
”Bos! Kita-kita balik dulu ya!” ucap Michale berpamitan diikuti oleh yang lainnya. Wira hanya menganggukkan kepalanya tanda mempersilahkan.
Di malam yang sunyi sepi. Wira menikmati segelas kopi buatannya sendiri seraya memandang jauh keluar sana. Ia seolah menerawang bagaimana hidupnya ke depan. Sedih, perih, terluka, jatuh, semua hal itu telah dialaminya.
Mulai dari kematian sang ibu karena kecelakaan lalu lintas. Konfliknya dengan sang ayah yang tidak pernah menemui titik terang. Bahkan, kini sang kakak yang dulu ia elu-elukan malah ikut-ikutan membenci dirinya. Tidak ada sesiapun yang bisa menjadi tempatnua bersandar atau sekedar mencurahkan isi hatinya. Sendiri.. Ya.. Hanya sendiri.
Ia pun menyesap kopinya perlahan. Rasanya dinginnya malam akibat hujan yang baru saja turun lumayan menusuk tulaknya. Tiba-tiba teleponnya berdering yang dimana disitu tertera nama 'Mba Dian'.
”Halo?” sahut Wira.
”Wir kamu bisa kesini nggak?” tanya Dian dari seberang sana nampak terdengar khawatir.
”Bisa mba, tapi tumben nyuruh Wira kesana jam segini?” ujar Wira ketika ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 malam.
”Ray nggak mau makan, nggak mau minum obat, trus nggak mau tidur, katanya pengen makan disuapin sama kamu, tidur sama kamu,” tutur Dian.
Seulas senyum tipis pun terukir di bibirnya. ”Ok ok siap meluncur bos wkwk,” ujar Wira terkekeh geli.
”Halah dasar kamu Wir pake bas bos segala, cepetan yah!” pinta Dian.
”Ok ok.” tut tut tut sambungan telepon pun akhirnya terputus.
Wira pun memutuskan untuk segera menuju kediaman Mba Dian yang berlokasi di jalan xxx. Sesampainya disana ia pun segera masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Sesuai dengan instruksi Mba Dian dulu, kalau dirinya berkunjung ke rumah tidak perlu mengetuk pintu terlebuh dahulu. Karena Mba Dian sudah menganggap Wira seperti adiknya sendiri.
”Om Wira!” teriak seorang anak laki-laki bernama Ray. Ia pun langsung memeluk tubuh Wira dengan erat. Anak laki-laki bernama Ray ini adalah putra semata wayang dari Mba Diana dan Mas Fendy.
Keakraban yang terjalin antara dirinya dengan Ray bisa dikatakan sudah dimulai sejak Ray masih bayi. ”Gendong gendong,” rengek Ray yang seperti anak balita saja padahal sekarang usianua sudah 7 tahun dengan tinggi badan sepinggang Wira.
”Dek, kasian omnya kamu berat loh,” ujar Mba Dian menegur sang anak supaya tidak merepotkan Wira. Ray kecil pun mengerucutkan bibirnya dengan kedua tangan bersedekap di dada. ”Mama ngeselin!”
”Loh? Kok ngatain mama ngeselin sih sayang?” protes Mba Dian kepada sang anak.
”Nggak papa kok mba,” ujar Wira kemudian mengangkat Ray digendongannya. Wah ia tidak menyangka kalau Ray sudah sebesar ini. Bahkan, berat badan Ray sudah semakin berat saja.
Dian pun hanya bisa menghela nafasnya tatkala melihat tingkah sang anak yang lebih manja kepada Wira dibandingkwn kepada dirinya sendiri yang notabene adalah ibunya.
”Ya udah kalo gitu, oh iya Wir titip Ray yah? Soalnya mba mau ritual dulu sama Mas Fendy wkwkwk,” ujar Dian sambil tertawa cekikikan.
Wira hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah absurd kakak sepupunya itu. Ia pun membawa Ray ke kamarnya. ”Makan dulu ya?” pinta Wira dan Ray pun mengganggukkan kepalanya cepat.
