
Rama mengelus batu nisan bertuliskan nama George William. Masih jelas diingatannya kalimat terakhir yang George ucapkan waktu sebelum dirinya memutuskan untuk terjun ke tebing jurang.
Ia letakkan sebuket bunga mawar putih di makamnya. Seulas senyum tipis pun terukir. ”Love you too,” ucapnya lirih. Ia berusaha menahan buliran air mata yang mulai menggenangi pelupuk matanya.
Ia pun bangkit kemudian berbalik hendak menuju tempat dimana mobilnya terpakir. Namun, sayup-sayup terdengar seperti ada seseorang yang memanggil namanya.
”Rama,” panggil suara itu dengan lembut. Hati Rama bergetar hebat tatkala mendengar suaranya memanggil namanya. Mungkin ini hanya halusinasi, begitulah pikirnya sehingga ia melanjutkan langkah kakinya yang sempat berhenti sejenak.
”Rama,” suaranya kembali memanggil namanya. Dengan jantung yang berdegup kencang Rama pun memberanikan diri perlahan membalikkan badannya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat sosok pria berdiri di hadapannya dan senyuman yang begitu indah.
Rasanya seolah waktu berhenti sejenak. Ia masih belum bisa mempercayai apa yang ia lihat saat ini. George! Ya, kini George berdiri jelas di hadapannya. Tidak, mungkin ini hanyalah roh George, pasti dia bukan George, ucapnya dalam hati meyakinkan kalau orang yang ada di hadapannya kini bukanlah George.
”Miss you,” ucapnya perlahan mendekat dan memeluk Rama. Tidak, ini bukanlah halusinasi belaka, ini nyata. Sekali lagi, ini adalah nyata! Pelukan George nampak erat sekali hingga membuat Rama sedikit sesak.
George membenamkan wajahnya di ceruk leher Rama. Ia sungguh merindukan sosok Rama yang teramat dicintainya. Rasanya ia tidak ingin melepaskan pelukannya barang sedetik.
Tiba-tiba terdengar suara isak tangis. Ya, Rama yang gagah perkasa menangis dipelukan George! Perlahan George merenggangkan pelukannya dan mengusap pipi Rama yang basah akan air mata.
Rama memegangi tangan kanan George yang menyentuh pipinya sambil menatap lamat-lamat kedua manik matanya yang hitam legam, namun lembut dan penuh cinta. ”Aku nggak mimpi, kan?” tanya Rama berusaha meyakinkan kalau apa yang ia alami kini bukanlah mimpi.
George tersenyum kemudian sebuah kecupan kecil nan manis mendarat mulus di bibir Rama. Ketika ia merasa sudah yakin bahwa apa yang dialaminya kini adalah kenyataan, ia pun segera memeluk George erat, seolah tidak ingin melepaskannya sama sekali barang sedetik.
*
Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba Verdian masuk ke dalam restoran dan memeluk Wira sambil berteriak-teriak kegirangan, ”AKHIRNYA! AKHIRNYA!” ujarnya semakin mengeratkan pelukannya.
Banyak yang geleng-geleng kepala ketika melihat tingkah ajaib Verdian yang sebenarnya tidak pernah membedakan mana atasan mana yang sejajar dengan dirinya. Wira pun mendorong Verdian dengan jari telunjuknya di dahi.
Mata Verdian berbinar namun tidak dengan Wira yang hanya menatapnya datar. ”Paan?” tanya Wira malas sambil menggantungkan lap di pundak kananya sambil berkacak pinggang.
”BOS BOS! AKHIRNYA GUE GUE HUTANG GUE LUNAAAASSSSSS,” ucapnya kegirangan sambil menarik kedua tangan Wira dan berloncat-loncat ria seperti anak kecil. Wira sungguh tercengang dibuatnya. Bisa-bisanya ia memperkerjakan pegawai rada-rada seperti Verdian. Apa sebelumnya matanya minus? Sampai-sampai tidak tau sisi lain Verdian yang begitu mengejutkan.
”Lunas? Tapi kok tuh muka bisa bonyok kek gitu gimana ceritanya?” ujar Wira sarkasme.
Verdian pun menoleh ke kiri. Ia menatap Vikal yang kini tengah sibuk menumis sesuatu. Wajah tanpa dosanya itu sukses membuat siapapun tidak mengetahui fakta sebenarnya kalau Vikal lah yang telah memukul wajah Verdian.
”Oh ini..,” ujar Verdian sengaja menjeda kalimatnya. Ia menaik turunkan alisnya seraya menatap Vikal. ”Biasa bos ditonjok pacar wkwkwk,”
Semburat merah yang tidak terlalu ketara menyeruak dari wajah tampan Vikal. Apa maksud Verdian menyebut dirinya pacar? Ia bukan homo sialan seperti Verdian! Menciumnya begitu saja hingga membuat dirinya harus melayangkan bogeman mentah tepat di wajah tampan Verdian.
__ADS_1
Sejujurnya tersirat sedikit rasa bersalah di hati Vikal. Seharusnya ia tidak gegabah melayangkan tinjunya di wajah Verdian. Bukankah setiap masalah bisa dibicarakan baik-baik? Tanpa harus adu jotos terlebih dahulu?
