JOMBLO AKUT

JOMBLO AKUT
JOMBLO AKUT 8


__ADS_3

Matanya menatap kosong keluar jendela. Sesekali ia menghembuskan nafasnya berat seolah terdapat jutaan kilo beban disana. Bagaimana ia bisa tenang? Bagaimana ia bisa menjalani hari-harinya setelah ini? Jikalau dirinya tidak bisa melihat sosok anak yang teramat dicintainya setiap hari. Akankah ia kuat menahan ini semua?


Segelas kopi pahit pun bahkan tak mampu mengikis keresahan hatinya. Potret wajah Ray yang menggemaskan dan membuatnya rindu berputar-putar ria di benaknya. Ia merindukan Ray. Ya, sedetik pun tak lepas hatinya untuk merindukan anak itu.


”Wira,” seru George. Wira pun menoleh malas. Rasanya ia tidak ingin meninggalkan Indonesia secepat ini. Hatinya terasa berat dan sakit.


”1 jam lagi pesawatnya berangkat, kita harus segera ke bandara,” ujar George menjelaskan.


”Tolong antarkan aku ke rumah Fendy,” pinta Wira. Ia ingin melihat wajah Ray untuk yang terakhir kalinya.


Setibanya di kediaman Fendy. Wira pun turun dan disambut hangat oleh Ray yang langsung berhambur dipelukkannya. Wira sadar kalau dirinya tidak bisa berlama-lama lantaran penerbangannya menuju Inggris tersisa 40 menit lagi.


Wira tak henti-hentinya menciumi seluruh wajah Ray hingga membuat anak itu mengaduh geli. ”Om! Udah udah! Geli tau!” protes Ray yang kini berada digendongannya.


Pelipisnya terasa panas. Ingin ia menumpahkan air matanya saat ini juga. Namun, ia tidak ingin membuat Ray khawatir dan bertanya-tanya. ”Sayang,” seru Wira lembut. Ray hanya mengerucutkan bibirnya gemas.


”Om nangis?” seru Ray tepat sasaran. Bagaimana Ray bisa sepa itu untuk mengataui dirinya yang hendak menangis? Padahal air matanya saja belum luruh setetes pun? Sebegitu ketaranya kah kesedihan di mata Wira?


”Ray yang pinter ya? Rajin belajar ya? Jangan nakal, ok?” ujar Wira seraya mengelus surai rambut Ray sayang. Si kecil Ray menyipitkan kedua matanya. ”Om mau pergi?” rupanya Ray mempunyai kepekaan tingkat tinggi. Rasanya susah sekali untuk berkilah di depan anak ini.


Bibir Wira mengatup rapat. Ia tidak mampu menjawab pertanyaan Ray. Ia tidak mau menyakiti Ray dengan kepergiannya. Namun, apa yang bisa ia perbuat kalau hanya ini jalan satu-satunya?


”Wira? Kita harus pergi sekarang,” suara George kembali menyadarkan Wira jika ia benar-benar harus pergi.


Fendy dan Dian yang menyaksikan interaksi keduanya pun tak mampu berbuat apa-apa. ”Maafin om sayang,” maaf Wira kemudian menurunkan Ray dari gendongannya.


Ray sempat mengamuk ketika mengetahui Wira hendak pergi jauh. Dian mencoba melepaskan cengkraman Ray pada kemeja Wira. Ray menangis sejadi-jadinya ketika Wira masuk ke dalam mobil dan mobil itu pun melesat jauh.


Ray berontak di genggaman Dian. Hingga genggamannya terlepas dari Dian. Ray berlari dengan kencang tak tentu arah hendak mengejar mobil yang dinaiki oleh Wira. Brak! Namun naas tubuh Ray ditabrak oleh sebuah mobil avanza hitam hingga membuatnya terpental jauh.


”RAAAAAYYYYYYY!” teriak Dian.


10 tahun kemudian


SMAN 3 Bandung


Seorang remaja lelaki duduk di kursi ke 3 baris ke 4 dengan kedua matanya yang menyipit tajam. Sesekali terdengar desisan penuh kekesalan sampai-sampai pulpen yang dipegangnya pun patah menjadi dua saking kuatnya cengkramannya.


Ia memicingkan matanya ke arah pintu dan mendapati banyak para siswi bergerombol disana. Apalagi kalau bukan ingin sekedar melihat pangerannya yang tampan itu di kelas ini. Bahkan, Prima saja kewalahan membawa berbagai macam bingkisan yang diberikan oleh para siswi untuk Ray.

