JOMBLO AKUT

JOMBLO AKUT
JOMBLO AKUT 18


__ADS_3

Di ruangan hotel tempatnya menginap seketika berubah menjadi kantor dadakan. Pertemuan untuk menangani proyek pembangunan hotel di salah satu lokasi strategis di Jakarta tidak bisa dibilang mudah. Banyak kepala yang mengemukakan pendapat yang berbeda-beda sehingga menimbulkan rapat yang alot.


Wira memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Kopi dan sebatang rokok pun tidak mampu mengusir kepenatannya. ”Hah,” ia pun menghela nafas sambil menyenderkan badannya di kursi dan memejamkan mata sejenak.


Tiba-tiba bayangan Ray muncul di pikirannya. “Lagi ngapain ya dia,” batinnya. Drt drt drt ponsel Wira berbunyi pertanda ada panggilan masuk. Disana tertera nama 'Mas Fendy'. ”Tumben?” gumamnya heran kemudian segera mengangkat teleponnya.


”Assalamu'alaikum,” ucap Fendy di seberang sana.


”Wa'alaikumussalam ada apa ya mas?” sahut Wira.


”Mas ganggu nggak Wir?”


”Nggak mas, ini Wira lagi nyantai kok.”


”Gini Wir mas lagi dinas ke luar kota trus mba Dian juga nemenin mas..,”


”Trus?”


”Tadi mas dapet kabar kalo si Ray masuk RS katanya kakinya patah gara-gara maen bola. Mas minta tolong kamu jagain Ray ya Wir?”


Tubuh Wira menegang ketika mendengar kabar dari Fendy yang mengatakan Ray masuk rumah sakit, apalagi kakinya patah. Wira ingat kalau dulu Ray sempat lumpuh dan karena itulah ia dilarang beraktivitas yang berat-berat seperti berlari dan lain-lain.


Ia pun segera menutup semua berkas-berkas yang ada di meja. Lalu, meraih jasnya yang tergantung di samping almari sekaligus kunci mobil yang ada di meja. ”Rob, kamu urus sisanya ya? Aku ada urusan musti balik ke Bandung sekarang.”


”Aku tutup dulu ya mas ini aku mau langsung otw aja. Assalamu'alaikum.”


Guratan kekhawatiran begitu jelas di wajahnya. Wira tidak ingin terjadi apa-apa pada Ray. Bagaimana pun buruknya sikap Ray kepada dirinya tetap saja Wira mencintai dan menyayanginya sepenuh hati.


Di belahan kota lain Fendy tertawa cekikikan setelah berbohong kalau dirinya ada dinas ke luar kota sehingga tidak bisa menemani Ray. ”Mas mau ngajarin Ray yang nggak-nggak nih?” cetus Dian menatapnya dengan tatapan datar dan kedua mata yang menyipit.


”Hehehe kalo gak gitu kita gak bisa berduaan yaaaaaaaannnnk,” ucap Fendy manja sambil memeluk istrinya dari belakang sambil menikmati keindahan Ciwidey dari atas flatpon berbentuk bintang yang biasa disebut Teras Bintang.


Beberapa waktu lalu Dian sempat ngambek karena iri melihat Wira dan Ray yang liburan ke Ciwidey. Akhirnya Fendy pun mengosongkan jadwalnya di kantor dan membawa Dian sang istri untuk berlibur ke Ciwidey beberapa hari.


Hujan deras mengguyur kota Bandung dan membuat Wira tidak bisa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Namun, ia bersyukur karena saat ini sudah memasuki jl. Layang Pasupati, yang artinya sebentar lagi mobilnya akan memasuki kota Bandung.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam 22 menit, akhirnya Wira pun sampai di rumah sakit Advent. Ia segera menuju ruangan Ray dirawat setelah bertanya dimana letak persis ruangannya.


Jantung Wira seakan berhenti berdetak ketika melihat Ray terbaring lemah di brankar dengan kaki sebelah kanan yang dipasangi gips. ”Tolong mukanya dikondisiin. Lagian gue gak mati kok ck,” ucap Ray yang tengah asyik bermain game di ponselnya.


Wira duduk di samping brankar sambil memegangi perutnya yang terasa perih dan menusuk. Keringat mulai berjatuhan di pelipisnya dengan rona muka yang mulai memucat. Wira baru ingat kalau dirinya sudah melewatkan sarapan dan makan siangnya lantaran terlalu sibuk dengan pekerjaannya.

__ADS_1


Ray pun mempause gamenya. Ia menoleh ke samping dan mendapati Wira yang mengerutkan kedua alisnya dengan rona muka yang begitu pucat. Lihat saja keringat yang mulai berjatuhan di pelipisnya itu, sudah pasti Wira sedang tidak dalam keadaan baik.