Kemudian sekelebat pikirannya mengenai Rania kembali terputar di kepalanya seperti kaset film. Tanpa henti kenangan-kenangan manis sekaligus kenangan terburuknya itu berputar ria.
Masih jelas diingatannya bagaimana Rania merintih dicumbui oleh lelaki yang ia sendiri tidak tau namanya. Tidak ada niat dari keduanya untuk saling membicarakan masalah ini dengan kepala dingin. Bahkan, Vikal sudah memblokir semua akses dari whatssup, facebook, instagram dll supaya Rania tidak bisa menghubungi dirinya.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh Verdian menangkap raut wajah sedih Vikal. Ia tau kalau Vikal masih sakit hati setelah putus dengan kekasih yang teramat dicintainya. Kalau diingat-ingat kembali sesungguhnya perjalanan cinta Vikal tidak ada yang berjalan mulus. Entah apa yang ada dipikiran para gadis sampai hati untuk mengkhianati Vikal yang merupakan sosok pria yang setia.
Pletak! Verdian mendapat jitakan pedas dari bosnya. ”Kerja yang bener,” ujar Wira kemudian berlalu pergi. Pletak! Pletak! Pletak! Entah mimpi apa ia tadi malam sampai-sampai satu per satu rekan kerjanya ikut-ikutan menjitak manis kepalanya.
Dewi merapikan semua pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper. Cukup sudah ia menahan rasa sakit ketika ia harus menerima pengkhianatan dari suaminya sendiri.
Di rumah mungkin ia mendapat cumbuan mesra diiringi rayuannya yang juga mesra. Namun, untuk apa semua itu diberikan pada dirinua jikalau suaminya sendiri bermain api di belakangnya.
Elang masuk ke dalam kamar dan mendapati istrinya nampak tengah mengepaki barang-barangnya. Matanya melotot melihat aksi Dewi. Ia pun segera meraih pergelangan Dewi supaya Dewi berhenti mengepaki barangnya tanpa alasan yang jelas.
”Apa-apaan kamu sayang?” tanya Elang khawatir setengah mati. Apa sebenarnya yang membuat Dewi harus mengepaki barangnya? Apakah ia ingin berlibur? Tidak, sorot matanya cukup memberikannya jawaban kalau Dewi tidaklah sedang ingin berlibur. Namun, seperti sorot mata penuh dengan kekecewaan dan rasa sakit.
”Lepasin!” ujar Dewi yang berhasil menghentakkan pergelangan tangannya paksa hingga terlepas dari cengkraman Elang. ”Mulai hari ini kita nggak ada hubungan apa-apa lagi mas, aku minta cerai!”
Satu kalimat dari Dewi yang menghujam hati Elang bagai cambuk besi. Ia kembali mencegat pergelangan tangan Dewi berniat mencegahnya pergi. Ia tidak tau mengapa Dewi begitu murka terhadap dirinya.
Elang mati kutu. Bibirnya sedikit terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun, ia urungkan karena lidahnya kini terasa kelu. Akhirnya apa yang telah disimpannya kini menyeruak keluar dan berbau, hingga membuat Dewi menggugat cerai dirinya.
Elang mematung meratapi kesialannya hari ini. Ia membiarkan Dewi pergi begitu saja meninggalkan dirinya tanpa sepatah kata pun. Tidak ada sekalipun niatan dalam hatinya untuk mengejar Dewi, karena percuma! Apa yang saat ini terjadi adalah fakta yang nyata.
Elang mengacak rambutnya gusar kemudian meraih kunci mobil di nakas. Ia melajukan mobilnya kemudian menyinggahi bar langganannya. Ia duduk di kursi dekat bartender yang tidak lain adalah kawan karibnya.
Tidak terasa sudah tiga botol minuman keras ia habiskan, hingga seorang wanita datang menghampirinya. Ya, dia adalah Marry. Bahkan, Elang sendiri tidak tau bagaimana bisa Marry mengetahui keberadaannya dirinya. Seolah ini adalah sebuah kebetulan yang telah dibuat-buat sebelumnya.
Marry tersenyum manis. Tidak lebih tepatnya senyuman yang ingin menggoda dan membangkitkan birahi para lelaki. Tapi tidak untuk Elang kali ini, payudara montok Marry yang hendak menjembul keluar itu sama sekali tidak menarik minatnya.
Marry menuangkan minuman keras itu ke gelas milik Elang. Kemudian ia meraba-raba paha Elang dengan sensual dan senyuman yang entah mengapa membuatnya berang.
Awalnya Elang membiarkannya saja tanpa perlawanan atau balasan apapun. Namun, ketika jari jemari Marry hendak menuju ke selangkangannya, Elang refleks berdiri dan mencekik leher Marry hingga membuatnya beraduh kesakitan.
Kilatan mata Elang yang tidak seperti biasanya membuat Marry bergidik. Dari kejauhan terlihat seorang pria berambut pirang abu-abu dengan stelan jas berwarna putih memperlihatkan smirknya dibalik topi yang menutup hampir sebagian wajahnya.