__ADS_1


Ya, namanya adalah Ray, atau lebih lengkapnya lagi yaitu Ray Erlangga. Kalau dengan kepopulerannya ia bisa memiliki banyak teman dan pacar maka itu salah. Hampir tidak ada siswa ataupun siswi yang benar-benar mau menjadi sahabatnya.


Hal ini dikarenakan kepribadian Ray yang cukup pendiam dan tidak banyak bicara. Kecuali Prima dan Lisa yang selalu saja berusaha mendekati dirinya tanpa lelah sedikit pun dan mengantarkan ketiganya menjadi sahabat sejati sejak mos.


Sebenarnya Ray tidak sesombong dan semenakutkan itu. Ia hanya saja terlalu pendiam dan kalaupun banyak bicara itu hanya di hadapan kawan-kawan akrabnya saja seperti Prima dan Lisa.


Ray menelungkupkan wajahnya di atas meja yang ditutupi dengan kedua tangannya. Ya, Ray berniat tidur sebentar karena kantuk yang terus saja menghampirinya. Baru lima menit Ray terbuai ke alam mimpi. Seseorang sudah duduk di depannya dan memanggilnya dengan suara yang melengking dan memekakkan telinga.


”RARAAAAAAAYYYYY,” panggilnya dengan suara yang teramat nyaring persis seperti toa masjid. Ray mengangkat kepalanya malas. ”Hm?” sahutnya malas-malasan dengan mata yang terasa sedikit berat.


”Nih ada surat buat lo,” ujar Lisa memberikan sebuah amplop berwarna coklat yang dihiasi pita berwarna pink. Ray tidak semengerikan itu. Ya, ia akan dengan senang hati membuka satu per satu surat yang ditujukan padanya. Walaupun ia tidak bisa membalas semua perasaan cewek-cewek yang menembak dirinya lewat surat, setidaknya menghargai dengan membacanya saja sudah cukup.


To Ray Erlangga


”Dear Ray tersayang, aku tau aku bukanlah satu-satunya gadis yang mengagumimu. Tapi, ketahuilah kalau aku benar-benar menyukaimu. Tidak, tidak, tidak, lebih tepatnya menyayangimu dan mencintaimu. Tolong terima perasaan ku ya?”


From Annisa


Ray tersenyum tipis. Bukan karena ia terkesan dengan apa yang baru saja dibacanya. Hanya saja ia menertawai dirinya sendiri. Bayangkan saja dari sekian banyak gadis yang sudah menyatakan cinta padanya, tidak ada satu pun yang berhasil ia gaet untuk menjadi kekasihnya.


Banyak spekulasi bertebaran mengenai dirinya yang katanya penyuka sesama jenis. Spekulasi itu pun terbantahkan karena Ray sama sekali tidak pernah berhubungan dengan lelaki mana pun.


Ia pun tidak tau mengapa dirinya sendiri seperti tidak mempunyai ketertarikan apapun pada siapapun. Cukup berkutat dengan dunianya saja sudah mampu untuk memberi warna dalam hidupnya. Warna?


”Gue suka sama lo Lis pacaran ama gue ya?” ujar Ray tiba-tiba sampai membuat Prima menjatuhkan semua bingkisan yang ada dipelukannya. Prima melongo tidak percaya. Ray menyukai Lisa?


”HAHAHAHAHA,” tawa Lisa yang seperti mak lampir itu pun pecah. ”Suka? Gue? Pacar?” lagi dan lagi tawa Lisa pun pecah. Ray bingung akan reaksi yang diberikan oleh Lisa. Kalau dirinya sepopuler itu mengapa Lisa menertawainya terbahak-bahak setelah menyatakan perasaannya? Yah, meskipun sejujurnya hanya basa basi saja.


”Lo kalo ngelawak jangan kira-kira deh Ray,”


”Paan?”


”Lo saking pengennya pacaran yah ampe nembak gue segala? Lah Annisa dikemanain? Bohay tuh cewek nggak mau emang lo?”


”Kalo gue sukanya ama lo gimana?“


”Gak bakal gue kemakan ama becandaan lo yang nggak mutu itu.”


”Kok lo tau gue becanda? Kenapa nggak terima aja? Banyak loh yang mau ngantri jadi pacar gue.“

__ADS_1


“Kepedean.”


”Emang iya, trus?”