”Om?” seru Ray sedikit khawatir melihat Wira yang diam tidak banyak bicara seperti biasanya.


”Hm?“ sahut Wira seadanya karena perih di perutnya yang kian terasa hingga membuatnya mengeluarkan desisan-desisan kecil.


”Om sakit?”


”I-iya.”


Sekuat tenaga Wira bangkit untuk menekan tombol merah di dekat colokan listrik. Tombol merah yang berfungsi untuk memanggil suster atau dokter kalau ada keadaan darurat.


”Om nggak papa?” tanya Ray khawatir lalu meletakkan ponselnya di nakas. Sial! Kakinya yang digips membuatnya tidak leluasa bergerak. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk kepada Wira? Setidaknya Ray bisa membantu menahan tubuhnya yang sedikit limbung. Untung saja tangan kanan Wira masih kuat untuk memegang sisi brankar sebagai pertahanan.


”Permisi,” seorang dokter wanita berparas cantik jelita dengan kulit hitam manis pun masuk.


”Ada keluhan lain Ray?” tanya si dokter dan Ray pun menggelengkan kepalanya.


”Bukan saya dok tapi om ini.” ucap Ray menunjuk Wira di sampingnya.


Dokter itu pun segera membantu Wira untuk duduk di sofa dan menyandarkan tubuhnya disana. Nafasnya tidak beraturan karena menahan rasa sakit yang teramat sangat. Dokter itu pun segera memeriksanya dan meminta salah satu suster di luar untuk membawakannya infus dan obat-obatan lainnya.


Tidak terlalu parah tetapi cukup membuat seluruh persendiannya mati rasa akibat rasa sakit yang dideritanya. Wira duduk di sofa yang tidak jauh dari brankar dengan kondisi sebelah tangan di infus. Sebelumnya ia sudah memesan makanan melaui go food.


Wira mengulum senyumnya. Ia merasa Ray persis seperti mak-mak kompleks yang marah-marah. Entah mengapa ia juga merasa kalau Ray secara tidak langsung begitu perhatian padanya.


Pesanan makanan pun datang dan sejurus kemudian Wira mencabut selang infusnya sendiri hingga membuat Ray terperangah dibuatnya. ”Lu cabut tuh infus?” tanya Ray ngeri.


”Iya. Trus kenapa? Udah abis juga air infusnya.” jawab Wira duduk di samping brankar sambil membuka makanan yang ia pesan tadi.


Perut Wira benar-benar sudah mencapai lapar level maksimum. Ia pun segera melahap nasi padang yang ada di hadapannya. Ray memperhatikan Wira yang makan dengan lahap tanpa Wira sadari.


Sorot matanya yang sedikit sayu cukup jelas untuk menggambarkan betapa lelahnya Wira. ”Om,” seru Ray yang tidak jadi menyuap nasinya dan malah menyerukan Wira.


”Hm?” sahut Wira yang masih fokus dengan santapannya.


”Lu nggak capek gitu?” tanya Ray penasaran.


Wira pun menghentikan aktivitas makannya sejenak kemudian menatap Ray yang juga menatap dirinya. Seulas senyum tipis pun terukir indah di bibir Wira. ”Kalo ditanya capek om pasti capek banget Ray. Tapi, demi orang yang om sayang om nggak peduli segimana pun capeknya om.”


Sejenak Ray tertegun ketika mendengar jawaban dari bibir Wira yang terdengar sangat tulus. Wira menatapnya penuh arti seolah menyimpan sebuah harap disana. Tiba-tiba suasana menjadi hening. Hingga tanpa Ray sadari ia mengecup sekilas bibir Wira yang sedikit belepotan sambal.

__ADS_1


Yah, sekilas saja. Tapi, cukup membuat seluruh sel-sel saraf di badannya atau pun Wira berdesir hebat seperti sengatan listrik bertegangan tinggi. Keduanya pun saling diam dan kikuk sampai suara Ray yang memecah keheningan di antara keduanya. ”Bi-biasanya dulu gue suka nyium om, kan? Jadi, om jangan salah pa-paham.” ucap Ray sedikit terbata.


Tangan Wira pun terulur untuk menyentuh surai rambut Ray yang terasa lembut dan harum. Tidak lupa seulas senyum tipis pun terukir yang membuat ketampanannya semakin bertambah. Ah, Ray seolah baru menyadari kalau Wira terlihat begitu tampan dari jarak dekat seperti ini.


”Makan,” ucap Wira seketika membuyarkan lamunan Ray dari ketertegunannya. Ray pun mulai menyantap nasi padang miliknya sambil sesekali menatap Wira.