Setelah selesai menyuapi Ray makan dan minum obat, Wira pun rebahan di samping Ray, berniat ingin menemaninya tidur malam ini. Ia mengelus-elus pucuk kepala Ray. Sesekali ia mencium pucuk kepala Ray hangat dan penuh kasih sayang.
”Om,” seru Ray yang rupanya masih terjaga walaupun matanya sayup-sayup karena sudah lumayan mengantuk.
__ADS_1
”Hmm?” sahut Wira seraya mengelus pucuk kepala Ray sayang.
”Ray mau nikah sama om nanti!” ucap Ray tiba-tiba membuat Wira tersentak kaget. Ia pun menatap mata Ray yang juga menatap matanya lurus seakan memberikan kepastian disana.
Tiba-tiba jantung Wira seakan berpacu tatkala tangan kiri Ray membelai pipi sebelah kanannya dengan lembut. Ia sungguh tidak menyangka jika Ray bisa bersikap sehangat ini padanya. Sungguh ini adalah pertama kalinya Ray menatapnya dengan tatapan seolah mengatakan 'aku berjanji akan menepati janji ku untuk menikahi om'.
Ah, apa yang baru saja Wira pikirkan? Mungkin saja itu hanyalah sikap alami Ray seperti biasanya yang ingin bermanja dengan dirinya. Wira pun berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran aneh itu dari kepalanya.
Tiba-tiba Ray mencium pipi kanan Wira tanpa ragu. Seulas senyum tipis pun terukir di bibir mungil Ray yang berwarna merah muda itu. Wira pun terbelalak kaget. Namun, Ray hanya tersenyum kemudian memejamkan matanya sambil memeluk erat Wira, dengan kepalanya yang ia benamkan di dada Wira. Akhirnya keduanya pun terlelap dengan posisi saling memeluk satu sama lain.
Pagi harinya seperti biasa, ketika Wira mengunjungi dan menginap di rumah Dian, ia akan mengajak Ray berolahraga kecil di halaman rumahnya. Terkadang ia bermain bola dengan Ray, yang dimana ia berpura-pura kalah demi untuk menyenangkan Ray denga kemenangannya.
Ray pun terduduk lesu dengan badan yang dibanjiri peluh. ”Iiihh bau acem,” ujar Wira bercanda. Seketika Ray pun cemberut setelah Wira mengatainya bau. Ah, ia lupa meskipun Ray lucu dan menggemaskan, tetap saja ada sisi lain dari dirinya yaitu Ray tipe anak yang sensitif.
Ray paling tidak suka jika ada sesiapapun yang mengatai dirinya inilah itulah. Atau ia akan benar-benar marah da kesal dengan orang tersebut. Sampai-sampai dalam waktu yang tidak bisa ditentukan ia akan mengabaikan orang tersebut.
Pernah suatu ketika Wira mencoba menjahili Ray di hari ulang tahunnya dengan niatan ingin memberi kejutan, yang dimana ia menyamar menjadi sesosok hantu yang menyeramkan. Padahal ia hanya mengenakan selimut putih untuk membungkus seluru badannya dan sengaja mematikan listrik.
Tiba-tiba Ray menangis dengan keras sambil meringkuk di dekat pintu. Akhirnya Dian pun segera menyalakan lampunya kembali dan mendapati sang anak yang matanya kala itu sembap karena air mata yang terus menerus mengalir.
Wira pun mendekat dan mencoba menenangkan Ray yang kala itu mash berusia 5 tahun. ”Lepasin!” bentak Ray tiap kali Wira mencoba untuk membujuk dirinya.
Dian pun menghampiri sang anak kemudian menegurnya. ”Ray, mama nggak pernah ajarin kamu buat bentak orang yang lebih tua dari kamu loh Ray?” ujar Dian menasehati dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang.
