
Cup! Sebuah kecupan pun berhasil mendarat di pipi Wira. Namun, entah bagaimana ceritanya Ray terjungkal ke depan dan menubruk tubuh Wira sehingga kini Ray tepat berada di atas.
Sebuah senyuman tipis terukir di bibir Wira. Tangannya pun terulur untuk mengelus surai rambut Ray dan pipinya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Ray yang diperlakukan demikian terkesiap. Wajahnya memanas ketika tangan besar Wira mengelus surai rambutnya dan pipinya. Argh! Ray yakin saat ini wajahnya sudah memerah.
Ia teliti seluruh area wajah Wira. Tidak ada satu pun yang berubah. Hanya terdapat sedikit guratan kecil di area matanya. Ia masih ingat bagaimana dulu sewaktu kecil dirinya tidak bisa lepas dari Wira. Selalu bersikap manja dan cengeng. Tidur pun harus ditemani Wira.
Tanpa ia sadari bibir Wira sudah menempel di bibirnya begitu saja. Ray berontak menyebabkan tubuhnya terguling ke samping diikuti Wira yang juga ikut terguling dan berakhir dengan Wira yang berada di atas.
Deru nafas Wira terasa jelas di permukaan kulitnya. Ray memalingkan wajahnya supaya tidak bisa bertatap muka langsung dengan kedua manit mata milik Wira. Cup! Wira mengecup leher Ray. Tubuh Ray menegang. Ia merasa seperti disetrum dengan daya listrik ribuan volt.
”Angghh,” rintihnya ketika Wira mengecup lehernya kuat-kuat.
Saat ia menyadari bibirnya telah mengkhianatinya dan mengeluarkan rintihan yang menurutnya kotor dan menjijikkan itu, dengan sigap Ray pun mendorong tubuh Wira kemudian memberikannya tamparan keras di pipi.
Ray menatap nyalang kemudian segera keluar dari kamar. Lagi dan lagi Wira merusak semuanya. Ia pun mengacak rambutnya gusar atas sikapnya barusan yang terlalu terburu-buru dan sedikit memaksa? Argh!
Ia tidak ingin Ray membencinya lebih dari ini. Tapi apa? Semua rencananya yang sudah ia susun untuk berbaikan dengan Ray hancur seketika.
Seseorang mengetuk pintu kamarnya membuat keasyikannya ketika bermain game memasak sedikit terganggu. Game memasak? Ya, tidak ada sesiapapun yang tau kalau Ray seorang pecandu game memasak. Kalau teman-temannya tau terutama si ember Prima, mungkin ia sudah ditertawai habis-habisan.
”Maaf, ini pakaian anda sir.” ucap seorang pelayan wanita sambil tersenyum ramah. Pakaian? Alisnya terangkat sebelah. ”Mr. Wira meminta saya untuk memberikannya kepada anda sir,” ucapnya lagi kemudian segera berlalu setelah Ray mengucapkan terima kasih.
Ray pun duduk di kursi sambil memandangi stelan kaos dan celana pendek yang ia letakkan di atas meja. Pikirannya pun kembali pada peristiwa 10 tahun silam.
***
”RAYYYYYY!!!” teriak Dian segera berlari ke jalan raya ketika melihat Ray terpental beberapa meter dan tergeletak tidak berdaya. Sebuah mobil avanza hitam telah menabraknya hingga tidak sadarkan diri.
Fendy pun segera menghubungi ambulan untuk segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Dian tidak berhenti menangis di pelukkan Fendy ketika Ray harus memasuki ruang operasi. Ia tidak tega melihat tubuh sang anak yang lunglai tidak berdaya. Lebih baik ia saja yang sakit dari pada harus Ray.
Seorang suster keluar dari ruangan operasi. ”Gimana keadaan anak saya sus?” tanya Dian seolah tidak memberikan kesempatan kepada si suster untuk bicara.
”Maaf, apa di antara bapak dan ibu ada yang bergolongan darah A+?” tanya si suster.
”Saya sus,” jawab Fendy kemudian suster tersebut memintanya untuk mengikutinya.
__ADS_1
”Kamu tunggu disini sayang,” pinta Fendy mengecup pucuk kepala sang istri.
Fendy mendonorkan darahnya untuk putra semata wayangnya yang katanya kehilangan banyak darah. Setelah operasi berjalan dengan lancar dan Ray dipindahkan ke ruang rawat inap biasa, dokter yang mengoperasinya tadi meminta Dian dan Fendy untuk segera ke ruangannya.