Pria berjas putih itu pun segera pergi dari sana setelah cukup melihat pemandangan yang sangat ingin ia lihat saat ini. Diikuti oleh beberapa pengawal ia pun segera menaiki mobil mewah berwarna hitam metalik.
__ADS_1
”Le-lep-lepah sin Lang,” ucap Marry terbata-bata ketika cengkraman Elang semakin kuat dan menyesakkan dadanya. Dengan kekuatan penuh Elang pun mendorong Marry hingga membuatnya tersungkut dengan kepala membentur sesuatu yang keras.
”Dasar ******!” hardiknya penuh amarah kemudian meninggalkan bar itu dengan berang. Marry yang terduduk di sudut bar itu hanya bisa meringis sambil memegangi kepala bagian belakangnya.
Elang mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia tidak pernah melajukan mobilnya melebihi kecepatan yang semestinya bila dalam keadaan setengah mabuk.
Mungkin orang-orang akan berpikir bahwa menyetir dalam keadaan seperti berbahaya dikarenakan resiko terkena kecelakaan lalu lintasnya juga tinggi. Namun, kemampuannya mengendalikan dirinya yang mabuk patut diacungi jempol.
Ketika Elang hendak mengendarai mobilmya lurus dari perempatan jalan raya, tanpa ia sadari ada sebuah truk besar menghantam mobilnya dari arah kiri, menyebabkan mobilnya terpental jauh hingga terbalik mendekati pepohonan.
Kepalanya terasa berat. Darah mengucur deras dari pelipis, tangan, dan kakinya. Apalagi kini posisi kakinya yang terhimpit dan tertindih pintu mobil di bagian kiri membuatnya sulit bergerak.
Tubuhnya terasa mati rasa hingga perlahan kesadarannya menghilang. Satu nama yang kini ia ingat dan ia sebut dalam bayangnya yaitu 'Dewi'.
Dari kejauhan sebuah mobil berwarna hitam metalik terparkir di pinggir jalan. Di dalam sana seorang pria berjas putih yang tadi berada di bar kini duduk sambil tersenyum luas penuh kemenangan, ketika ia mendapati mobil Elang terpental jauh. Ia mengetuk-ngetukkan jari jemarinya di lutut dan menampakkan smirknya yang cukup menakutkan.
”Jalan,” perintahnya kepada sang supir dengan suara yang dingin, tajam, dan penuh penekanan.
*
Saat ini Wira tengah asyik bermain dengan Ray. Ia memberi Ray waktu 10 menit untuk beristirahat dari kegiatan belajarnya. Baru nanti disambung lagi. Walaupun statusnya hanyalah seorang paman, bagaimanapun ia ingin memdidik Ray menjadi anak yang baik dan disiplin disamping didikan yang diterimanya dari Fendy dan Wira.
Wira mengangkat salah satu mainan mobil-mobilan favorit milik Ray, membuat Ray hanya bisa jingkrak-jingkrak mencoba mengambil mobil-mobilan miliknya dari tangan Wira.
”Cium dulu,“ pinta Wira seraya menunjuk-nunjukkan pipinya memberikan isyarat supaya Ray menciumnya di pipi. Dengan raut wajah yang cemberut dan merajuk tingkat akut, mau tidak mau Ray pun mencium pipi Wira kemudian ia mendapatkan mainannya kembali.
Fendy dan Dian yang melihat interaksi keduanya pun hanya bisa geleng-geleng kepala. Fendy ataupun Dian percaya kalau Wira tau batasan, jadi kalau itu hanya sekedar mencium di pipi maka wajar-wajar saja, karena keduanya pun keram dicium oleh Ray di pipi.
”Kebayang ya mas kalo anak kita nikah sama Wira?” seru Dian seraya melihat interaksi keduanya yang asik bermain di ruang tamu dari meja makan. Fendy pun tersenyum kemudian kembali asyik dengan koran di tangannya.
”Rada gimana gitu ya punya anak cowok tapi nikahnya sama cowok wkwk,” ujar Dian terlihat menahan tawanya.
”Wira itu kuat, makanya mas restuin dia sama Ray yah kalo Raynya mau sih wkwk,”
”Hah? Kuat apanya? Pedangnya?” ujar Dian sedikit frontal hingga mendapat jitakan manis dari suaminya.
”Ckckck kamu tuh ya sayang kebanyakan micin mikirnya ngeres mulu,” ujar Fendy geleng-geleng kepala dan Dian pun cuma nyengir kuda.
Tiba-tiba ponsel Fendy berdering. Tertera nama Rama Atmajaya disana. Ia mengernyitkan alisnya ketika nama tersebut muncul di layar ponselnya. ”Ngapain malem-malem nelpon?” batin Fendy kemudian menggeser tombol hijau.
__ADS_1
Matanya terbelalak tidak percaya ketika ia mendengar penuturan Rama lewat telepon. Fendy pun meletakkan ponselnya di meja dengan tatapan mata kosong. Ia kemudian menatap Dian dengan raut wajah penuh kecemasan.