan nangis lagi dong,” ucap Elang kemudian tangannya terulur untuk mengisap kedua pipi Rafi yang basah.


”Lafi bukan anak ketil!” ucap Rafi sambil menggembungkan kedua pipingya dengan kedua tangan bersedekap di dada. Elang pun mengacak-acak pucuk kepala Rafi gemas. Elang benar-benar tidak bisa menahan diri untuk menggoda Rafi.


”Pinjem skopnya sama Adel coba, bilang gitu 'adel pake skopnya gantian ya' coba gitu. Sana.” ucap Elang dan Rafi pun segera berlari ke arah Adel yang tengah asyik menggali tanah dengan skop kecil.


Dari kejauhan Bu Ratih dan Arini melihat Elang yang begitu kebapakan sekali ketika berinteraksi dengan anak-anak. Tidak salah memang kalau Arini menaruh hati padanya. Tiba-tiba tangan Bu Ratih terulur untuk menggenggam satu tangan Arini. Beliau tersenyum seolah memberikan semangat supaya Arini kuat.


Bu Ratih tau kalau Arini menaruh hati pada Elang. Namun, dengan halus Elang menolaknya dengan alasan hanya menganggap Arini sebagai seorang adik. ”Insyaa allah allah bakalan kasih kamu jodoh yang baik, nak.” ucap Bu Ratih.


Arini menahan bendungan air matanya yang hendak tumpah. Apa yang dikatakan oleh Bu Ratih barusan sedikit banyak membuat hatinya bergetar pilu. Arini tersenyum getir. Tidak semudah itu untuk bisa menghilangkan benih-benih cinta di hatinya, yang ada perasaan itu makin hari makin membesar.


Elang tidak sengaja memicingkan matanya ke arah jalan sana. Lagi, sebuah mobil hitam metalik yang sama terparkir di pinggir jalan seberang sana. Ini adalah kesempatannya untuk menghampiri mobil tersebut dan mengetahui siapa yang ada di dalam.


Elang berpikir kalau ia muncul dari arah yang mampu dijangkau oleh mata orang tersebut, kemungkinan mobil itu akan kabur seketika. Ia pun memilih lewat jalan belakang supaya sosok dirinya yanh berniat menghampiri mobil hitam itu tidak diketahui sama sekali.


Tok tok tok. Elang mengetuk kaca mobil hitam metalik itu. Orang yang ada di dalamnya pun membelalakan matanya kaget ketika Elang datang tiba-tiba entah dari arah mana kemudian mengetuk kaca mobilnya. Mau tidak mau orang yang ada di dalam itu pun menurunkan kaca mobilnya.


Elang mengernyitkan alisnya. Ia sama sekali tidak pernah berjumpa dengan pria yang duduk di dalam. Pria itu terlihat masih muda dengan rambut panjang berwarna perak seperti perempuan. Kedua matanya berwarna kebiru-biruan dengan kulit yang putih bersih. Sorot matanya tajam dengan kedua alis yang tebal dan hitam legam.


”Bisa kita bicara sir?” tanya Elang. Ia tau kalau pria ini bukan orang Indonesia. Wajahnya jelas-jelas menunjukkan kalau orang ini adalah keturunan Eropa.

__ADS_1


”David, jemput saya 30 menit lagi. Saya ada urusan.” ucap Robert kepada sekretaris sekaligus supirnya itu.


”Baik tuan,” jawab David. Mobil hitam metalik itu pun melaju kencang setelah Robert turun dari mobil.


Sejenak Elang mengagumi ketampanan pria yang ada di hadapannya ini. Tinggi sekali, batin Elang. Lihat saja pahatan wajahnya yang terlihat sempurna tanpa cacat. ”Hey?” tegurnya membuyarkan lamunan Elang seketika.


”Mari sir, kita bicara di taman saja.” ucap Elang. Ia sengaja memilih taman sebagai tempat keduanya berbicara dibandingkan harus membawanya ke panti. Ia tidak ingin kedatangan pria antah berantah ini menimbulkan banyak tanya di kalangan pengurus panti.


Robert melangkahkan kakinya penuh wibawa mengekori Elang di belakang. Rupanya ayahnya dan kekasihnya itu menyimpan rahasia tentang dirinya dalam-dalam dari Elang dan tidak membiarkan Elang mengetahui perihal dirinya yang sudah menyebabkannya mengalami kecelakaan sampai sebelah kakinya lumpuh.


Disinilah keduanya berada, di sebuah taman yang ditumbuhi berbagai macam jenis bunga berwarna-warni, terlihat indah dan menyejukkan. ”Jadi, kamu siapa?” tanya Elang memecah keheningan di antara keduanya.


”Saya bukan orang baik. Bisa jadi setelah ini kamu bakalan benci sama saya.”


”Saya juga bukan orang baik. Tapi, ada banyak orang yang menyayangi saya, termasuk Bu Ratih.”


Robert tersenyum getir. Bagaimana caranya supaya dirinya bisa menjelaskan semuanya dengan lapang dada? Di sisi lain ia tidak ingin menyakiti Elang dengan mengetahui fakta bahwa dirinyalah penyebab dari kecelakaannya dulu.


”Seenggaknya dengan kamu jujur itu nggak bakalan bikin saya benci sama kamu.”


Robert menoleh dan kini mata keduanya bertemu dan saling berpandangan. ”Saya pernah bunuh orang.” ucapnya kemudian segera memalingkan wajahnya. Satu kalimat yang keluar dari mulut Robert cukup menggambarkan apa yang membuatnya diam sedari tadi, meskipun tidak sepenuhnya.