”RAY!” teriak Fendy tatkala melihat perilaku buruk sang anak pada Wira. Ray pun terkesiap ketika mendengar teriaan sang ayah yang baru pertama kali ia dengar seumur hidupnya. Ia pun menenggelamkan tubuhnya dalam dekapan Dian sambil terisak. Wira pun memberikan isyarat kepada Fendy supaya tidak memarahi Ray lagi. Ia tidak ingin jika perbuatan Fendy yang meneriaki Ray berakibat buruk pada perkembangan Ray nanti.
*
Hari demi hari pun berlalu. Sebagai seorang paman yang baik, Wira tidak ingin membiarkan adik sepupunya Ray itu terus-terusan merajuk pada dirinya. Segala cara pun ia lakukan supaya si kecil Ray mau memaafkan dirinya. Dari membelikan mainan favoritnya, menemaninya bermain di mall, membelikan makanan favoritnya dan semua hal yang Ray sukai ia lakukan.
Namun, semua usaha yang telah dilakukan Wira pun urung membuat Ray memaafkannya. Tidak hanya itu, bahka Ray mendiamkan dirinya hampir satu mingguan ini.
”Maafin Ray ya Wir?” ujar Dian meminta maaf kepada Wira. Sungguh Dian merasa kasihan kepada Wira atas siap Ray yang mendiamkan Wira.
”Nggak papa mba, lagian salah Wira juga yang ngasih kejutannya nggak mikir dulu,” ujar Wira seraya mengingat kembali peristiwa satu minggu lalu. Wira pun tersenyum tipis tatkala melihat Ray asyik bermain puzzle di depan TV.
*
”Iya iya Ray wangi kok,” ujar Wira berusaha untuk membuat mood Ray kembali baik. Diluar dugaannya, Ray masih saja cemberut sambil memanyunkan bibirya.
Wira pun menghela nafasnya. Kali ini ia harus benar-benar ekstra membujuk Ray yang memiliki kekuatan ngambek dengan daya sengat jutaan volt. ”Ray, mau jalan-jalan ke restoran om nggak? Ray bisa makan apa aja disana loh!”
Si kecil Ray pun mengerutkan alisnya. Jujur saja berkunjung ke restoran milik Wira adalah hal yang diinginkannya sejak dulu. Hanya saja ayah dan ibunya melarangnya, lantaran takut kalau-kalau dirinya mengganggu konsentrasi Wira dalam bekerja.
Wira terkekeh melihat ekspresi lucu Ray yang nampak memikirkan sesuatu. ”Serius?” tanya Ray memastikan apakah Wira benar-benar akan mengajak dirinya atau hanya sekedar bualan saja. Wira pun mengangguk pelan sambil tersenyum.
__ADS_1
Tiba-tiba Ray langsung berhambur ke dalam pelukannya. Ia melingkarkan kedua tangannya di leher Ray sambil tersenyum kegirangan. ”Apa sih Ray? Hm?” tanya Dian yang datang ke teras sambil membawakan beberapa cemilan dan jus mangga.
Dian begitu penasaran mengapa putranya loncat-loncat kegirangan sambil berhambur ke pelukan Wira. Setelah puas berhambur dipelukkan Wira, Ray pun memeluk Dian sambil tersenyum sumringah.
"Mama mama!" seru Wira antusias. ”Apa sayang? Hm?” sahut Dian seraya duduk di kursi teras rumahnya. ”Om Wira ngajakin Ray ke restorannya loh!“ ujar Ray dengan mata yang berbinar. Dian pun melirik Wira dan Wira pun hanya tersenyum simpul.
Dian pun menghela nafas, ”Wir kamu nih ya jangan manjain Ray terus,”
”Cuman ngajakin ke resto aja kok mba nggak ngapa ngapain juga,” sergah Wira.
Dian pun mencoba berbicara kepada sang anak. Menasihatinya agar bersikap baik jika nanti berkunjung ke restoran Wira. Ray pun mengangguk paham.