Prima yang duduk di samping menarik nafasnya dan menghembuskannya terus ia ulangi beberapa kali. Prima pun menengahi perdebatan tidak bermutu antara tom and jerry di tengah-tengah riuhnya kelas karena jam kosong.


”Lu mau tau alesannya apa?” kini Prima bersuara. Raut wajahnya mendadak serius. Ini tidak seperti Prima yang biasanya. ”Coba lu inget lagi deh, lu pernah suka nggak ama seseorang dulu?” tanya Prima menatap Ray tepat di kedua manik matanya.


Dalam hati Ray terkejut melihat sahabatnya yang satu ini mendadak serius. Ray menggelengkan kepalanya pelan. ”Atau orang yang lu benci?” tanya Prima lagi. Orang yang dibenci? Apa hubungannya orang yang dibenci dengan dirinya yang tidak bisa membuka hati untuk orang lain?


Ray terdiam ia ingat akan satu nama yang begitu ia benci sampai saat ini. Jadi, apa hubungannya? ”Nah, pasti ada, kan?” tebak Prima menohok. Ray tidak menjawab pertanyaan Prima. Ia seperti linglung ketika mengingat lagi masa lalunya. Emosi dalam dirinya serasa ikut bangkit bersamaan dengan memori masa lalu yang kembali terulang di kepalanya.


Prima tersenyum kemudian membetulkan posisi duduknya. Sudah bisa ia tebak kalau Ray jatuh cinta dengan orang yang begitu ia benci. ”Itu berarti lu cinta ama dia,” perkataan Prima sontak membuat Ray kaget dan melototkan matanya.


Cinta? Hah, ia mencintai pria itu? Shit! Jangankan cinta bahkan secercah rasa sayang pun tiada di hatinya. ”Lu musti inget apa yang gue bilang ini baik-baik, benci itu adalah cinta. Jadi, lu benci dia berarti lu cinta dia.”


Ray pun bangkit dan berjalan meninggalkan kelas. ”Elu si ah,” gerutu Lisa mencubit lengan Prima. Prima mengedikkan bahunya masa bodo. ”Gue cuman nggak mau dia hidup dengan kebencian yang teramat sangat. Lu tau hidup kek gitu tuh nggak enak.” ujar Prima kemudian ikut-ikutan pergi meninggalkan kelas.


Surai rambutnya yang kecoklatan melambai-lambai indah karena hembusan angin yang menerpa. Langit begitu cerah dan udara terasa begitu sejuk. Ia duduk dengan kedua tangan menopang di lantai, menikmati pemandangan kota Bandung di atas atap sekolah.


Ia berkali-kali mencoba menghidupkan pemantik api untuk menyalakan ujung rokoknya. Namun, berkali-kali itu pula ia gagal karena derasnya angin yang berhembus. Ia pun melempar sebilah rokok di tangannya dengan kasar berikut pemantiknya.


Sudah dua mata pelajaran ia lewatkan. Ya, ia lebih memilih membolos saja dari pada di kelas dalam keadaan pikirannya yang semrawut layaknya jalan perkotaan yang macet akibat banyaknya kendaraan pribadi dan umum.


”Gue benci lo,” ucapnya penuh penekanan dengan kilatan mata yang tajam. Hatinya penuh dengan kebencian kepada seseorang yang sudah merusah hidupnya 10 tahun silam.


Suara dering ponsel yang terus saja berbunyi membuat aktivitas santainya sedikit terusik. Ia rogoh ponselnya dari saku almameter di sebelah kanan. Tertera nama 'Dian' disana yang tidak lain adalah ibunya sendiri.


”Halo?” sahutnya.


”Ray cepetan pulang ya,” ujar ibunya dari seberang sana yang terdengar sedikit buru-buru.


”Ray masih ada urusan ma, keknya pulang malem.”


”Kalo kamu nggak pulang uang saku kamu mama potong 50% mau?”


”Iya iya ok,”


”Ditunggu yaaaaa byyyeeeee,”

__ADS_1


Sambungan telepon pun terputus. Ray menghela nafasnya berat kemudian segera bangkit dari sana. Ia tidak ingin ancaman ibunya menjadi kenyataan, karena ia tau ancaman Dian itu tidak main-main meskipun kata-katanya terkesan lemah lembut. Anak mana yang berani melawan kepada ayah ibunya? Apalagi dengan ancaman pengurangan uang saku seandainya keinginan kedua orang tuanya tidak dituruti?


__ADS_2