”Dulu saya pernah merencanakan untuk membunuh seseorang dengan latar belakang balas dendam. Saya ingin membalaskan kematian ayah saya. Tapi..,”


”Saya salah ternyata setelah sekian tahun ayah saya kembali dalam keadaan sehat wal afiat. Dulu, saya melakukan rencana pembunuhan dengan merekayasanya menjadi kecelakaan lalu lintas biasa.”


”Dan yang saya tau, orang itu masih hidup, tapi dalam keadaan sebelah kakinya lumpuh.”


Dada Elang terasa bergemuruh hebat setelah mendengar penuturan Robert barusan. Ia tidak tau harus bagaimana. Haruskah ia marah? Memaki? Atau melakukan hal yang semisal? Elang tidak tau harus melakukan apa.

__ADS_1


”Saya Robert William, putra semata wayang George William, suami papa kamu.”


Ya tuhan, mengapa engkau menggempur hati Elang habis-habisan seperti ini? Fakta apalagi yang ia dengar barusan? Pria yang ada di sampingnya ini adalah Robert putra semata wayang suami Rama, George.


”Saya harus bagaimana?” tanya Elang setelah diam beberapa saat. Sungguh Elang tidak tau harus melakukan apa, kepalanya terasa buntu. Ingin dirinya marah dan menghujat Robert habis-habisan. Tapi, ia tau dan masih bisa berpikir logis, untuk apa murka terhadap sesuatu yang sejatinya sudah berlalu dan tidak akan pernah bisa diputar kembali? Seperti berlari puluhan kilo meter tapi akhirnya tidak mendapatkan apa-apa. Sia-sia.


Robert menoleh ke samping. Ia melihat Elang yang menatapnya lurus seolah memohon apa yang harus Elang lakukan. Robert pun demikian ia tidak tau harus apa. Ah, tiba-tiba muncul sebuah ide gila di pikiran Robert. Sekali lagi ini gila dan tidak masuk akal. Tapi, ia ingin mencobanya.


Robert pun berdiri kemudian jongkok di hadapan Elang. Ia menghembuskan nafasnya kemudian meraih kedua tangan Elang. Elang pun terkesiap ketika Robert meraih kedua tangannya tiba-tiba. Ah, mengapa Elang seperti merasakan gelenyar-gelenyar aneh di dalam dadanya jauh disana? Apalagi kedua mata kebiru-biruan Robert yang menatapnya mantap dan penuh keyakinan. Sorot mata yang mencerminkan jiwa-jiwa seorang pemimpin yang penuh wibawa.


”Saya tau kamu mungkin akan menolak mentah-mentah keputusan saya yang satu ini. Tapi, ingat satu hal. Saya Robert William tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan apa yang saya mau.”


”Saya Robert William akan bertanggung jawab sepenuhnya atas Elang Atmajaya untuk menjadikannya istri dan pasangan saya sehidup semati.”


Robert mengucapkan tiap katanya dengan mantap dan penuh keyakinan. Elang terkesima mendengarnya. Oh tuhan, wanita mana yang sanggup menolak lelaki seperti Robert? Tapi, apa yang Robert katakan pada Elang barusan? Istri? Pasangan sehidup semati? Shit! Elang adalah seorang lelaki dan Robert pun adalah seorang lelaki.


”Sa-sa-saya..,” Elang tidak mampu lagi berkata-kata.


”Saya tau kamu straight. Dengar Elang, kamu akan menjadi gay hanya untuk saya. Ingat, hanya untuk saya, bukan yang lain.”


Lidah Elang terasa kelu. Terdapat secercah perasaan bahagia di ujung sana. Sebuah perasaan bahagia di atas rasa sakitnya. Seolah seperti berada di tepi jurang, memilih mundur sama saja dengan memilih mati, memilih maju tapi tidak ada satu orang pun yang mau menuntun jalannya sampai ke tujuan.


Robert bangkit, ia memeluk Elang sebentar kemudian mengecup keningnya sekilas. Ia pun tersenyum. Ah, sebuah senyuman yang jarang sekali terukir di bibir pinknya. Tubuh Elang membeku mendapat perlakuan romantis nan singkat dari Robert.


”Saya tau saat ini kita belum saling mencintai. Tapi, saya percaya seiring berjalannya waktu kita akan saling mencintai.” ucap Robert. Ia melirik jam tangannya dan sudah saatnya ia pergi kembali ke kantor. Earphonenya sudah berbunyi tadi, menandakan David sudah menunggunya di ujung jalan sana.


”Saya harus pergi sekarang, nanti saya kesini lagi.” ucap Robert seraya mengelus pipi Elang. Oh tidak, wajah Elang bersemu merah. Bagaimana ini? Robert mengulum senyumnya melihat pemandangan yang baru saja ia lihat.


”Uhm,” gumam Elang mengiyakan. Robert pun berlalu pergi dari sana meninggalkan Elang yang masih diam membeku. Baru saja Elang dilamar? Astaga sadar Elang sadar, dia lelaki dan kamu juga lelaki. Tapi, ada apa dengan perasaan senang yang tiba-tiba muncul di hatinya?

__ADS_1


Di balik pohon mangga besar di belakang sana, Arini berdiri sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia tidak percaya dan tidak habis pikir terhadap apa yang baru saja ia lihat. Elang Atmajaya dilamar oleh seorang lelaki yang tidak tau asal muasalnya darimana.


Air matanya luruh ketika mengetahui fakta kalau Elang adalah penyuka sesama jenis. Arini tidak terima. Ia harus membicarakan hal ini kepada Bu Ratih. Hatinya sakit. Apalagi ketika melihat pria asing itu mengecup mesra keningnya.


__ADS_2