”Maaf sebelumnya pak bu,” ucap dokter itu membuka percakapan. Fendy dan Dian mampu menangkap suatu hal yang buruk sudah terjadi. Bukankah operasinya berjalan dengan lancar? Jadi, apa yang salah?
”Bilang aja dok kami nggak papa.” ucap Fendy mantap meskipun jauh di dalam lubuk hatinya ia terasa berat sekali.
“Kemungkinan anak bapak dan ibu mengalami kelumpuhan.” sontak perkataan dokter barusan membuat sesuatu di dalam diri Dian berontak. Ia menangis histeris di pelukkan Fendy.
”Sabar sayang sabar,” ucap Fendy berusaha menenangkan Dian yang sesegukan di dadanya. Fendy pun tidak kuasa menahan kesedihannya. Namun, ia tetap berusaha kuat di hadapan Dian dan Ray apapun yang terjadi.
”Meskipun saya tidak tau kapan anak bapak dan ibu bisa berjalan lagi. Tapi, saya bisa pastikan kalau ini bukan lumpuh permanen. Jadi, untuk merangsang pergerakan syaraf di kakinya, Ray harus rutin check up pak bu.”
Fendy pun tersenyum samar. Setidaknya masih ada harapan Ray bisa berjalan lagi meskipun persentasenya sangat kecil. ”Sayang, kamu denger? Ray nggak lumpuh permanen. Jadi, tenang ya? Hm?” bujuk Fendy mengusap pipi Dian yang basah karena air mata.
”Terima kasih banyak dok. Saya mohon bantuannya.” ucap Fendy.
”Baik pak, pasti.” jawab dokter itu mantap.
Ray menunda sekolahnya selama kurang lebih dua tahun untuk fokus pada penyembuhan kakinya hingga akhirnya ia pun dinyatakan bisa berjalan kembali. Namun, tetap saja ia tidak bisa bebas beraktivitas seperti sebelum-sebelumnya.
”Jangan sampai kamu lari atau melakukan aktivitas yang bisa bikin kaki kamu lelah Ray. Kalau ini kamu langgar bisa berakibat fatal. Setidaknya butuh beberapa tahun untuk menstabilkan kondisi kaki kamu sendiri. Setelah stabil pun kamu nggak bisa bebas gerak juga. Maksudnya kaki kamu bakalan mudah cedera kalau dipaksain gerak misal main bola? Lari? Yang intinya bisa bikin kaki kamu lelah.”
***
Begitulah nasihat dokter yang dulu pernah merawatnya selama masa penyembuhan kakinya. Sampai saat ini pun Ray selalu menolak ajakan teman-temannya yang mengajaknya bermain sepak bola atau basket.
Bukannya tidak ingin bermain, hanya saja kondisi kakinya lah yang tidak memungkinkannya untuk bermain. ”Akhirnya guelah penjahatnya.” gumamnya seraya memejamkan matanya sejenak.
”Gimana sih Rob? Kamu bisa nggak sih kalo kerja tuh yang serius? Jangan maen mulu napa. Liat? Kontraknya batal, kan? Baru juga aku tinggal bentaran aja masa udah berantakan kek gini?” maki Wira di telepon memarahi sekretarisnya yang gagal mendapatkan kontrak kerja sama dari salah satu kliennya.
Wira tidak habis pikir mengapa Robi bisa gagal untuk mendapatkan kontrak penting itu. Kalau bukan perintah dari Sean langsung untuk menjadikannya tangan kanan, mungkin Wira sudah memecatnya dari dulu.
”Ya ela bos cuma atu doang kan masih banyak kontrak yang laen ckckck,” ucap Robi enteng dari seberang sana.
__ADS_1
Emosi Wira benar-benar sedang diuji. Ia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya kepada si ceroboh Robi lebih lama lagi atau ia akan kehilangan semua kesempatan untuk mendapat kontrak kerja sama dengan beberapa kliennya.
Entahlah apa yang ada di pikiran Sean sampai-sampai harus merekrut bocah ingusan seperti Robi untuk menjadi tangan kanannya. ”Gini aja deh, tar kontrak berikutnya serahin aja sama aku, aku janji deh bakalan dapetin semua kontraknya mulus tanpa masalah hehehe,” ucap Robi cengengesan.