*
Sekitar pukul 10 pagi Wira tiba di restoran miliknya bersama dengan Ray. Entah mengapa jantungnya berdegup kencang tatkala melihat sosok Ray begitu tampan dengan stelan kaos berwarna putih dan celana jeans selutut.
Kini Ray bergandengan tangan dengannya masuk ke dalam restoran. Sentuhan tangan Ray cukup membuat darahnya berdesir. Ah, sepertinya aku sudah mulai gila! Ucapnya dalam hati.
Wira pun disambut oleh disambut oleh para pegawainya yang sibuk kesana kemari mengantar pesanan pelanggan. Ray nampak antusias melihat seisi restoran yang dimana banyak pengunjung berdatangan serta waiters yang berlalu lalang mengantarkan pesanan pengunjung.
Dari kejauhan terlihat seorang perempuan tengah melambaikan tangan pada Wira. Ia menyipitkan matanya mencoba menerka-nerka siapa gerangan perempuan yang melambaikan tangan padanya.
Ia pun menghampiri perempuan yang kini tengah tersenyum sumringah padanya. Badannya yang ramping dan proforsional itu jelas sekali menandakan kalau perempuan ini berprofesi sebagai modeling.
”Gimana kabar lo Wir?” tanya perempuan itu tersenyum penuh arti. Entah mengapa kesan pertama dari perempuan yang ada di hadapannya kini terasa janggal dan membuat Wira tidak nyaman.
Sebagai tanda hormat akhirnya ia pun menyunggingka senyumnya sealami mungkin walaupun sebenarnya sedikit agak dipaksakan. Ya, perempuan cantik bernama Marry yang duduk di hadapannya kini merupakan seorang model terkenal yang tengah naik daun.
Siapa saja yang melihatnya mungkin akan memujanya bak dewi dari kayangan. Namun, tidak untuk Wira, bahkan jika ada seribu perempuan cantik lainnya ia tidak akan pernah tertarik.
Ray menarik-narik pergelangan tangan Wira, memintanya untuk mengajaknya berkeliling. Wira pun berusaha memberikan pengertian kepada Ray kalau saat ini ia sedang berbincang dengan kawan lamanya.
Awalnya si kecil Ray cemberut karena Wira tidak bisa memenuhi permintaan Ray yang ingin menemani dirinya berkeliling. Akhirnya Wira memanggil salah satu waiters yang tidak terlalu sibuk dan memintanya untuk menemani Wira berkeliling restoran.
”Alhamdulillaah kabar aku baik Mar,” ujar Wira berusaha beramah tamah. Wira tau sorot mata Marry yang menatap kagum dan penuh arti padanya. Hal ini pun semakin membuatnya kurang nyaman.
”Lo ya dari dulu nggak berubah kalo ngomong pake aku kamu segala kek yang gimana aja haha,” ujar Marry tertawa renyah seraya menyesap macchiato di hadapannya.
Begitulah Wira, ketika ia merasakan kurang nyaman dengan seseorang bahkan jika itu adalah temannya sendiri, maka ia akan menggunakan istilah aku kamu, bukan elo gue.
Wira pun menyunggingkan bibirnya tatkala melihat Ray dari kejauhan dibimbing oleh seorang waiters untuk berkeliling. Nampaknya ia sudah jatuh cinta dengan si kecil Ray. Ah, ia tidak peduli jika orang lain berpikir kalau dirinya seorang tukang cabul yang jatuh cinta dengan seorang anak kecil.
”Wir?“ seru seseorang yang membuyarkan lamunan Wira. Ia pun segera meminta maaf kepada Marry yang mungkin saja merasa diacuhkan olehnya.
”Oh iya Mar, aku kayaknya nggak bisa nemenin kamu lama-lama soalnya musti bantu-bantu tim di dapur,” ujar Wira beralasan walaupun tidak sepenuhnya benar. Marry pun mengangguk mempersilahkan Wira untuk segera meninggalkan mejanya.
__ADS_1