***


Keringat mulai mengucur deras di seluruh tubuhnya. Angga tidak henti-hentinya mengutuk lawannya yang bermain tidak adil di lapangan. Beruntung ia mampu mengoper bola basketnya dengan gesit sehingga timnnya mampu memenangkan pertandingan antar sekolah.


Kebetulan sekali pertandingan musim ini diadakan di sekolahnya sehingga tidak perlu repot-repot untuk stay di tempat lain. Setelah pertandingan selesai Angga pun segera menuju kamar mandi. Hanya sekedar mengelap keringatnya saja karena Angga bukan tipe orang yang suka mandi di tempat umum.


Ia pun meraih tasnya dan berpamitan kepada anggota timnya yang lain. Hari ini ia ingin pulang cepat karena ingin segara mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah sekali setelah melewati pertandingan yang alot kurang lebih 40 menit.


Cuaca siang ini rupanya tidak mendukung untuk siswa dan siswi lain yang ingin pulang cepat. Hujan deras mengguyur kota Bandung. Untung saja Angga pulang pergi sekolah dengan mobil sehingga tidak perlu khawatir kalau-kalau hujan membasahi dirinya.


Di dekat parkiran kedua manik matanya menangkap sesosok remaja lelaki yang sudaj begitu sangat dikenalnya, Yuda. Dari kejauhan Angga melihat Yuda yang sesekali mengerucutkan bibirnya dan menendang-nendangkan kakinya ke udara. Mungkin kesal karena hujan tak urung reda.


”Jangan manyun napa tar gantengnya ilang loh.“ ucap Angga tepat di telinga Yuda.


Yuda pun terkesiap. Wajahnya memanas tanpa sebab ketika Angga bersuara tepat di telinganya sambil tersenyum. ”Muka lo merah tuh.” ucap Angga seketika membuat Yuda memalingkan wajahnya malu.


”Ehm.” Yuda berdehm lalu tiba-tiba memasang senyum lima jari seolah menyimpan maksud terselubung. Angga mengangkat alisnya sebelah. ”Nebeng yah? Hehehe,” ucap Yuda sambil menampilkan puppy eyesnya.


Angga berpura-pura bersikap cool seolah menolak permintaan Yuda. Ia hanya ingin melihat sampai mana Yuda berusaha membujuk dirinya. ”Pliiiiissss ya ya ya? Uhm?” astaga sejak kapan Yuda bisa seimut dan selucu ini? Lihatlah ekspresi Yuda yang menggemaskan seperti anak kecil. Tubuhnya memang tidak lemah gemulai. Sedikit kurus namun atletis. Tapi, rupanya ada sisi dimana dia benar-benar imut dibalik kacamata minusnya itu.


”Pliiissss ya ya ya? Gue dah capek niiihhhh Anggaaaa gaaaaa pliiissss ayoooo gue nebeng yah? Ya ya ya? Ih!” bujuk Yuda sambil bergelayut manja di lengan Angga seperti anak kecil. Angga sama sekali tidak merasa risih atau malu karena tingkah Yuda. Entah mengapa itu terlihat lucu dan membuatnya suka untuk menjaili Yuda lebih dan lebih.


”Cium dulu.” goda Yuda sambil menunjukkan pipinya dengan jari telunjuknya.


”Lu jangan aneh-aneh deh gue masih straight tau!” protes Yuda dengan wajah yang sudah merah seperti kepiting rebus.


”Nggak ada hubungannya ama lo yang straight ato bukan. Ya udah cium ato lo gue tinggal disini ampe lumutan.” ancam Angga.


Yuda berpikir sejenak. Tadi ia mendapat sms dari ibunya yang memintanya pulang cepat atau kalau tidak uang sakunya libur selama satu hari. Semua ini gara-gara si nenek sihirnya yang dari kampung datang berkunjung. Ibunya berkata bahwa beliau tidak ingin mendengarkan racauan si nenek sihir yang memekakkan telinga kalau cucu yang disayanginya itu tidak ada di depan matanya. Astaga!


Tanpa babibu Yuda pun langsung mencium pipi Angga sekilas. Oh tuhan, imut sekali Yuda ketika wajahnya memerah seperti kepitng rebus. Kedua tangan Angga terulur untuk mencubit kedua pipi Yuda, yang dicubit pun menggembungkan kedua pipinya kesal dengan kedua alis yang saling bertautan.


”Apwaan swih?” protes Yuda tidak jelas.


”Yuk ah cabut.” ucap Angga berjalan lebih dulu sambil tertawa penuh kemenangan.

__ADS_1


***


Judul lain COME BACK HOME [BL] & ARES [BB]


__ADS_2