”FUCK!” makinya kesal kemudian mematikan sambungan teleponnya sepihak. Wira duduk di teras kamarnya sambil mengusap wajahnya kasar. Ia pun membuka laptopnya dan mengetikan sesuatu disana. Apalagi kalau bukan pekerjaan yang harus ia selesaikan disini. Menyerahkannya pada Robi? Cih! Jangan sampai membuat Wira berakhir dengan gigit jari gara-gara ulah Robi.
Di sebelah kamar Wira, Ray menyembulkan kepalanya keluar setelah mendengar seseorang yang berdebat di telepon. Ia melihat Wira yang duduk sambil memijit pelipisnya yang tidak sakit. ”Cih! Sok banget tuh orang kek hidupnya banyak beban aja ckckck,”
”Kalo mau ngomong kesini jangan nguping kek gitu.” cetus Wira yang rupanya mengetahui seseorang tengah memperhatikannya.
”Siapa yang nguping coba? Nggak ada!”
”Oh.”
Tiba-tiba ponselnya berdering tanda ada sebuah pesan masuk. Disana tertera nama Elang, si pengirim sms. Wira mengerutkan alisnya, tentu ia heran mengapa Elang tiba-tiba mengiriminya sms. Setaunya Elang bukanlah tipe orang yang mau menghubungi sanak keluarganya setelah peristiwa 10 tahun silam.
Elang seperti menutup diri, bertukar kabar pun bisa dihitung dengan jari setiap tahunnya. Wira segera membuka isi sms tersebut dan disana tertulis hanya satu kata yaitu 'come back'.
Awalnya Wira tidak mengerti maksud dari apa yang Elang kirimkan padanya. Semakin ia berpikir semakin ia berspekulasi bahwa Elang akan kembali ke keluarganya. Kembali ke dirinya yang dulu.
Tentu saja hal itu membuatnya senang tidak terkira. Ingin Wira menelepon sang kakak. Namun, tiap kali ia mencoba mendial nomor ponsel Elang, yang ada nomornya mendadak tidak aktif dan di luar jangkauan. Mungkin setelah mengiriminya sms ia langsung mematikan total ponselnya atau mencabut sim cardnya.
”Dih senyum-senyum sendiri? Kerasukan lu?” cetus Ray duduk di samping Wira.
”Udah marahnya?” Wira balik bertanya.
Wira meletakkan ponselnya di meja, sebelah alisnya terangkat ketika melihat Ray duduk di sampingnya. ”Gue masih marah, lebih dari marah.” jawab Ray tanpa menatap Wira sedikit pun. Fakta kalau dirinya masih menyimpan kemarahan yang teramat besar itu benar. Hanya saja Ray ingin bernafas sejenak dari kemarahannya yang membuatnya sedikit sesak.
”Ray,” panggil Wira lirih dengan tatapan mata yang teduh diiringi senyuman tipis khasnya. ”Om nggak pernah ada niatan nyakitin kamu sama sekali. Kamu itu lebih berharga dari diri om sendiri. Andai om bisa milih, om bakalan milih buat selalu ada di samping kamu Ray.”
Perkataan Wira barusan sedikit banyak mengundang perhatian Ray. Ray menatap Wira dengan tatapan yang mengisyaratkan bahwa ia ingin penjelasan lebih. Wira tersenyum kecut. Ray bisa menangkap di balik senyumnya yang kecut itu tersimpan sebuah kesedihan yang mendalam.
Ray ingin tau apa yang membuat Wira sampai sesedih itu hingga senyumannya pun terasa kecut dan masam. ”Tapi, om nggak berada di situasi dimana om bisa milih. Om sayang kamu Ray, om sayang banget, tiap hari selama 10 tahun ini sedetik pun om nggak pernah lepas buat mikirin kamu. Karena..,”
”Karena?” gumam Ray mencoba menyambung kalimat Wira yang terputus. Tidak, belum saatnya Ray mengetahui isi hati Wira. Wira tidak ingin kehilangan Ray untuk yang kedua kalinya. Wira tidak ingin gegabah dalam bertindak atau ia akan berakhir dalam lingkaran penyesalan.
__ADS_1
Wira pun bangkit. ”Udah malem, kita makan malem dulu.” ucapnya lalu pergi pergi menuju resto pinisi dan meninggalkan Ray sendirian disana. Entah mengapa perkataan ambigu yang belum sepenuhnya selesai dikatakan oleh Wira membuat Ray sedikit gusar.